TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
RENCANA BURUK


__ADS_3

"Bagiku ini dilema.." ujar Arshlan sambil memperbaiki duduknya, mengusap wajahnya sejenak sebelum kembali menatap Her. "Aku bisa saja membuka kebenaran tentang Robi dan Marina dengan mudah, tapi aku sungguh tidak tega membuat hati Lana terluka.."


Her mengangguk. Ia tentu saja paham apa yang sedang dijaga mati-matian oleh seorang Tuan Arshlan.


'Perasaan Nyonya Lana.'


Tuan Arshlan tidak ingin membuat Nyonya Lana terluka jika mengetahui kenyataan yang sebenarnya.


Sungguh aneh.


Pria itu jelas-jelas sangat menyayangi istrinya tapi entah kenapa masih saja berusaha menjauhkan hatinya sendiri.


"Tuan, sebenarnya lebih dari semua persoalan yang melibatkan kedua orang tua Lana, aku justru sedang mempertanyakan satu hal..?" Her menatap Arshlan yang juga sedang menatapnya.


"Katakan."


Mendengar itu Her terlihat menarik nafasnya sejenak. Her tau bahwa meskipun saat ini dirinya telah diberi kesempatan untuk mengatakan apa saja, tapi apa yang akan ia pertanyakan kelak merupakan sesuatu yang sangat privacy.


"Mengenai Nyonya Lana, kenapa Tuan masih enggan mempercayainya..? bukankah semuanya sudah sangat jelas, bahwa Nyonya Lana sangat mencintai Tuan. Nyonya Lana bahkan rela melakukan apa saja demi bisa berada disisi Tuan.."


"Justru karena tekadnya terlalu keras, maka aku berusaha membentengi diriku."


'Berusaha membentengi diri..?'


'Benarkah..?'


Arshlan membathin gundah. Bagaimana mungkin ia masih bisa mengucapkan hal sekonyol itu dihadapan Her, sementara asistennya itu bahkan tau persis bahwa ia menjadi gila dalam sekejap, jika sudah menyangkut sesuatu yang mengenai Lana.


"Sudah sejauh ini, Tuan masih saja meragukan ketulusan Nyonya Lana..?"


Seperti dugaan Arshlan, Her pasti tidak bisa mempercayai ucapannya begitu saja, sehingga Arshlan memilih untuk mengangkat kedua bahunya. "Entahlah, Her.."


"Tapi menurut penilaianku, perasaan Nyonya Lana sangatlah tulus kepada Tuan."


"Tidak, Her. Kau salah. Sejak awal Lana hanya mengincarku karena aku adalah pria yang kaya, sehingga dia tidak peduli meskipun usiaku dua kali lipat dari usianya. Aku sudah gila kalau beharap Lana bisa menerimaku tanpa semua itu." pungkas Arshlan dengan nada getir yang ditekan mati-matian namun tetap membias.


"Tapi menurutku itu realistis, Tuan. Didunia ini, wanita mana yang tidak bercita-cita mendapatkan pria kaya..?"


"Aku jelas-jelas terlalu tua untuknya."


Her menggeleng. "Tuan bahkan terlihat seumuran denganku.." kilah Her membuat alis Arshlan sontak terangkat.


"Memangnya berapa umurmu sekarang? Apa kau tidak sedang berlebihan membuatku senang?"

__ADS_1


"Tidak Tuan, aku berkata yg sebenarnya. Saat ini umurku tiga puluh tahun, tapi aku selalu merasa Tuan senantiasa terlihat lebih menawan daripada diriku."


"Tentu saja aku lebih menawan. Aku lebih tampan darimu dan aku juga punya banyak uang..!" pungkas Arshlan yang kumat narsisnya.


Her hanya bisa mengangguk.


'Iya Tuan.. baiklah.. tentu saja Tuan lebih menawan, tampan dan juga lebih kaya dari diriku. Tapi apa artinya semua itu kalau sekarang Tuan malah terlihat insecure dihadapan istri Tuan sendiri..?'


''Tuan adalah seorang pria yang kaya raya dan sangat berkuasa. Rasanya tidak ada lagi pria yang lebih hebat dari Tuan..! tapi lagi-lagi semua itu percuma, jika sekarang Tuan selalu merasa rendah diri, saat harus menjadi pria yang tepat untuk Nyonya Lana..!'


Bathin Her terdengar riuh bercampur gemas, karena baru kali ini menyaksikan seorang Tuan Arshlan berubah menjadi pria yang begitu tidak percaya diri.


"Aku hanya sedang menunggu diriku bosan, agar bisa berpaling dari Lana. Sungguh, aku menyesal telah terlibat begitu jauh dan menghancurkan awal kehidupannya. Untuk itulah kalau saatnya tiba, aku akan menjamin dia harus mempunyai akhir kehidupan yang baik juga.."


Her menatap pria dihadapannya. Sungguh ia tidak mengerti dengan jalan pikiran sang majikan. Sementara Arshlan masih setia memijat kedua alisnya.


"Tuan, tak jarang apa yang kita lihat dan kita dengar belum tentu merupakan apa yang sebenarnya, dan terkadang kita juga perlu menguatkan hati untuk mendengar apa yang justru tidak ingin kita dengar.."


Her sengaja berucap demikian, untuk meyakinkan Arshlan. Her tau persis, awal kisah antara Nyonya Lana dan Tuan Arshlan menjadi semakin pelik ibarat benang kusut bermula karena ketidaksengajaan Tuan Arshlan yang mendengar sepenggal rekaman pembicaraan Nyonya Lana dengan seorang maid saat masih berada di villa black swan tempo hari.


Saat itu Nyonya Lana jelas-jelas mengatakan ia akan melakukan segala cara demi mendapatkan pria kaya seperti Tuan Arshlan, sehingga Tuan Arshlan sangat ter-doktrin dengan sepenggal kalimat itu.


Dengan amarah yang menggelegar pria itu telah menyeret Nyonya Lana ke altar pernikahan dengan tujuan membalas dendam, namun yang ada makin kesini perasaan Tuan Arshlan kepada Nyonya Lana malah semakin mendalam, meski Tuan Arshlan telah mati-matian mengelaknya.


"Yang kau maksudkan adalah sepenggal kalimat Lana di villa black swan tempo hari kan..?" Arshlan terlihat tersenyum kecut sebelum kembali melengos. "Pada kenyataannya aku tidak mungkin salah mendengar, Her. Saat itu Lana benar-benar mengatakan bahwa ia hanya membutuhkan pria yang kaya agar bisa merubah jalan hidupnya.."


"Tapi Tuan belum mendengar semuanya.."


"Sudahlah, Her.." tolak Arshlan lagi. "Kendatipun aku salah mendengar apa yang dikatakan Lana, aku tetap bertekad melepaskannya.."


"Tuan.."


"Aku harus bisa mendorong Lana keluar dari hidupku dan Lana harus membenciku dulu, agar bisa bertemu orang yang tepat. Bersama dengan pria sepertiku adalah sebuah kesalahan.." desis Arshlan lagi dengan wajah yang murung.


Her tercekat mendengarnya. Ia ingin menyela, tapi interkom dimeja Arshlan keburu berbunyi.


Arshlan menekan salah satu tombol yang ada pada benda itu, bermaksud menerima panggilan.


"Maaf Tuan, Nona Siska sudah datang menemui anda."


Suara Amanda, sekretaris Arshlan terdengar diseberang.


"Persilahkan dia masuk.."

__ADS_1


"Baik, Tuan.."


Saat panggilan itu berakhir Her terlihat menatap Arshlan tak percaya.


"Jangan menyela lagi, waktumu untuk membantahku telah habis." pungkas Arshlan seolah mengetahui kalimat protes yang hendak terlontar dari bibir Her yang seolah bisa menebak dengan jitu apa rencana buruk Arshlan selanjutnya untuk Lana.


"Tuan.. kau.."


"Keluar." wajah Arshlan terlihat sekeras batu.


"T-tapi Tuan.. Nona Siska.."


"Aku bilang keluar."


Tok.. tok.. tok..


Bunyi pintu yang diketuk dari luar telah mematahkan asa Her. Kepalanya tertunduk lunglai sebelum akhirnya bangkit perlahan dan menunduk takjim.


"Baiklah, Tuan.. aku akan kembali bekerja."


"Hhmmm." kini ekspresi wajah Arshlan benar-benar telah kembali ke pengaturan awal. Dingin dan datar.


Her berbalik pasrah, seiring dengan pintu yang terbentang.


Seorang wanita muda seumuran Lana telah melangkah anggun dan gemulai memasuki ruang kerja Arshlan yang luas nan sejuk.


Senyumnya terpatri indah diwajahnya yang cantik, ditunjang dengan tubuh tinggi semampai, lengkap dengan lekuk-lekuknya yang super sexy.


Yah..


Dia memang Siska..


Sahabat Lana..


...


Bersambung..


Haii.. Assalamu alaikum, selamat pagi, reader kesayanganku. Apa kabar..?? baik..?? 😀


Alhmadulillah.. 🥰


Dapet salam noh.. dari Siska..! katanya mau nantangin kalian semua..! 😮

__ADS_1


Ahahahaha.. 🤣 Kaboooorrrr.. 🤪


__ADS_2