
Double up ...!
...
Suara nyaring dari bel pintu apartemen yang berbunyi terus-menerus, mau tak mau mengusik tidur dua insan yang sedang bergelung dengan tubuh polos tanpa sehelai benang pun, dibawah selimut yang sama.
"Sayang, ada yang sedang menekan bel pintu apartemenmu terus-menerus ..." Helena berbisik manja dalam pelukan Luiz.
"Hhhmm ..."
"Bunyinya sangat berisik ..."
"Abaikan saja ..."
"Bagaimana kalau aku akan turun dan melihat siapa yang datang?"
Suara berat Luiz yang dipenuhi kantuk tidak terdengar lagi.
Helena menunggu persetujuan Luiz, namun tidak ada jawaban.
Tapi lewat gestur tubuh Luiz yang beringsut menjauh dan berbalik memunggungi Helena, bagi Helena nilainya adalah setara dengan jawaban "ya" dari pria dingin itu.
Helena pun bergegas bangun dengan bersemangat, ia memungut kemeja putih milk Luiz yang teronggok dilantai, memakainya seala kadarnya.
Helena bahkan tidak merasa perlu memakai kemeja Luiz dengan benar, sengaja menyisakan beberapa kancing kemeja terbuka begitu saja, yang jumlahnya bahkan lebih banyak dari jumlah kancing kemeja yang sudah ia kaitkan dengan benar.
'Siapa sih yang datang pagi-pagi begini ...?'
Ujar Helena dalam hati, saat melirik jarum jam dinding yang menunjukkan pukul delapan pagi.
Tentu saja Helena tidak tahu, siapa gerangan tamu yang datang.
Tapi Helena meyakini firasatnya sebesar sembilan puluh sembilan persen koma sembilan puluh sembilan, bahwa orang yang sedang menekan bel dengan sangat tidak sabar dibawah sana pastilah seorang wanita.
That's right.
Kehadiran wanita bukanlah hal yang baru lagi dalam kehidupan Luiz, pria tampan, super mapan, dan sangatlah menawan, yang malah memilih kembali melanjutkan tidurnya, daripada penasaran dengan siapa gerangan tamu tak diundang yang ada diluar sana.
"Kalau benar yang dibawah sana adalah salah satu dari sekian banyak wanita Luiz, itu justru kebetulan sekali. Aku jadi punya kesempatan untuk pamer dan berbangga diri karena saat ini, akulah yang sedang bersama pria itu di apartemen mewah ini, dan kami telah menghabiskan malam yang sangat menggai rahkan ...!"
Tekad bulat Helena begitu menggebu, saat mulai menuruni anak tangga dengan ornamen kayu yang terkesan simple itu satu persatu.
Apartemen mewah milik Luiz merupakan apartemen dengan tipe loft, yakni apartemen dengan unit dua lantai, yang luas lantai keduanya tidak seluas lantai utama, dengan keseluruhan dindingnya yang bersekat kaca tebal.
Langit-langitnya yang tinggi sekitar lima belas kaki, seolah memberikan kesan ruang terbuka yang luas dan lapang dengan nuansa yang elegan.
Tentu saja semua yang ada didalamnya memiliki label harga yang mahal. Kisaran harga per-unit dari apartemen jenis loft itu saja sudah tergolong sangat tinggi, jelas berbeda jauh dengan harga apartemen yang biasa-biasa saja.
Saat Helena tiba didepan pintu, bel pintu itu masih saja terus berbunyi tanpa jeda, seolah sedang menandakan secara tidak langsung bahwa orang yang sedang menekannya semakin tidak sabar menunggu pintunya terbuka.
"Firasatku benar ..." Helena tersenyum usai mengintip, siapa gerangan tamu tak diundang, diminggu pagi yang begitu cerah ini.
Seorang gadis yang terlihat cukup belia dan labil.
"Bukan tandinganku ..." Helena lagi-lagi bergumam, dengan begitu percaya diri, sambil menekan tombol pembuka pintu otomatis dari apartemen mewah milik Luiz.
__ADS_1
Pintu terbuka ...
Dan ...
πΈπΈπΈπΈπΈ
Sepasang mata bulat yang indah milik Dasha rasanya hendak keluar dari cangkangnya, saat melihat penampakan sosok yang berada tepat dibingkai pintu apartemen Luiz.
Otak Dasha telah berpikir dengan cepat, bahwa wanita dihadapannya ini, seolah memang sengaja ingin mengesankan bahwa dirinya sedang telan jang.
'Dasar bit ch ...!'
Rutuk Dasha dalam hati, manakala menangkap dua buah pen til yang membusung nyata dipermukaan kemeja pria yang dipakai wanita itu, sementara lekuk segitiga dibawah sana terlihat polos menerawang.
"Kau mencari siapa?" tanya Helena dengan lagaknya yang super songong, bak seorang nyonya rumah betulan.
"Kau ... kau sendiri siapa?" tanya Dasha balik bertanya, sambil menatap sosok Helena dari ujung kaki sampai ujung rambut, berpura-pura menampakkan wajah yang lugu dan tak terpengaruh.
Detik berikutnya Dasha bahkan sengaja membekap mulutnya sendiri, seolah berusaha meredam tawa keras yang hendak lepas berderai.
"Siapa aku, itu bukan urusanmu. Lagipula kenapa kau menatapku seperti itu?! Kenapa kau menertawaiku?!" Helena menyalak geram, tidak terima jika saat ini dirinya sedang ditertawakan oleh gadis kemarin sore yang ada dihadapannya ini.
"Maaf ... maaf, Tante ... tapi kau ... kau kenapa? Apa kau baru saja dicakar oleh harimau gila? Ha ... ha ... ha ..." Dasha telah tergelak membahana, sambil tak lepas menguliti penampilan Helena yang acak-acakan.
Dasha memang benar, karena penampilan Helena yang berantakan seperti ini tentu saja tak ubahnya seperti habis dicakar harimau gila!
Helena melotot menyaksikan Dasha yang tertawa terbahak-bahak dihadapannya.
'Sebentar ... sebentar ... panggilan apa yang tadi diucapkan gadis itu?'
'Tante ...?'
'Berani sekali dia menganggapku setua itu ...?!'
'Dasar bocah prik ...!!'
Helena mengumpat panjang lebar, dalam hati, dengan kekesalan yang sudah mencapai ubun-ubun.
"Minggir, Tante ... jangan menghalangi jalanku ..."
"Awwww ...!"
Helena mengaduh kecil karena tubuhnya telah membentur dinding dengan keras. Sementara Dasha telah melesak masuk kedalam apartemen Luiz dengan gayanya yang acuh, usai mengesampingkan tubuh Helena yang menghalangi jalannya pintu masuk dengan sekali gerakan enteng.
'Astaga ... apa tadi itu?'
Helena terhenyak saat menyadari, dengan tubuhnya yang sekecil itu, Dasha bahkan dengan mudah membuat tubuhnya terhempas cukup keras kepermukaan dinding yang ada disebelahnya. Kini ia bahkan merasa sedikit pening, seperti habis ditabrak truck tronton sepuluh ban...!
Amarah Helena juga semakin tersulut, manakala melihat kepala Dasha terlihat celingak-celinguk kesana kemari didalam apartemen luas nan mewah tersebut, seolah sedang mencari-cari sesuatu.
Tatapan Dasha yang berkelana liar kini tertumbuk pada satu titik, dimana sebuah anak tangga yang mengarah kelantai dua yang bersekat dinding kaca terdapat disudut ruangan.
"Berhenti ...!"
Suara lantang Helena telah menyurutkan langkah Dasha yang tanpa ragu mulai meniti satu persatu anak tangga, yang ia yakini akan mengantarnya ke lantai dua, dimana biasanya kamar tidur berada.
__ADS_1
Saat Dasha berbalik, Helena terlihat memburunya dengan wajah masam.
"Heh, siapa kau ini sebenarnya? Kau datang seperti pencuri yang masuk ke Apartemen orang lain begitu saja! Apa kau sudah gila?!"
"Astaga ... kau ini bicara apa, Tante ..."
"Berhenti memanggilku TANTE ...!!" pekik Helena lagi.
"Tapi ... tapi ... kau dan wajahmu itu ... memang terlihat jauh lebih tua dari diriku, Tante, lalu aku harus memanggilmu apa ...?" Dasha malah menentang wajah geram milik Helena dengan wajahnya yang tanpa dosa, sementara sekujur wajah Helena merah padam mendengar sindiran yang sudah jelas-jelas sedang mengejeknya itu.
"Enak saja memanggilku, Tante, memangnya sejak kapan aku menikah dengan Om-mu ...?! Hah ...?!" sergah Helena.
Mendengar umpatan itu Dasha kembali terkikik geli. Sepasang bola matanya terlihat bersinar usil dan menggemaskan.
"Aaahh ... baiklah ... baiklah ... bagaimana kalau aku memanggilmu Aunty ...?" menatap Helena dengan ekspresi wajah super polos namun sedikit usil.
"Itu sama saja, bodoh ...!" umpat Helena kasar.
"Bodoh? Kau menyebut diriku bodoh?" Dasha menatap Helena dengan wajah yang tak bisa diartikan. "Tante, kenapa bicaramu sangat kasar sih?"
"Sudah aku bilang jangan memanggilku TANTE ...!!" Helena telah benar-benar dibuat meradang dalam sekejap.
Dasha terlihat merenggut kecil. "Haihh ... sudahlah, aku jadi pusing meladenimu, Tan ..."
"Kau ...?!"
"Aku akan menemui Tuan Luiz saja. Lagipula ... aku juga tidak peduli siapa dirimu, dan untuk apa kau berkeliaran di Apartemen ini."
Pada akhirnya Dasha telah berucap dengan nada suara yang intonasinya telah berubah seratus delapan puluh derajat lebih serius dari sebelumnya.
Matanya menatap tenang namun tajam menusuk, kearah Helena yang juga sedang menatapnya dengan sepasang mata yang dipenuhi kemarahan yang menggelora.
Kedua wanita itu telah bertatap-tatapan, tanpa ada satu pun yang rela mengalah, dengan aura yang seolah hendak saling membunuh satu sama lain.
"Persetan jika kau tidak peduli siapa aku, tapi aku akan tetap mengatakannya padamu agar kau puas. Aku adalah Helena, kekasih Luiz. Siapa kau ...? Kenapa kau begitu lancang masuk tanpa ijin dan begitu percaya diri ...?!" Helena terlihat menunjuk dadanya dengan bangga, namun Dasha justru membalasnya dengan tersenyum kecut.
'Kekasih ya ...?'
'Cihh ... sudah kuduga ...!'
'Ja lang ini pastilah salah satu dari sekian banyak koleksi wanita, yang telah menjadi kekasih Tuan Luiz, seperti yang begitu sering diisukan oleh berbagai media selama ini ...!'
Dasha membathin acuh, namun senyum yang sinis tetap menghiasi segaris bibirnya yang tipis dan memerah alami.
"Untuk mencegahmu mati penasaran, sepertinya aku juga harus memperkenalkan diriku. Agar kau juga tahu, siapa aku ..."
Dasha menarik nafasnya sejenak, sebelum berucap lagi, kali ini dengan wajahnya yang nyaris tanpa ekspresi.
"Aku Dasha, dan aku adalah pemilik pria, yang telah kau klaim sebagai kekasihmu itu ...!"
Dasha yang berumur enam belas tahun ... π
"Belum apa-apa, sudah membuat salah satu koleksi wanita Tuan Luiz nyaris gila ...π"
__ADS_1
...
Bersambung ...