
Double up.
...
Sesaat yang lalu kamar berukuran besar itu telah dipenuhi desa han yang silih berganti, era ngan manja, serta deru nafas yang memburu dari sepasang manusia yang tak henti bercum bu.
Namun begitu Leo ambruk diatas tubuh Victoria, dari semua suara ero tis yang tadinya berkejar-kejaran serta sahut-menyahut, yang tersisa kini hanyalah hembusan nafas yang semakin lama semakin teratur.
Menyadari Victoria pastilah akan merasa berat menampung bobot tubuhnya, Leo pun menjatuhkan dirinya kesamping.
"Jangan menjauh."
Ujar Leo sambil menarik tubuh Victoria yang baru saja hendak berniat beranjak dari ranjang, yang bentuknya sudah sangat kacau balau tak beraturan, menguncinya dalam dekapan tubuhnya yang bermandikan keringat.
"Leo, hari mulai malam, kita harus segera bersiap."
Tak ada jawaban, namun pelukan pria itu terasa semakin erat melingkari pinggang ramping milik Victoria, menandakan dirinya enggan beranjak.
"Leo ..."
"Sepuluh menit. Berikan aku waktu sepuluh menit."
Victoria mengalah. Ia memilih menghembuskan nafasnya berat, saat mendengar permintaan Leo yang terucap dengan suara beratnya yang khas.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Beberapa kali tepukan lembut di pipi telah membuat Leo terjaga.
Leo menarik tubuhnya kuat-kuat sambil menguap lebar, mencoba menghilangkan rasa kantuk yang masih terasa lekat.
"Leo, bangun, kau harus bersiap ..."
Bisikan yang merdu ditelinga membuat Leo tergerak untuk membuka matanya.
Lewat tirai jendela yang sedikit tersibak Leo tertegun mendapati hari yang mulai gelap.
"Jam berapa ini?" tanya Leo sambil menatap Victoria yang terlihat cantik dengan dress sederhana berwarna salem.
Leo mencoba bangkit meskipun tubuhnya masih saja terasa malas dan lelah.
"Jam enam sore."
"Astaga ... jadi aku tertidur?"
"Tadi aku sengaja tidak membangunkanmu dulu karena tidurmu terlihat sangat lelap." kilah Victoria, sambil tetap berdiri tak seberapa jauh dari tepi tempat tidur.
Leo tidak menjawab. Ia seolah baru tersadar bahwa saat ini Victoria telah begitu cantik.
Victoria mengenakan sebuah dress berwarna salem dan berpotongan sederhana, yang merupakan salah satu dari sekian banyak pakaian yang ia belikan untuk wanita itu tadi siang.
Wajah cantik Victoria bahkan telah terpoles make up tipis, namun meskipun demikian auranya seolah memancarkan bintang terang. Terlihat berkali-kali lipat semakin cantik dimata Leo.
__ADS_1
"Maaf, aku telah lancang memakai salah satu pakaian yang kau beli tanpa bertanya lebih dulu."
Leo masih setia membisu. Masih tak menyangka jika ia bisa terpukau begitu rupa oleh karena penampilan sederhana Victoria, yang berdiri tepat dihadapannya.
"Aku hanya berpikir bahwa tadi kau bilang semua isi paper bag itu adalah milikku, jadi aku ..."
"Cantik." Leo bergumam lirih.
"Apa ...?"
"Mmm ... maksudku ... kau memang benar. Semua paper bag itu adalah milikmu." ralat Leo kelabakan.
Victoria tak bisa lagi menyembunyikan wajahnya yang berbinar penuh kebahagiaan.
Tentu saja.
Wanita manapun pasti akan merasa bahagia, jika mendapatkan hadiah istimewa sebanyak itu dari pria yang dicintainya.
Leo memang telah membelikan begitu banyak pakaian untuk ulang tahun Victoria kali ini.
Mulai dari beberapa gaun yang indah juga beberapa outfit harian yang berkelas.
Semua pemberian Leo untuk Victoria merupakan barang-barang branded hasil maha karya para designer kondang.
Harganya jangan ditanya, sudah tentu sangat fantatis, meskipun pastinya harga tersebut tidaklah seberapa untuk seorang Leo.
"Terima kasih telah memberikan begitu banyak hadiah di hari ini. Tapi Leo, semua itu ... semua pemberianmu itu ... pasti harganya sangat mahal ..."
Entah kenapa saat ini Leo merasa sangat malu. Ia baru sadar bahwa telah membeli begitu banyak pakaian dengan beraneka macam model dan warna, hanya untuk ia berikan kepada Victoria.
'Aku ini sedang melakukan apa?'
'Mengapa aku memberikan Victoria begitu banyak pakaian dalam sekejap?'
'Bagaimana kalau Victoria menjadi ge-er dan kemudian salah memaknai kebaikanku?'
Leo membathin resah.
Tadi siang, hanya karena mengetahui El telah membelikan Victoria es krim saat pria itu mengantarkan Victoria kembali ke Florist, mendadak Leo juga seolah ingin membeli seisi dunia ini untuk Victoria.
Leo tidak tahu persis apa yang disukai Victoria, namun ia telah membelikan beberapa helai pakaian sekaligus untuk wanita yang kerap bersikap masa bodoh itu.
Mulai dari gaun pesta yang sederhana sampai ke model yang elegan, tak ketinggalan beberapa baju casual lainnya sebagai outfit yang sudah pasti kwalitasnya tidak kaleng-kaleng.
Bukan tanpa alasan mengapa yang Leo beli semuanya adalah pakaian?
Karena hanya bentuk tubuh Victoria saja yang bisa Leo prediksikan dengan begitu detail, hasil dari kegemarannya menjelajah setiap lekuk tubuh istrinya itu setiap kali ada kesempatan.
Karena jika bicara tentang hobi, kegemaran, bahkan ukuran sepatu sekalipun, maka tak ada satupun yang diketahui Leo tentang Victoria dengan sebegitu detail.
Bukan main.
__ADS_1
Selama lima tahun berumah tangga, Leo tidak pernah tahu hal-hal mendasar tentang Victoria.
Tidak, tidak sama sekali!
Untuk itulah pada akhirnya Leo memutuskan membelikan Victoria pakaian saja dengan berbagai model, yang penting modis!
"Tunggulah sebentar, aku akan mandi dan bersiap." ucap Leo sambil ngeloyor begitu saja kedalam kamar mandi yang juga berada didalam kamar itu juga.
πΈπΈπΈπΈπΈ
"Lana, apakah Leo dan Victoria sudah tiba?"
Arshlan yang sedang menautkan satu persatu kancing kemejanya, bertanya kearah Lana yang baru saja masuk kedalam kamar.
"Tadi sebelum berangkat kesini Leo telah menelepon. Kemungkinan besar saat ini mereka pasti sedang dalam perjalanan menuju kesini, dan sebentar lagi akan sampai." jawab Lana sambil mendekat kearah Arshlan, guna membantu pria itu menautkan sisa kancing yang tersisa.
"Apa semua persiapannya sudah selesai?"
"Beres seratus persen." jawab Lana lagi kali ini dengan nada bangga yang kentara. "Kue ulang tahunnya sudah siap dan kadonya pun sangat istimewa."
Mendengar itu Arshlan tersenyum bangga menatap istrinya yang masih saja terlihat sangat cantik diusianya yang tidak lagi muda.
"Kau telah melakukan hal yang terbaik sayangku." puji Arshlan, lagi-lagi sambil mengusap pipi Lana penuh kasih sayang.
Menyadari bahwa setelah sekian lama, pada akhirnya Lana bersedia melakukan gencatan senjata untuk menantunya sendiri membuat Arshlan tidak bisa lagi menahan kekagumannya kepada wanita yang telah menjadi semakin bijak dari hari ke hari.
"Itu semua karena dirimu, sayang. Kau yang terus menyadarkan aku tanpa lelah, bahwa pada kenyataannya, selama ini aku telah salah mengambil sikap. Sayang, kau benar. Sebuah ikatan suci pernikahan, selayaknya tidak boleh dirusak oleh kata perpisahan ..." lirih Lana sambil terpekur.
Lana tidak bisa lagi mengungkapkannya betapa saat ini keseluruhan hatinya diliputi perasaan bersalah.
Selama lima tahun Lana telah melakukan kesalahan dengan mengabaikan kehadiran Victoria dalam keluarga mereka.
Disisi lain, rasa cinta serta pembelaan seorang ibu kepada anaknya telah membuat Lana tidak bisa berpikir jernih.
'Semoga saja semua ini belum terlambat ...'
Lana membathin, dalam hati penuh harap. Namun usapan lembut jemari Arshlan dipipinya seolah mengalirkan kekuatan dan kepercayaan.
"Belum terlambat, dan aku yakin kau bisa melakukannya." ucap Arshlan seolah bisa membaca setiap keraguan yang bersemayam di dalam bilik hati Lana yang terdalam.
"Aku tahu. Aku tahu bahwa aku bisa." ucap Lana dengan penuh keyakinan diri yang menguat.
Demi kebahagiaan Leo, Lana telah membulatkan tekad untuk bisa meyakinkan hati putranya itu.
Bahwa Victoria adalah wanita yang baik, serta pantas untuk diperjuangkan, dan meskipun awalnya akan menjadi sedikit sulit saat harus menyatukan dua persepsi yang berbeda, namun cinta bisa datang karena kebaikan hati pasangan kita.
Leo harus diyakinkan, bahwa Victoria adalah wanita yang tepat, untuk bersamanya di masa depan.
...
Bersambung ...
__ADS_1
Support terus yuk π€