
"Kak Niken, nanti kita ke gramedia ya Shafa mau cari buku, kakak juga butuhkan."
"Iya nona." jawab Niken singkat.
Sejak tau Jones dekat dengan keluarga Wu Niken jadi berubah pendiam, apa lagi ia melihat Jones tertarik pada Shafa hatinya tidak rela karna ia ingin sekali menjadi pendamping laki-laki itu.
"Kak.. kok beberapa hari ini kakak jadi pendiam sih kenapa ada masalah kak, kasih tau Shafa mana tau bisa bantu."
"Ngak apa apa nona."
"Kalau ngak apa apa kok murung gitu kak."
"Cuma ingat keluarga, jadi kangen."
"Owhhh ya kak, kalau gitu kakak pulang aja mbak Linda bisa jadi teman Shafa."
"Ngak usah nona, ngak apa apa kok."
"Kak, bisa ngak jangan manggil Shafa nona, Shafa kurang nyaman, kan udah sering Shafa minta kok susah banget kakak manggil nama saya sih."
"Maaf nona, itu sudah peraturan saya tidak berani melanggarnya."
"Setidaknya pas kita berdua kak."
"Maaf nona saya tidak berani."
Shafa menarik napas dalam dalam, ia sedikit jengkel karna Niken tidak mau menuruti kemauannya, memang sudah peraturan seperti itu di buat Mommy sejak ia tinggal bersama anak, menantu serta cucunya.
Sebab Shafa terlihat sangat akrab dengan para bodyguardnya sehingga tidak ada batas atau benteng di antara mereka, para bodyguard merasa Shafa adalah teman mereka sehingga kadang mereka lupa kalau Shafa majikan mereka, dalam perbutan dan cara berbicara kadang tidak terkontrol lagi.
Mommy dan Daddy serta Johan tidak suka itu, seakrab akrabnya majikan dengan maid atau majikannya harus tetap ada batasnya, begitu menurut mereka.
__ADS_1
Sedang Zahra, Shafa tidak begitu perduli dengan hal hal seperti itu, mereka terbiasa bergaul dengan siapa saja,, mereka tidak pernah memandang siapa lawan bicara atau teman sepergaulan mereka, kaya atu miskin.
Shafa berjalan lambat di taman tempatnya berkuliah, ia menikmati suasana tempat itu yang terasa tenang dan nyaman baginya, matanya menyipit saat melihat dari kejauhan Jones datang menyongsong dengan senyum lebar.
Jones tampak sangat gagah dengan baju kemeja warna putih dan celana hitam, seperti gaya orang yang ingin melamar pekerjaan atau sedang magang saja.
( Senyumnya membuat author baper eh hadirin baper ) mata para wanita termanjakan melihat pesona seorang Jones yang tampak lebih muda dan cool.
"Hai girl.. sendiri saja, mau di kawal tidak." menyapa Shafa dengan senyum mautnya, tapi sayang Shafa tidak tergoda.
"Assalamualaikum wrwb, hai juga Uncle, Tidak saya tidak perlu di kawal."
"Mana pengawal kamu yang ikutan kuliah, masa jalan sendiri, nanti kalau di culik orang berabe dong, atau kamu mau aku yang culik."
"Tukang pel ?, ngak lah mending aku yang nyuci sama ngepel dari pada kamu, di ambil bukan untuk di jadikan pembantu tapi untuk di manjakan dan di sayang sayang." wajah tampan itu berkata tampa beban, tinggal Shafa yang kebingungan karna tidak paham maksud Jones.
" Emang mau kemana sama Niken itu, bukannya jam kuliah masih ada ya." tanya Jones.
"Maksud Uncle ?."
"Shafa aja yang mikirkan." terus berjalan mengikuti langkah Shafa.
"Shafa mikirin apa ?."
Jones kehilangan kata kata.
"Shafa ngak tau atau pura pura ngak tau ya."
__ADS_1
gumam Jones garuk garuk tengkuk.
"Hai cewek, mau kemana nih, ikut dong." Reihan berjalan di samping Shfa, namun berjarak, Jones ada di sebelah kanan, Raihan di sebelah kiri gadis itu, mereka berdua sudah seperti pengawal Shafa.
Jones menatap tajam pada Reihan, laki-laki itu masih saja mengejar Shafa meski di cuekin dan di.larang, membuat Jones ngenes melihat tingkah sok ganteng laki-laki itu.
π
π
π
π
Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baikΒ terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.
Mari tetap semangat dan saling support
Dengan cara :
π LIKE
π RATE
π VOTE
π HADIAH yang banyak
πKOMEN yang sebanyak banyaknya.
Wo Ai Ni all..
__ADS_1
Happy Reading.