UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
27. Shafa Takut.


__ADS_3

"Ayah.. ayah marah pada Shafa ?." menggelayut manja pada lengan Nazwan, kepalanya ia sandarkan pada bahu sang ayah.


"Tidak, kenapa Shafa pikir ayah marah." membelai tangan anak perempuannya penuh kasih.


"Sejak papa datang ayah diam terus, ayah dan papa seperti rival saja, ingat yah papa tidak pernah merebut mama dari ayah, takdir yang menyatukan mereka."


Nazwan terdiam mendengar kata kata Shafa, sepertinya anak gadisnya itu bisa membaca isi hatinya.


"Ayah.. Shafa akan selalu menyayangi ayah seperti Shafa menyayangi papa, kalian berdua orang yang Shafa hormati dan cintai selamanya ayah jangan berpikir kalau sayang Shafa menyebelah pada papa saja, tidak yah Shafa akan selalu menjadi anak perempuan ayah yang sayang pada ayah sampai kapanpun jadi tolong jangan benci papa ya yah.."


"Tidak .. ayah tidak benci pada papamu, laki-laki itu yang pasang tampang dingin dan bermusuhan." membela diri.


"Hmmm papa memang begitu yah, ayah jangan tersinggung ya."


"Tapi Shafa harus ingat janji Shafa pada ayah ya." ucap Nazwan menatap mata Shafa.


"Iya yah Shafa ngak lupa kok, begitu lulus nanti Shafa akan mengabdi di kampung."


"Bagus .. ayah akan pegang janji Shafa."


"Percaya pada Shafa yah."


Johan keluar dari kamar rawatan Jones dengan wajah memerah karna adu mulut dengan Jones di dalam sana, Jones memelas ingin di pertemukan dengan Shafa berdua saja, bagai mana Johan tidak emosi di buatnya.


"Papa kenapa, Uncle.. Uncle kenapa pa." tanya gadis itu cemas.


"Tidak apa apa gils, masuklah tapi jangan lama lama ya."


"Iya papa." dengan air mata hampir tumpah Shafa memasuki kamar itu seorang diri.


Robby keluar kamar setelah Shafa masuk, Robby berniat memanggil dokter untuk memeriksa kondisi Jones yang baru siuman.


"Uncle.. Uncle.. " setengah berteriak Shafa menghampiri Jones yang matanya kembali terpejam, laki-laki itu ingin tau reaksi Shafa saat melihatnya tidak sadar.


"Kata papa Uncle ngak apa apa kok belum bangun juga hiks ayo bangun Uncle Shafa akan merasa bersalah kalau Uncle kenapa napa, nenek bisa marah besar pada Shafa huhuhuuu."


Shafa menyingkap cadar untuk menyeka air mata yang bercucuran, tingkah dan perilaku gadis itu terkadang masih kanak kanak dan terkadang dewasa membuat Jones gregetan di buatnya.

__ADS_1


Shafa menangis sesegukan kulit wajahnya yang putih bersih memerah karna berulang kali di usap mata indahnya bahkan memerah belum lagi hidung mancung nan mungil itu sudah seperti tomat masak.


Jones tersenyum di intipnya gaya tangis Shafa dari kelopak matanya yang terbuka sedikit, sungguh ia ingin sekali menggigit bibir mungil itu hingga pemiliknya tidak bersuara.


Cukup lama Jones melihat wajah cantik itu hingga ia tersadar waktu yang di berikan Johan hanya sedikit, ia pun pura pura menggeliat agar Shafa menyadari kalau ia sudah bangun.


"Nghhhh.. hai girl kenapa menangis."


"Uncle.. Uncle sudah bangun." menutup cadarnya cepat lalu menyeka sisa air mata yang masih melekat di sudut matanya.


"Hmmm ya, tadi kenapa menangis." tanya laki-laki itu pura pura tidak tau.


"Shafa takut, Shafa takut Uncle ngak bangun lagi huaaaaa." tangisnya menjadi.


Padahal Jones sangat berharap Shafa menjawab lain " Shafa takut Uncle kenapa napa, Shafa kwatir Uncle karna Shafa sayang sama Uncle." tapi harapan Jones hanya sia sia Shafa malah takut ia tidak bangun lagi polos pake banget jawabannya bukan ?.


"Kalau aku ngak bangun lagi terus gimana ?."


"Shafa takut di marah nenek." ucapnya jujur dan polos.


"Hahhh cuma takut di marah mama, mama buka nenek."


Jones terdiam Shafa benar benar tidak peka dengan maksud dan perasaannya, para dokter segera masuk ke dalam ruang ICU itu untuk memeriksa kondisi Jones.


Setelah memastikan Jones sudah mulai membaik mereka pun memindahkan Jones ke ruang perawatan biasa, namun para dokter tetap menganjurkan agar Jones di periksa ke rumah sakit yang lebih lengkap peralatan medisnya untuk memastikan tidak ada komplikasi lain pada laki-laki itu.


"Papa.. Shafa ngak bisa nemanin papa menjaga Uncle, bisa Shafa pulang sama ayah ke rumah." tanya Shafa hati hati.


"Iya girl, pulanglah papa akan lebih tenang kalau Shafa pulang, nanti papa juga akan menginap di hotel dekat rumah sakit ini."


"Hotel ?? sama siapa, kok ngak ke villa papa ?." selidik Shafa, dia dan Janeet sama sama fosesif pada sang papa sehingga mereka harus tau segalanya tentang Johan ketika berada di luar rumah.


"Papa akan menginap di hotel bersama Uncle Robby, kalau ke villa kan jauh girl." jawab Johan dengan senyum mengembang.


"Terus Uncle Jones siapa yang jaga."


"Kan ada Uncle Aldo dan bodyguar lainnya."

__ADS_1


"Owhhh ya papa, besok Shafa cepat datang kok papa."


"Iya girl kita harus segera pulang begitu pemeriksaan Uncle Jones usai dan dia bisa di bawa naik pesawat."


"Iya papa." jawab Shafa menunduk teringat ayahnya yang masih membutuhkan perhatian darinya.


"Kok lesu begitu, belum mau pulang ya, sudah lupa rumah mama, mey mey adek adeknya?."


"Ngak papa, ngak kok."


"Hmmm ya sudah pulanglah girl, istirahat yang cukup.ya, jangan nangis lagi anak gadis papa kok sekarang jadi cengeng sih."


"iya papa, tapi Shafa ngak cengeng kok."


"Ya ya ya ngak cengeng."


Setelah berdebat kecil bersama sang papa gadis bercadar itu pergi dengan sang ayah di temani para bodyguard yang selalu setia di sisi Shafa bahkan pengawalannya makin di perketat sejak penculikan Shafa.


++++++++


Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik  terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.


Mari tetap semangat dan saling support


Dengan cara :


💝 LIKE


💝 RATE


💝 VOTE


💝 HADIAH yang banyak


💝KOMEN yang sebanyak banyaknya.


Wo Ai Ni all..

__ADS_1


Happy Reading.


__ADS_2