UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
20. Sayang.


__ADS_3

"Meimei sana bujuk papa, papa lagi marah marah." Zahra menurunkan balita itu dari gendongannya.


Janeet berlari kecil memasuki ruang kerja sang papa, di sana Robby, Aldo dan Andy sedang duduk di hadapan Johan yang tengah memijit pelipisnya yang terasa sakit sehabis marah marah pada ketiga bawahannya itu.


Ketiga laki-laki dewasa itu tengah menunduk, mereka tidak berani mengangkat kepala, amarah Johan yang meledak ledak membuat mereka sangat takut.


"Papa.. wo ai ni cup cup.cup cup cup." Janeet menciumi seluruh permukaan wajah Johan berkali kali, tangan mungilmya membelai belai wajah tampan sang papa.


Kemudian gadis kecil itu memeluk tubuh Johan yang besar, Johan yang tengah duduk di sopa membalas pelukan putri kecilnya itu, ada rasa nyaman dan tenang begitu gadis kecil itu memeluknya.


"Don't be angry papa." ucapnya terbata bata, Janeet sudah di ajarin bahasa inggris oleh Johan bahkan Johan Mommy Daddy Azka serta kakak kembarnya terkadang berbicara bahasa Inggris dengannya agar balita itu terbiasa dan pintar dia juga di ajarkan bahasa tionghoa oleh sang oma dan opa begitu juga dengan kakak kakak Janeet yang lain.


Shafa sendiri sudah pintar berbahasa Inggris dan tionghoa karna di ajari oleh Daddy dan Mommy sejak mereka tinggal satu atap.


Hanya Zahra sendiri yang tidak bisa bahasa inggris dan tionghoa sebab sangat sulit baginya untuk mempelajari meski otaknya cukup encer tapi begitu mengenal bahasa dan mempelajarinya dia tidak mampu.


"No dear papa not angry."


"Papa smile." menarik kedua sudut bibir sang papa dengan jari jari tangannya yang mungil.


Johan terpaksa tersenyum demi sang putri, lalu ia kembali memeluk Janeet, sementara tangan kecil Janeet masih membelai belai wajah Johan yang kaku begitu melihat Robby serta yang lain.


"Hahhhh lega." ucap Robby, Andy dan Aldo begitu keluar dari ruangan penyiksaan bathin menurut mereka kalau Johan sedang marah.


"Untung inces Janeet cepat datang, kalau ngak bisa putus napas ku." ucap Andy si manusia salju sembari mengelus dadanya.


"Iya nih inces Janeet tepat waktu." Aldo.


" Inces Janeet penyelamat." Robby.


"Masih marah marah." tanya Zahra yang tiba tiba muncul di antara mereka.


"Tidak lagi nyonya, begitu inces datang kami pun selamat." adu Robby.


"Syukurlah, o iya kenapa bisa dokter Jones ikutin Shafa dan kok bisa jadi supir Shafa." Zahra.


"Saya juga bingung nyonya, kok bisa si coro itu sampai ke sana, dia tau dari mana kalau nona Shafa ke kota xx." Robby.


"Siapa yang kasih tau ya." bingung Zahra.


"Tidak tau nyonya." jawab ketiga laki-laki itu.


"Yang pasti Riko di temukan di toilet bandara dalam keadaan terikat serta mulut di lakban, siapa lagi kalau bukan kerjaan Jones." Robby.


"Yaa ampun nekat banget dokter Jones, lalu bagai mana kalian lolos dari dalam." Zahra.


"Nona muda mengusir kami, nona melempar kami dengan bantal kursi, lalu kami bebas." tawa Aldo serta yang lain.


"Anakku memang pintar." tawa Zahra menutup mulutnya.


"Betul."


Setelah ketiga laki-laki itu pergi Zahra memasuki ruang kerja Johan, dia tertegun begitu masuk ruangan, Johan yang merenahkan tubuhnya di atas sopa di peluk oleh Janeet dari samping, tangan kecil itu meraba raba wajah sang papa dengan mata terpejam.


Johan sendiri tampak memejamkan matanya berlahan Janeet naik ke atas perut papanya, dengan wajah miring ia merebahkan tubuh kecilny di atas perut Johan.


Sesekali ia mencium wajah sang papa di balas cium oleh Johan dengan mata terpejam, Zahra merasa tersentuh melihat kedekatan anak dan papa itu, lalu ia teringat kembali pada masa kecilnya betapa ia sangat di manja oleh sang ayah waktu itu.


Air mata merembes di wajah cantik Zahra, berlahan ia mendekati keduanya lalu ia pun duduk menghadap Johan dan Janeet.


Hampir dua puluh menit Zahra duduk di sana sampai Johan berlahan bangkit sambil memeluk Janeet agar tidak terjatuh.


"Koko.."


"Sayang, kapan di sini."

__ADS_1


"Sudah hampir dua puluh menit."


"Loh kok diam aja."


"Malas ganggu yang lagi pelukan."


"You're jealous dear." senyum Johan.


"Ya aku cemburu, koko lebih banyak memeluk gadis itu sekarang dari pada aku."


"Ok ok .. ayo ke kamar, nanti di sana koko akan beri pelukan yang sangat banyak." senyum mesum.


Ishhhh ...


Di tempat lain di seberang pulau.


"Assalamualaikum wrwb."


"Waalaikumsalam wrwb."


"Ayah.." berlari kecil ke arah Nazwan.


"Anak gadis ayah." Nazwan memeluk anak semata wayangnya itu erat erat, melepas rasa rindu yang sudah lama tidak bertemu.


Shapa dan yang lain sudah sampai di rumah, rumah lama yang dulu di tempati oleh Zahra dan Nazwan, di rumah itu dulu Shafa lahir.


Rumah model mini malis dan sederhana dengan ukuran sepuluh kali lima belas, rumah kecil namun asri yang kini di tempati Nazwan seorang diri, dulu rumah itu di tinggal begitu saja oleh Zahra setelah membangun rumah baru, namun meski di tingal rumah itu tetap terawat.


"Apa kabar mu nak, ayah sangat rindu."


"Shafa sehat yah, Shafa juga rindu ayah." gadis itu menangis di pelukan sang ayah, meski masa kecil Shafa di warnai kekerasan oleh Nazwan padanya dan Zahra kasih sayang Shafa tidak berubah walau bagai manapun kerasnya Nazwan dia tetap ayahnya.


"Hmmm gitu ya, ayah tangah sama ayah ketek tidak di anggap di sini." Aswin.


"Baik dan sehat nak, Shafa udah gadis sekarang ayah ketek pangling." Aswin.


"Hehehe masa Shafa kecil terus."


Mereka saling melepas rindu, bercerita bersama hingga malam, karna sudah lelah Shafa pamit ke kamarnya, di kamar itu dia tidur bersama ketiga bodyguar wanita karna rumah itu hanya memiliki tiga kamar.


Shafa tidur di kasur ukuran sedang seorang diri sementara Asiah, Lila dan Niken di atas karpet di bawah, Shafa sudah berulang kali meminta salah satu di antara mereka yang tidur di atas bersamanya namun mereka tetap tidak mau dan ingin tidur bertiga di bawa.


padahal kamar Shafa ukurannya hanya sebesar ukuran kamar mandinya di kota, mereka ahirnya susun gembung tidur di kamar itu.


Jones di paksa tidur di kamar sebelah di paksa Shafa, padahal Jones ingin tidur di kamar bersama Nazwan karna ingin PDKT pada calon mertua, tapi karna Shafa merasa tidak enak dan kurang pantas mengingat Jones adalah orang yang ia segani dan teman sang papa Shafa tidak mau kalau Jones bergabung di kamar ayahnya.


Tadinya Nazwan meminta Jones tidur di kamarnya bersama dan para bodyguard tidur di kamar tamu, tapi karna Shafa tidak mengizinkan Ahirnya Jones tidur di kamar tamu lalu bodyguar tidur di ruang tamu dengan alas karpet.


"Hai girl.. sudah tidur." sapa Jones lewat


pesan Wa, melihat status Wa Shafa yang onlane.


"Hai Uncle udah mau tidur."


"Aku ngak bisa tidur."


"Kenapa ?."


"Kangen seseorang."


"Di telepon Uncle, jangan Shafa di Wa."


"Udah nih, tapi di cuekin mau tidur katanya."


"Kasian πŸ˜…."

__ADS_1


"Kejam."


"Hahaha baru tau ya."


"Ngak udah lama, ngak peka dan ngak perasaan lagi, gadis jahat."


"Biarin wekk 🀣."


"Jangan wek, nanti aku gigit."


"Gorila."


"Jones tampan."


"Air laut."


"Biarin."


" Shafa......"


" Sayang.. 😍πŸ₯°πŸ˜˜πŸ˜˜." berani.


Tidak ada balasan.


"Hai."


"Hai.."


"Hai.."


"Shafa.."


"Cantik.."


Tetap tidak ada jawaban, Jones berpikir pasti Shafa sudah tertidur, ahirnya ia berusaha memejamkan mata dan tidur.


Di kamar Shafa, gadis itu sudah tertidur pulas dengan handphone masih menyala di tangannya, Niken yang hendak keluar ke kamar mandi melihat handphone Shafa yang masih aktif, lalu ia berjalan ke arah tempat tidur.


Ia meraih handphone itu berniat menyimpan ke atas meja rias yang ada di sana, matanya melotot melihat isi chat Shafa dengan laki laki idamannya


Rasa cemburu dan marah membuatnya menghapus pesan yang masuk dan belum di baca serta di balas oleh Shafa.


Asiah yang diam diam memperhatikan tingkah Niken ia menggeleng geleng kepalanya.


"Kau sudah mulai tidak setia Niken, awas kalau kau berani macam macam, aku akan lebih mengawasi mu." gumam Asiah.


πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“


Hai....


Dukung author terus ya..


πŸ“Like..


πŸ“Vote..


πŸ“Rate..


πŸ“Komen yang sebanyak banyaknya.


Happy Reading.


Wo Ai ni all.........


😘😘😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2