
"Uncle mau kemana, kok rapi banget, udah ganteng lagi, Shafa boleh ikut ya." mengedipkan matanya berkali kali sok imut.
Jones diam, senyum manis laki-laki itu pasti akan meruntuhkan hati para wanita dari kaula muda maupun yang tua, namun senyum itu tidak seindah biasanya sinar mata dan wajahnya juga tidak biasanya.
"Uncle kok diam saja sih, boleh ikut ngak." tanya Shafa sambil berjalan ke arah Jones tapi tidak sampai sampai padahal jarak antara Shafa dan laki-laki itu hanya beberapa meter saja.
"Ishhh Uncle kok sombong banget sih, di tanya diam aja di panggil ngak di jawab, Shafa jalan Uncle kok menjauh, apa salah Shafa." tanya gadis itu dengan wajah imutnya.
Jones tetap diam.
Uncle.. Uncle.. Uncle..
Hahhhh hahhhhhh .... Ungclee.....
"Nona.. nona.." panggil Asiah.
"Kak.. kakak Uncle huaaaaaa." Shafa menjerit kencang, air matanya kembali
mengalir deras.
"Sabar nona sabar, nona yang tenang ya.." Lila.
"Uncle mana kak, Shafa mimpi ya, Shafa kenapa kak, kok Shafa ada infusnya." bingung melihat jarum infus yang terpasang di tangannya.
Lalu ia melihat sekeliling ruangan berornamen putih itu dengan seksama, keningnya tampak berkerut,makin bingung saat ia menyadari tempat itu adalah ruangan VVIP rumah sakit, Shafa terdiam, ia memgingat ingat lagi kejadian sebelum ia berbaring di tempat tidur rumah sakit.
Yang ia ingat hanya saat papanya masuk keruang operasi menerobos, sambil teriak teriak.
Flasback on.
" Lu ngak boleh mati Jones, lu ngak boleh mati." suara Johan yang kencang dan lantang membuat Shafa shoc.
Dan saat mendengar itu tubuh Shafa langsung jatuh di atas lantai ia tidak sadarkan diri, tidak berapa lama kemudian di susul mama Dara yang juga pingsan.
__ADS_1
Niken, Asiah dan Lila membawa Shafa ke ruang pemeriksaan, tekanan darah gadis itu Drop sampai 78/67 mmhg, setelah di periksa dan di observasi Shafa yang masih pingsan di pindahkan ke ruang perawatan VVIP.
Di dalam ruang operasi Johan marah marah karna para perawat dan dokter sudah melepas satu persatu alat alat medis dari tubuh laki-laki tampan yang sudah pucat pasi itu, tidak ada lagi tanda tanda kehidupan di tubuh Jones.
Matanya terpejam rapat, pinggir bibirnya bahkan mulai membiru, dadanya diam tidak ada gerakan pada diaprahmanya.
"Brengsek, sialan lu .. bedebah, bangun lu Jones gua ngak ngizinkan lu mati sekarang cepat bangun, bangun lu brengsek ayo bangun."
Suara Johan bergema dalam ruangan itu, ia tampak histeris memaki dan memarahi
tubuh lemah itu.
"Tuan sabar tuan, sudah jalannya begitu kita harus iklas, kita doakan saja agar tuhan memberikan tempat yang terbaik untuk dokter Jones semoga ia husnul khotimah." dokter Danu mengusap air mata yang sudah merembes jatuh sejak tadi.
"Diam lu, jangan banyak bicara cepat selamatkan Jones, dia masih hidup, cepat pasang alat alatnya lagi, infusnya jangan di buka dia masih butuh banyak darah, gua sudah pesan banyak darah untuknya, dia butuh cairan juga."
Maaf tuan, kita sudah tidak bisa berbuat apa apa lagi sekarang, mohon tuan mengerti, sekarang mari keluar dulu agar kami siapkan pemulangan Zasat dokter Jones.
Meski melanggar kode etik mereka terpaksa melakukannya kembali, siapa yang berani menentang seorang Johan, toh kalau dalam satu Jam Jones sama sekali tidak bergerak dan tidak bernapas Johan akan mengalah dengan sendirinya.
"Bedebah lu Jones, cepat buka mata lu, gua bilang buka mata lu Jones." Johan melemparkan alat alat medis yang ada di meja instrumen hingga berserakan di lantai.
Tidak sampai di situ laki-laki itu menggoyang goyangkan tempat tidur Jones hingga tempat tidur yang terbuat dari stenles itu berbunyi ribut dan bersuara keras.
"Bangun Jones, bangun .. cepat bangun brengsek gua mohon bangun lu Jones, bangun." semua yang ada di tempat itu menunduk sedih.
"Bangun bro, gua mohon bangun." ucapnya
lirih, dengan suara pelan dan tertahan.
Beberapa detik kemudian Johan ahirnya mengguncang guncang tubuh Jones lagi, ia marah ia murka dan ia tidak tau harus berbuat apa untuk menolong sahabatnya itu, para dokter dan perawat ikut menangis melihat CEO dingin dan Arrogant itu menangis.
"Bangun brengsek, plak.. plak.." dua tamparan di wajah tampan laki-laki itu.
__ADS_1
"Bangun, gua bilang bangun Jones, bangun lah ,lu bilang mau melamar Shafa, lu bilang mau nikahin putri gua lu bilang lu sangat cinta pada putri gua dan lu berjanji akan menjaga dan menemani putri gua hingga hari tua, mana janji lu Jones lu pembohong."
Johan mengguncang tubuh Jones, ia bahkan kembali menampar wajahnya, para dokter membiarkan Johan mereka biarkan laki-laki itu menyelesaikan beban mentalnya karna kehilangan sahabat sekaligus saudaranya itu.
"Bangun Jones, kalau lu ngak bangun siapa yang akan menikahi putri gua, lu mau putri gua di nikahi orang lain hahh, ayo bangun gua janji akan menikahkan lu dengan putri gua," ucapnya lirih kini tubuhnya yang lelah melorot kelantai, suaranya lemah dan sangat sedih.
"Bangun bro gua mohon." guman Johan.
Sementara itu perawat membuka kembali alat alat medis dari tubuh Jones bahkan selang infusnya juga di lepas.
Seorang perawat lainnya menutup seluruh tubuh Jones dari ujung kaki sampai kepala dengan kain warna putih, mereka bersiap membawa Jones ke ruangan lain agar keluarga segera membawanya pulang ke rumah.
*****************
Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.
Mari tetap semangat dan saling support
Dengan cara :
💝 LIKE
💝 RATE
💝 VOTE
💝 HADIAH yang banyak
💝KOMEN yang sebanyak banyaknya.
Wo Ai Ni all..
Happy Reading.
__ADS_1