
"Gimana ?, kau sudah dapat kepastian kapan pernikahan kalian." Hartono.
"Belum Daddy, susah banget mendapatkan perhatian perempuan itu." ucap Rafa kesal menghempaskan bokongnya di sopa ruangan sang Daddy.
"Huhhh menaklukkan perempuan model begitu saja kau tidak bisa." umpat Hartono kesal pada sang putra.
" Bukan gitu Daddy, dia bukan model wanita yang mudah di dekati, dia itu wanita berprinsif."
" Halahhh bilang saja kau tidak mampu, Daddy tidak mau tau kau harus cepat mendapatkannya, gunakan cara yang aman menurutmu."
"Iya Daddy, tenang saja."
*****
"Kenapa ?, lu kusut banget kayak baru kalah perang saja." tanya Robby.
"Yah gua baru pulang dari medan perang tapi ngak kalah cuma masih lelah, lelah mikir dan
mengatur strategi." jawabnya asal.
"Selamat berjuang kalau gitu."
"Lah lu bilang mau bantuin gua, gua kemari
mau menagih janji lu."
"Usaha sendiri bro, gua netral sekarang, usaha tampa batas, gua bantu doa deh."
__ADS_1
"Lah .. muna lu ya, plintat plintut, katanya mau bantu giliran di minta buang badan, sialan lu, payah.." omel Jones.
"Hei kan udah gua bantu, bantu doa, sisanya tergantung sama usaha lu."
"Sialan lu." marah Jones melempar sepatunya
ke arah Robby.
Robby tidak pernah mengatakan pada Jones kalau Johan sudah memberi jalan pada Jones untuk mengejar Shafa, namun tetap tergantung usahanya.
Di kantor Handoko laki-laki paruh baya itu makin marah pada Rafa karna menganggap putranya bertele tele, sudah dua hari sejak pertemuan Rafa dan Johan kala itu, katanya akan menghubungi tapi sampai saat itu tidak ada kabar.
Rafa sendiri sangat kesal dan prustasi karna Shafa selalu menghindar darinya, gadis itu bahkan sangat sulit untuk di temui, membuat Rafa marah dan berpikir lain.
"Ini ngak bisa di biarkan, kenapa lu cuekin gua Shafa, lu menghindari gua." emosinya.
Seharian Rafa mengikuti kemana Shafa pergi, dari pulang kuliah, makan siang, sampai ke toko buku dan mini market, Rafa berusaha menemuinya diam diam tapi tidak bisa karna pengawalan yang sangat ketat.
Shafa yang tengah sibuk berbelanja tiba tiba merasa ingin ke kamar mandi, lalu ia pergi tampa memberitahukan Asiah dan yang lain kalau akan ke kamar mandi, sebab mereka juga sibuk memilih dan mengambil barang belanjaan pesanan Zahra dan Maili.
"Astagfirullah kak brrbbbhhh." Shafa yang baru keluar dari kamar mandi di kejutkan dengan kehadiran laki-laki berpenampilan aneh karna memakai masker, jacket dan topi, namun Shafa masih bisa mengenalinya.
Mulut gadis itu di tutup Rafa dengan sapu tangan dan dengan sekuat tenaga Rafa menarik dan menyeret Shafa kasar agar ikut dengannya.
Mmhhhhh
Shafa terus berusaha melawan tapi kekuatan Rafa tentu lebih besar darinya, hingga Rafa berhasil membawa Shafa keluar dari pintu belakang mini market itu tampa sepengetahun orang lain.
__ADS_1
Di parkiran belakang yang sunyi sudah menunggu anak buah Rafa yang juga sudah menyalakan mesin mobil dan bersiap pergi dari sana.
Dengan kasar Rafa mendorong tubuh kecil gadis itu masuk kedalam mobil, tapi posisi tangan Rafa masih berada di mulut Shafa.
Setelah berada di dalam mobil Rafa langsung membuka cadar Shafa dan melakban mulut gadis cantik itu, air mata Shafa berderai di wajahnya gadis itu sama sekali tidak menyangka Rafa bisa berbuat begitu padanya.
"Diam, jangan berisik, kalau lu ngak menghindari gua dan ngak cuekin gua, gua tidak akan melakukan ini." menatap Shafa tajam.
Mobil melaju kencang meninggalkan tempat itu, sementara di dalam mini market Asiah dan yang lain kalang kabut mencari keberadaan nona mereka itu.
*******
Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.
Mari tetap semangat dan saling support
Dengan cara :
💝 LIKE
💝 RATE
💝 VOTE
💝 HADIAH yang banyak
💝KOMEN yang sebanyak banyaknya.
__ADS_1
Wo Ai Ni all..
Happy Reading.