
Shafa merasa risih di ikuti oleh dua orang laki-laki sekaligus, laki-laki beda generasi itu tampak sama sama ngotot ingin dekat dengan Shafa.
"Kak Reihan, Uncle maaf Shafa mau keluar tolong jangan ikutin Shafa, Shafa ngak enak di liatin orang orang."
"Ngak apa biar aku antar, kemana?." Reihan.
"Ngak perlu, aku yang antar." hardik Jones.
"Shafa pergi dengan kak Niken, ngak perlu di antar Uncle, kak Reihan, Shafa permisi ya."
Shafa pergi meninggalkan dua orang itu dengan hati tidak karuan, dia bingung mengapa dua orang itu selalu saja datang mengganggunya bahkan terkadang di waktu yang bersamaan.
"Kak, pulang dari gramedia kita ke mall ya Azka adek kembar sama mama lagi nunggu di sana." pinta Shafa saat duduk si bangku penumpang.
"Baik nona." Niken membawa laju mobil dengan kecepatan rata rata, tidak berapa lama kemudian mereka tiba di mall tempat Shafa dan mamanya janjian.
Begitu bertemu dengan sang mama serta adik adiknya mereka langsung berbelanja beberapa kebutuhan, entah apa yang mereka rencanakan tapi mereka tampak sibuk berbelanja berapa barang yang mereka butuhkan.
"Mama gimana dengan persiapan di studio ?." tanya Shafa sambil memilih milih beberapa baju untuk Janeet.
"Kata pak Robby sudah selesai persiapannya, tinggal kakak dan adek adek yang perlu mempersiapkan selanjutnya."
"Kami akan latihan lagi nanti mama, kalau papa belum pulang dari kantor."
"Ya sayang."
Setelah selesai belanja mereka langsung pulang ke rumah, Janeet menyambut mama dan kakak kakaknya dengan berlari kencang ke arah pintu, tubuhnya yang berisi tampak sangat lucu saat berlari.
"Aduh Meimei jangan lari dong, nanti lantai rumah kita pecah semua, yang lewatkan Excapator hahahahaha." tawa Azka sembari merentangkan tangannya ingin memeluk sang adik.
"No.. no." Janeet berlari ke arah Shafa dan langsung minta di gendong sang kakak.
"Babang sih ngejek, adik lihatkan ngak mau di gendong sama babang."
"Abisnya lucu Meimei ma, tuh lihat ngak sadar apa pantatnya berat, akak mana kuat gendong, bisa nyungsep lagi nanti hahaha."
Zahra juga ikut tertawa melihat Shafa yang kewalahan menggendong Janeet, Mommy dan Daddy mengajak mereka ke taman belakang untuk merundingkan sesuatu.
"Mommy tidak sabar Daddy." senyum bahagia Mommy.
"Sabar dong mom, dua hari lagi." Daddy.
"Iya oma, latihan kami juga belum sempurna, Shafa takut malu maluin."
"Emang kalian aja yang takut mama juga."
"Ngak ada yang akan bikin malu, opa lihat latihan kalian sudah sangat bagus, papa kalian pasti terharu nanti."
"Semoga sukses, tidak ada halangannya." Shafa.
"Aminn..." jawab semua orang.
**************
"Shafa .. mau kemana kok buru buru ?." Jones mengejar langkah Shafa yang tampak tergesa gesa keluar kelas saat mata kuliah yang di ajarkan Jones selesai.
"Ahhh Uncle Shafa kok lupa ya."
"Lupa apa." mengernyitkan keningnya.
"Lupa Uncle."
"Kok bisa, kamu tega ya."
"Maaf Uncle ngak ingat, betul deh." tetap berjalan dengan langkah cepat, Niken sendiri hanya diam ikut berjalan cepat di sisi Shafa.
__ADS_1
"Emang lupa apa sih." Jones makin bingung.
"Lupa kasih tau dan undang Uncle."
Deg... Jones menghentikan langkahnya seketika, wajahnya berubah pucat mendengar kata kata Shafa.
"Apa...." teriak Jones.
"Pelankan suaranya dong Uncle, tuh di liatin orang malu dong."
"Undang apa nih." Jones jadi piktor.
Shafa menghentikan langkahnya.
"Ayo kalau Uncle mau ikut, Uncle kan teman papa wajar kalau Uncle juga ikut."
"Kemana ?." masih piktor.
"Nanti juga Uncle tau."
Shafa dan Niken tiba di parkiran, Jones masih mencerna kata kata Shafa yang membuat otaknya terasa membeku karna rasa takut di hati.
"Waduh nona, ban mobil kempes nih." Asiah.
"Gimana ini, Shafa harus segera sampai ke studio." bingung Shafa.
"Pak bisa kami pinjam mobilnya." lila bodyguar Shafa lainnya.
"Lila dan kak Asiah saja yang pergi, aku betulin ban kempes saja nanti aku nyusul." ide Niken.
"Tidak perlu, kalian semua tunggu di sini nanti kalau sudah selesai cepat nyusul." titah Jones, sembari membuka pintu mobilnya yang ada di samping mobil Shafa.
Setiap parkirJones memang selalu memastikan mobilnya di samping mobil Shafa, ntah apa maksud dan tujuannya.
"Tapi pak." Niken.
"Nanti kami di marah tuan pak." Lila.
"Tidak akan, ayo Shafa naik."
"Shafa di bangku belakang aja Uncle."
"Tidak bisa, ayo di depan, emang aku supir Shafa, ingat aku calon suami kamu lo hahaha."
"Kata kata itu doa loh Uncle, nanti nyesel lo." masuk kebangku depan sesuai titah Jones, karna Shafa bener bener buru buru.
"Aminn.. aku malah maunya gitu." ucap Jones tersenyum lebar, namun hanya dia yang dapat mendengar kata katanya.
Setelah duduk di bangku kemudi Jones langsung membawa mobil itu keluar dari kawasan perguruan tinggi itu.
"Kita kemana ?." melirik Shafa yang asik balas chet adik adik dan mamanya.
"Ke studio xx stasiun televisi di jalan H amir hasan Uncle." tampa menoleh.
"JH Tv ya." tanya Jones mulai tenang, piktornya juga sudah mulai berkurang.
"Iya Uncle. "
"Ada apa di sana."
"Bertemu someone."
Hahhhh ....
Cittt...... bunyi rem mobil mewah itu terdengar jelas saat Jones merem mobil mendadak di jalan tol itu, untung mobil yang lalu lalang tidak begitu ramai sehingga aman bagi Jones berhenti.
__ADS_1
"Uncle kenapa sih."
"Someone maksud Shafa gimana." tanya Jones dengan tangan gemetar meremas stir mobil.
"Ya Allah Uncle, hampir copot jantung Shafa." mengelus dadanya.
"Aku sudah lompat keluar jantungnya."
"Hahaha mana ada Uncle, emang mana jantung Uncle biar Shafa kutip." tawa Shafa.
"Shafa..."
"Uncle..."
"Hatiku sekalian ya."
"Ishhh itu Shafa ngak berani, udah ahh kita berhenti di tol Uncle bahaya loh."
"Kok ngak berani." kembali membawa mobil.
"Yah ngak lah, nanti aunty marah."
"Aunty siapa, mana ?."
"Calon istri Uncle lah."
"Yah ngak mungkin dong."
"Kok ngak Uncle."
"Ngak mungkinlah, calon istri aku kan kamu." senyum merekah.
"Ishhhh Uncle ya, jangan bilang gitu dong Uncle nanti Shafa baper." tawa Shafa masih mengira Jones bercanda.
"Emang aku maunya kamu baper ke aku kok."
"Ya .. ya Uncle, nanti Shafa baperin deh hahaha."
Shafa masih sibuk dengan ponselnya.
"Ehh tadi mau ketemu Someone, siapa itu."
Tanya Jones dengan tingkat kekepoan tingkat tinggi.
"Someone ."
ππππ
Hayooo apa coba yang di rencanakan Zahra dan anak anaknya, dan siapa someone itu, yuk tungguin Up berikutnya ya..
Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baikΒ terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.
Mari tetap semangat dan saling support
Dengan cara :
πLIKE
π RATE
π VOTE
π HADIAH yang banyak
π KOMEN yang sebanyak banyaknya.
__ADS_1
Wo Ai Ni all..
Happy Reading