
"Menurut kamu kalau nona Shafa menikah dengan dokter Jones siapa yang berkuasa." tanya Lila pada Asiah dan Niken yang sedari tadi senyam senyum menonton perdebatan kedua orang itu.
"Dokter Jones, nona kan penurut orangnya sama yang lebih tua apa lagi sudah jadi suami, nona itu patuh pada agama." Asiah.
"Aku nona Shafa, meski penurut tapi kalau nona merasa tidak sesuai dengan hatinya nona pasti akan berontak, tuh lihat aja." senyum kecut Niken.
Meski sudah iklas melepaskan cintanya yang bertepuk sebelah tangan tapi tetap saja di hati kecilnya merasa perih melihat Jones mengejar cinta Shafa.
"Aku milih dokter Jones, dia mampu memgimbangi tingkah kekanakan nona, yahh meski kadang kadang hihihi." Lila.
"Menurut kalian tuan besar bakal setuju ngak ya."Niken menunduk sedih membayangkan wajah prustasi Jones.
Ketiganya sama sama diam dan sama sama menghela napas dalam dalam, mereka sama sama tidak bisa membaca hal apa yang akan terjadi kedepannya.
****
Sore itu Shafa pulang ke Rumah besar rumah kedua orang tuanya, Johan tidak mengizinkan Shafa kembali ke rumah miliknya karna takut putrinya itu tiba tiba sakit dan pingsan lagi.
Shafa di jemput oleh kedua orang tuanya, sebenarnya Jones sudah berusaha agar dia yang mengantar Shafa, tapi jadwal operasi pasiennya sudah padat dari siang hingga ia tidak dapat memgantar sang gadis pulang.
Sesampai di Rumah besar Shafa di sambut si gembul Janeet dan Wu bersaudara, Azka sendiri sudah masuk pesantren dan masuk asrama di tempat Shafa dulu sekolah.
Gadis kecil itu berlari mengejar kakaknya di iringi Wu bersaudara yang berjalan dengan gaya cool penuh wibaya.
"Tata .... Mei mei kangen." merentangkan kedua tangannya ke arah sang kakak.
"Mei mei jangan lari lari nanti rumah kita ambruk." teriak Zahra sembari tertawa melihat gaya lari Janeet.
"Napa amluk ma." tanyanya bingung memutar bola mantannya di hadapan sang mama dan kakaknya.
"Gempanya datang berlari." tawa Shafa.
"Huaaaa Mei mei ngak gempah, Mei mei badai." tangis bocah itu melengking karna di goda oleh mama dan kakaknya.
"Cip cup cup....jangan nangis dong Mei mei tata paling cantik sedunia, nanti cantiknya luntur di bawa si air mata gimana dong." bujuk Shafa memeluk dan mencium adiknya itu.
"Tata kalah ?." tanya Janeet dengan mata
berbinar lucu.
"Iya.. tata mah kalah jauh, cantikkan Mei mei pastinya." senyum Shafa mencoba menggendong sang adik.
__ADS_1
"Jangan di gendong kak, Mei mei berat loh." Johan mengambil Janeet dari pelukan Shafa.
"Tapi pa Shafa pengen gendong Mei mei, kangen lo pa." meminta kembali Janeet pada sang papa.
"Kakak baru sehat nak, lebih baik kakak istirahat dulu papa akan antar Mei mei ke kamar kakak."
"Hai bro.. apa kabar adek adek tata super ganteng." menyapa Wu bersaudara yang sedari tadi antri ingin memeluk kakaknya.
"Hai sis kabar baik, tata sudah sehat kan." tahya si bijak Zee.
"Alhamdulillah sudah sehat dek, kalian kok ngak belajar dek, biasanya kalau sore kan privat ?."
"Libur tata." jawab Zay santai.
"Lah kok libur." sama sama berjalan ke arah lift menuju lantai atas tempat kamar mereka berada.
" Cikgu kami pecat tata." Zaf.
"Hahh lagi ??." serentak Shafa dan Johan berteriak ke arah Lima Wu bersaudara, cuma Zahra yang tidak terkejut mendengar perkataan si kembar karna dia sudah di beritahukan mereka lebih dulu.
"Yup.. gatal, nanya papa terus kami tidak suka, setelah memberikan pelajaran berharga kami pecat dia." jawab Zee.
"Ya ampun, di apain cikgu nya dek."
" Jangan rahasia rahasiaan dong dek, cikgu ngak apa apakan." tanya Shafa cemas.
Johan tidak bisa berkata apa apa lagi ia memijit pelipisnya yang terasa sedikit sakit karna ulah anak anaknya yang terkadang tidak bisa di arahkan percis sikapnya waktu kecil dan bahkan sampai sekarang anak anaknya mewarisi sikap dan sifatnya.
"Ngak apa apa tata tenang saja, kami hanya memberikannya sedikit pelajaran." jawab Zaq sok dewasa.
Shafa terdiam di dalam otaknya sibuk memikirkan pelajaran apa yang sudah di berikan adik adiknya pada mantan guru mereka itu, entah sudah berapa kali Wu bersaudara memecat guru guru mereka karna di anggap tidak layak jadi guru sebab selalu kecentilan kalau sudah kenal dengan papa mereka.
"Makanya kalau cari guru privat kembar cari yang sudah tua atau laki-laki." omel Zahra.
"Kalau sudah tua tidak tahan dengan ulah anak anak sayang, kalau laki-laki no.. koko ngak setuju bisa bisa istri koko di goda." jawab Johan dengan cepat.
"Selalu itu saja masalahnya, atau buat aja gedung baru di samping rumah papa, khusus tempat adek adek belajar, jadi guru gurunya tidak harus masuk rumah." ide Shafa, ia duduk di sopa panjang kamarnya di susul yang lain.
"Tau tuh biasanya juga orang lain ngak pernah bisa masuk rumah sembarangan ni ngak tau kenapa tiba tiba aja udah boleh, papa mu itu yang ke gatalan, mana cari guru cewek semua masih muda juga." sorot mata Zahra tajam menatap Johan membuat laki-laki itu bergidik ngeri.
"Mampus gua." gumam Johan garuk garuk
__ADS_1
kepala.
Sekarang bukan cuma Zahra yang menatap tajam Shafa, Lima Wu bersaudara bahkan Janeet juga ikut ikutan.
"Papa...." teriak semua anaknya dengan nada marah.
"Waduh .. jangan gitu dong yangk, sumpah di sambal ehh sambar sayang koko iklas lo, lagian koko ngak maksud gitu kok ngak niat ambil guru Kembar cewek muda beneran yangk, itu ulah si Robby sialan." berjalan mengiringi Zahra yang tengah marah keluar kamar menuju kamar mereka.
"Rasain papa, mama ngambek." tawa Zee dan yang lain, jika mereka sibuk bercanda ria di kamar sang kakak si papa sibuk merayu mama mereka yang beneran ngambek.
Sudah tiga hari sejak Shafa pulang ke rumah hari itu setelah acara makan siang selesai Johan dan Zahra mengajak Shafa berbicara di kamar anak gadisnya itu.
Mereka membahas tentang penyakit Shafa dan rencana untuk menikahkan Shafa dengan laki-laki yang mereka anggap cocok dan sesuai dengan anak gadisnya itu.
Shafa awalnya keberatan tapi setelah bicara berdua dengan sang mama gadis muda itu hanya bisa pasrah dan rela dengan keputusan kedua orang tuanya.
"Maaf nak Shafa tidak sempat taaruf dengan laki laki yang akan di jodohkan oleh papa mu, mama juga tidak tau siapa tapi kata papa masih di selidiki mana yang sesuai dengan Shafa." ucap Zahra membelai rambut panjang Shafa yang tergerai indah di punggungnya.
"Iya mama, Shafa tau papa pasti tidak akan sembarangan memulihkan pendamping untuk Shafa, meski Shafa belum siap tapi kalau itu sudah keputusan mama dan papa Shafa nurut aja." jawab gadis itu menunduk.
Jauh di hati kecilnya ada suatu rasa yang tiba tiba akan lepas dari hatinya, saat ia tiba tiba mengingat sebuah nama ,,Jones,, namun rasa apa dia tidak tau.
**********
Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.
Mari tetap semangat dan saling support
Dengan cara :
💝 LIKE
💝 RATE
💝 VOTE
💝 HADIAH yang banyak
💝KOMEN yang sebanyak banyaknya.
Wo Ai Ni all..
__ADS_1
Happy Reading.