UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
147. Info.


__ADS_3

Air mata Jones tumpah lagi, terharu bahagia dan sedih bercampur menjadi satu, terharu karna bisa melihat istri serta calon bayinya meski lewat vidio call.


Sedih karna harus berjauhan dan tidak bisa memeriksa langsung istri padahal dia seorang dokter ahli kandungan, benar kata dokter Vita selama ini Jones sendiri yang memeriksa istrinya jadi dia yang tau percis kondisi kesehatan Shafa dan anak anaknya dari awal.


Shafa diam membisu mendengar candaan dokter Vita, Zahra yang turut menemani Shafa tersenyum kecil, di tatapnya raut wajah Shafa yang berubah sedih.


"Baik nyonya, pemeriksaan sudah selesai, nanti saya akan hubungi dokter Johan untuk memberi Tahukan hasil pemeriksaan nyonya, untuk resep obat saya rasa biar dokter Jones saja ya, karna dokter yang tau obat apa saja yang biasa nyonya konsumsi." ucap dokter Vita ramah dan masih pura pura tidak tau apa apa.


"Iya dokter.." Shafa mencoba tersenyum semanis mungkin meski hatinya sedih.


Zahra dan Shafa keluar dari ruangan pemeriksaan, kepala Shafa ia tekuk, menahan air mata agar tidak tumpah.


"Bagai mana cucu cucu papa, sehat semua kan kak." tanya Johan yang duduk menunggu di luar ruangan.


"Baik papa.." jawabnya mengangkat kepala sekilas.


"Ok . kita pulang ?." Johan.


"Ayo.." Zahra.


Mereka berjalan beriringan mengapit Shafa di tengah, Johan memperhatikan putri sambutan itu yang berjalan menunduk sedari tadi, lalu ia pun pindah berjalan di sisi Zahra.


"Yank.. kakak kenapa ?."


"Nanti saja di rumah.."


"Ohh ya.."


Shafa duduk diam di kursi mobil mewah itu dengan pandangan kosong menuju luar, suasana jalanan yang ramai membuat mobil tidak bisa melaju cepat.


"Kakak kenapa yank.." bisik Johan bertanya ulang pada istri yang duduk di sampingnya sementara Shafa duduk di depan mereka.


"Tadi waktu di periksa kakak bilang bayinya belum bergerak padahal sudah empat bulan." jawab Zahra menarik napas dalam dalam.


"Terus.." Johan.


"Kata dokter Vita mungkin karna bukan Daddy nya yang periksa jadi pada ngambek."


"Bangsat.. sok tau dokter itu, mau cari mati dia, bisa nya buat stikmen seperti itu." geram Johan.


"Jangan macam macam ko, dokter itu hanya berpendapat, lagian dia kan tidak tau kalau kakak dan suaminya ada masalah." mata melotot.


"Mantan yank.."


"Tidak ko, jangan ada kata mantan, putrimu sedang hamil, perceraian di saat wanita hamil tidak sah."


"Huhhh bisa saja.."


"Koko..jangan memaksakan kehendak, hati itu terbuat dari apa sih."


"Sama dengan sayanglah, masa batu.." tersenyum.


"Kalau sama kok ngak ada baiknya sih, masih aja menyimpan dendam."


"Yank..koko kan sudah bilang, koko tidak mudah memaafkan orang yang berbuat salah."


"Tapi dia itu suami putri ko, sahabat koko juga, lagian apa koko sudah pernah bertanya pendapat kakak."


Johan diam, ya dia tidak pernah bertanya pendapat putrinya itu, apakah memaafkan atau tidak apakah mau kembali pada Jones atau tidak dia hanya mengikuti kata hatinya sendiri tanpa perduli perasaan putrinya.


Pembicaraan berhenti ketika mereka sudah sampai di rumah besar, Shafa langsung keluar dari mobil dan berjalan cepat masuk rumah lalu menuju kamarnya.


Setelah mandi dan Sholat ashar Shafa duduk menyandar di headboard tempat tidurnya, di belainya lembut perut berisi jabang bayi itu, di tatapnya lamat lamat perut buncitnya.


"Maafkan Mommy ya nak, Mommy belum bisa mempertemukan kalian dengan Daddy Mommy tidak mau terjadi apa apa pada Daddy kalian kalau Mommy memaksa bertemu, tadi kalian juga sudah lihat Daddy kan, Daddy baik baik saja kok, jadi kalian juga harus baik baik ya."


Air mata Shafa menetes di wajah putihnya, Zahra yang berniat masuk kekamar putrinya itu urung mendengar perkataan Shafa pada anak anak yang ada dalam rahimnya meski tidak akan pernah mendapat jawaban dari dalam sana.


"Maafkan mama nak, papa mu belum bisa mama bujuk, kali ini papa mu sangat keras, mama tidak tau lagi bagai mana cara membujuknya, tapi percayalah kalau suami mu terus berusaha seperti dulu mengejarmu, papa mu pasti luluh." gumam Zahra di balik pintu.


Sudah dua hari Shafa susah tidur bahkan pola makannya juga makin susah, Zahra dan semua orang kebingungan bagai mana cara merayu Shafa agar mau makan, Shafa juga mulai lemah tidak berdaya tapi masih sanggup berjalan.


"Kak.. makan dong nak, masa cuma makan sereal aja sih, ngak cukup dong untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan gizi kakak sama bayi kakak, kakak mau cucu mama lahir sakit sakitan hmm."

__ADS_1


"Maaf ma.. Shafa ngak mood ma, Shafa bisa nya makan sereal ini aja, yang lain ngak bisa, perut Shafa rasanya ngak enak ma." jawab Shafa menyendok pelan sereal itu kemulutnya.


"Kakak mau apa nak, bilang sama papa, kemanapun dan apapun mau kakak pasti papa usahakan." Johan.


Mereka semua sedang berkumpul di meja makan untuk sarapan bersama, ada Daddy Wu Mommy Wu bahkan Wu bersaudara, Janeet serta si bontot.


"Shafa ngak mau apa apa pa."


"Zahra.. bagai mana kalau kamu bawa kak Shafa keluar, lihatlah bajunya juga sudah mulai pas di badannya, tangan kaki dan badanya memang kecil rapi perutnya makin besar, Mommy lihat baju kakak sudah banyak yang sempit."


Mommy Wu.


Perempuan itu tersenyum penuh arti pada sang menantu, entah apa yang di pikirkan oleh kedua wanita itu.


"Iya ..mom, gimana kak ? kakak bisa ngak keluar hari ini, tapi kakak harus makan dulu, iya kan ko." menatap penuh harap pada suami.


Johan langsung mengangguk.


"Pergilah keluar kak, siapa tau nanti pas lagi jalan kakak selera makan sesuatu, papa akan kirim orang orang papa menemani kalian." ucap Johan sambil makan sarapannya.


"Besok aja ma, pa sekarang Shafa ngak kuat kayaknya." Shafa.


"Hmmm iya ngak apa apa, besok di temani pak Robby saja, sama orang orangnya kok, ngak usah terlalu banyak yang nemanin ngak enak di lihat orang." Zahra.


"Kenapa harus Robby yank, Aldo atau orang orang koko lainnya kan bisa ?."


"Aku kurang yakin dengan yang lain ko, lagian kita udah biasa sama pak Robby, Aldo kan lagi di luar koko tugaskan."


"Hmm terserah sayang saja."


"Alhamdulillah kebetulan pak Robby datang, pak Robby besok tolong siapkan orang orang pak Robby untuk nemanin kita ke Mall ya, saya mau ajak kakak belanja bajunya udah pada kekecilan, sekalian ajak kakak makan."


"Ba..baik nyonya." jawab Robby gagap karna terkejut tiba tiba di ajak keluar oleh sang nyonya, Robby menatap Johan meminta kepastian.


"Ya.. lu jaga keluarga gua, jangan ada gangguan dari manapun." Johan menatap Robby tajam.


"Oke bos, lu jangan kwatir."


"Ko.. coba belikan nasi goreng atau makanan lainnya untuk kakak kalau pulang nanti, semalam waktu koko pulang kakak tanya koko bawa makanan apa untuknya."


"Loh .. kenapa sayang ngak bilang, kalau kakak mau kan koko bisa keluar lagi."


"Hahhh tau sendiri putri koko itu, kalau sudah di bilang ngak ada ya udah dia ngak mau lagi meski di tawarkan."


"Ya udah...koko belikan nanti." mencium kening Zahra.


"Ya ko..hati hati." jawabnya, mencium tangan Johan.


"O iya pak Robby, besok jam sepuluh ya." menatap Robby.


"Ahhh iya nyonya." jawab Robby sopan.


Robby berjalan di belakang Johan sampai kedepan pintu mobil, Robby duduk di depan di samping supir, otak nya berpikir keras kenapa tiba-tiba dia di minta menemani istri dan anak bos nya itu ada apa.


Detik kemudian ia tersadar.


"Robby.." panggil Johan.


Tidak ada jawaban.


"Robby..kenapa lu." teriak Johan kencang mengejutkan Robby.


"Ahhh maaf bos..gua sedang mikir proyek yang di Kalimantan." bohongnya.


"Kenapa dengan proyek itu, bukannya lu bilang aman." Johan.


"Betul bos., tapi kita cuma pantau dari sini tanpa kita tinjau kesana, apa baik kita percayakan begitu saja pada Karim."


"Memangnya kenapa, bukannya menurut laporan orang orang lu dia bisa menghendlenya."


"Iya bos, tapi menurut informasi terbaru Karim sering kekota, dia keluar masuk proyek dengan alasan tidak jelas."


"Lu curiga padanya ?."

__ADS_1


"Iya bos.."


"Lalu, apa tindakan lu." Johan.


"Kita tugaskan saja Aldo kesana bos, Andy lagi nunggu istri nya melahirkan, jadi biar Andy yang menggantikan tugas Aldo di kantor."


"Lakukan menurut lu yang terbaik."


"Baik bos.." Robby.


Sebenarnya itu hanya peralihan pembicaraan saja karna Robby sudah memerintahkan Aldo berangkat pagi itu untuk memeriksa proyek yang di maksud Robby.


Robby tidak mau Johan berpikir yang aneh dan curiga padanya karna melamun tadi, senyum Robby tercetak di bibirnya, dia berpikir apakah yang ada di pikirannya sama dengan yang ada di pikiran istri bosnya itu.


Di kantor Robby langsung mengirimkan pesan Pada Jones tentang informasi yang ia terima dan yang ia lihat di rumah besar tadi.


"Jadi istri gua ngak makan sudah dua hari bro." tahya Jones lewat pesan yang di kirimnya.


"Iya bro, semua kebingungan membujuk nyonya muda agar mau makan."


"Bro .. gua minta tolong ya."


"Apa bro.." Robby.


"Istri gua sangat suka makan nasi goreng, gua masakin nanti terus tolong lu kasih istri gua ya."Jones.


"Nah ..itu yang gua pikirkan, tadi nyonya Zahra sempat berpesan agar bos Jo membawa makanan untuk nyonya muda kalau pulang kerja nanti, bos jo pasti nyuruh gua beli, nanti gua selipkan di pesanan itu."


"Oke bro ..terimakasih."


"O..iya bro, besok gua akan nemanin nyonya Zahra dan nyonya muda ke Mall, tadi gua di perintahkan nyonya Zahra langsung, dia ngak mau di dampingi oleh orang lain."


"Maksud lu, istri gua besok jalan ke Mall ?."


Senyum Jones lebar membaca pesan dari sahabatnya itu.


"Iya.. gua sempat bingung waktu nyonya menatap gua aneh, tapi gua ahirnya mikir mungkin nyonya mau kasih kesempatan lu bertemu dengan nyonya muda di sana, karna kalau gua yang dampingi tentu gua kasih lu jalan bertemu nyonya muda."


"Ahhh ya..ya..semoga bro, gua sudah sangat rindu pada istri gua, o iya ngapain di Mall bro."


"Beli baju untuk nyonya muda."


"Baik bro..gua akan berusaha menemui istri gua walau bagaimana pun caranya."


"Oke..lu atur dengan baik."


"Iya .. lu jangan kwatir." Jones.


"Oke..sudah dulu, gua takut nomor gua ini sudah di ketahui bos Jo, gua takut di sadap, lu tau sendiri dia bagai mana."


"Oke bro terimakasih infonya."


**********


Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik  terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.


Mari tetap semangat dan saling support


Dengan cara :


🪴 LIKE


🪴 RATE


🪴 VOTE


🪴 HADIAH yang banyak


🪴KOMEN yang sebanyak banyaknya.


Wo Ai Ni all..


Happy Reading.

__ADS_1


__ADS_2