UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
138. Siapa Dia ?.


__ADS_3

"Nasib gua, mamanya yang nampar sampai pingsan gitu, papanya yang di salahkan." gumam Johan dalam hati sembari cengar cengir.


"Kenapa ko." tanya Zahra bingung melihat ekspresi wajah Johan.


"Ini kakak mau bicara yank.." menyerahkan handphone miliknya pada istri.


" Assalamualaikum wrwb, ya kak kenapa nak, kakak baik baik saja kan." tanya Zahra gugup.


" Waalaikumsalam wrwb, Shafa baik baik saja ma, tapi Shafa tiba tiba merasa ngak nyaman pikiran Shafa ke Aa terus, Shafa tadi tidur Shafa mimpi Aa berdarah darah ma, papa ngak nyakitin Aa kan ma, papa udah janji lo." isak tangis Shafa masih terdengar meski pelan.


"Enghhh .. ng..ngak kak, papa ngak akan ingkar janji kok, kakak ngak usah kwatir." jawab Zahra gugup.


"Mama yakin, papa kan kalau udah marah suka lupa janji ma." Shafa.


"Ngak akan kak, kalau papa sampe ingkar mama bakal hukum papa kakak nanti." mendelik ke arah Johan yang melotot kebingungan.


"Lah kok gua, jelas jelas si ayang yang berbuat kenapa gua yang jadi sasaran." gumam Johan.


Robby, dokter Ryan dan dokter Anton saling pandang mendengar percakapan nyonya rumah dengan seseorang yang mereka yakini pemilik hati yang sedang mereka rawat.


"Kontak batin." celetuk dokter Anton pelan.


"Hmm iya, andai nyonya muda tau yang sebenarnya apa yang akan terjadi ya." Robby berkata tak kalah pelan namun masih terdengar oleh kedua insan yang ada di dekatnya.


"Nangis paling, mau marah gimana lagi, lagian kemana tuan besar menyembunyikan istri Jones ya, tidak dapat di jangkau sama sekali." dokter Ryan.


"Entahlah hanya si bos yang tau beserta Tuhan nya, nyonya Zahra saja tidak tau anak perempuannya di ungsikan kemana." jawab Robby, sorot matanya mengawasi Jones yang masih belum sadarkan diri dengan tatapan iba.


Mereka hanya bisa berharap secepatnya Jones bisa bertemu dengan istri yang sangat di cintainya itu.


Hampir lima jam Jones pingsan, ahirnya ia membuka mata juga, namun karna sudah larut malam Jones di izinkan tinggal di kamarnya dan Shafa, Jones mengerjap ngerjapkan matanya berulang kali menyesuaikan cahaya yang masuk ke mata.


Sejenak dia tertegun dan sadar sedang berada di mana, nyeri menusuk relung hatinya setelah tau dia berada di kamar mereka di rumah mertuanya.


Dia lalu mencari siapa saja yang ada di sekitarnya dia berharap menemukan belahan jiwanya di sana meski dia tau itu tidak mungkin bola matanya hanya menangkap Robby dan sang asisten yang tertidur di sopa tak jauh darinya.


"Sayang, istri ku, kamu di mana yank Aa sangat kangen yangk." gumamnya dalam hati, ia lalu berusaha bangkit dari tidurnya dan bersandar di headboard tempat tidur.


"Lu sudah bangun bro, bagai mana perasaan lu sekarang sudah mendingan kan." tegur Robby yang tiba tiba bangun dan melihat Jones bersandar.


Dokter Anton dan dokter Ryan sudah pulang sejak sore tadi, dan kini tinggal Robby serta sang Asisten yang menemani laki-laki itu.


"Kacau, gua kacau bro." jawab Jones lirih sambil memijat kening yang terasa sakit.


"Wah.. lu sudah waras kayaknya bro."


"Waraslah, emang lu gila, ehh gua kenapa ? kok gua di infus bro dan gua.." mengingat ingat sesuatu.


"Lu ngak ingat apa yang terjadi ?."


"Seperti ingat dan tidak, kenapa gua ?, istri gua mana ?." Jones.


"Hahhh oke biar gua jelaskan." Robby lalu menceritakan kondisi Jones satu minggu terahir mulai dari wahamnya sampai kejadian tadi siang Jones hanya manggut manggut tampa berkomentar apa pun lagi.

__ADS_1


Setelah bercerita panjang lebar mereka kembali tidur, karna pengaruh obat tidur membuat Jones mengantuk lagi.


Keesokan harinya Jones kembali pulang ke apartemen karna merasa tidak nyaman di sindir Johan, meski biasa dia tidak perduli tapi kali ini hatinya cukup peka dan tidak tahan sehingga ia memilih pulang.


****


"Aa.. hiks.... perut Shafa sakit A, hiks Shafa lapar Shafa mau makan nasi goreng hiks, Aa .. kenapa Aa jahat sama Shafa hiks." wanita cantik itu sedang duduk meringkuk di atas tempat tidur.


Niken, Nisa dan Lila bingung harus berbuat apa membujuk majikan agar berhenti menangis, sampai Naya datang membujuknya.


"Katanya mau keluar jalan jalan, kakak sudah siap siap lo, kakak udah lama pengen jalan jalan di kota ini, kalau adek nangis terus kapan kita pergi ?." bujuk Naya.


"Shafa lapar kak, Shafa mau makan nasi goreng hiks." tangisnya.


"Tadi kan udah makan nasi goreng." Naya.


"Tapi kan bukan masakan Aa." Shafa.


"Terus gimana dong dek." jawab Naya bingung.


Hening.


"Ayo kita pergi, kita cari makanan di luar." Shafa bangkit dan berjalan ke arah kamar mandi untuk mencuci wajahnya agar lebih segar.


Naya dan yang lain saling tatap lagi dan tampa kata mereka pun bersiap untuk keluar jalan jalan sesuai yang sudah di sepakati beberapa hari sebelumnya.


Iring iringan mobil menembus keramaian jalanan kota yang terkenal dengan keindahan kota dan keramaiannya.


Kehadiran kedua wanita cantik itu tentu saja menyita perhatian orang orang yang ada di taman, jarang sekali bisa melihat orang menggunakan niqab di sana, meski tidak mengganggu tapi mereka tetap berbisik bisik.


Naya dan Shafa berjalan santai dan cuek meski tau kalau kehadiran mereka menjadi perhatian dan buah bibir.


Tak lama mereka duduk mengambil tempat di tengah tengah taman yang luas dengan berbagai macam pohon pohon berbuah maupun tidak yang cukup rindang.


Di tengah taman ada air mancur yang besar dan indah membuat siapa saja yang melihat menjadi tenang dan tagjub.


Naya dan Shafa duduk berdampingan sambil memandang keindahan taman dan sekeliling, Niken serta yang lain duduk di samping kiri kanan keduanya berjarak kurang lebih dua meter agar tidak mencolok kalau mereka pengawal pribadi salah satu wanita di sebelah mereka itu.


Kedua insan itu sibuk bercerita panjang lebar dan saling bercanda meski di hati masing masing menyimpan luka dan rasa sakit.


"Kak Shafa mau ke toilet, kakak tunggu di sini ya, Shafa jalan sama kak Niken dan kak Nisa aja kakak sama kak lila." Shafa.


"Ngak usah dek, kakak ikut aja."


"Emang kakak mau pipis ?."


"Ngak.."


"Terus ngapain ikut, nanti kakak capek."


"Ngak apa apa dek, ngak cape lah."


"Ngak usah, kakak di sini aja." titah Shafa tidak mau di bantah.

__ADS_1


"Ya udah, tapi jangan lama lama ya."


"Ngapa lama kak, Shafa kan cuma mau pipis ngak nyari Jodoh, lagian Jodoh Shafa udah ada nih buktinya." tawa Shafa sambil mengelus perutnya yang belum terlihat karna memakai baju longgar.


"Heheheh iya sih, hasil perbuatan dokter Jones." canda Naya, meski mereka sama sama berhijab kadang kadang mereka akan bercanda seperti itu kalau lagi berdua, meski hanya sekedar untuk mencairkan suasana hati yang risau.


"Kakak ya.." kekeh Shafa.


Shafa berjalan bersama Niken dan Nisa tentu saja beberapa bodyguar laki-laki ikut berjalan meski memberi jarak.


Tidak jauh dari tempat itu ada toilet umum yang sangat luas dan besar dan sangat bersih, Niken serta Nisa mendampingi Shafa sampai ke toilet, kedua wanita itu berdiri di depan pintu wc dengan pura pura cuci muka sambil mengawasi siapa saja yang ada di sana.


Sementara para bodyguar laki-laki berada di luar mengawasi sekitar, tidak berapa lama kemudian para wanita keluar dari toilet dan berjalan bersama menuju tempat awal mereka berkumpul.


Namun belum sampai ke tempat itu Shafa menghentikan langkahnya saat bola matanya menangkap sosok yang mirip sekali dengan yang ia kenal.


Orang itu duduk di kursi roda mewah dengan beberapa laki laki ada di sekitarnya, orang itu sibuk menatap anak anak yang berlari kesana kemari bermain kejar kejaran tak jauh di hadapannya.


"Siapa dia ?." guman Shafa dalam hati dengan rasa caur maur tidak menentu.


Bukan hanya Shafa yang terkejut Niken dan para bodyguar lainnya tak kalah terkejut melihat sosok itu, untuk sesaat Shafa terpana diam berdiri di tempat.


"Nyonya muda.." Sapa Niken dengan suara bergetar.


Shafa tetap diam.


"Nyonya.." Nisa.


Shafa masih diam, tiba tiba pundaknya terlihat bergetar menandakan wanita itu sedang mengeluarkan air mata dan menahan diri dari rasa gejolak di dadanya.


Entah apa yang di pikirkan wanita cantik itu tapi panggilan bodyguar nya memulihkan kesadaran nya yang sempat terganggu.


Shafa kembali berjalan pelan dengan jantung berdegup kencang, tarikan napas serta helaannya terdengar jelas oleh yang lian menandakan ia sedang mengatur dab mengendalikan perasaannya.


Dag dig dug.. Dag dig dug ...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Kira kira ada yang tau dan bisa menebak orang itu siapa ya, saya kasih THR pulsa bagi yang bisa menebak hehehehe


Yang bisa menebak pertama pulsa 50 rb dan yang menebak kedua 30 ribu


Hayo hayo ..


Tapi jangan lupa dukungannya ya


LIKE, RATE, VOTE, KOMEN DAH HADIAH YANG BANYAK YA ALL.


Maaf lama baru Up 🙏🙏


HAPPY READING


I love u All..

__ADS_1


__ADS_2