
Jones menggenggam erat tangan Shafa sembari menggandeng menuju mobil yang sudah terparkir di depan rumah besar, dari dalam rumah di bagian atas Zahra dan Johan memandang kepergian anak dan menantu mereka dari balkon rumah.
Johan memeluk Zahra seraya menguatkan istrinya itu, air mata Zahra jatuh di tangan kekar Johan tampa ia sadari membuat si empu makin mengeratkan pelukannya.
"Tenang lah sayang, putri kita tidak akan apa apa, nanti koko akan merbicara dengan Jones setelah pemeriksaan kakak selesai." Johan mencium leher Zahra dari belakang.
"Aku ikut bicara dengan Jones ko, aku juga ingin tau hasil pemeriksaan kakak langsung dari Jones."
"Baik sayang, tapi sayang yang tenang ya, Koko ngak akan konsentrasi kerja kalau sayang begini terus."
"Hmm iya ko."
"Kita doakan saja semoga hasil pemeriksaan kakak tidak mengkhawatirkan, tidak ada sesuatu yang berbahaya."
"Aminn, iya koko."
"Good, sekarang sayang tunggu koko pulang kerja nanti oke, jangan sedih, sayang harus kuat apa lagi di depan anak anak kita."
"Ya ko."
********
Sementara itu Jones dan Shafa sudah sampai di halaman rumah sakit tempat Jones bekerja, tempat Shafa akan diperiksa oleh suaminya sendiri.
Laki-laki itu menggandeng tangan Shafa mesra, mereka berjalan menuju ruangan poli tempat kerja Jones, mata semua orang memandang iri pada pasangan pengantin baru itu.
Yang satu tampan dan terkenal ramah serta baik yang satu lagi dengan rumor wanita yang sangat cantik rupawan.
"Sayang, Aa layani pasien dulu ya, dede jadi asisten Aa biar ngak bosan menunggu, nanti kalau jam poli selesai baru giliran dede Aa periksa oke."
"Umhhh oke." angguk Shafa begitu mereka sampai di ruangan Jones.
Bidan poli pun memanggil pasien satu persatu yang antri di ruang tunggu poli dokter Jones, antrian pasien cukup banyak, karna para pasien termasuk pasien pasien langganan Jones.
"Dokter, makin gagah saja, makin segar nih, dengar dengar dokter udah nikah ya, kalau iya patah hati dong aku." canda wanita muda yang datang konsultasi masalah kandungan pada Jones.
Wanita cantik dengan body bahenol itu bicara genit dan menggoda Jones, Jones sendiri yang sudah terbiasa di goda begitu tampak cuek saja dan tidak terpengaruh.
Jones sibuk menuliskan resep di blanco resep, laki-laki itu hanya tersenyum dalam tunduk, setelah menuliskan resep Jones lalu menyerahkan kertas resep pada pasien.
"Ini resepnya bu, silahkan tebus di apotek ya bu dan makan obat sesuai aturannya."
"Oke dokter, tapi pertanyaan ku belum di jawab lo, dokter beneran udah nikah." senyum menggoda.
"Iya bu, saya sudah menikah." jawab Jones jengah.
"Wahh pasti beruntung banget ya istri dokter karna sudah dapat suami ganteng dan baik seperti dokter, aku patah hati nih."
"Patah hati di sambung dong bu, di lem atau di las sekalian, dan bukan istri saya yang beruntung tapi saya yang sangat beruntung karna sudah memilikinya."
Jones menarik pelan tangan Shafa lalu menyingkap cadar nya, setelah seluruh wajah cantik Shafa terlihat baru lah Jones mencium kedua tangan istrinya.
"Ini istri saya bu, permata dan hidup saya." senyum Jones menatap manik mata sang istri.
Jangan di tanya bagai mana Shafa, yang awalnya ingin marah karna suami di goda di depan mata kepala nya sendiri kini berubah merona merah karna malu sekaligus tersanjung atas perlakuan tiba tiba Jones.
Sang wanita terperangah melihat kecantikan dN perlakuan mesra Jones pada wanita yang sedari tadi berdiri di samping Jones, wanita yang ia anggap aneh dan ia anggap sebelah mata karna di kira asisten Jones.
Wanita itu merasa malu sendiri tampa banyak cerita lagi ia pun pamit dari ruangan Jones, jam sudah menunjukkan pukul satu siang, sesuai janji setelah jam poli dan pasien habis Jones akan memeriksa Shafa.
Jones sudah memerintahkan perawat dan bidan pendamping agar berjaga jaga di luar, dia mengatakan kalau tidak ada yang boleh masuk keruangannya, karna dia akan sibuk, tampa mengatakan sibuk kenapa.
Tentu saja kedua wanita paruh baya itu mengangguk dengan senyum aneh di bibir masing masing, pikiran mereka sudah melanglang buana kemana mana karna mengira yang lain lain.
__ADS_1
"Dede takut ?." tanya Jones menatap manik mata Shafa dalam dalam, di sana terlihat jelas gambar ketakutan.
"Enghhh ya Aa."
"Jangan takut yangk, tidak akan apa apa percayalah hmmm." Jones yang duduk di hadapan Shafa di atas kursi kebesaran nya berusaha setenang mungkin padahal dia sendiri sedang berusaha keras untuk menenangkan jantungnya sendiri.
Shafa sendiri sudah duduk di atas tempat tidur pasien dengan posisi saling berhadapan dengan suaminya.
"Shafa ngak apa apa kan Aa, ngak sakitkan ?, ngak bahayakan?." tanyanya dengan mata berkaca kaca .
"Percayalah ngak akan apa apa yangk, Aa akan berusaha selembut mungkin, kemasukan tongkat ajaib Aa yang besar saja dede ngak takut masa kemasukan benda kecil begitu dede takut sih." goda Jones.
"Aa..." cubitan kecil langsung mendarat di perut Jones membuat laki-laki itu terkekeh pelan.
"Aa ngak bohongkan." makin menggoda.
Jones membuka hijab Shafa lalu ia letakkan di atas mejanya, kemudian ia membelai lembut wajah Shafa mesra.
"Ayo peluk suami dede dulu biar ngak takut." Jones makin mendekatkan tubuhnya pada sang istri, kedua tangannya ia rentangkan lalu memasukkan tubuh kecil Shafa kedalam pelukannya.
Shafa memeluk leher Jones kepalanya ia surukkan di leher bagian kanan Jones, Shafa berusaha keras untuk tenang dan melawan rasa takutnya, begitupun dengan Jones.
Laki-laki itu bukan takut karna akan memasukkan alat USG transvaginal ke mis V sang istri tapi dia takut apa yang ia pikirkan benar adanya dan yang lebih ia takutkan bagai mana menjelaskan dan menenangkan istri nanti.
Jones menciumi wajah cantik istrinya tampa satu incipun terlewatkan, kemudian ia merebahkan tubuh Shafa di atas tempat tidur secara berlahan.
"Sayangku, jangan takut ya, Aa akan segera memeriksa dede, ini sudah siang Aa takut cacing cacing di perut dede dan Aa sama sama demo gaswat dong." kekeh Jones.
Shafa mengangguk pelan, Jones memasang hanscone di kedua tangannya kemudian ia meraih USG transvaginal yang sudah steril dan sudah di olesi gel.
"Sayang, naikkan kakinya oke." senyum Jones semanis mungkin agar sang istri tidak semakin tegang dan takut.
Jones membantu Shafa menaikkan kedua kakinya dengan posisi kedua telapak kaki di atas tempat tidur, awalnya Shafa sedikit risih membuka kakinya seperti itu meski di depan dokter yang suaminya sendiri.
Glekk.. Jones menelan ludahnya kasar melihat paha putih mulus istrinya, secepat kilat ia alihkan Pandangan matanya kearah lain tapi matanya malah langsung menuju bibir ranum Shafa, lagi lagi laki-laki itu menelan ludah.
Tangan kanannya berlahan menuju **** ********** sang istri, dengan lembut jari tengah, jari manis dan jari kelingkingnya menyapu daerah kesukaannya itu, mata Shafa tampak terpejam ia bahkan menahan napas.
"Sayang, I love u, sangat sangat mencintaimu istriku, jangan takut oke."
Jones menunduk lagi, bibirnya menempel pada bibir Shafa lembut hati hati dan pelan pelan laki-laki itu membenamkan bibirnya, ia lalu me**mat serta menjelajahi seluruh isi rongga mulut Shafa.
Jones sengaja mencium bibir Shafa agar sang istri tidak memikirkan tindakan yang akan Jones lakukan pada bagian bawahnya.
Berlahan dan pelan pelan Jones mulai memasukkan benda kecil itu kedalam inti sang istri sampai ia merasa USG transvaginal itu masuk cukup dalam barulah ia menghentikan ciumannya.
Jones menarik pelan kepala Shafa dengan tangan kiri sementara tangan kanan berada di antara kedua paha Shafa, Jones sengaja mengarahkan kepala dan wajah Shafa agar menempel pada dadanya untuk menghindari Shafa melihat layar monitor yang ada di hadapannya.
"Aa.." cicit Shaafa.
"Hmmm ya sayang."
"Shafa boleh lihat."
"Enghhhh, jangan dulu yangk,nanti dede takut lihat alatmya." alasan Jones.
Tangan besarnya tetap menahan kepala Shafa sedangkan tangan satu lagi sibuk memutar, memaju mundurkan alat medis itu didalam san, berkali kali Jones menarik napas dalam dalam dengan getaran jantung yang berusaha di buat setenang mungkin.
Jones memejamkan matanya rapat rapat setelah ia menemukan apa yang ia cari, apa yang ia takutkan ternyata terjadi, Jones menyimpan hasil pemeriksaan tampa mencetak hasilnya karna ia tidak ingin istrinya tau hasil pemeriksaan itu.
Setelah mengeluarkan alat tersebut Jones meraih alat USG lainnya lalu ia arahkan ke perut sang istri, pelan pelan ia pun berpura-pura memeriksa rahim Shafa agar sang istri tidak curiga dan berpikir yang aneh aneh.
"Aa, kenapa perut Shafa juga di periksa."
__ADS_1
"Aa, tidak menemukan apapun saat memeriksa pakai alat tadi yank, makanya Aa periksa lagi pake USG ini." jawabnya pura pura pokus pada layar.
"Lalu."
"Sabar ya yank, nanti kita cerita, sekarang biarkan Aa pokus memeriksa dede oke."
"Hmmm ya A."
"Good, love you so much cup..cup..cup."
Setelah selesai Shafa membetulkan pakaiannya sementara Jones membersihkan tangannya kemudian ia kembali pada Shafa yang masih duduk di atas tempat tidur.
"Gimana ?, sakit yank ?."
"Enghhhh ngak Aa."
"Lalu mana sakit kemasukan tongkat sakti Aa, sama alat USG itu." goda Jones mengalihkan perhatian Shafa dan menghindari pertanyaan Shafa tentang hasil pemeriksaan.
"Aa." lagi lagi Jones mendapatkan cubitan.
"Auhhhh atit yangk, suka cubit ya sekarang hmmm." mencium bibir Shafa lembut dan lama.
Shafa mendorong tubuh Jones karna tidak tahan dan hampir kehabisan pasokan oxigen, Jones melap sisa salivanya di bibir Shafa dengan ujung jarimya.
"Love you honey milikku selamanya." bisik Jones di telinga Shafa.
Setelah selesai meralikan diri Shafa dan Jones bergegas keluar ruangan untuk makan siang berdua di tempat yang sudah di pesan oleh Jones sebelum mereka keluar dari poli kebidanan tempat kerja Jones.
Malam itu, setelah yakin Shafa tertidur pulas Jones keluar kamar mengendap endap karna takut Shafa terbangun
Jones berjalan ke arah ruang kerja mertuanya, laki-laki itu langsung masuk kedalam ruangan setelah ia mengetuk pintu dua kali, di dalam sudah menunggu Johan dan Zahra.
Pasangan suami istri itu sudah lama menunggu dirinya harap harap cemas, Johan sempat marah karna sedari siang Jones bungkam setiap di tanya hasil pemeriksaan putrinya.
Jones sengaja memilih waktu bicara malam hari setelah Shafa tidur, agar Shafa tidak curiga kalau ia bicara berdua dengan papa mertua.
"Bagai mana hasil pemeriksaan putri gua."
"Bagai mana hasilnya." Zahra.
Baru saja Jones mendaratkan bokongnya di kursi empuk itu namun Jones langsung di berondong pertanyaan dari kedua mertuanya.
"Hasilnya.."
Apa ya hasilnya All..
*******
Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.
Mari tetap semangat dan saling support
Dengan cara :
🪴 LIKE
🪴 RATE
🪴 VOTE
🪴 HADIAH yang banyak
🪴KOMEN yang sebanyak banyaknya.
__ADS_1
Wo Ai Ni all..
Happy Reading.