
Hari hari di lalui pasangan suami istri dengan penuh kebahagiaan, canda dan tawa, setiap hari pasangan suami istri itu sama sama ngidam dan sama sama mengalami morning sickness.
Sudah lebih dua minggu Jones tidak bekerja karna sang istri tidak mengizinkannya, tampaknya Shafa tidak mau jauh dari sang suami, wanita hamil itu akan akan uring uringan satu jam saja tidak melihat suaminya.
Setelah ujian dokter selesai dan mendapat nilai terbaik Shafa ahirnya resmi menjadi dokter umum dan sudah bisa bekerja di instansi pemerintah atau pun di rumah sakit swasta milik orang tuanya yang konon katanya sudah di balik namakan padanya sebagai pemilik.
Shafa sudah sangat ingin bekerja namun semua orang melarang terutama suami, karna kehamilan yang sudah memasuki empat belas minggu bobot Shafa bahkan sudah meningkat jauh.
Kalau bukan karna memakai baju yang longgar dan hijab yang dalam perutnya yang buncit pasti terlihat sangat jelas.
Pagi itu Jones bersiap berangkat kerja setela merayu istri semalaman, segala kata rayuan pujian bujukan ahirnya Shafa mengizinkan Jones berangkat kerja.
"Sayang.. dede di rumah saja ya hmm, jangan terlalu cape ya, dan jangan nyusul Aa ke rumah sakit, Aa janji sehabis jadwal poli Aa akan langsung pulang."
"Enghhhh janji ya.." jawab Shafa mendusel dusel hidungnya di dada Jones.
" Tentu sayang, Aa janji." mencium seluruh wajah Shafa penuh kasih sayang.
Sebenarnya Jones juga merasa malas berangkat kerja, dia sendiri ingin di rumah seharian seperti dua minggu ini, laki-laki itu memeluk tubuh kecil istrinya penuh rasa cinta.
Entah mengapa kaki Jones sangat berat untuk melangkah tapi karna sudah lebih dua minggu tidak bekerja mau tak mau dia harus meninggalkan istrinya itu.
Jones sudah berjalan ke arah pintu apartemen tapi ia berbalik lagi dan berjalan lagi ke arah Shafa yang masih setia berdiri di tempat semula.
"I love you my wife, my angel,my life love you so much." memeluk dan mencium lagi dan lagi.
"Enghhhh.. nanti telat Aa." ucap Shafa pelan, tapi dia sendiri tidak melepaskan pelukannya.
"Ya sayang, Aa berangkat ya, ingat jaga diri dan anak anak kita hmm." mengecup bibir Shafa lembut kemudian ia turun sembari berjongkok mencium perut sang istri.
Setelah itu ia pun pergi meninggalkan Shafa yang masih setia berdiri di tempat bola matanya mengikuti arah langkah Jones sampai menghilang di balik pintu.
Dengan malas ia melangkah masuk kamarnya, tadi dia sudah berpesan pada para bodyguar agar tidak perlu datang karna dia ingin tidur, dia juga meminta para bodyguar untuk pergi berbelanja segala kebutuhan mereka.
Baru tertidur beberapa menit bel pintu apartemen berbunyi nyaring, Shafa turun dari tempat tidur dengan gontai, di pakainya hijab serta niqab, kemudian ia berjalan ke arah pintu di mana bunyi bel yang makin sering dan tidak beraturan.
"Aduh.. sabar dong, kok ribut banget sih, siapa ya." bingung Shafa sambil mengintip dari lobang kecil yang ada di bagian tengah pintu.
Senyum Shafa melebar melihat orang yang berada di balik pintu, dengan cepat ia lalu membuka pintu dan menyambut orang yang ada di sana.
"Mama.., silahkan masuk ma." membuka pintu lebar lebar, sembari mengulurkan tangan untuk meyalami mama dara.
"Lama banget sih buka pintu doang, ngapain aja kau, mana anak ku." jawabnya ketus dan mengindahkan uluran tangan Shafa.
"Mari duduk ma, Aa masih di rumah sakit." jawab pelan lalu berjalan mendahului sang mama.
"Ku dengar anak ku sakit, pasti karna stres memikirkan anak, kau belum hamil juga kan, padahal Jones sangat menginginkan anak." ucap mama dara dengan nada bicara tinggi.
"Tapi ma Shafa sudah.."
__ADS_1
"Sudah apa ?? sudah berusaha tapi tidak hamil juga kan, dasar perempuan mandul, aku kan sudah bilang dari awal kalau kau itu mandul, harusnya kau sadar diri, kalau kau memang tidak bisa hamil kau harus mau di madu." suara mama dara makin tinggi.
Wanita paruh baya itu memang belum tau tentang kehamilan Shafa karna Jones sengaja merahasiankannya, dia tidak mau nanti mamanya malah semakin menekan Shafa dengan hal lain.
Jones tau percis sebenarnya sang mama bukan hanya mempermasalahkan keturunan tapi lebih dari pada dendam dan sakit hati pada sang istri, perkara kehamilan hanya nomor dua, masalah utama adalah dendam.
Shafa yang trauma dengan suara keras terdiam seribu bahasa, tubuhnya bergetar menahan isak tangis yang hampir meledak.
"Perempuan seperti mu memang tidak pantas untuk anak ku, entah apa yang dia lihat padamu, manja luar biasa seenaknya saja memerintah anakku, pelet apa yang kau kasih padanya, sehingga dia begitu patuh padamu hahhh." tetap suara tinggi tak perduli dengan suara tangis Shafa yang mulai terdengar.
"Shafa ngak ma, ngak kasih apa apa." suaranya tercekat di tenggorokan.
"Tidak apanya buktinya anak ku patuh padamu, bahkan dia mulai melawan aku mamanya, kalau kau istri yang baik dan beriman buktikan itu."
Shafa mengangkat kepalanya melihat dan menatap sang mama bingung.
"Kau harus tanda tangani surat ini, kau harus rela di madu." mama dara melirik gadis manis dan **** yang sedari tadi duduk manis di sisi mama dara.
Bola mata wanita itu menelusuri seluruh tubuh Shafa dengan tatapan sinis, senyumnya tampak aneh ketika melihat reaksi Shafa yang tampak ketakutan.
"Maksudnya ma."
"Kau harus menandatangani surat ini yang menyatakan kalau kau bersedia di madu, itu aja ngak ngerti katanya pintar, cih pintar apa pasti karna papa tiri mu yang kaya itu semua orang jadi takut dan terpaksa membuat mu juara." ucap mama Dara menghina Shafa.
Hati Shafa terasa perih dan teriris mendengar kata kata mama Dara yang menyudutkannya, apa lagi mama Dara menyebutkan kata papa tiri sedang dia sendiri lupa kalau Johan papa tirinya.
"Tapi ma, Shafa tidak .."
Shafa menunduk sedih, setelah bola matanya yang indah bertemu pandang dengan bola mata wanita itu yang menatapnya sinis.
"Maaf mama, Shafa tidak bisa tanda tangan surat ini Shafa harus bicara dengan Aa."
"Tidak perlu, kau tanda tangan saja, anak ku pasti mau dan menurut padaku, dan akan lebih mudah segala urusan kalau kau cepat tanda tangan, sudah jangan banyak bacot, cepat tanda tangan sekarang juga."
Mama dara menarik tangan Shafa kasar dan mengarahkan ke kertas yang berada di atas meja, yang berisi pernyataan bersedia di madu oleh suaminya.
Mama Dara, memaksa Shafa memegang pena dan memaksa menggoreskan tinda di atas kertas berupa surat pernyataan itu.
Shafa menahan tangannya, karna emosi mama Dara lalu menarik niqab dan hijab Shafa kasar, kemarahannya memuncak, wanita itu menarik paksa tangan Shafa lagi kemudian menghempaskan ke atas meja.
Wajah cantik Shafa terlihat memerah karna tangis yang ia tahan, tangan kecil wanita itu terasa sakit karna terbentur pada meja kayu jati.
"Tanda tangan saja apa salahnya sih, kok bandel banget dasar perempuan jadi jadian." teriak mama Dara kencang.
Sementara wanita yang duduk di sisi mama dara malah terpesona dengan kecantikan Shafa, wanita itu tentu kalah jauh darinya yang seluruh permukaan wajah di balut bedak tebal dan
meke uf.
Tapi karna rayuan mama dara yang mengatakan kalau Jones butuh istri dan Jones punya harta berlimpah wanita itu tentu tidak perduli dengan sosok istri laki-laki yang akan di jodohkan padanya itu.
__ADS_1
Apa lagi dia sudahelihat wajah tampan Jones lewat photo yang di tunjukkan oleh mama dara tentu tidak membuatnya ingin mundur.
"Cepat tanda tangan bangsat.." maki mama Dara.
membuat tangis Shafa yang tadinya masih bisa di reda menjadi pecah menjadi tangisan kuat karna takut dengan suara keras wanita itu.
"Sialan .. bukannya tanda tangan tapi malahbmakin nangis cengeng banget sih." omel mama Dara.
"Maaf .. ma..maa.. Shafa ngak bisa tanda tangan, Shafa ngak mau papa marah sama Aa, dan papa bisa menghukum Aa kalau tau Aa menikah lagi."
"Makanya kau tanda tangan biar tidak marah papa mu itu, kau bilang lah kalau kau iklas karna ingin surga, kau tau kan mengizinkan suami menikah lagi pasti dapat pahala."
"Shafa mau ngomong sama Aa dulu mama, Shafa telepon Aa dulu." berdiri dari duduknya.
"Tidak perlu, cepat tanda tangan." mam Dara ikut berdiri lalu mendorong dan menghempaskan tubuh Shafa keatas sopa.
Shafa kembali duduk dengan tubuh terhempas kuat di atas sopa, untung sopa itu sangat empuk sehingga tidak begitu menyakiti tubuh Shafa.
Shafa menangis kencang karna terkejut, ia memegangi perutnya dengan kedua tangan karna takut anak anak yang ada di dalam tergoncang.
Mama Dara yang sudah seperti kesetanan tidak melihat sama sekali arah tangan Shafa yang seperti melindungi perutnya, wanita tua itu menampar wajah Shafa kasar setelah itu dia lalu menarik tangan wanita yang akan di jodohkan dengan Jones.
"Ayo pergi, sebelum pengawalmya datang." bisiknya pelan di telinga wanita itu, mama Dara mulai panik karna Shafa yang menangis kuat.
Awalnya dia berpikir dengan hanya sedikit mengancam Shafa dengan mudah akan menandatangani surat pernyataan itu tapi dia salah Shafa malah tidak bersedia.
Wanita itu sempat melihat gundukan bulat di perut Shafa yang ia elus, keningnya berkerut karna dia yakin Shafa sedang hamil, tapi karna keinginannya yang kuat untuk menjadi istri kedua Jones dia pun diam saja.
"Kenapa tante, kok kita pergi, tanda tangannya kan belum dapat, memang dia ada pengawal tante ?." tahya wanita itu sambil berjalan mengimbangi kecepatan langkah mama Dara yang tampak tergesa gesa.
"Iya .. dia punya pengawal, sudah tidak perlu pikirkan itu, sekarang bagai mana langkah selanjutnya." ucap mama Dara yang sudah masuk kedalam mobil.
"Gimana lagi tante, dia ngak mau."
"Bodoh banget sih kau, cari dan pikirkan dong jangan diam aja, kasih ide kek."
"Ide apa ya tante.." garuk garuk kepala.
Wanita itu duduk di depan kemudi karna mereka datang tanpa supir, untuk sesaat mereka sama sama diam.
🌴🌴🌴🌴🌴🌴
Hallo All..
Makasih masih setia di Novel aku ya, meski jarang Up .., maaf karna memang masih sibuk di dunia nyata yang tidak bisa di elakkan.
Mari tetap Stay ya dan tetap mendukung aku dengan cara LIKE, VOTE, RATE, HADIAH DAN KOMEN YANG BANYAK.
Happy Reading..
__ADS_1
Wo Ai Ni All.