
Luky duduk termenung di hadapan Johan, Zahra serta yang lain saat rekaman Cctv yang ia lihat dari laptop Andy menunjukkan berbagai tingkah aneh Dinda.
Dia tidak mengatakan pada Johan kalau Dinda tunangannya kekasihnya karna dia takut Johan segan memberi tugas berat pada Dinda kalau Johan tau, dia malah mengatakan kalau Dinda itu keponakannya.
"Jadi ini mau mu hmm, sampai kau merengek agar aku membantumu magang di sini, bukannya sudah aku beritahu padamu siapa bos Johan, siapa saja orang yang ada di sekeliling nyonya Zahra istrinya, kau cari mati ya, kalau mereka tidak memaafkan mu dengan berat hati aku katakan, maaf..aku tidak bisa menolong mu."
Dinda menatap Luky nanar, dia tidak menyangka tunangannya itu akan berkata seperti itu.
"Luky.. aku..aku." Dinda.
"Hubungan kita selesai sampai di sini, aku membatalkan pertunangan kita, aku tidak mau menikahi wanita yang salah, sekarang kau berani begini, di saat menikah nanti bukan tidak mungkin kau mengulangi lagi."
"Luky..dengarkan aku dulu, jangan membatalkan pertunangan kita, aku tidak terima." tangis Dinda dia mencoba mendekati Luky tapi di tolak oleh laki-laki itu dengan kasar.
"Jadi wanita ini tunangan lu, baguslah lu memutuskannya wanita macam ini tidak baik jadi istri lu, bagusnya di kirim ke kandang buaya, atau masukkan ke rumah bordir." Johan.
"Maafkan gua bro, ini semua salah gua, gua tidak menyangka dia begini, kalau sampai pada lu dia berani bisa jadi dia juga melakukannya pada yang lain, gua benar benar minta maaf bro." Luky.
"Sudahlah bawa perempuan ini dari hadapan gua, jangan sampai gua berubah pikiran, dia sudah berani membentak istri gua di hadapan mata kepala gua sendiri gua takut nanti makin silap, gua malah membunuhnya."
Kata kata Johan membuat Luky merinding, dia tau percis siapa Johan kalau sudah marah pasti sangat mengerikan.
Meski Dinda merupakan mantan tunangannya yang baru saja di putuskan nya dia tentu tetap tidak ingin Johan menghabisi mantannya itu.
Luky membawa Dinda dari sana setelah dinda meminta maaf dan berjanji tidak mengulangi lagi.
Johan dan Zahra kembali kerumah besar, sejak berangkat dari kantor, di perjalanan sampai kerumah Zahra diam saja, Johan sendiri tidak berani berkata kata.
"Kenapa istri gua tiba tiba kasar begini, biasanya kalau marah tidak begini amat, jantung gua hampir meledak di serang begitu tadi, hahhh perempuan kalau sudah marah lebih seram dari hantu manapun di dunia ini."
Gumam Johan dalam hati mengikuti Zahra berjalan dari belakang masuk kedalam rumah.
"Mama..papa..huaaaaa huaaaa mama papa." Shafa berlari pelan menyongsong kedatangan mama papanya.
"Kenapa kak, kok nangis nak." Zahra memeluk Shafa, seketika ia teringat Jones.
"Ahhh jangan jangan kontak bathin, bagai mana kondisi Jones sekarang, aku sampai lupa,karna terlalu emosi tadi ." gumam Zahra dalam hati.
"Kenapa kak, kok nangis putri kesayangan papa hmmm, jangan nangis dong." bujuk Johan mengusap kepala Shafa yang tertutup hijab.
"Papa..papa Aa mana, papa tidak ngapain Aa kan, papa ngak sakitin suami Shafa kan, papa sudah janji, asal Shafa mau tanda tangani surat itu." tangis Shafa.
Dugaan Zahra ternyata benar, ada kontak bathin antara Shafa dan suaminya, belum sempat berbincang dengan Johan tentang mama Dara dan yang lain tapi dia harus lebih dulu menenangkan
putrinya itu.
"Surat apa kak ?." Zahra.
Johan diam, di raihnya tangan putri sambungnya itu, lalu ia bawa ke sopa ruang tamu, dia tambah takut mendengar makan Zahra kalau tau dia memaksa Shafa menandatangani surat cerai mereka, karna surat itu memang tanpa sepengetahuan Zahra.
"Ayo duduk dulu nak, kita berbicara dulu tenang ya, jangan seperti ini, kakak nanti cape lo." ucap Johan lembut, dia juga membawa wanita tercintanya duduk di sana.
"Surat apa kak." tanya Zahra lagi setelah mereka duduk.
Johan ahirnya mengaku, toh tetap akan kena marah lambat atau cepat kalau Zahra tau, selama ini cuma cerita saja yang Zahra dengar dia tidak tau kalau Johan benar benar melakukannya.
"Tega kamu ya ko.." hanya itu yang terucap dari bibir Zahra, kecewa pada suaminya itu sudah pasti, tapi dia tidak mau membuat keributan di depan Shafa yang masih menangis.
"Maaf yank, tapi suratnya sudah di robek Jones kok." membela diri.
Hmmm helaan napas Zahra terdengar berat, dia tidak mau memikirkan itu dulu, biarlah toh sudah di robek, sekarang ini bagai mana menjelaskan kondisi Jones pada Shafa.
"Kenapa kakak nangis nak." Zahra.
"Ta..tadi Shafa terbangun karna mimpi ma, mimpi huaaa."
__ADS_1
"Mimpi apa nak, sttt jangan nangis dulu dong." mengusap air mata Shafa dengan ibu jarinya.
"Shafa mimpi Aa terluka di kepala banyak darahnya ma, papa megang pisau panjang." masud Shafa pedang.
"Cuma bunga tidur kak, jangan di pikirkan." Zahra.
"Tapi benar papa ngak pisau Aa kan hiks." menatap Johan meminta penjelasan.
"Ya Allah kak, mana mungkin papa begitu nak, papa kan sudah janji, percaya pada papa nak." Johan.
"Membunuh dengan senjata tajam tidak tapi dengan lidah tajam iya." gumam Zahra pelan Johan masih bisa mendengar, sedang Shafa tidak menyambung.
"Sayang.." lirih Johan.
"Kakak sudah makan ?." Zahra.
"Belum..Shafa ngak lapar." masih sesegukan.
"Sudah hampir ashar kak, gimana kalau kita Sholat dulu, kita berdoa bersama untuk kita semua kesehatan dan keselamatan kita semua di dunia dan akhirat, terus kakak makan nanti baru kita cerita hmm." bujuk Zahra.
Shafa menurut, mereka masuk kekamar masing masing untuk membasuh diri agar segar dan bersih saat Sholat nanti.
"Jangan sentuh mereka, jangan lakukan apapun pada mereka, katakan pada anak buah koko, ingat aku tidak ingin ada pembunuhan lagi." ucap Zahra saat mereka sampai di kamar.
Johan tentu tau maksud kata kata Zahra, dia juga tau kalau istrinya ikut campur dan mengambil tindakan pada mama Dara tadi, tentu saja dia tau, meski anak buahnya menurut pada Zahra tapi mereka tetap melapor pada tuan arogant.
"Ya sayang koko sudah bilang, untuk mereka tetap akan dapat sangsi."
"Nanti saja pikir kan hukuman yang tepat untuk mereka sekarang ini bagai mana kondisi Jones koko juga pasti sudah tau, lalu bagai mana mengatakan pada kakak koko.yang harus menyampaikannya."
Zahra duduk di sisi tempat tidur, sedang Johan masih berdiri di depannya seperti anak sekolah yang dapat hukuman dari ciqu.
"Puas koko melihat Jones begitu ?."
"Memaksa bercerai tentu saja membunuh juga namanya, membunuh keyakinan diri dan harga diri, kalau aku yang meninggalkan koko dan di paksa cerai bagai mana."
"Tidak yank, koko tidak mau dan tidak sanggup." Johan cepat cepat menggeleng.
"Lalu menurut koko apa Jones dan kak Shafa juga mau, di mana hatimu ko, ingat kakak sedang hamil, dia butuh suaminya di sisinya, sesalah salah Jones mamanya lebih salah,kalau koko ingin memberi kesempatan cukup jauhkan Jones dengan keluarganya, kirim dia kekamoung dan kakak, aman kan."
"Tapi yank.."
"Ko..tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini, rosul saja tidak pernah menganggap dirinya suci dan sempurna dia juga selalu memaafkan pada orang orang yang selalu menyakitinya, kenapa kita pengikutnya tidak bisa memaafkan."
"Maaf yank.."
"Kalau sampai terjadi sesuatu pada Jones dan kakak, di sini yang paling bersalah koko, ingat ko, koko yang salah."
"Maaf yank, dan percayalah Jones punya banyak stok nyawa."
"Hmmm ya berdoa saja, kalau tidak siapkan mental koko menjaga kakak nanti, siapkan juga hati koko."
Johan diam.
"Oo ya.. kenyang mata koko melihat dada perempuan tadi, sehingga diam saja melihat pakaiannya terbuka begitu."
"Ehhh tidak yank."
"Jangan bohong, apa dadanya lebih menarik dari pada milikku."
Zahra berdiri laku membuka kancing dres panjangnya kemudian mengeluarkan isi Bh nya sampai menonjol keluar semua.
"Katakan mana lebih besar, lebih montok dan seksi." Zahra menguji kejujuran Johan yang katanya tidak melihat.
"Enghhhh tidak tau punya dia yank, koko tidak lihat, tapi meski dia telanjang koko tidak akan tertarik, dan ini tentu jauh lebih besar, montok seksi dan indah."
__ADS_1
Johan malah mendekat lalu memegang kedua gunung kembar sang istri omesnya langsung kumat begitu melihat milik Zahra yang masih terlihat kencang momtok dan padat.
Dia lupa kalau sedang di musihi oleh Zahra, dia lupa dengan banyaknya masalah yang sedang di hadapinya yang paling penting dia juga lupa kalau waktu Ashar sudah tiba.
"Jauhkan tangan koko dariku, sana mandi dan ambil whudu." menepis tangan Johan dari kedua gunung kembarnya yang berkilau menawan itu.
Raut kecewa tampak jelas di wajah Johan tapi yang di katakan istrinya memang benar, dengan berat hati terpaksa ia lepaskan tangannya dari sana, dan langsung masuk kamar mandi setelah mengambil satu ciuman di bibir Zahra.
"Huhhh masih sempat nya mesum." omel Zahra.
Setelah selesai sholat ashar berjamaah Zahra mencium telapak tangan suaminya itu seperti biasa.
"Aku minta maaf ya ko, karna tadi sudah kasar dan lepas kendali pada koko, habis koko cari gara gara sih melanggar peraturan kita dan kantor." mohon Zahra tulus dan penuh penyesalan.
"Koko juga salah yank, koko minta maaf ya, koko janji seperti ini tidak akan pernah terulang lagi, koko janji yank." mencium tangan, kening lalu bibir Zahra sekilas.
Setelah melihat sajadah Johan dan Zahra mengajak Shafa makan, tapi lagi lagi bumil itu menolak, dia sama sekali tidak mau makan, dia ingin melihat suaminya dulu agar hatinya tenang.
"Makanlah kak." Zahra.
"Ngak ma, Shafa ngak bisa makan ma, Shafa mau lihat Aa dulu, betulan apa ngak mimpi Shafa itu."
"Hahhhh gi..gimana caranya, nak itu hanya mim." Johan belum selesai bicara tapi Shafa sudah meminta handphonenya pada niken.
"Papa.. ya papa Shafa ngak ngomong kok, kak niken aja yang ngomong." pinta Shafa penuh permohonan pada sang papa, wajahnya tampak pucat, sembab hidungnya merah karna menangis lama.
Johan bingung tidak tau harus apa sedang Zahra tidak merespon, dia sudah mengatakan pada Johan masalah yang terjadi pada Jones dia yang bertanggung jawab menjelaskan pada Shafa.
"Tuan..nyonya..itu ada ta..tamu maau bertemu dengan nyonya muda." maid muncul dengan wajah bingung kata katanya terbata.
"Siapa mbak, kok gugup gitu." Zahra ikut Bingung.
"Maaf tuan, nyonya ada tamu yang mau bertemu nyonya muda, dia memaksa masuk katanya ayah angkat nyonya muda." bodyguar juga datang menghampiri.
Zahra makin bingung, sejak kapan putrinya punya ayah angkat.
"Assalamualaikum wrwb .."
Baru saja bodyguar melapor orang yang di maksud sudah muncul bersama Lyla, Zahra terkejut melihat wajah tampan namun sudah beruban duplikat wajah seseorang yang sangat ia kenal, Johan sendiri bersikap biasa saja.
"Waalaikumsalam wrwb.." jawab semua orang yang ada di ruang makan mewah itu.
"Dad..Daddy..huaaaa Daddy..Daddy.." berjalan cepat ke Arah Axton yang ikut berjalan cepat kearah Shafa.
☘☘☘☘☘☘
Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.
Mari tetap semangat dan saling support
Dengan cara :
☘ LIKE
☘ RATE
☘ VOTE
☘ HADIAH yang banyak
☘KOMEN yang sebanyak banyaknya.
Wo Ai Ni all..
Happy Reading.
__ADS_1