UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
116. Suami Simpanan.


__ADS_3

"Sayang...hahhh hahhh dede makin enak, Aa makin sayang, makin cinta hohhh hahhh nikmat banget sayang, Aa ...." Jones mengerang mendesah sambil terus bergoyang di atas tubuh istrinya yang juga menikmati permainan Jones.


"Aa...aaa." desahnya, mencengkaram pinggang Jones kuat.


"Enak sayang."


"Enghhhh enak Aa."


"Mau di pelanin atau di cepatin yank." menciumi seluruh wajah Shafa sambil mengurangi tempo gerakannya.


"Jangan banyak bicara Aa teruskan." kesal Shafa yang sudah tidak tahan ingin di puaskan oleh sang suami mesumnya, demi apa coba lagi enak enak malah ngajak cerita.


Laki-laki itu terkekeh mendapati kekesalan istri nya yang sudah tidak bisa mengendalikan diri, Jones kemudian melanjutkan aksinya sampai mereka sama sama menuju puncak.


"I love you sayang ku cup cup cup sangat sangat mencintaimu." memeluk sang istri dengan posisi masih di atas tubuh istrinya.


"Aa berat."


"Masa biasanya Aa timpa ngak berat." Kekehnya.


"Berat tau."


"Itu tadi kenapa bokong Aa di tahan hmm."


"Biar ngak Aa buang di luar." cucut Shafa.


"Bibirnya jangan di cucutkan sayang, nanti Aa gigit lo, kenapa emang kalau di luar Aa kan udah bilang belum siap punya anak."


"Tapi Shafa mau Aa."


"Kenapa ?, mama datangi dede lagi, ngancam dede lagi hmmm."


"Ngak kok, karna Shafa memang mau, lucu tau seperti adik Jonan, pipinya tembem mey mey udah ngak mau lagi di gendong gendong adik Jonan ngak mau sama siapa siapa selain mama, Shafa kan pengen punya adek bayi, Shafa kesepian sendiri di rumah kalau Aa pergi kerja."


Jawabnya panjang lebar, Jones yang masih ada di atas tubuh Shafa memperhatikan gerakan bibir istrinya yang komat kamit menjadi gemas laki-laki itu kembali membenamkan bibirnya pada bibir Shafa menikmati pijatan lembut di sana.


"Jadi dede mau punya bayi ?? bukan karna paksaan mama hmm."


"Bukan Aa Shafa mau punya bayi, jadi jangan buang di luar lagi ya." mata berkedip kedip lucu dan menggemaskan.


"Dede yakin ??." ******* bibir Shafa sebentar.


"Enghhhh ya yakin."


"Baik, kalau begitu mulai sekarang kita punya misi cetak anak, tapi gimana kuliah dede, dede sudah semester delapan lo, nanti kalau dede hamil kuliah dede bisa terganggu, dede sekarang kan lagi nyusun Skripsi dan sebentar lagi ujian UKDI ( ujian kompetensi dokter Indonesia )."


" Yang benar Shafa udah selesai skripsi tinggal wisuda dokter terus ujian UKDI Aa lupa atau pura pura lupa sih, lagian ngak apa apa kan Shafa hamil paling dua bulan lagi Shafa wisuda abis itu baru ujian, sebentar lagi aja."


"Ahhh iya Aa lupa sayang, maaf ihhh ngak nyangka Aa punya istri super super pintar, umur masih sembilan belas tahun udah mau jadi dokter bangga banget suami dede nih." menepuk dada pelan dengan senyum sumringah.


"Aa sih kalau udah sibuk kerja kan lupa sama Shafa, padahal yang uji skripsi Shafa teman Aa sendiri."


"Maaf yank, Aa lupa, apa si Kamal mempersulit sayang ?."


"Ngak, pak dosen malah mau lamar Shafa."


"Hahhhhhhh Apa, sialan dia itu mau cari mati apa."


Emosi Jones.


"Siapa yang cari mati, beliau kan ngak tau kalau Shafa sudah menikah."


"Ya itu karna dede yang ngak mau orang lain tau status dede, lalu dede bilang apa."


"Shafa bilang udah taaruf sama pilihan keluarga, terus beliau marah dan aga mempersulit Shafa."


adunya pada sang suami.


"Wahhhh benar benar tu orang cari masalah." makin marah.


Udah ahhh Aa yang penting Shafa udah selesai Skripsi, beliau ngak bisa menekan Shafa lama lama karna Shafa bisa menjawab dan menyelesaikan tugas dengan cepat."


Jones menarik napas dalam dalam.


"Jadi ya Aa buat adek bayinya, Shafa ngak apa apa kok hamil meski mau wisuda dan ujian."


"Ngak apa apa gimana ?, dede kan tau wanita kalau hamil banyak keluhan nya apa lagi trimester pertama bagai mana konsekuensi nya apa dede siap, dede bisa ngidam lo, dede mau ambil cuti ?."


"Ngak .. Shafa akan teruskan kan tinggal wisuda dan ujian, lagian ngak semua wanita mengalami ngidam."


"Gitu ya, kalau begitu kita harus sering lembur nih, Aa mah maunya, asal dede tahan aja." senyum mesum.


"Aa kapan ngak mau sih, Aa kan ngak bisa di kasih libur." cicitnya.


"Dede mau nambah ??."


"Ngak .. Shafa ngantuk, turun A.. besok pagi harus belajar jam sepuluh harus ke kampus."


"Hmmm baiklah kalau ngak mau nambah, padahal Aa udah siap siap nih." Kekehnya sambil turun pelan dari tempatnya semula.


"Siap siap apa Aa."


"Siap siap turun." menoel pipi Shafa.


"Udah ahh Shafa mau tidur."


"Baiklah selamat tidur istri ku, mimpi indah sayangku." mencium kening dan bibir pink Shafa,


Setelah itu memeluk sang istri lalu menarik selimut sampai ke atas dada mereka.


Jones membelai wajah cantik yang kini tertidur pulas di pelukannya, wajah tenang dan yang selalu ia damba siang malam, wanita yang teramat sangat ia cintai.

__ADS_1


Laki-laki itu tidak dapat memejamkan mata, dia berpikir keras bagai mana menjelaskan kelak kalau sang istri selalu bertanya dan berharap memiliki keturunan.


Sebenarnya Jones tidak pernah melakukan kontra sepsi seperti yang selalu ia sebutkan pada sang istri, sejak kondisi Shafa makin baik dan bisa hamil pasca operasi Jones sudah melepaskan kontra sepsinya.


Kalau Shafa bertanya kontra sepsi yang Jones pakai sejak tidak menggunakan ko**m Jones akan mengatakan kalau ia tidak memasukkan bibitnya kedalam rahim Shafa ( Kb alami ).


Tapi sebenarnya Jones tidak pernah membuang bibit nya di luar rahim Shafa, semua itu hanya alasannya saja untuk menenangkan sang istri yang mulai takut tidak bisa hamil.


Bahkan Shafa sampai menuruti kemauan mama Dara untuk membujuk Jones agar menikah lagi dan dia siap di madu karna menyangka dia benar benar tidak bisa hamil.


"Sayang.. Aa ngak masalah tidak punya anak, tidak apa apa kalau kamu tidak bisa hamil dan melahirkan anak Aa, tapi sekarang kok malah istri Aa yang ngotot ingin punya anak, dede sedang menguji kejujuran Aa ya." membelai wajah lembut istri yang tertidur pulas di pelukannya.


"Bagai mana cara ku menjelaskannya nanti, ya Allah tolong berikan petunjuk pada ku, tolong berikan kekuatan pada istri ku andai suatu saat dia tau kondisi rahimnya yang sebenarnya."


Jones mengeratkan pelukannya, mencium berkali kali pucuk kepala istri lalu wajahnya, tangan Jones tidak berhenti mngelus punggung Shafa dengan rasa sayang dan cinta yang makin tumbuh besar setiap harinya.


"Aa sangat mencintai dede, cinta yang sangat besar, tidak mungkin suami Aa bisa menduakan mu, itu tidak mungkin sayang, Aa tidak akan melakukannya meski seluruh penghuni alam ini memaksanya hanya dede wanita satu satunya dalam hidup Aa sayang." bisik Jones di telinga Shafa yang makin pulas oleh hangatnya pelukan Jones.


******


Hari hari pernikahan mereka di lalui dengan kebahagiaan, Jones benar benar memperlakukan Shafa bagai putri semakin hari Jones semakin bucin, apa lagi kini istrinya semakin banyak yang mendekati.


Sejak rumor yang beredar di kampus kalau Shafa wanita muslimah yang menutupi kecantikannya dengan niqab di tambah kepintarannya di usia sembilan belas tahun Shafa sudah semester sembilan kuliah kedokteran laki-laki mana yang tidak tertarik.


Setiap hari Jones harus mengelus dada dan berusaha menahan diri agar tidak menyerang para pemuda yang mengejar cinta sang istri.


"Huhhh .. sialan, kenapa gua merasa jadi suami simpanan ya, malang betul nasib gua, berani beraninya lu semua mendekati milik gua, kalau ngak takut bini udah gua potong potong lu semuan seperti motong buncis, hahh tabahkan hatiku ya Allah."


Jones masih setia duduk di kursi taman tidak jauh dari Shafa, kali ini hanya Lila dan Nisa yang menemani karna Niken ketinggalan kelas jauh dari Shafa, kalau Shafa sudah semester sembilan Niken baru semester lima di pakultas yang sama.


Tapi dari Jauh bodyguar bayangan selalu memantau sehingga keamanan Shafa terjaga dengan baik, belum lagi suami bucinnya yang selalu awas memantau dengan mata elangnya.


"Dek.. kapan sih bisa jalan bareng, ayolah abang janji ngak macam macam kok, teman teman adek bisa ikut juga kalau adek takut abang silap." lagi lagi Rendy datang merayu.


Hampir setahun mengejar cinta Shafa sama sekali tidak bosan dan pantang menyerah, selama setahun pula dia tidak bisa membongkar status Shafa, jangankan keluarganya rumahnya saja Rendy tidak bisa selidiki membuat laki-laki itu makin penasaran.


"Kak.. maaf, Shafa ngak bisa, tolong jangan dekati Shafa terus dong, nanti pacar kakak marahin Shafa lagi, Shafa malu kak di bilang mencuri pacarnya."


"Siapa ??, abang mana punya pacar dek, ooo si kiki ya ? dia bukan pacar abang lagi, dia mantan abang kok dek, adek jangan percaya." Rendy.


"Terserah kak, tapi Shafa mohon jangan dekati Shafa lagi."


"Jangan gitu dong dek, masa ngak boleh sih." laki-laki itu berjalan makin mendekat ke tempat duduk Shafa namun belum sampai Shafa dan kedua bodyguarnya sudah berdiri lalu berjalan meninggalkannya.


"Loh kok pergi sih dek." berusaha mengejar.


Shafa dan yang lain tetap berjalan dan Rendy makin mempercepat langkahnya, berusaha menjajari langkah Shafa.


"Emhhh.. ada apa ini, kok seperti kejar kejaran gitu." tiba tiba Jones muncul, matanya menatap Rendy tajam, sejak lama ia menahan diri untuk tidak ikut campur tapi kali ini dia sudah tidak sanggup lagi mengendalikan emosinya.


"Ehhh pak dosen, hehehe bisalah anak muda lagi berusaha mengejar cinta." Rendy menggaruk garuk kepala karna dapat tatapan tajam Jones.


"Sialan lu, anak muda lu bilang, bedebah ingin mengejar cinta istri gua sama gua aja belum tentu cinta, nah lu berharap cinta istri gua mimpi di paret paret sambil guling guling." kesal Jones bergumam dalam hati.


"Maaf pak, kami jalan dulu." ucap Shafa menunduk tidak berani menatap wajah apa lagi mata Jones, dia sendiri ingin tertawa saat memanggil suaminya dengan sebutan itu.


Nisa dan Lila membuang wajah kesembarang arah, mereka juga sama sama ingin tertawa mendengar panggilan Shafa.


Jones melotot rasanya ia ingin menggigit istri nya itu karna kesal di panggil pak untuk pertama kalinya secara langsung, meski Jones juga dosennya tapi mereka hampir tidak pernah berkomukasi secara di dalam kelas.


Kalau sang suami yang masuk kelas memberikan materi Shafa lebih banyak diam, tapi kalau dosen yang lain dia akan berkicau sampai perkuliahan selesai, dia akan lebih pokal.


Jones selalu iri kalau tau istrinya menjadi perbincangan para dosen karna selalu aktif bertanya mereka juga sering memuji kepintarannya di depan Jones.


Tentu Jones bangga punya istri pintar yang bahkan di bangga banggakan kampus karna Shafa mahasiswi muda yang akan mendapat gelar doktor pada usia yang bahkan belum dua puluh tahun.


Jones tidak menjawab perkataan Shafa, dia masih shoc di panggil pak oleh Shafa padahal setelah nikah masih di panggil Uncle dia biasa aja.


Shafa berjalan cepat di iringi para bodyguar, Rendy ingin menyusul tapi langsung di tahan oleh Jones, membuat Rendy marah.


"Apaan sih pak, jangan ikut campur urusan orang muda, bapak kan sudah menikah jangan ikut ganggu dong." bentak Rendy emosi.


Hampir saja Jones melayang kan tinjunya yang besar pada mulut Rendy untung sang asisten yang sedari tadi berdiri setia di sisinya menahan dan membawa Jones dari sana.


"Sialan jangan ganggu katanya dia yang ganggu istri gua, milik gua, harusnya lu biarkan gua menghajar mulut kotornya itu."marah Johan pada sang asisten.


"Bapak mau di marah nyonya muda sampai rumah ya, terus bapak mau jadi tontonan orang, semua orang tau kalau bapak sudah menikah dan bahkan menikahi putri tuan besar, gimana dong bisa rusak pamor tuan besar nanti gara gara menantunya menonjok laki-laki karna seorang wanita." Asisten.


"Sialan lu, wanita yang lu sebut istri gua."


"Betul pak, tapi kan orang orang ngak tau kalau bapak suami nyonya Shafa hehehe."


"Ketawa lu, mau gua kasih cabe."


"Jangan dong pak, kayak anak balita saja yang baru belajar bicara dan sebut hal jorok saja


aku kan udah gede." Kekehnya.


"Dasar lu ya."


Pulang dari kampus Shafa tidak langsung kembali ke apartemen dia masih sibuk cari buku buku di beberapa gramedia, meski suaminya sudah memberikan buku bukunya dan bahkan membelikan buku yang banyak untuknya.


Hampir malam Shafa baru kembali ke apartemen, begitu masuk Shafa tersentak melihat sosok tampan bermata biru sedang duduk manis mengawasinya.


"Bagus ya, istri Aa baru pulang hmm biasanya minta di temenin sekarang kok pergi diam diam ngak, kok ngak pamit ya." pura pura mengintimidasi.


Untuk sesaat Shafa diam, kemudian wanita cantik itu langsung berjalan berlenggak lenggok kearah suaminya yang sama sekali tidak menakutkan meski bergaya marah.


Shafa lalu menyingkirkan tangan Jones yang bersedekap di dada, wanita itu kemudian duduk di pangkuan suami dengan posisi kaki kanan berada di sisi kiri sedang kaki kiri berada di sebelah kanan Jones.


Setelah menyingkap cadarnya Shafa lalu mengecup pelan bibir Jones cuma sekilas sehingga Jones makin protes.

__ADS_1


"Kok cuma segitu."


"Lalu."


"Lamaan dong, masa merayu suami cuma segitu aja, sekalian buka baju baru aman."


"Ihhhhh emang Shafa lagi merayu Aa ?? ngak tuh ngak merasa ya."


"Ooo gitu ya, makin pintar ya dede ngakalin suami biar ngak marah."


"Emang Aa marah ?, kalau marah kok diam aja di kiss." memeluk sang suami, Shafa kemudian mengangkat wajahnya tepat di leher Jones kemudian Shafa menggigit jakun Jones pelan, membuat laki-laki itu juga mengeratkan pelukannya.


"Enak sih, tapi Aa kan ngak diam Aa minta tambah kok, dede aja yang pura pura ngak tau, ayo buka baju biar marah suami ilang, ini malah mancing mancing buat tegang saja."


"Maunya, ngak ahh.. udah hampir maghrib Shafa mau mandi terus sholat."


Belum sempat Shafa berdiri tubuhnya sudah melayang di udara, Jones dengan cepat membawa Shafa menuju kamar mereka.


Malam sudah larut namun pasangan suami istri itu masih sibuk dengan pekerjaan mereka, misi mencetak anak menurut Jones


"Hahhhhh sayang, enak yank." lirih Jones begitu mereka selesai.


"Aa.. udah ya, udah dua kali Shafa cape, besok harus bangun cepat kan jam sepuluh Shafa harus ke kampus masih banyak urusqn."


"Iya sayang, Aa ngak lupa kok kalau besok mau ke kampus istri Aa, tapi kan dede yang minta anak kita harus sering buat dong biar cepat jadi." godanya.


"Tapi nanti.kalau abis wisuda Shafa mau hadiah."


"Hadiah apa sayang katakan, asal jangan nyuruh Aa nikah lagi pasti Aa turutin dede mau apa jarang jarang istri Aa minta hadiah, tapi kalau wisuda siapa ya yang dampingi dede, mama papa ngak boleh, apa lagi Aa masa wisuda keluarga ngak ikut sih sayang."mencium bibir Shafa lembut.


"Ngak ahhh Shafa ngak lagi nyuruh Aa nikah, itu kan ide mama ehhh keceplosan." menutup mulutnya dengan kedua tangan.


"Nahhh kan ketauan, Aa sudah duga itu."


"Kalau masalah pendamping nanti ngomong sama papa dan mama dulu Aa."


"Jadi beneran nih Aa ngak bisa ikut, masa suami ngak di anggap sih, suami bangga dong punya istri pintar." rajuknya.


"Nanti saja kita pikirkan Aa, tapi Shafa beneran sekarang Shafa ngak mau bilang gitu lagi, Shafa ngak mau berbagi suami."


"Emang siapa yang mau poligami Aa ngak tuh, sampe mati ngak sayang, cuma dede pendamping Aa di dunia dan akhirat nanti, bidadari di dunia dan bidadari Aa kelak di akhirat."


"Aminn, nanti kalau Aa ikut wisuda Shafa Aa sama papa pakai niqab Shafa saja hahaha.."


"Aminn, Astaga istri Aa teganya." Jones menciumi seluruh wajah Shafa dia pun menggigit hidung mancung istri pelan karna gemas.


"Beneran ya mau nurutin permintaan Shafa."


"Iya sayang, dede mau apa."


"Shafa mau liburan ke jepang, di sana kan musim dingin pasti seru Aa.".


"Seru dong, makin seru dingin dingin buat anak."


"Sudah Shafa duga."


"Apa.."


"Aa pasti bilang gitu."


"Hahahaha kan betul sayang, dingin dingin enak ya penyatuan." mencolek hidung mancung Shafa.


"Ishhh Aa."


"Jadi dede cuma minta ke jepang, ngak ada yang lain." turu dari atas Shafa kemudian Jones menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka berdua.


"Iya Aa, Shafa mau buat anak juga." wajah merona.


"Nah.. kan dede mau juga, candu kan."


"Aa yang candu."


"Hahahaha... sama sama candu."


"Ngak Aa lebih candu."


"Iya deh Aa, yang penting dapat."Kekehnya.


Dan ahirnya setelah selesai berdebat keduanya pun tertidur pulas sambil berpelukan.


************


Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik  terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.


Mari tetap semangat dan saling support


Dengan cara :


💝 LIKE


💝 RATE


💝 VOTE


💝 HADIAH yang banyak


💝KOMEN yang sebanyak banyaknya.


Wo Ai Ni all..


Happy Reading.

__ADS_1


__ADS_2