UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
60. Kritis


__ADS_3

Robby dan Johan berlari kencang menuju ruang operasi di mana Jones berada, kedua laki-laki itu saling mendahului agar segera sampai di


tempat tujuan.


Shafa duduk diam di atas tempat duduk, ruang tunggu khusus pasien operasi, dari tadi di kepalanya masih terngiang ngiang kata kata terahir Jones sebelum ia pingsan.


"Aku mencintai mu gils." kata kata itu tidak mau lenyap dari ingatannya.


"Shafa salah dengar, Shafa salah dengar, Uncle ngelantur hiks." ucapnya lirih sambil memeluk kedua kakinya yang ia angkat di atas


tempat duduk.


Niken diam, ia hanya bisa memeluk majikannya itu. lagi lagi karna cinta Jones yang teramat besar pada gadis itu, lagi lagi laki-laki itu terluka, dokter yang memeriksa lukanya di IGD mengatakan keadaan Jones mengenaskan dan kritis.


Jones yang kehilangan banyak darah dan membutuhkan transpusi beberapa kantong darah golongan AB sementara ketersedian golongan darah itu di rumah sakit tidak bisa memenuhi kebutuhan Jones karna hanya ada satu kantong saja, sementara Jones membutuhkan setidaknya empat kantong darah.


Golongan darah itu cukup langka bukan hanya di dalam negara di luar negara juga langka, melalui panggilan telepon Johan mengerahkan semua anak buahnya agar segera menemukan darah untuk sahabatnya itu.


"Bagai mana keadaan Jones." tanya Robby dengan suara gemetar karna napas masih ngos ngosan.


"Dokter Jones masih kritis pak, luka tembak di pinggang dokter Jones cukup dalam, kalau peluru yang di bahu dan di kaki sudah di ambil tinggal yang di pinggang yang sedikit sulit karna harus hati.hati, peluru itu beberapa centi lagi sampai di ginjal, jadi mengambilnya harus hati-hati."


Penjelasan dokter umum teman sejawat dokter Jones yang juga ikut menunggu Jones di luar ruangan operasi bersama yang lain membuat tubuh Robby dan Johan lemas.


Robby menghantam dinding ruang tunggu itu dengan tangannya sekuat tenaga, Johan sendiri berdiri mematung di depan pintu ruangan operasi, raut wajah Johan tidak terbaca.


Semua orang yang ada di sana terdiam menunduk di dalam hati masing masing sibuk berdoa untuk keselamatan dan kesembuhan dokter yang di kenal oleh sahabat, teman sejawat dan pasien pasiennya sebagai orang yang baik ramah dan suka menolong.


"Tuan, nona menangis terus nona sangat shock dan takut." lapor Miko.


Johan melihat putrinya yang duduk meringkuk di atas kursi, ia menekuk kepalanya ke lutut, tubuhnya tampak bergetar karna menangis


dalam diam.


"Kak Shafa istirahat saja ya nak, ikut kakak kakak Shafa ke rumah hmmm, kasian mama di rumah menunggu kakak, mama nangis terus lo nak." bujuk Johan mengelus kepala Shafa.


Gadis itu tidak bergeming.


"Kak.. dengarkan papa nak, ayo pulang sayang, mama menunggu Shafa di rumah, mama sakit nak." bujuknya lagi.

__ADS_1


"Papa Uncle luka lagi karna Shafa pa, harusnya Uncle ngak gitu, harusnya Uncle biarkan saja Shafa, kenapa Uncle begitu papa hiks."


Shafa mengangkat kepalanya.


Johan memeluk putrinya itu, pertanyaan Shafa tidak bisa Johan jawab ia hanya diam sambil mengelus kepala Shafa.


"Papa.. kata dokter Uncle kritis, belum tau bisa tergolong atau tidak, Shafa takut papa hiks kalau Uncle kenapa napa Shafa akan merasa sangat bersalah Uncle selalu terluka karna Shafa." kata kata Shafa terdengar lirih di pelukan sang papa.


"Jangan takut nak, papa akan melakukan apapun untuk keselamatan Uncle, papa akan melakukan berbagai cara untuk kesembuhannya agar Uncle mendapatkan perawatan dan pengobatan yang tepat dan terbaik." Johan.


Tap.. tap.. tap..


Sepasang kaki setengah berlari mendekat ruang operasi, air mata wanita tua itu mengalir di wajahnya dari belakang menyusul dua orang laki-laki dan seorang wanita muda.


"Robby.. apa yang terjadi pada anak tante." tanya mama Dara memegang lengan Robby.


Robby diam, ia tetap menyandar di dinding ruang tunggu itu, sama hal dengan mama Dara Robby juga sama sama terpukul.


"Robby kok diam saja nak, ada apa." mama Dara kembali menggoyangkan tangan Robby dan laki-laki itu masih tetap diam.


"Nenek.. maafkan Shafa huaaa, semua salah Shafa nek, Uncle begitu karna nolongin Shafa, maafkan Shafa nek huaaaaa."


Shafa berlari ke arah mama Dara kemudian ia berlutut di depan wanita tua itu, mama Dara menatap Shafa dengan tatapan yang sulit di artikan begitu pun saudara saudara Jones


"Lagi lagi gara gara kau, apa salah putra ku apa salahnya kenapa dia yang selalu berkorban untuk mu hahhhh dasar perempuan pembawa sial." emosi mama Dara sambil mendorong tubuh kecil Shafa dengan kakinya.


Tubuh kecil itu terjungkal kebelakang, membuat Johan sangat emosi, para bodyguard juga langsung berlari mendekati majikannya.


"Hehhh perempuan tua, gua tau Jones begitu karna menyelamatkan putri gua, apa gua yang suruh hahhh gua ngak pernah suruh dia nyelamatkan putri gua, putri gua banyak pengawal tapi Jones saja yang asal mengambil tindakan."


Tetiakan Johan mengejutkan mama Dara, dia tidak melihat laki-laki itu di sana sejak datang karna pikirannya yang sudah sangat kacau.


Mama Dara tau Jones sudah sering terluka karna Shafa itu membuat hatinya juga ikut terluka, hati orang tua mana yang tidak merasa sakit kalau tau pengorbanan anaknya tidak pernah di anggap dan di hargai sama sekali.


Dan sekarang untuk kesekian kalinya putranya juga terluka bahkan kritis dan itu semua lagi lagi hanya karna seorang perempuan.


"Gua tidak terima perlakuan lu pada putri gua, putri gua tidak salah, salahkan keadaan kenapa bisa begini, jangan asal tendan anak orang lain."


Napas Johan naik turun karna sangat emosi, ia menatap wanita dan orang orang yang berada di belakangnya dengan tatapan tajam dan membunuh.

__ADS_1


"Gua akan berusaha melakukan yang terbaik dan yang paling baik untuk kesembuhan Jones, gua akan bertanggung jawab untuk itu, lu ngak usah sampai main kaki ke putri gua, sekali lagi putri gua tidak salah dan tidak tau apa apa." makin marah.


Robby memegang bahu Johan, berusaha menenangkan laki-laki itu, Shafa sendiri sudah berdiri di bantu Niken.


"Papa.. jangan marah papa, Shafa mohon papa hiks jangan marah papa." tangis gadis itu memegangi tangan papanya.


"Gua ngargain lu karna mama nya Jones andai lu orang lain sudah gua bunuh lu dari tadi dengan tangan gua sendiri."


Tangan Johan terangkat menunjuk nunjuk wajah mama Dara, sementara mama Dara terdiam dalam tangis ia sendiri tidak menyangka bisa menendang Shafa dengan kasar padahal anak perempuan itu cuma berlutut di depannya


memint maaf.


Ceklek..


Pintu kamar operasi terbuka dari dalam keluar seorang dokter dan seorang perawat laki-laki, wajah dokter dan perawat itu tampak tegang dan sedih, dokter memperhatikan wajah wajah tegang yang ada di hadapanya.


"Siapa keluarganya."


"Saya." Robby.


"Saya." Johan.


"Kami." adik Jones.


"Ada apa hahh." tanya Johan marah karna dokter dan perawat itu karna tiba-tiba diam.


"Maaf tuan, kami sudah berusaha sebaik mungkin tapi Allah lebih sayang pada beliau." dokter senior itu mengusap air mata yang keluar dari matanya.


"Innalilahhiwainnalilahi rojiun." setelah berkata begitu tubuh Robby melorot kelantai.


Johan sendiri langsung masuk kedalam ruangan operasi, meski di halangi dan tidak di izinkan karna ruangan itu steril tapi laki-laki itu tetap menerobos masuk seorang diri.


*********


Kasian kamu Jones, cintamu kau bawa pergi


Mungkin perjuangan cintamu hanya sampai di sini saja, tampa hasil dan tampa bahagia.


Aku mewek woii..

__ADS_1


JANGAN lupa LIKE, RATE, VOTE, HADIAH DAN KOMEN YANH YANG BANYAK YA.


🙏🙏


__ADS_2