UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
41.Kalau sudah resmi


__ADS_3

Jones menuju mini market yang tidak jauh dari pantai, memasang muka datar Jones berjalan ke arah rak tempat sesuatu yang ia inginkan lalu memilih dan membaca satu persatu benda itu kemudian setelah yakin dengan pilihannya ia berjalan ke kasir sambil membawa benda itu di tangannya.


Mata para wanita menatap Jones dengan berbagai pemikiran, ada yang tersenyum ada yang tertawa, ada yang merasa lucu laki-laki setampan Jones mau membeli barang seperti itu.


"Kenapa mbak, ngak boleh ya laki laki membeli softex ?." tanya Jones masih dengan wajah datar ia sendiri merasa konyol dan aneh atas tindakannya tapi demi Shafa ia tidak perduli meski harus mengorbankan harga dirinya, toh tidak ada yang mengenalinya di sana.


Wanita yang berdiri di samping Jones yang sama sama menunggu antrian tertawa kecil mendengar pertanyaan laki-laki itu.


"Tidak kok mas, aku malah salut lihat mas yang tampa malu membeli seperti itu, untuk kekasih atau istrinya mas." tanya wanita cantik yang terlihat seumuran dengan Jones.


"Untuk istriku mbak." jawab Jones sambil memberikan benda itu pada petugas kasir.


"Ouhhh beruntung banget istrinya ya dapat suami pengertian seperti mas." senyum genit.


"Aku yang beruntung memilikinya mbak, dia wanita satu satunya dalam hidupku, aku harus menyiapkan segala sesuatu kebutuhannyakan sebagai suami yang baik."


Jawab Jones sedikit jutek untuk pertama kalinya ia tidak ramah pada wanita apa lagi gaya bicara dan tingkah wanita itu membuatnya geli dan ngeri, yang jelas Jones risih dan tidak suka.


"Lohh dokter Jones ya, wah belanja dokter." tanya seorang perempuan yang baru saja datang dan ikut antri di belakang wanita penggoda.


"Ehh iya bu, maaf ya saya buru buru saya duluan." pamit Jones tersenyum ramah pada wanita separoh baya itu.


"Oh iya dokter." jawab si ibu tak kalah ramah.


"Dia dokter ya bu." tanya wanita penggoda pada ibu yang berdiri di sampingnya.


"Iya neng, kenapa naksir ya."


"Hehehe sudah beristri."


"Loh.. belum, baru kemarin aku nemani menantu ku periksa ke praktek dokter Jones aku tanyakan statusnya pada perawat katanya masih sendiri."


"Masa bu, tadi katanya sudah menikah dia malah beli pembalut untuk istrinya."


"Ohh mungkin yah, baru nikah." jawab si ibu bingung.


Wanita itu malah tampak makin tertarik dengan Jones yang tampak jutek tapi ramah, ia berniat mencari alamat praktek dan Rumah sakit tempat dokter itu bekerja.


"Huhh meski beristri ngak apa apa, yang penting aku mendapatkannya, meski sebentar sepertinya asik di buat mainan." gumam wanita itu dalam hati lalu iapun meninggalkan tempat itu setelah dapat alamat dan Rumah sakit tempat Jones bekerja.


Sementara itu Jones menjalankan mobilnya berlahan mencari baju untuk Shafa karna ia yakin gadis itu tidak membawa baju ganti karna kepergian mereka tampa rencana.


Jones memarkirkan mobil mewahnya di halaman sebuah toko baju yang menjual berbagai perlengkapan wanita muslimah.


"Ada yang bisa saya bantu pak." tanya penjaga toko ramah.


"Saya mau cari baju untuk gadisku, busana muslim dia memakai cadar, tolong tunjukkan pada saya." jawab Jones tapi matanya menyapu setiap tempat itu mencari yang ia mau.


"Ohh baju seperti itu banyak pak, mari ke etalase sebelah di sana banyak pak." penjaga toko mengarahkan pada tempat yang ia maksud.


Jones memilih beberapa baju yang ia anggap pas dengan ukuran Shafa, meski tubuh Shafa kecil Jones tau gadis itu selalu memakai pakaian yang longgar karna itu memang ciri khas wanita berhijab seperti Shafa.


Sebelum pergi tak lupa Jones juga membelikan underwear, kalau bajunya saja sudah tembus noda darah tentunya pakaian dalamnya juga, Jones asal memilih saja pakaian dalam yang terbaik dan paling mahal di toko itu karna ia ingin Shafa nyaman memakainya.


"Sudah lama gua tidak memakai uang untuk wanita, maaf meski kamu bukan yang pertama dalam hidupku tapi aku berjanji sampai malaikat maut datang hanya kamu wanitaku, selamanya hanya kamu sayang." gumam laki-laki itu sambil memutar mobilnya ke pantai.


Jones berjalan tergesa gesa ke tempat Shafa duduk, dia tau Shafa akan canggung menerima barang darinya tapi ia tidak perduli tujuannya hanya ingin membuat gadisnya nyaman dari pandangan orang lain.


"Ini.. cepat ganti baju mu gils." menyodorkan tas belanjaan pada Shafa yang masih duduk manis di tempatnya sesuai titah Jones tadi.


"Apa ini Uncle."


"Lihat saja terus ganti di kamar mandi." Jones memanggil ketiga pengawal Shafa dengan melambaikan tangannya.


"Sana ganti gils, biar di temani kakak kakak kamu." Jones memberi instruksi agar Niken dan Lila berjalan di belakang Shafa.

__ADS_1


Tampa banyak tanya mereka melakukan perintah Jones, setelah sampai di kamar mandi restauran tempat mereka bersantai tadi Shafa langsung membuka tas yang di berikan Jones.


"Loh kok ada bajunya kak." tanyanya pada ke tiga bodyguard.


"Baju nona jorok, nona datang bulan ya kok ngak tau, apa ngak nyeri seperti biasa ?." Niken.


"Ehhh apa iya, tadi perut Shafa sempat sakit tapi cuma sebentar Shafa pikir masuk angin aja."


"Kalau gitu cepat ganti bajunya nona." Lila.


"Tapi kan baju aja."


"Sepertinya sudah lengkap nona, dokter Jones sudah membeli semuanya." Asiah.


" Idihh di beliin sampai Underwear juga, Shafa jadi malu sama Uncle, masa beli ginian ke Shafa." menunjukan pembalut dan underwear pada ketiganya.


Ketiga orang itu sama sama tertawa kecil, mereka tidak berani berkomentar banyak karna itu urusan pribadi sang majikan.


Shafa memasuki kamar mandi membawa perlengkapan yang Jones belikan untuknya, Shafa mengganti pakaiannya sambil berpikir.


"Kenapa ya Uncle tiba tiba perhatian banget ke Shafa, Uncle juga ngak panggil nama Shafa lagi Uncle selalu bilang aku kamu, Shafa jadi bingung kok Uncle berubah ke Shafa ya."


Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaian Shafa membereskan semua pakaian kotor lalu keluar dari kamar mandi.


"Bajunya pas banget, ternyata dokter Jones pandai memilih pakaian yang cocok untuk nona ya." celetuk Asiah tersenyum menggoda.


"Henghhhh.. iya kak, kok bisa pas ya hehe."


"Namanya dokter udah lama kenal sama nona." jawab Niken.


"Kak, merasa ngak kalau Uncle berubah sama Shafa ?, kok Shafa mikir Uncle itu aneh ke Shafa menurut kakak semua kenapa ya ?."


Niken, Asiah dan Lila sama sama terperanjat mendengar pertanyaan gadis itu, mereka saling kode agar salah satu.di antara mereka yang menjawab.


"Dari dulu pak dokter kan memang aneh nona hehehe, tapi kalau kami perhatikan sikap beliau biasa aja kok." Lila.


"Mungkin karna nona baru di belikan pakaian komflit nona jadi bingung lalu merasa aneh dengan sikap pak dokter." Niken.


"Mungkin juga kak, tapi walau bagai manapun Shafa jadi canggung ketemu Uncle, Shafa malu kak masa di beliin barang gitu sama Uncle, ngak sopan rasanya."


"Lahh kan bukan nona yang minta, inisiatif pak dokter saja, ya ngak apa apa dong." Asiah.


"Sememang kak, tapi tetap aja Shafa ngak enak hati." cicit gadis itu menunduk.


"Udah ngak apa apa.nona, anggap saja hadiah." canda Lila.


"Masa hadiah sekalian pembalut sih kak." ucap Shafa lesu.


"Hahaha iya juga." Lila.


"Sudah nona jangan di pikirin dokter kan cuma nolongin nona biar ngak malu, kalau kami tadi sadar dan lihat kalau ngak sudah pasti banyak yang lihat, ini cuma pak dokter aja kok yang lihat biasa aja nona tidak usah merasa canggung." Niken.


"Henghhhh iya kak." masih menunduk.


"Kalau sudah siap ayo kita ketempat tadi, nanti kita kelamaan mereka jadi bingung dan nyusul kemari." Asiah.


Mereka pun keluar dari tempat itu menuju bibir pantai tempat mereka duduk, dari jauh Jones tersenyum sumringah melihat Shafa yang memakai baju pemberiannya.


"Makasih Uncle, bajunya banyak banget, rasanya ngak mungkin Shafa pakai semuanya." menunjukan tas toko di tangannya.


"Ya ngak mungkin dong gils, untuk besok bisa kan." tawa kecil Jones.


"Tapi banyak banget, Shafa ngak enak, maaf Uncle berapa Shafa bayar.."


"Aku beli buat kamu bukan buat kamu bayar lagi, dan aku ngak niat jual apa lagi ganti rugi, jangan tanya begitu dong gils nanti aku tersungging nih." canda Jones memotong kata kata Shafa.

__ADS_1


"Maaf Uncle, Shafa cuma segan aja, terus kalau mama papa tau nanti Shafa di marah."


"Ya jangan kasih tau dong gils, o iya perut kamu ngak sakit kan gils."


"Ehhh ngak Uncle." jawab Shafa terbata.


"Kamu bawa obat ngak, kalau ngak ini saya ada punya stok siapa tau tiba tiba perlu." Jones menyerahkan bungkus obat pada Shafa.


"Makasih Uncle."


"Apapun untuk mu gils, o ya mari duduk sini sebentar lagi sunset akan muncul."


Jones menepuk tempat duduk yang ada di sampingnya, lalu Shafapun duduk dengan patuh, sementara matanya memandang pantai tak berkedip.


"Rindu rumah di kampung ya gils, rumah di pinggir pantai." Jones mengedarkan pandangan ke sekitar pantai, mengikuti pandangan mata gadis itu.


"Iya Uncle, waktu pulang kemarin ngak sempat ke sana." jawabnya pelan.


"Nanti kalau sudah resmi kita ke sana."


"Resmi apa Uncle, apa yang mau di resmikan."


Hahhh Jones tertawa kecil tangan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


*************


Udah tau dong jawabannya.


Makasih untuk :




Ika sartika komen pertama dan bener




whya fajria




Chat aku ya 🥰🥰


*********


Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik  terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.


Mari tetap semangat dan saling support


Dengan cara :


💝 LIKE


💝 RATE


💝 VOTE


💝 HADIAH yang banyak


💝KOMEN yang sebanyak banyaknya.

__ADS_1


Wo Ai Ni all..


Happy Reading.


__ADS_2