
"Shafa mau makan apa nak." tanya Zahra lembut membelai sayang kepala Shafa yang tertutup hijab.
"Shafa ngak lapar ma."
"Kok ngak lapar sih nak, sudah dua hari ini kakak ngak makan sama sekali, minum air putih juga ngak, kakak sudah sangat lemah." ucap Zahra kwatir.
Shafa diam tidak bergerak, dia duduk di atas kursi ruang makan dengan lemah, kepalanya ia letakkan di atas meja berbantal kedua tangannya.
'Sialan kenapa dokter itu lama baru pulang, cuma cek kesehatannya saja satu hari ngak cukup apa." gerutu Johan emosi.
"Be.. Shafa makan apa, Daddy masakkan sesuatu yang enak buat Shafa ya, masa iya Shafa ngak mau makan masakan Daddy lagi sih Be, Daddy sedih lo." ucap Axton tidak kalah kwatir dengan keadaan menantunya itu.
"Ngak tau Daddy, Shafa cuma ingin masakan dokter Melani sekarang." ucap Shafa lirih.
"Hmmm Minum susu juga Shafa ngak mau, kalau Shafa sampe pingsan dan dehidrasi gimana, apa ngak kasihan sama cucu cucu Daddy Be."
Shafa tidak menjawab.
"Robby..lu sudah hubungi dokter Alwi tanyakan kapan dokter bedebah itu kembali, apa perlu gua yang turun langsung menyeretnya kembali kemari hahhh, sialan." umpat Johan mengepalkan tinjunya.
"Sudah bos, katanya secepatnya akan kembali kemari." jawab Robby bingung, bingung kenapa tiba tiba Shafa lebih tertarik dengan masakan dokter Melani dari pada Daddynya.
Dulu sejak Jones pergi Axton lah yang selalu masak untuknya, sejak ada Melani kok berubah tidak ingin makan masakan Axton apa lagi yang lain, tentu saja Ini aneh bukan.
"Secepatnya ?, secepatnya kapan ?, putri gua sudah lemah." marah Johan.
"Sabar ko, kita tidak tau apa yang terjadi pada dokter itu, bisa jadi chek nya memang belum selesai." Zahra.
"Sabar gimana lagi yank, lihat putri koko huhhh kenapa jadi begini." suara Johan tercekat di tenggorokan, ia kembali mengingat suami putrinya itu.
"Sialan..sialan.. kenapa lu harus mati Jones, sialan lu dasar tidak setia kawan lu, kalau lu masih ada gua tonjok sampe mati lu." umpat Johan lagi lagi namun dalam hati.
((Ealahh.. Johan mati lagi dong ci Jones lu tumbuk mulu.))
"Handphone nya belum aktif juga Niken." tanya Zahra pada Niken.
"Belum nyonya, baru saya hubungi belum aktif juga." jawab Niken kesal pada dokter pribadi majikannya itu.
"Apa lagi ini ya Allah, kenapa setelah si ngenes itu pergi banyak betul cobaan yang harus kami hadapi." guman Johan namun masih terdengar oleh yang lain.
Sudah tiga hari melani pamit permisi pada Shafa dan Zahra, dia permisi untuk libur beberapa hari untuk melakukan chek up ke dokter spesialis syarat karna dia mengeluh sering pusing.
Melani bercerita sebelumnya dia memang sedang dalam perawatan dokter spesialis syarat akibat pernah ada benturan di kepalanya.
Semua orang diam, Robby yang sedari tadi berdiri di belakang Johan berlahan meninggalkan ruangan itu menuju ruang tamu yang tidak bersekat dengan ruang dapur, sehingga apapun kegiatan yang ada di dapur terlihat jelas dari ruang makan.
Ting .. tong..
Semua orang menoleh ke sumber suara, hanya Shafa yang masih setia dengan posisinya karna tidak mampu mengangkat kepala akibat sudah terlalu lemah.
Robby bergegas membuka pintu dengan semangat empat lima, namun ketika pintu terbuka yang muncul bukan orang yang mereka harapkan.
"Tante .. ngapain kemari." tanya Robby dingin pada sang wanita yang dulu tampak masih cantik berisi dan segar.
Sekarang berbanding terbalik, wanita paruh baya itu tampak sangat kurus, kulitnya kering dan keriput di sana sini, kalau tidak di perhatikan dengan baik tidak akan mengenalinya.
"Aku kemari cuma mau antar lauk dan sayuran, aku dengar Shafa tidak selera makan dua hari ini." jawab mama Dara gugup.
"Siapa yang bilang ?, tidak ada yang bilang begitu, sudah tidak ada yang mau menerima masakan tante di sini, tante pergi saja." jawab Robby ketus.
Meski dia masih mau membantu keluarga Jones tapi rasa marah, kesel dan benci pada mama Dara masih belum bisa hilang dari hati Robby.
Karna mama Dara Jones berpisah dengan istrinya karna mama Dara Jones nekat bunuh diri siapa yang tidak marah.
"Aku hanya ingin memberikan masakan yang sangat sederhana ini pada Shafa, aku masak sendiri, bersusah payah aku memasaknya, kamu tau aku terpaksa jadi buruh cuci di rumah orang hanya untuk membeli bahan untuk di masak."
Mama Dara tidak dapat menahan kesedihannya, air matanya tumpah begitu saja.
Sudah berulang kali mama Dara datang mengantarkan masakan dan berbagai macam kue pada sang menantu tapi tidak pernah di terima oleh keluarga itu, bahkan untuk bertemu Shafa saja dia tidak di beri izin oleh orang tuanya.
Sudah berulang kali pula wanita itu datang bersama anak anaknya untuk meminta maaf tapi sama saja tetap tidak di terima.
Meski begitu mama Dara tidak putus asa, dia tetap datang menemui Shafa dan berharap bisa meminta maaf langsung pada wanita yang sudah ia sakiti dan benci tanpa alasan yang jelas.
__ADS_1
"Ku mohon nak Robby, tolong izinkan saya masuk menemui Shafa, sebentar saja, makanan yang saya bawa tidak mengandung racun kalau nak Robby takut itu."
Mohon mama Dara lagi sambil menyeka air mata yang masih berjatuhan tanpa kendali dengan jari jari dan telapak tangannya.
Robby terpaku di depan pintu, pintu yang masih ia buka separuh tentu tidak dapat memperlihatkan penghuni lain yang ada di dalam sana.
Robby sesungguhnya juga merasa iba dan kasihan pada wanita paruh baya itu tapi rasa bencinya juga masih ada sehingga ia tetap bersikap dingin.
"Meski saya mengizinkan tante masuk tapi bos Jo tidak akan mengizinkan, bos Jo dan nyonya Ara ada di sini, tante tau kan bagai mana sikap bos Jo, jadi lebih baik tante pulang saja."
"Tidak apa apa Robby, aku memang pantas di marahi dan di benci oleh mereka, kalau mereka ada di sini justru lebih baik karna aku juga ingin minta maaf pada mereka."
Robby menarik napas dalam dalam, dia bingung harus berbuat dan bertindak apa, kalau ia izinkan mama Dara masuk sudah bisa di pastikan Johan akan murka, dan akan memaki serta mengusir mama Dara
Apa lagi ada Axton di sana yang juga tidak ingin bertemu dengan mama Dara lagi, tanpa ia sadari Zahra ternyata sudah ada di dekat pintu.
Bahkan Axton sejak kedatangan mama Dara juga sudah ada di sana sehingga ia mendengar jelas apa saja yang di ucapkan oleh mama Dara.
Hati Axton bergemuruh mendengar kata demi kata yang keluar dari mulut mama Dara, hatinya bagai di iris sembilu mendengar mama Dara jadi buruh cuci hanya untuk bisa belanja dan masak sesuatu untuk ia berikan pada Shafa.
"Mari rantangnya bu, biar saya berikan pada kak Shafa, tapi mohon maaf, ibu jangan masuk dulu ya, suami saya masih ada di dalam, ibu taulah bagai mana temperamen suami saya."
Zahra membuka sedikit pintu, lalu menerima rantang dari tangan mama Dara, meski Zahra masih jengkel pada wanita itu tapi ia tetap berusaha untuk tersenyum.
"Terimakasih nyonya Ara, tolong berikan pada nyonya muda, ini saya masak sayur daun ubi, kata Jones dulu nyonya muda sangat suka daun ubi di masak dengan santan, ada juga cumi saus padang, masakan sederhana, maaf karna cuma itu yang bisa saya berikan padanya."
Mama Dara tersenyum kecut, lalu menunduk, dunianya kini terbalik lagi, dulu sejak muda ia sudah membanting tulang guna menghidupi keluarga dan dirinya, pahit getir kehidupan sudah pernah ia rasakan.
Setelah bertemu dengan Axton ia mulai merasa hidup serba berkecukupan, meski tidak lama, namun ia kembali terpuruk setelah di tinggal pergi Axton.
Menikah dengan duda yang mengaku kaya berlimpah harta namun ternyata di ambang kehancuran dan kebangkrutan, hingga mama Dara melahirkan dua anak laki-laki yakni Jack dan Piyo.
Tidak lama suami mama Dara meninggal tanpa menyisakan harta benda sehingga ia kembali banting tulang di bantu Jones remaja untuk menghidupi keluarga kecilnya.
Hidup mama Dara memang di liputi berbagai macam masalah dan cobaan hidup yang tidak berkesudahan.
Hingga ahirnya Jones tumbuh menjadi dokter dan pengusaha sukses mama Dara menjadi naik daun, ia merasa tidak ada yang bisa menguasai putranya selain dirinya
Jones tidak boleh di kuasai wanita lain selain dirinya hingga ahirnya membuat ia marah saat tau Jones tunduk dan patuh pada Shafa wanita yang sangat ia cintai, mama Dara tidak terima itu.
Harta kekayaan papanya bahkan harta Zahra di kampung yang sudah di pastikan jatuh ketangan Shafa saja tidak di pikirkan aneh Shafa lalu bagai mana ia memikirkan harta Jones.
Sungguh tidak masuk akal memang alasan mama Dara membenci Shafa, wanita lugu dan baik serta jujur itu, mama Dara di butakan oleh ketamakanya.
Hingga ahirnya ia mengganggu rumah tangga putranya sendiri tanpa berpikir akibat panjang yang akan ia hadapi dan terima.
"Jangan panggil putri saya nyonya bu, walau bagai manapun Shafa masih menantu anda, tidak ada kata cerai dalam rumah tangga mereka, hanya Jones yang pergi meninggalkannya, panggil saja kak Shafa dengan namanya saya rasa kak Shafa juga setuju itu, ibu juga bisa memanggil saya dengan nama saya."
Mama dara terdiam, sungguh baik budi pekerti wanita yang ada di hadapannya ia merasa malu sendiri mengingat bagai mana sikapnya dulu pada Shafa.
Meski tidak suka padanya karna kejahatannya tapi Zahra tetap baik dan sopan menghadapi dirinya.
"Baik nyonya, maaf bu, kalau begitu saya pamit, tolong sampaikan permintaan maaf saya pada Shafa bu."
"Ya baik bu, silahkan bu."
Mama Dara berjalan gontai meninggalkan apartemen putranya, sesekali kaki kecilnya tampak goyah saat melangkah, dan itu semua tidak luput dari pengelihatan Zahra, Robby bahwa Axton.
Setelah menutup pintu Zahra kembali ke meja makan, di mana putrinya berada, Robby dan Axton tetap di posisi semula.
"Pak Robby.., bisakah anda membantu saya ?." Axton.
"Apa itu tuan."
"Tolong selidiki bagai mana jalan hidup mamanya Jones sekarang, jika butuh bantuan tolong bantu dia tapi saya mohon jangan sampai dia tau kalau ada kaitannya dengan saya."
"Baik tuan."
"Walau bagai manapun dia mama putra saya, dia begitu juga ada kaitannya dengan saya, saya juga bersalah besar telah meninggalkannya, tapi mau bagai mana situasi yang membuat jadi begini."
Axton menarik napas dalam dalam, mengingat kembali kenangan masa mudanya dengan mama Dara, wanita yang teramat sangat ia cintai sejak dulu hingga saat ini.
Cinta Axton masih ada dan berkembang pada mama Dara, dia tidak bisa tepis itu, tapi karna mama Dara sudah berbuat salah dan menyakiti Jones Axton ahirnya membenci wanita itu tapi meski benci rasa cintanya tetap tidak berkurang.
__ADS_1
Axton berjalan ke meja makan, di sana Zahra sudah memindahkan lauk dan sayuran ke sebuah piring untuk ia berikan pada putrinya.
"Dari mana itu yank, siapa yang kasih, wanita tua itu." Johan.
"Ko.., tolong jangan begitu ngomongnya, bu Dara punya nama."
"Cih.. tidak sudi koko memanggilnya begitu, wanita tidak tau diri dan tidak tau terimakasih."
"Koko.." panggil Zahra menekan, matanya mengarah pada Axton yang datang mendekat pada mereka.
"Jangan berikan makanan itu pada putri koko, bagai mana kalau dia memberikan sesuatu di sana."
"Ko.. tidak akan mungkin itu, jangan terlalu berburuk sangka, aku yakin bu Dara sudah berubah, dia tidak akan mungkin mencelakai putri koko dan calon cucunya."
"Bisa sajakan, kenapa ngak, otaknya kan kotor dan rusak." ucap Johan tetap bersikukuh tidak mengizinkan Zahra memberikan makanan itu untuk Shafa.
"Koko, seseorang bisa berubah, tak terkecuali bu Dara."
"Koko tidak percaya padanya."
"Kalau begitu biar saya coba semua makanannya, kalau makanan ini mengandung racun saya yang akan lebih dulu mati, dan saya lebih rela itu terjadi dari kada menantu dan calon cucu saya yang akan jadi korban kalau memang ada racunnya." Axton.
Tanpa banyak kata laki-laki itu meraih piring yang akan di serahkan pada Shafa, ia langsung makan makanan itu dengan cepat dan lahap, karna menurutnya memang enak.
Shafa memperhatikan cara makan Axton yang terdengar nikmat, meski lemah ia mulai mengangkat kepalanya.
"Daddy makan apa ?." tanyanya lemah.
"Lihat Be, ini enak banget, Daddy belum pernah makan sayur ini seumur hidup Daddy, apa namanya ini ?, Daddy tidak tau tapi enak dan pedasnya juga lumayan." jawab Axton bersemangat.
"Daun singkong Daddy, siapa yang masak, Mama ?."
"Bukan kak, tadi mertua kakak yang antar kakak mau coba ?." Zahra.
"Mertua ?."
"Hmmm ya, mamanya Jones, bu Dara." jawab Zahra.
"Oh.. ya ma, Shafa mau coba."
"Tapi yank." Johan.
"Sudah lah ko, aku juga akan makan kalau koko masih tidak percaya."
"Ehh tidak bukan itu."
"Maaf tuan, nyonya bagai mana kalau kami juga coba, kalau kami semua tidak apa apa baru nyonya muda makan."
Niken memberanikan diri menawarkan untuk makan lebih dulu, dan tentu saja di anggukan Johan dengan cepat.
Lalu apa kata Axton yang sudah makan lebih dulu, dia biasa saja bahkan makan dengan lahap, Johan saja yang masih piktor ya tapi wajarlah begitu.
Setelah yakin aman, ahirnya Shafa makan masakan mama Dara, meski tidak banyak tapi cukup menggankal perutnya yang kosong selama dua hari ini.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.
Mari tetap semangat dan saling support
Dengan cara :
🌺 LIKE
🌺 RATE
🌺 VOTE
🌺 HADIAH yang banyak
🌺 KOMEN yang sebanyak banyaknya.
Wo Ai Ni all..
__ADS_1
Happy Reading.