
Robby berontak kuat dari pegangan para bodyguar, sementara Axton dan brankat yang membawa Jones sudah tidak terlihat oleh pandangan mata.
Buk.. tangan salah seorang bodyguar memukul pelan pundak Robby, tubuh laki-laki itu seketika jatuh lunglai namun di tahan oleh bodyguar lainnya.
" Sorry sir, we had to do it in a hurry." ( maaf tuan, kami terpaksa melakukannya kami buru buru ). ucap salah seorang bodyguar.
"Biarkan dia dengan kami, pergilah." ucap dokter Ryan dan dokter Anton mereka menahan tubuh Robby lalu membawanya di bantu dua orang perawat ke ruangan lain di sekitar tempat itu.
"Thank you sir, we're sorry." menunduk Hormat, lalu mereka semua setengah berlari keluar dari rumah sakit itu.
"Selamat jalan kawan." dokter Ryan dan dokter Anton menatap brankat yang membawa sahabat mereka yang hampir tidak terlihat oleh mata lagi.
Mama Dara mencoba berlari mengejar tapi di tahan oleh Piyo dan Jack, sedang Shafa tiba tiba ambruk di pelukan Zahra.
"Koko..koko kak Shafa." tangisnya kencang.
Kesadaran Johan pulih, secepat kilat ia meraih tubuh anak sambung nya itu lalu di bawa ke kamar yang di tempati Axton di bantu Zahra dan perawat wanita membuka pintu.
"Dokter mana dokter cepat panggil mereka semua kemari, cepat." teriak Johan panik melihat tubuh putrinya yang lemah tidak berdaya.
Wajahnya tampak pucat, dokter datang berlarian memasuki ruangan, Johan di minta keluar karna akan di lakukan pemeriksaan fisik pada putrinya.
Dengan pasrah laki-laki itu terpaksa keluar meninggalkan Zahra di sana menemani Shafa.
Di luar mama Dara masih menangis histeris, Jack, Piyo membiarkan nya saja meratap meraung menangisi semua kesalahan yang dia buat.
Wanita itu sama sekali tidak menyangka putrinya begitu nekat mengakhiri hidupnya bahkan di depan matanya, dia tidak mampu melarang Jones melakukan itu karna dia menganggap anaknya itu tidak akan mungkin senekat itu.
Tapi ternyata cinta nya pada istrinya yang sangat besar tidak mampu kalau harus kehilangan sang istri dan ia juga tidak mau durhaka pada mamanya karna itu jalan satu satunya adalah dengan cara mengakhiri hidupnya.
"Kenapa menangis perempuan tua, bukannya kau sudah bahagia sekarang, kau menghancurkan rumah tangga anakmu dan sekarang kau berhasil memisahkan mereka selamanya, puaskan." teriak Johan muak melihat air mata dan ratapan mama Dara.
Mama Dara tetap menangis.
"Kau harusnya menari riang gembira karna misi mu sudah berhasil, kenapa menangis ?, ahhh ya ya ya aku lupa pasti air mata buaya kan, cih .. manusia laknat." maki Johan lagi.
"Kau harusnya sadar diri, kau itu bisa hidup mewah dulu karna siapa, sekarang apa kau juga puas saat semua harta mu aku ambil kembali, belum ya hmm, tapi sekarang malah tuhan ambil anak mu, kau masih kurang ?."
Johan sangat marah laki-laki itu sampai menendang tong sampah yang ada di sampingnya hingga terpental jauh untung tong sampah itu bersih karna baru di ambil sampah sampahnya oleh petugas kebersihan.
"Untung lu perempuan kalau lu laki laki sudah gua pites lu punya badan." masih dengan emosi memuncak.
"Sekarang lu tidak bisa melihat anak lu, nanti kalau cucu cucu gua lahir, gua pastikan lu juga tidak akan pernah melihatnya sampai lu mati, lu akan mati mengenaskan karna tersiksa oleh dosa dosa lu sendiri." maki Johan lagi dan lagi membuat mama Dara semakin terpukul dan terpuruk.
Jack, Piyo dan Nayla yang sedari tadi membiarkan mama mereka meraung dan menagis lama lama tidak tega juga melihat mama Dara di maki dan di pukul mentalnya oleh Johan.
Tapi mau bilang apa mama mereka memang salah, namun sesalah salahnya orang tua mereka tetap orang tua kita, yang membawa kita kedunia ini, tentu saja kita sebagai anak tetap tidak terima kalau orang tua kita di maki di depan mata kepala kita sendiri.
Namun baik Jack atau Piyo tidak berani bersuara untuk memprotes si penguasa itu, salah bicara panjang ceritanya apa lagi kesalahan terbesar memang ada pada mama mereka.
"Ayo ma, ayo kita pulang, kita cuma bisa berdoa sekarang untuk kakak, tidak ada yang bisa kita lakukan saat ini, kakak sudah pergi dengan tenang, aku melihat wajahnya tadi, wajahnya tanpa beban lagi kakak sudah bebas dari mama, tapi cintanya dia bawa pergi." tangis Jack.
"Mari pulang ma, ini rumah sakit, malu di tonton orang, jangan sampai tuan Johan nanti menyuruh keamanan atau bodyguar untuk mengusir kita dari sini." Nayla.
"Benar ma, ayo kita pulang, tidak ada gunanya lagi meratap, meski mama tidak ingin ini yang akan terjadi tapi semua sudah terlanjur, sekarang kita cuma bisa berdoa untuk kakak, tidak ada yang bisa kita lakukan selain berdoa, semoga ia di tempatkan di tempat yang paling indah di sana." Jack.
"Kita berdoa untuk kakak juga untuk kak Shafa lihatlah kak Shafa pingsan, kak Shafa sedang hamil semoga kak Shafa kuat dan tabah menghadapi cobaan ini."
Piyo.
"Aminn ya Robbal Alaminn." Jack,Piyo dan Nayla sama sama mengaminkan.
__ADS_1
Mama Dara sudah mulai tenang, dia menatap nanar ke arah Johan yang tampak duduk di atas sopa sambil menjambak rambutnya.
Mama Dara berdiri dan berjalan pelan ke arah Johan namun baru beberapa langkah kakinya sudah berhenti karna di cegah oleh Jack dan Piyo.
"Mama ngapain ke sana, jangan menambah masalah ma, suasana hati tuan Johan sedang tidak baik, sama seperti kita." Piyo menarik pelan tangan mama Dara.
"Aku mau minta maaf pada mereka." Mama Dara terisak.
"Tidak sekarang ma, nanti kalau semua sudah tenang, percuma minta maaf sekarang yang ada bukan di maafkan tapi kita di tendang dari sini, luka yang mama torehkan di hati mereka cukup dalam ma, kita sendiri terluka apa lagi mereka." Piyo.
"Iya ma, kita pulang dulu, ini sudah hampir siang, kita masih sempat sholat duha di rumah, kita pulang dulu ya, nanti kita pikirkan bagai mana cara menemui mereka." bujuk Jack.
Ahirnya dengan berat hati mama Dara mengikuti anak anaknya pulang, di parkiran mereka bertemu dengan Robby yang tampak kusut.
Wajahnya sembab,matanya merah, dia duduk lemah bersandar di mobilnya di temani anak buahnya.
"Kak Robby, maaf ..kami mohon maaf selama ini kami sudah merepotkan kakak." Jack berjongkok begitupun Piyo.
Tampak Robby begitu kehilangan sahabat sekaligus saudara baginya, tidak ada yang menduga Jones akan pergi dengan cara begitu.
"Sudah lah, tidak usaha pikirkan." jawabnya tanpa menoleh.
"Kak..kami juga sangat berduka, sama seperti kakak, rasanya sangat sakit melihat kak Jones begitu, seperti mimpi, tidak ada di antara kita yang menduga ini terjadi, sudah berulang kali kak Jones terluka dan kritis tapi dia tetap kembali pada kita, hanya kali ini kakak sudah menyerah." Jack menggenggam tangan Robby.
"Dia pergi membawa luka hati, membawa cintanya yang dalam, luas dan besar, dia meninggalkan wanita yang sangat ia cintai bahkan dia meninggalkan calon anak anaknya yang masih ada di rahim istrinya." tangis Robby menunduk.
"Iya kak, kasihan kak Shafa." Piyo.
"Kalian tidak taukan kalau nyonya muda sangat tergantung pada Jones, meski nyonya muda belum tau perasaan nya pada Jones cinta atau butuh yang dia tau Jones suaminya, suami yang mencintai dan menyayangi nya dengan sepenuh hati suami yang sangat memanjakannya, sekarang aku tidak tau apa yang akan terjadi nantinya pada nyonya muda." ucap Robby masih menunduk dan menangis.
"Kak Robby.." Jack ikut terduduk di dekat Robby begitupun Piyo.
Sementara mama Dara dan Nayla berdiri tidak jauh dari mereka, kedua wanita itu juga ikut menangis tanpa kata.
"Sampai ahirnya Jones mengirimkan makanan kesukaan nyonya yang ia masak sendiri barulah nyonya makan dengan lahap, setiap hari nyonya makan masakan kiriman Jones tanpa sepengetahuan bos Jo, sekarang bagai mana ?, Jones sudah tidak ada, ya Allah begitu sakitnya perjuangan cinta Jones." tangis Robby lagi.
Ahirnya Jack, Piyo dan Robby sama sama menangis di parkiran rumah sakit itu, banyak mata yang melihat orang orang yang lalu lalang di sana tapi mereka tidak perduli.
"Kak Robby, masuklah kedalam tuan Johan sepertinya membutuhkan kakak, tuan Johan sangat terpukul melihat kak Shafa pingsan tadi." Piyo.
"Apa ?? nyonya muda pingsan ?."
"Iya kak, kakak lebih dulu pingsan baru kak Shafa." Jack.
"Ya Allah semoga nyonya muda kuat, lalu di mana ia sekarang."
"Di kamar yang di tempati tuan Axton semalam." Piyo.
"Baik, aku akan kesana, kalian terus lah berdoa agar Jones tenang di sana, nanti setelah kondisi nyonya muda membaik kita akan sholat goib bersama."
"Baik kak." Jack.
Mereka sama sama bangkit dan sama sama mengusap sisa air mata di wajah masing masing.
"O iya .. ini, ini kunci apartemen Jones yang lama, ini aman dan tidak terjamah bos Jo karna tempat ini menyimpan banyak kenangan pada kami, karna itu apartemen ini tidak di ganggu oleh bos Jo dan apartemen utama yang di tempati Jones bersama nyonya muda, tapi apartemen itu sudan atas nama nyonya muda sejak mereka menikah."
"Tapi kak.." Piyo.
"Tinggal lah di apartemen itu, jangan di kontrakan kumuh itu lagi agar Jones tenang, ini ia berikan pada ku sehari sebelum kejadian, sepertinya dia sudah dapat pirasat akan meninggalkan kita semua, karna itu ia berikan ini, segeralah pindah, kalau butuh bantuan ku katakan saja."
Robby menyerahkan kunci apartemen itu ke tangan Jack setelah itu ia langsung pergi meninggalkan mereka semua yang ada di sana, meninggalkan mereka yang kembali menangis.
__ADS_1
"Lihat ma, meski kita sudah buat salah pada kakak tapi kakak tetap memikirkan kita, sekarang mari kita pulang dan langsung berkemas, kita akan pindah hari ini juga ke apartemen kakak, di sana kita bisa beribadah dengan tenang dan khusuk untuk mendoakan kakak." Piyo.
Tanpa kata keempat orang itu lalu meninggalkan rumah sakit dengan pikiran berantakan dan hancur, hancur karna kehilangan sosok pahlawan di hidup mereka.
Sejak ayah kandung Jack dan Piyo suami kedua mama Dara meninggal Jones menjadi tulang punggung keluarga.
Dia menguliahkan adik adiknya dan membiayai kehidupan mereka, sampai Jack menikah Jones yang menanggung semua biayanya.
Tanpa mengenal lelah tanpa memikirkan kebahagiaannya, tanpa memikirkan masa depannya dia mengurus semua kebutuhan adik adik tirinya dan mamanya.
Lalu apa yang ia dapatkan, saat ia bersama wanita yang sangat ia cintai kebahagiaannya malah di hancurkan oleh mamanya sendiri.
Mama Dara menangis histeris saat mereka memasuki apartemen lama Jones yang tampak bersih dan rapi, mereka tidak perlu membawa banyak barang dari kontrakan.
Karna mereka memang tidak punya banyak barang hanya beberapa lembar pakaian serta alat masak dapur sederhana yang sebenarnya tidak perlu di bawa karna isi apartemen itu sudan lengkap dan bahkan mewah seperti milik mereka dulu.
Di ruang tamu apartemen itu ada bingkai gambar keluarga mereka terpajang di sana membuat mama Dara menjerit meratapi kebodohannya.
"Ma.. tenangkan diri mama, mama mandi ya, bersihkan diri mama setelah itu kita Sholat djuhur, kita doakan kakak ya ma, mungkin sekarang kakak sudah sampai kenegara Daddynya." bujuk Nayla.
"Iya ma, mandi agar kita Sholat berjamaah, semoga doa kita sampai pada kakak." Jack.
"Pergilah siap siap Sholat, aku akan menyiapkan makan siang, kita belum makan dari pagi." Nayla.
"Kalau kamu cape beli aja dulu, nanti kamu sakit Nayla." Jack merasa kasihan pada istrinya itu.
Sejak mereka jatuh miskin istri nya itu ikut banting tulang dan ikut merasakan sengsara seperti mereka akibat ulah mama Dara, Nayla memang setia dan wanita Sholehah.
"Tidak apa apa bang, kita harus menghemat, tadi aku sempat bawa perlengkapan sayuran yang tersisa di kontrakan sayang kalau ngak kita gunakan." Nayla.
"Kamu ngak ikut Sholat Nayla." mama Dara.
"Tidak ma, aku lagi ngak bisa Sholat." jawab Nayla.
"Ya sudah." mama Dara masuk kekamar yang dulu di temapti Jones.
Mereka semua kini tinggal di apartemen yang di berikan Jones untuk mereka agar keluarganya itu bisa hidup nyaman dan tenang di sana.
Tapi mama Dara tetap tidak tenang, jiwanya masih saja tergoncang dengan ribuan rasa bersalah dan ribuan penyesalan.
Setiap hari setiap waktu wanita itu menagis meratapi kebodohannya, kini ia jadi sering sakit sakitan sejak Jones pergi meninggalkan mereka.
☘☘☘☘☘☘
Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.
Mari tetap semangat dan saling support
Dengan cara :
☘ LIKE
☘ RATE
☘ VOTE
☘ HADIAH yang banyak
☘KOMEN yang sebanyak banyaknya.
Wo Ai Ni all..
__ADS_1
Happy Reading.