UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
139. Bisa masak Nasi goreng ?.


__ADS_3

Shafa berjalan pelan dan semakin dekat dengan orang itu, sorot matanya masih menatap orang itu, yang di tatap seakan terhanyut dengan sekitarnya sehingga dia tidak menyadari kalau ada yang sedang memperhatikannya.


Orang orang yang ada di sekitar orang itu tampak waspada karna curiga dengan Shafa yang menatap majikan mereka tampa berkedip.


Dag dig dug


Dag dig dug....


"Hallo.. good afternoon sir." ahirnya Shafa memberanikan diri menyapa."


"Ehhh ya hallo, good afternoon too." jawab laki laki itu terkejut, laki laki paruh baya itu menatap Shafa bingung karna dia tidak pernah melihat dan kenal dengan orang seperti yang menyapanya.


Para pengikutnya bangkit dan mendekat ke arah laki-laki itu dengan kewaspadaan tinggi, namun karna mereka melihat Shafa tidak bertindak apa apa dan memberi jarak sekitar tiga meter mereka pun tidak bertindak.


Apa lagi ada dua wanita yang tampak waspada juga di belakang Shafa, membuat mereka yakin kalau dua orang itu merupakan pengawal dari sang wanita.


Shafa diam dengan delapan hati masih tidak karuan, jawab laki-laki paruh baya itu tidak lagi di tanggapi oleh Shafa membuat yang di sapa jadi bingung.


"Apa kita pernah bertemu sebelumnya, apa kau mengenali ku ?." tanya laki-laki itu ( bahasa inggris.)


"Enghhhh.. mhhh ya sepertinya aku mengenali bapak, emhhh." gugup.


para bodyguar tetap diam di belakang Shafa, mereka juga memperhatikan laki laki itu lekat namun tetap waspada karna melihat gelagat para pengikutnya.


"Di mana kita pernah bertemu." tanya laki-laki itu lembut dan ramah dengan senyum tersungging di bibirnya.


"Enghhhh apa bapak pernah ke Indonesia." Shafa.


"Yahhh saya pernah tinggal di bali cukup lama, kenapa apa kamu dari Indonesia ?." tanya laki-laki itu.


"Enghhhh iya pak." Shafa.


"Ohhh tidak menyangka bertemu dengan mu." jawab laki-laki itu menggunakan bahasa Indonesia tidak lagi memakai bahasa inggris.


"Iiiya pak, tidak menyangka." jawab Shafa gugup menahan haru.


"Apa kamu sedang berlibur di sini."


"Iya pak." Shafa.


"Ahhh iya kita belum kenalan ya, nama saya Axton Rex abraham panggil saja Axton dan kamu ?."


"Saya Shafa pak, saya panggil bapak saja boleh ya, tidak sopan memanggil nama." tiba tiba akrab dan tampa beban saat membalas kata kata laki-laki itu.


"Ahh ya, saya lupa kalau kamu berasal dari Asia Indonesia hahaha." laki-laki yang bernama Axton itu tampak antusias berbicara dengan Shafa.


"Bapak tidak takut dan curiga pada saya." tanya Shafa menunjuk Niqab nya.


"Apa kamu membawa bom ?." kelakar laki-laki


itu lagi.


"Ahhh saya bukan ******* pak, saya cuma wanita muslimah yang memakai niqab." jawab Shafa masih tetap berdiri di tempatnya.


Alhamdulillah saya juga muslim, karna itu saya paham dan mengerti apa yang kamu pakai, dan jangan kwatir anak buah saya memiliki alat sensor yang selalu mereka bawa kemana pun kami pergi, alat sensor bom maksudnya." jelas laki-laki itu lagi.


Entah mengapa melihat mata Shafa yang bening dan mendengar suaranya membuat laki-laki itu terasa aman, nyaman dan seakan sudah lama kenal sehingga ia bisa langsung akrab meski baru beberapa menit mereka berbincang dan bertemu.


"Ahhh iya pak pantas mereka tidak bertindak apapun meski sedang waspada." senyum Shafa di balik cadarnya.


Wanita itu juga merasa nyaman, merasa tenang saat berbincang dengan laki-laki itu, entah mengapa rasa rindunya pada seseorang beberapa minggu ini terhempas tiba tiba saar bertemu dengan laki-laki paruh baya itu.


"Saya Shafana intani pak, panggil saja Shafa." ucapnya lagi.


"Shafa, nama yang sangat indah pasti di balik cadat itu tersimpan wajah yang sangat indah dan cantik, seindah namanya." senyum Axton.


"Ahh tidak juga pak." senyum Shafa terlihat dengan matanya yang menyipit.


"O iya kenapa.berdiri di sana, ayo duduk disini tidak enak berbincang begini kan." memberi kode pada pengikutnya untuk memberikan tempat pada Shafa dan kedua wanita lainnya.


"Terimakasih pak." tampa merasa sungkan sedikitpun Shafa lalu duduk di hadapan Axton meski berjarak beberapa meter.


"Mereka siapa." Axton menatap dua wanita tegap dan cantik di belakang Shafa, tampa bertanya Axton sebenarnya bisa menebak kalau dua wanita itu adalah pengawal.


"Ahh ya pak, kenalkan yang ini kak Niken, dan yang ini kak Nisa mereka kakak kakak Shafa pak." jawab Shafa memperkenalkan kedua wanita itu.

__ADS_1


Niken dan Nisa menunduk memberi hormat, dari cara mereka menyapa saja bisa di ketahui kalau keduanya sudah pasti pengawal, meski Shafa menyebut mereka kakaknya.


"Ya ya.. kakak kakak yang tegas dan kaku." goda Axton.


Shafa hanya mengangguk kikuk.


Mereka lalu bercerita panjang lebar, sampai mereka pindah ke satu tempat yakni restoran Arab yang ada di sekitar taman.


Naya dan Lila yang di hubungi agar merapat ke restoran itu terperanjat melihat sosok yang duduk di hadapan Shafa.


"Kak Naya mari, kenalkan ini pak Axton." senyum Shafa mengajak Naya duduk di dekatnya.


"Hallo pak Axton." jawab Naya gugup dengan pandangan mata tak berkedip.


"Hallo Naya, Assalamualaikum wrwb, salam kenal." senyum ramah Axton.


"Ehh Waalaikumsalam wrwb, ya pak salam kenal juga pak." makin gugup.


"Apakah aku terlihat sangat tampan, sehingga kalian sedari tadi menatap ku begitu." goda Axton.


"Ahhh ya. ehhh hehehe mmhhh." Naya gugup pandang matanya ia alihkan pada Shafa.


" Hahahaha tidak usah canggung begitu, saya cuma bercanda." tawa Anton.


"Ahh iya pak." jawab Naya masih gugup.


"Bagai mana bahasa Indonesia saya bagus kan, saya pernah tinggal di bali." Axton.


"Ahh iya pak, pantas bahasa Indonesia nya lancar tanpa cacat." jawab Naya mulai menyesuaikan diri.


"Iya, jadi kamu kakaknya Shafa juga ?." Axton.


"Iya pak .." Naya.


"Ahhh ya.. banyak kakak mu ya Shafa." goda Axton pada Shafa yang siap siap menyeruput minuman dingin pesanannya.


"Emhhh iya Daddy.." jawabnya tanpa sengaja membuat Naya, Niken dan yang lain saling pandang.


Axton hanya tersenyum simpul mendengar jawaban Shafa yang spontan dan sepertinya jawaban nya itu tidak ia sadari.


"Wahhh aku punya putri sekarang, langsung banyak lagi, orang orang pasti bingung Mommy nya ada berapa punya anak perempuan sebanyak ini." tawa Axton bahagia.


Untuk pertama kalinya mereka semua melihat laki-laki itu tertawa bahagia, lepas tanpa sandiwara dan tanpa beban seakan yang tertawa itu bukan dirinya.


Padahal baru beberapa jam Axton bertemu dengan wanita wanita itu mereka sudah langsung akrab dan saling bercanda ria.


Naya dan yang lain tersenyum mendengar kelakar Axton sementara Shafa masih tidak nyambung dengan kata kata Axton, dia seperti orang yang terdampar di gurun pasir yang lama tidak menemukan sumber mata air sehingga waktu meminum minuman nya dia lupa sekitar.


"Di mana kalain tinggal ?."


"Di Xx pak, kami baru beberapa hari di sini." Axton bertanya pada Shafa tapi Naya yang menjawab karna Shafa masih terlena dengan minumannya.


Axton terdiam sepertinya dia tau tempat itu, tempat di mana kalangan elit tinggal dan dia berpikir bahwa salah satu wanita yang ada di depannya bukan orang sembarangan yang ia pikirkan tentu Shafa.


"Hmmm tempat yang sangat aman dan nyaman, aku tinggal tidak jauh dari sini apa kalian mau tinggal dengan ku di rumah ku yang sederhana, tentu jauh dari kata sempurna dari rumah yang kalian tempati sekarang." menatap Shafa.


"Bapak bisa masak nasi goreng ?." celetuk Shafa tiba tiba dengan tatapan mata berbinar dan penuh harap.


"Ouwhhhh tentu saja, saya ahlinya, kenapa apa Shafa mau saya masakin." tawa kecil laki-laki itu.


"Mau mau mau..." jawab Shafa girang, dia sampai bertepuk tangan mengeksfresikan kebahagiaannya.


"Kalau begitu dil tinggal bersama ku ?." Axton.


"Ya.. ya ..ya Shafa mau." jawab Shafa tanpa ragu dan takut padahal dia baru kenal dengan laki-laki itu bagai mana kalau laki-laki itu penipu, mafia atau penjahat, meski dia di kelilingi bodyguar belum tentu keselamatannya terjamin kan.


Mata Naya dan para bodyguar melotot mendengar jawab Shafa.


"Dek Shafa itu ngak mungkin." protes Naya.


"Nyonya muda, jangan nanti .." protes


Niken pula.


"Tidak apa apa, pak Axton orang yang sangat baik." jawab Shafa polos, entah dari mana dia dapat informasi tapi ia sudah berani bilang kalau Axton baik.

__ADS_1


"Tapi nyonya ??." Lila.


"Ngak apa apa." ucap Shafa meyakinkan semua orang dengan kata katanya.


Meski Naya dan yang lain sempat berdebat kecil dengan Shafa tapi mereka tetap kalah dari wanita cantik itu.


"Kamu tidak takut pada ku ?." Axton.


"Kenapa takut, apa bapak makan orang ?." kekeh Shafa riang.


"Bisa jadi kan." jawab Axton muka serius.


"Dari wajah bapak ngak ada tanda muka penipu atau orang jahat." jawab Shafa lebih serius membuat Axton ahirnya terkekeh.


Entah mengapa hati Axton benar benar bahagia berbincang dengan wanita di depannya, meski tampak aneh di mata orang tapi Axton tidak merasa janggal berbincang dengan Shafa.


"Baiklah, kapan pindah dengan ku ?." Axton.


"Sekarang juga boleh, Shafa mau makan nasi goreng." jawab Shafa semangat empat lima.


"Nyonya muda ..." panggil Niken dan dua lainnya mereka benar benar tidak menyangka Shafa serius dengan kata katanya.


"Kakak kakak kamu protes." tawa Axton.


"Maaf tuan kami tidak.." Niken ingin menyampaikan ketidak setujuannya atas keputusan sepihak Shafa.


"Kak Niken biar Shafa yang berurusan dengan papa, Shafa akan berbincang dengan papa."


"Tapi nyonya." Niken.


"Ngak apa apa, pak bisa Shafa bawa kakak kakak Shafa semua ?, Shafa tanggung biaya makan dan kebutuhan kami semua Shafa ngak akan merepotkan ?."


"Hahahahaha kalau cuma makan dan keperluan kalian semua saya masih sanggup nak Shafa jangan kwatir."


"Tapi kami banyak." Shafa memberi kode mengangkat tangan kanannya ke atas tapi tidak tinggi sehingga kode tersebut bisa terlihat oleh yang ia maksudkan.


Dari sekitarnya muncul delapan orang bertubuh kekar berjalan mendekat dari berbagai sisi ruangan itu.


"Iya nyonya muda." sapa hormat salah seorang di antaranya.


"Ini kakak kakak Shafa yang lain pak."


"Wahhhh banyak kakaknya ya hahaha." canda Axton, laki-laki itu sadar penuh kalau kakak yang di maksud Shafa adalah pengawal pengawal pribadinya.


"Siapa kamu sebenarnya kenapa punya pengawalan ketat begini, tapi aku merasa sangat suka padamu, aku keinginan ku untuk mempunyai anak tiba tiba tercapai meski sudah langsung besar." tawa kecil Axton dalam hati.


"Iya pak, boleh ?." tanya Shafa antusias, Shafa juga yakin kalau orang yang ada di depannya bukan orang sembarangan, dia di kawal lima orang laki laki tinggi dengan stelan pormal.


Dari pakaian mereka siapapun tau kalau mereka berfropesi sebagai pengawal, beda dengan bodyguar Shafa mereka semua memakai baju preman atas permintaan Shafa.


"Iya pak hehehe gimana ?." Shafa.


"Siapa takut hahaha." kening semua pengawal Axton nerkerut, meski mereka tidak mengerti pembicaraan antara Axton dan Shafa tapi mereka yakin ada sesuatu yang mereka rencanakan.


"Suruh orang orang di rumah menyiapkan tempat untuk mereka semua." ucap Axton pelan dalam bahasa negaranya kepada salah seorang pengawal yang ada di sampingnya.


"Tapi tuan." jawab laki-laki itu terputus melihat tatapan tajam Axton.


"Laksanakan semua perintahku."


"Ba..baik tuan."


Baik pengawal Shafa atau pengawal Axton sama sama bingung dengan keputusan kedua orang di hadapan mereka.


Niken menerima pesan dari Arya, ketua pengawal Shafa yang berdiri tidak jauh dari Shafa, wajah Niken sedikit tenang melihat pesan tersebut.


"Dia seorang bangsawan negara ini, dia bersih dari hal buruk, tapi tetap harus waspada." pesan dari Arya.


Niken tidak membalas dia hanya mengangguk pelan sebagai tanda dia mengerti, meski tidak saling lihat dengan Arya.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Belum ada jawaban yang sesuai, mungkin di sini bisa tertawa ya All hehehehe, kuisnya masih berlaku silahkan jawab ya.


Tapi jangan lupa

__ADS_1


LIKE, VOTE, RATE, HADIAH DAN KOMEN YANG BANYAK YA..


Happy Reading


__ADS_2