UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
129. Terluka.


__ADS_3

Jones membawa laju mobilnya dengan kecepatan penuh, wajah laki-laki itu memerah dan penuh amarah, laki-laki itu sampai di lantai dasar tempat mobil para penghuni apartemen di parkirkan.


Jones memarkirkan mobilnya asal, kemudian secepat kilat ia memasuki lift dan langsung menuju lantai atas di mana apartemennya berada.


Setelah keluar dari lift Jones lalu berjalan cepat dan membuka pintu apartemen dengan kasar, laki-laki itu mencari keberadaan Shafa di dalam kamar tapi tidak ada.


Lalu ia keluar dari sana, namun belum laginia memanggil istri Shafa sudah muncul dari arah dapur sambil mengaduk susu hangat di tangannya.


Wajahnya masih tampak merah dengan mata sembab dan merah juga, Shafa terdiam di tempat melihat kehadiran Jones tak jauh darinya.


"Apa yang lu lakukan pada mama gua hahhh, kenapa lu menyakitimya." bentak Jones kasar dengan suara berapi api.


Prankkkk..


Gelas yang ada di tangan Shafa terjatuh dan pecah berserakan di atas lantai, suara Jones yang selama ini lembut menjadi keras dan kasar membuat Shafa terkejut.


Awalnya ia ingin berlari memeluk suaminya itu karna sudah rindu, meski baru beberapa jam di tinggalkan tapi dia sudah ingin di peluk dan memeluk suaminya itu.


Dia ingin melepaskan beban mental dan sakit didadanya karna kejadian tadi, saat mama dara memaki, memaksa menandatangani surat pernyataan bersedia di madu bahkan tamparan tangan mama Dara masih terasa panas di wajahnya.


Tapi melihat kemarahan Jones yang tampa sebab membuat Shafa mematung, air mata langsung mengalir deras di wajah putih kemerahan bekas tampar tangan mertua.


"Kenapa menangis hahh, pura pura teraniaya ? padahal lu yang memganiaya mama gau, lu tau gua sama sekali tidak menyangka wanita yang gau kenal lembut, sopan, baik, berakhlak dan bahkan beragama baik ternyata cuma topeng." emosi Jones kemarahannya memuncak.


Dia sudah lupa wanita yang berdiri di hadapannya adalah wanita yang teramat dia cintai bahkan wanita yang ia perjuangankan mati matian untuk mendapatkannya.


Shafa tetap mematung, dia teramat shoc mendengar danelihat kemarahan Jones untuk pertama kalinya selama dua tahun lebih pernikahan mereka.


"Kenapa diam hahh, di mana keberanian lu tadi, ayo tunjukkan pada gua, lu menampar mama gua sampai bibirnya pecah dan wajahnya bengak, gua tidak menyangka ternyata lu perempuan jadi jadian, bermuka dua." berjalan mendekat pada Shafa dengan emosin yang makin jadi.


Shafa tetap diam.


"Lu yang bilang jangan melawan orang tua, kenapa hanya karna mama gua ingin meminta uang pada lu, lalu lu marah marah dan menganiaya mama gua, ternyata lu bukan perempuan baik, lu beda jauh dari mama lu yang benar benar lembut dan baik, lu ternyata bermuka dua, dan gua salah menilai lu selama ini, gua salah, lu bukan wanita baik seperti yang gua kira."


Tangan Jones mengepal menahan emosi, mata birunya merah menyala, seakan ia ingin menelan istrinya itu bulat bulat karna terlalu emosi.


Mendapati Shafa yang tetap diam, Jones semakin marah karna ia merasa Shafa benar benar salah sebab tidak membela diri sama sekali.


Awalnya ia masih berharap aduan mama Dara hanya sandiwara tapi melihat reaksi diam Shafa dia pun menjadi percaya akan semua hal yang di adukan oleh sang mama.


Flas on.


"Ayo tampar aku Susi." ucap mama Dara menatap susi yang duduk di samping mama Dara.

__ADS_1


"Hahh apa tante tampar ?."


"Iya tampar, kalau kita tidak berhasil meminta tanda tangan perempuan itu, kita harus membuat Jones membencinya lalu meninggalkannya dengan begitu kau akan lebih mudah mendapatkan anak tante."


"Tapi tante .." ragu.


"Sudah kau tidak perlu sungkan, ini cara terahir semoga cara ini berhasil, ayo cepat sebelum anak tante pulang danemgadukannya pada Jones." perintah mama Dara.


Tampa pikir panjang susi melayangkan tamoatan yang cukup kuat pada wajah mama Dara, wanita tua itu menjerit merasakan panas dan sakit pada wajah serta bibirnya yang pecah karna tamparan tangan susi.


"Awhhhh kok kencang banget sih." teriak mama Dara mengusap pipinya.


"Ma..maaf tante, kan tante yang minta." ucap susi terbata bata.


"Iya tapi ngak kuat dong, sakit nih."


"Maaf tante." meraih tissu dan berniat membantu mama Dara melap bibir wanita itu.


"Sudah.. mumpung darahnya masih ada ayo berangkat ke tempat kerja anak ku."


Susi lalu membawa mobil keluar dari wilayah apartemen mewah itu menuju rumah sakit, tidak berapa lama kemudian merekapun sampai dan langsung berjalan ke ruang poli tempat kerja Jones.


Untungnya jam poli sudah selesai dan Jones sedang bersiap untuk pulang, dia sudah tidak sabar ingin memeluk tubuh kecil istrinya karna sudah sangat rindu.


Tapi melihat wajah merah kebiruan serta bekas darah di sudut bibir mama Dara membuat rasa rindu di hati Jones berubah amarah.


Karna emosi yang tidak lagi terkendali Jones lalu meninggalkan mama dara dan susi di ruang poli, tampa mengatakan apapun pada keduanya.


Flas Off..


"Ayo tampar gua seperti yang lu lakukan pada mama gua tadi, di mana keberanian lu hahh, dasar perempuan berwujud ..." Jones melepaskan kemejanya dengan kasar, menarik bajunya kuat sehingga beberapa kancing bajunya terlepas dan berserakan.


Shafa terkejut dan langsung berteriak, tubuhnya bergetar hebat, dia lalu berjongkok sambil menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangan.


"Ampun Uncle.. ampun, Shafa ngak nakal, Shafa ngak nyakiti nenek.., ampun Uncle ampun jangan pukul Shafa, jangan sakiti Shafa ampun Uncle Shafa janji mau tanda tangan Shafa janji mau pulang ke rumah mama, Shafa janji .."


Tangis Shafa kencang sambil meracau panjang lebar mengulang ulang kata yang sama, Jones terdiam, hatinya merasa sakit melihat tangisan Shafa tapi amarahnya belum reda sehingga dia tidak perduli dengan teriakan Shafa.


"Sial.. sial.. "marah Jones, menendang bajunya yang terjatuh di atas lantai.


Jones sangat terkejut ketika Shafa memanggil Uncle dan Nenek, dia tidak menyangka panggilan lama Shafa kembali lagi, belum suara isak tangis Shafa yang menyayat hati dan berkata berulang ulang dengan kata kata yang sama.


"Ampun Uncle, ampun.. Shafa ngak mukul nenek Shafa ngak nakal." tangis nya sesegukan.

__ADS_1


Jones membisu, dia tidak tau harus apa, di sisi lain dia merasa sakit melihat tangis Shafa namun kemarahannya tidak bisa ia tahan, dan kelakuan jahat Shafa pada mamanya tidak bisa ia tolelir karna menganggap istrinya kasar dan jahat sudah menyakiti mama kandungnya.


Meski selama ini dia tidak begitu dekat dengan mamanya tapi melihat wajah mamanya yang terluka tentu membuat emosi Jones menjadi tidak terkontrol.


Dia tidak berpikir demi membela mamanya tampa mencari tau kebenarannya dia justru akan menyakiti wanit lain yang sangat ia cintai, wanita hamil yang kini sedang mengandung anak anaknya.


"Hahhhhhh.. hahhhhhh.. sial..sial.." marah Jones menjambak rambutnya kasar.


Laki-laki itu lalu berjalan menuju pintu apartemen tampa memakai baju, ia hanya memakai baju singlet saja, dia takut makin menyakiti istrinya karna itu ia memilih pergi.


Shafa yang menyadari Jones berjalan menjauh mengangkat kepalanya, ia kemudian berdiri lalu memanggil suaminya itu berharap tidak di tinggalkan sendiri karna ia merasa tiba tiba perutnya terasa kram.


"Aa..Aa.." pamggilnya dengan suara serak dan lemah.


Jones tidak mengindahkan panggilan Shafa dia tetap berjalan dengan cepat, Shafa berusaha berjalan tapi kakinya terasa berat dan sakit.


"Awhhh.. Aa.." teriak Shafa menahan rasa sakit karna kakinya yang menginjak pecahan kaca, darah segar mengalir dari luka di kakinya yang cukup dalam dan panjang.


Jones berhenti sesaat tapi kemudian ia melangkah lagi meninggalkan Shafa sendirian, Jones membanting pintu dengan kasar dan kuat membuat Shafa semakin takut sampai terungkal kebelakang dan kemudian terduduk di atas lantai.


Shafa menahan perdarahan di kakinya dengan baju Jones yang ia ambil tidak jauh darinya, warna putih terang baju kemeja itu berubah merah akibat sudah banyak menyerap darah kakinya.


Sementara itu Jones yang baru keluar dari lift dan berpapasan dengan Niken, Lila serta Nisa tidak memperdulikan keberadaan mereka di dekatnya dia terus saja berjalan cepat kearah mobil dengan wajah masih terlihat marah.


Ketiga wanita itu saling pandang dan bingung namun detik kemudian mereka sama sama tersadar ketiganya sama sama berlari menuju lift sambil membawa belanjaan di tangan mereka.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baikΒ  terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.


Mari tetap semangat dan saling support


Dengan cara :


πŸ’ LIKE


πŸ’ RATE


πŸ’ VOTE


πŸ’ HADIAH yang banyak


πŸ’KOMEN yang sebanyak banyaknya.

__ADS_1


Wo Ai Ni all..


Happy Reading.


__ADS_2