
Cukup lama Jones duduk di situ, sampi orang orang memperhatikannya heran, setelah merasa lelah Jones lalu meninggalkan tempat itu, ia kembali melanjutkan perjalanannya.
Kini ia punya tujuan, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan rata rata, perjalanan masih sangat jauh untuk menuju tempat itu, awalnya rasa lelah sudah menyerang tapi semangatnya kembali muncul saat mengingat kenangan masa kecil Shafa dan dirinya.
Jones sudah lima hari menempuh perjalanan, sampai harus naik kapal peri guna menyeberang ia sengaja karna ia tidak ingin, Johan dan Robby tau tujuannya karna ia yakin mereka pasti mencarinya.
Jones juga tidak menginap di hotel dalam perjalanannya, ia memilih tidur di dalam mobil mewahnya kalau lelah ia akan singgah di pom bensin karna tempat itu cukup aman sebagai tempat parkir dan istirahat.
Setelah menempuh perjalanan lebih dari dua belas jam ahirnya ia sampai di tempat tujuan, hari masih sangat pagi saat ia sampai matahari bersinar terang suara burung dan ombak saling bersahutan menambah indah suasana pagi itu.
Jones menghirup udara pagi itu lamat lamat, ia merentangkan kedua tangannya dengan mata terpejam, air laut menyapu kakinya yang tampa alas, Jones benar benar menikmati suasana sejuk pagi itu dengan hati tenang.
"Uncle... Uncle.. gendong Shafa dong." Shafa berlari kearah Jones yang merentangkan tangannya memeluk dan mengangkat gadis kecil itu tinggi di udara.
"Uncle.. jangan, Shafa takut.." teriak Shafa, Jones memutar mutar tubuh Shafa yang di angkatnya tinggi.
"Uncle.. Shafa lapar, ajarin Shafa masak ya."
"Uncle.. Shafa mau mandi di laut, temenin ya."
"Uncle.. Shafa ngak tau jawaban PR Shafa, ajarin Shafa ya."
Uncle.. Uncle.. Uncle.. Uncle..
Jones berputar putar mencari asal suara itu, meski ia tau kalau semua hanya ilusi saja tapi ia ingin percaya itu nyata.
Aaaaaaaaaaaaaaa
Shafaaaaaaa.........
"Kenapa sesakit ini Tuhan ku, sakit sekali ya Tuhan Ku mohon beri aku petunjuk." Jones berteriak di pinggir laut sepi itu, hanya suara ombak dan burung camar yang terdengar menemaninya.
Ia menghempaskan dirinya di atas pasir di bibir pantai, kakinya sesekali di bawa oleh air ombak kekiri dan kanan, napasnya tersengal sengal akibat teriakannya tadi.
__ADS_1
Air matanya tumpah begitu saja menahan sesak di dada, ia menatap langit pagi yang kebiruan di atas sana dengan pandangan nanar, betapa berat cobaan cintanya betapa.
"Shafa... Shafa....
Kau milikku Shafa, hanya milikku." teriaknya berkali kali.
Matahari sudah tinggi, panas mentari mulai menusuk kulinya yang putih terang, Jones masih setia merebahkan dirinya di atas pasir putih itu tapi tidak berapa lama kemudian berlahan ia bangkit lalu duduk sebentar.
Ia berjalan gontai ke arah mobil yang terparkir jauh dari bibir pantai, setelah mengeluarkan tas berisi pakaian ia kembali berjalan ke arah Villa milik Zahra, hadiah kehamilan Zahra dari Johan dulu, ia menatap sekeliling Villa itu dengan tatapan sendu.
Kenangan masa lalu kembali terlintas di benaknya, saat Shafa dan Azka berlari lari di teras rumah panggung yang terbuat dari kayu, Jones mengusap wajahnya kasar dan kembali berjalan memasuki teras rumah.
"Assalamualaikum.." Jones memberi salam, penjaga villa itu tinggal di sebelah kiri rumah, sejak Zahra dan keluarga pindah ke ibu kota villa di rawat oleh saudara jauh Zahra.
Kadang sering di sewa untuk para pelancong yang datang berkunjung dan berlibur kedaerah itu, uang sewa di gunakan sebagai biaya perawatan rumah sisanya untuk penjaga rumah, selain mereka mendapat gaji bulanan dari Zahra.
"Waalaikumsalam wrwb.. ada apa ya pak, mau sewa kamar ya." tanya bik lastri perempuan separuh baya penjaga villa.
"Iya bu, saya boleh sewa kamar ya."
"Saya dari kota ibu, kebetulan saya lagi ada kerjaan di sini untuk waktu yang lama, kata teman saya di tempat ini nyaman untuk tinggal."
"Ohh iya pak, memang bapak kerja apa." tanya bik lastri, bukan apa apa dia hanya tak ingin salah menerima pelanggan karna villa itu amanah bagi mereka jadi tidak sembarang orang bisa di terima.
Sebenarnya villa itu tidak di izinkan Johan di sewakan tapi karna akan usang kalau tidak di tempati maka Zahra memberi izin rumah itu di jadikan tempat persinggahan bagi orang yang membutuhkan dengan harga wajar.
"Saya dokter ibu, ini kartu identitas saya." Jones menunjukan kartu identitasnya di sana tertulis nama panjang Jones, nama panjang Jones tidak semua orang tau, hanya keluarga intinya saja yang hapal karna itu Jones tidak takut menunjukkannya pada sang bibik.
Bibik tidak mengenali Jones karna waktu tinggal di sana berlibur dulu si bibik belum ada di sana, setelah yakin aman bibik membawa Jones masuk kedalam.
"Maaf pak dokter, kamar yang bisa di pakai cuma lima kamar ini yang berada di sana tidak bisa karna itu kamar tuan dan nyonya kami pemilik villa ini, silahkan bapak pilih yang mana, kebetulan kamar baru kosong semua."
"Makasih bik, tapi boleh saya pakai kamar itu saja." Jones menunjuk salah satu kamar yang berada di depan kamar Johan.
__ADS_1
"Maaf pak lupa bilang kamar itu juga tidak di sewakan, karna itu kamar anak anak tuan kami."
Jawab bibik sopan.
"Tapi aku mau kamar itu bik, ku mohon itu saja ya ngak apa apakan." bujuk Jones.
"Tapi pak."
Jones terus membujuk, hingga ahirnya sang bibik menyerah dan membiarkan Jones tinggal di kamar anak pemilik villa itu.
Jones tersenyum bahagia saat memasuki kamar itu, setelah membersihkan diri Jones langsung merebahkan diri di atas kasur empuk milik Shafa Jones memeluk guling yang ia anggap guling yang dulu sering di pakai Shafa.
"Shafa sayang, aku kangen, datanglah ke mimpiku aku betul betul merindukan mu, aku tunggu di sini di kamar mu." gumam Jones parau, meski belum makan dari pagi tapi karna lelah Jones tertidur pulas sambil memeluk guling.
πππππππππππ
Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baikΒ terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.
Mari tetap semangat dan saling support
Dengan cara :
πLIKE
π RATE
π VOTE
π HADIAH yang banyak
π KOMEN yang sebanyak banyaknya.
Wo Ai Ni all..
__ADS_1
Happy Reading