
"Kakak tidur di kamar Shafa saja ya ?." bujuk Shafa pada sang kakak angkat.
Naya ayunda gadis berhijab dan memakai cadar seperti Shafa adalah sosok wanita yang sangat Shafa kagumi dan teladani, baginya Naya merupakan sosok kakak yang baik dan pintar yang mampu menjaga dan mengajari Shafa berbagai hal.
Naya kakak angkat Shafa waktu di pesantren gadis itu anak yatim piatu yang bersekolah di pesantren karna kepintarannya dan karna budi pekertinya yang baik.
Di asrama Naya lah yang selalu jadi bodyguar Shafa yang ia minta sendiri karna Lila dan Niken sudah terlalu tua bila bersamanya, meski Niken sempat menjadi ibu asrama Shafa guna menjaga dan melindungi gadis itu secara langsung dan dekat, namun kehadiran Naya mampu membuat Shafa nyaman tinggal di pondok pesantren.
"Tidak usah dek, kakak di kamar tamu saja, ngak enak nanti sama om."
"Ngak apa apa lo kak, kakak kan sudah Shafa anggap saudara sendiri, ya .. ya mau ya kak." bujuknya lagi.
"Ngak dek, kakak di kamar yang sudah di siapkan saja ya biar kakak enak, nanti kalau di kamar Shafa kita ngerumpi terus hapalan qur'an nya malah ngak jadi jadi hehehe."
"Ishhh ngerumpinya juga paling bentar."
"Kakak akan ke kamar Shafa nanti pas mau tidur baru kakak ke kamar kakak gimana."
"Ngak usah deh kak, Shafa aja ke kamar kakak hehehe." ingat kamarnya di depan kamar sang papa mama, gadis itu lupa daerah kamar mereka tidak bisa di lewati bahkan di masuki orang sembarangan meski saudara sendiri.
"Yahh gitu lebih baik." tersenyum.
Malam itu Shafa dan Naya makan berdua di teras samping kamar Naya, Shafa memilih makan terpisah dari keluarganya agar Naya nyaman saat makan tampa harus bolak balik menyingkap cadarnya.
"Kak .. menurut kakak bang Arkhan gimana." tanya Shafa sambil memperhatikan wajah Naya yang tampak pucat karna baru sembuh dari sakit.
"Baik dek, sholeh, pintar dan penyayang."
"Tapi urakan dan jahil."
"Jahil nilai plus nya dek."
"Iya hahaha, kalau nikah pasti bahagia terus
karna orangnya lucu kan kak."
"Belum tentu dek, bang Arkhan kalau udah
marah seram juga loh." tertawa lepas.
"O yaa masa kak, Shafa kenal bang Arkhan dari kecil tapi ngak pernah lihat bang Arkhan marah meski sering Shafa jahilin."
"Iya lo dek hahaha."
"Ishhh kakak nakutin Shafa ya."
Hahahaha
"Sudah dek, jangan ceritain bang Arkhan terus dong, gimana si hemmm itu." menggoda.
"Apa hemmm."
"Yang sering Shafa ceritakan di handphone."
"Siapa ya ?." tertawa sedih.
'Sugar daddy Shafa."
"Hahhh sugar daddy hahahaha Uncle Jones maksud kakak, masa Sugar daddy sih kak hahahaha ngak terima lambung Shafa." tertawa cekikikan.
"Abis ngak mungkin kakak bilang sweet
uncle." tawa Naya.
"Mending kak dari pada sugar daddy rusak lambung Shafa dengar nya hahaha."
"Iya deh Uncle Ones saja seperti panggilan
Janeet hahahaha."
"Hahaha ngenes kak."
"Ya ampun dek, awas durhaka hahaha."
"Ngak tau dan ngak dengar Uncle nya kak hahahaha."
__ADS_1
Hassyimm..
"Ahhh siapa sih yang lagi nyeritain gua." gumam Jones karna tiba-tiba saja bersim.
"Siapa yang ingat sama lu, sok gaya ada yang ceritain, yang ada orang orang sudah lupa sama Lu karna berkurang di kamar terus." ejek Robby.
"Diam lu, sialan."
"Kalau gua diam lu tidak akan tau apa apa."
"Ya sudah ayo bilang Arkhan itu siapa dan kenapa tiba tiba muncul di rumah besar." tanya Jones.
"Dia masih saudara jauh nyonya, dia kuliah semester ahir di boston dan dia datang setau gua karna di panggil oleh bos Johan."
Deg..
"Untuk apa." suara bergetar.
"Lu yang minta nona menikahkan." menatap
serius mata Jones.
"Iiiya .. dan dia laki-laki nya ??." ulu hati Jones terasa perih dadanya panas bahkan tubuh laki-laki itu tampak bergetar.
"Iya .. yang gua dengar begitu, dan waktunya
tidak lama lagi." menatap iba Jones.
"Maksud Lu." mulai lemah.
"Pernikahan mereka tinggal dua minggu lagi." jawab Robby mengalihkan pandangan dari laki-laki itu.
"Apaaaaa.." teriak Jones kencang.
Robby tidak menjawab lagi, hal yang sangat ia takutkan adalah saat memberitahukan hal seperti ini pada sahabatnya itu, sebenarnya dia tidak sanggup mengatakannya tapi dari pada Jones tau dari orang lain lebih baik dari nya.
Karna sesakir sakit nya tau dari orang terdekat akan lebih sakit tau dari orang lain, Jones bungkam mulutnya terkunci tubuh nya terasa lemah dan lemas.
Rasanya tulang tulangnya sudah tidak berfungsi lagi sehingga ia merasa tidak mampu menopang tubuhnya lagi.
"Lu bohong kan bro." tanya Jones memastikan.
Jawaban Robby semakin membuat Jones lemah, hatinya hancur seketika, kepalanya pusing bahkan ia ingin muntah karna asam lambung nya yang tiba tiba naik akibat langsung stres berat.
"Sory bro.. jangan salahkan bos Johan, lu yang meminta bos menikahkan nona sesegera mungkin dengan orang lain, bos juga sudah bertanya apa lu iklas, walau bagai mana pun bos masih punya hati dia masih menjaga hati lu tapi lu yang tidak menjaga perasaan seorang ayah." diam sejenak.
"Lu harusnya lebih terbuka lagi, kalau lu benar benar sayang dan cinta pada nona kalau lu ingin memilikinya harusnya lu pertahankan bukan malah melepaskan, padahal belum tentu nona menolak lu."
"Tapi waktu itu Shafa bilang kalau tidak
bisa .." terdiam dan berpikir.
"Tidak bisa apa, apa nona bilang tidak bisa bersama mu ?? bukannya nona langsung pingsan waktu itu, lu naif bro naif.."
Jones diam.
"Iya gua memang naif.. gua naif akhhhh gua naif hahahahahha gua naif bro hiks." menertawakan kebodohannya.
"Hahhh gua ngak habis pikir bro, kenapa lu langsung melepaskan nona waktu itu, padahal bos sudah memberi jalan meski bos tidak rela tapi karna bos merasa takjub dengan pengorbanan lu bos merasa lu memang orang yang tepat untuk nona karna cinta lu tak berbatas, tapi lu nyerah hanya karna dua kata, tidak bisa dari nona."
Jones diam lagi.
"Tinggalkan gua." bicara dingin.
"Lu selalu begitu, kalau lu lagi mikir dan stres lu pasti mgusir gua, tidak gua ngak mau pergi."
"Beri gua ruang Robby."
"Ruangan ini sudah luas, masih kurang."
"Pliss.. tinggal kan gua."
"Berpikir jernih bro, jangan macam macam."
ucap Robby memperhatikan gerak gerik Jones yang gelisah.
__ADS_1
"Tidak bro, gua tidak akan macam macam lu jangan kwatir, tolong beri gua waktu." menatap penuh harap pada Robby.
"Oke .. baiklah bro, gua akan keluar dari kamar lu tapi gua akan tetap di sini, kalau lu butuh gua, gua ada di ruang tamu."
Hmmm ..
Robby meninggalkan kamar itu dengan menarik kunci pintu kamar agar Jones tidak dapat menguncinya dari dalam.
Sepeninggal Robby, Jones masih saja terpaku di tempat duduknya, berlahan ia berdiri di bantu oleh tongkat besi yang di buat khusus untuk orang yang membutuhkan seperti dirinya.
Jones berjalan pelan ke arah kaca sebagai dinding kamar yang luas itu, dinding kamar Jones bagian luar memang terbuat dari kaca sehingga hal apa pun yang ada di luar bisa terlihat jelas dari dalam kamar meski yang di lihat hanya gedung gedung tinggi pencakar langit atau atap rumah dan jalan raya ibu kota saja.
Jones berdiri di depan kaca itu dan.
Argkhhhhh aaaaaaaa ..
"Bodoh.. bodoh.. gua bodoh, aaaa bodoh." teriak Jones histeris.
Laki-laki itu berdiri sambil memegangi kepalanya dan menjambak rambutnya kuat, tak tahan menopang tubuhnya laki-laki itu tersungkur di atas lantai dengan posisi duduk.
"Aaaaaa bodoh bodoh, kenapa gua bodoh
tuhanku kenapa.." teriaknya lagi.
Robby yang mendengar terima Jones langsung berlari kekamar laki-laki itu, di lihatnya sang sahabat yang duduk lemah di atas lantai dengan tangan masih di kepala.
"Lu jangan nyakitin diri lu sendiri bro, gua bilang apa tadi." menatap sedih sang sahabat.
"Lu ngak tau perasaan gua Robby lu ngak tau." teriak Jones.
"Gua tau bro, tapi mau gimana lagi lu yang
sudah buat begini."
"Lu tau, tapi lu diam saja."
"Katakan gua harus apa, lu mau gua nyulik nona dan gua bawa ke lu ?." bicara tenang.
"Gua ngak minta begitu."
"Lalu ?."
Jones diam, dia sendiri tidak tau harus apa dan harus bagai mana, dia sendiri yang meminta Johan menikahkan Shafa dengan orang lain tapi begitu tau gadis itu akan menikah dia tidak terima dan dia tidak rela.
"Gua ngak tau." jawab Jones lemah.
"Mandi sana, Sholat .. tenangkan diri lu, jangan teriak teriak terus kayak perempuan yang baru lepas perawan saja, nanti lu berpikir dengan tenang, apa pun yang lu mau dan pikirkan kasih tau gua, gua ada di luar."
Setelah berkata begitu Robby meninggalkan kamar Jones sendirian di dalam kamarnya.
***
Sakit mana di buat orang atau di buat diri
sendiri Jones ?.
Terima nasiblah kalau tak dapat.
******
Jangan lupa dukung aku ya
LIKE, KOMENTAR, VOTE, RATE DAN KASIH HADIAH YANG BANYAKKKK YA
aku tunggu loo.
Kunjungi juga Cerita aku yang di🖕ya,.ini cerita tentang papa mama Shafa, sebelum ke cerita Shafa dan Jones ada baiknya singgah dulu di cerita pak CEO si Bucin tingkat tinggi, dan mana yang lebih bucin nantinya ya.
wkwkwkwk.
Hmmm ayuk merapat guys..
__ADS_1
WO AI NI..
HAPPY READING.