
"Dan apa kamu ngak salah itu, mau bawa putriku lari, kamu liat kan Shafa sedang hamil ?, kamu mau bawa Shafa kemana ?, kamu pikir papanya bakal diam aja kalau kamu bawa putrinya lari, yang ada papanya makin benci padamu Jones."
Deg..
Jantung Jones berdebar kencang mendengar kata kata mertua itu, Zahra masih memberi jarak dan tidak terlihat oleh keduanya.
Jones memeluk -Shafa yang masih berada di atas pangkuannya erat, rasa cemas dan takut tentu saja makin ia rasakan, takut semakin di jauhkan dari sang istri.
"Aku sengaja membawa Shafa kemari dan membiarkan mu menemui Shafa karna aku ngak tega lihat kamu kemarin, jadi jangan berpikir macam macam, kamu yang membuat semua ini terjadi dan hanya kamu sendiri yang bisa memperbaikinya." Zahra.
"Iiya..ma, terimakasih sudah mengizinkan aku bertemu dengan istri ku." jawab Jones pelan.
"Aku tadi cuma mau bilang waktu mu hanya tiga puluh menit lagi bersama putriku." Zahra ingin berjalan kembali ke arah Niken dan penjaga toko tapi langkah nya terhenti mendengar suara Jones.
"Jangan tiga puluh menit ma, ku mohon tambah waktunya." mohon Jones.
"Tiga puluh menit Jones."
"Ku mohon ma, tolong lah, kami bertemu baru sebentar." kembali memohon.
"Sebentar apa, sudah lebih satu jam kamu bilang Sebentar." marah Zahra.
"Tolong ma." Jones.
( Oalah Ara, namanya baru ketemuan satu jam serasa satu menit bu bidan, kayak ngak pernah melepas kangen aja nih bu bidan ππ ).
Zahra tidak menjawab di diam dan memilih pergi dari kawasan tersebut, Zahra malah tersenyum sendiri dan merasa konyol.
" Astaga .. kenapa aku malah ribut dengannya, sudah pasti Jones protes aku membawa Shafa cepat cepat, tapi dia harus bersyukur aku sudah membawa Shafa padanya, dan wajar kalau aku ingin segera membawa Shafa nanti kalau koko tau gimana coba." gumam Zahra geleng geleng kepala.
Sementara itu.
"Yank..dede udah makan ?." Jones.
Shafa menggelengkan kepala, wanita itu masih nemplok di atas pangkuan Jones, kepalanya ia sandarkan di dada Jones sementara tangannya ia masukkan kedalam baju suami.
"Kok belum makan hmm, sayang ngak boleh ngak makan, lihat ini, anak anak Aa, mereka butuh nutrisi dari sayang, meski ngak mood dede harus banyak makan ya, demi anak anak kita." ucap Jones lembut.
Jones mengelus perut Shafa lembut, senyum muncul ketika mengingat USG yang di lakukan oleh sang istri di ruangan dokter Vita beberapa hari yang lalu.
Jones mendudukkan Shafa di atas sopa lalu ia berjongkok di hadapan istri, tangan laki-laki itu menyingkap baju atas Shafa karna kali itu sang istri memakai baju tunik dengan rok yang dalam sehingga perut buncit Shafa yang putih mulus langsung terpampang di depan matanya.
Jones mencium perut sang istri di semua sisi, berulang dan berulang kali, Shafa memperhatikan suaminya itu dengan rasa bahagia, keinginannya merasakan sentuhan dan ciuman Jones di perutnya ahirnya terwujud.
"Hai.. anak anak Daddy, kalian baik baik di dalam ya nak, jangan sakiti Mommy ya hmm, kalian harus menjaga Mommy jangan mempersulit Mommy meski Daddy tidak bersama kalian sementara ini, Daddy janji secepatnya kita akan segera berkumpul lagi, Daddy janji nak."
Jones mencium kembali perut Shafa, tiba-tiba Shafa merasakan sesuatu bergerak dari dalam sana membuat wanita cantik itu terjungkat karna terkejut.
"Sayang.. anak anak Aa bergerak." tawa kecil Jones menatap mata Shafa yang sedang memperhatikan perutnya.
"Gerak Aa.." Shafa tersenyum bahagia.
"Iya sayang, anak anak Aa bergerak." mencium kembali perut Shafa.
Ishhhh... desis Shafa karna merasa geli bercampur sakit akibat gerakan ketiga cabang bayi di perutnya yang tiba-tiba aktif.
" Calm dear .. tenang sayang sayang Daddy, Mommy kesakitan nak, jangan terlalu lasak dong nak, cinta Daddy sayang Daddy." mengelus dan mencium perut Shafa.
Seakan mengerti dan memahami perintah sang Daddy cabang bayi itu langsung tenang, hanya bergerak sesekali dan sepertinya bergantian.
"Lihat sayang, begitu Daddy cium mereka langsung berreaksi, bukan hanya Daddynya yang rindu ternyata anak anak kita juga rindu." Jones menggenggam tangan Shafa mesra.
"Yank.. tolong maafkan Aa ya, Aa mohon jangan pernah ada kata berpisah dari dede, Aa tidak mau yank, Aa tidak mau berpisah apa lagi perceraian tidak akan yank."
Deg...
"Aa tidak akan pernah melepaskan sayang, karna Aa sangat cinta pada sayang, tidak akan ada yang bisa memisahkan kita, meski papa dede sendiri, meski sekarang kita harus berpisah, tapi ini hanya sementara, Aa akan berusaha secepatnya agar kita berkumpul lagi."
Shafa diam, denyut jantungnya berdegup kencang mendengar kata kata Jones, seketika ia kembali teringat usulan surat cerai yang sudah ia tanda tangan.
Wajah wanita muda itu berubah murung, dia tidak tau harus berkata apa menjawab permintaan suaminya itu, bagai mana ia menjawab iya sedang gugatan sudah ia tanda tangan.
"Kita tidak akan pernah berpisah dan bercerai hanya mau yang bisa memisahkan kita, cerai .. cerai mati, tidak akan ada manusia mana pun yang bisa membuat Aa melupakan sayang, hanya sayang satu satunya wanita yang ada di hidup Aa." masih menggenggam tangan Shafa.
Jones berdiri setelah membenahi pakaian Shafa yang ia tarik ke atas tadi karna ingin menciumi perut istrinya, Jones kembali duduk lalu mengangkat tubuh Shafa pelan dan ia dudukan di atas pangkuannya.
"I love you so much my wife." mencium kening dan bibir pink Shafa dengan rasa cinta yang makin besar makin banyak.
Laki-laki itu makin memperdalam ciumannya, ciuman yang makin panas dan makin hangat ciuman yang membuat seseorang ingin lanjut ke hal lain, ciuman yang makin menuntut dan menuntun menuju sesuatu yang lebih nikmat.
Shafa menikmati pijatan lembut bibir Jones di bibirnya, tangan kiri Jones menahan tubuh Shafa di pinggang sedang tangan kanan mengelus perut Shafa.
Enghhhh.. Shafa terjungkat sedikit menaikkan bokongnya karna terkejut, akibat merasakan sesuatu yang panjang dan keras mendorong bokongnya.
__ADS_1
Jones menahan rahang Shafa agar tetap menerima ciuman, dia tau kalau istrinya itu menyadari miliknya yang sudah menegang, bagai mana tidak berminggu minggu berpisah tentu saja keinginan Jones untuk melakukan itu muncul.
Apa lagi selama menikah mereka jarang sekali libur bercinta kecuali kalau Shafa sedang datang bulan, atau kalau keduanya sedang sibuk dan terlalu cape.
"Aa.." mendorong tubuh Jones pelan.
"Enghhhh..mhhh kenapa yank." jawab laki-laki itu dengan napas putus putus, kekecewaan tampak jelas di wajahnya karna Shafa melepaskan ciuman.
"Kita di sini A, nanti mama atau yang lain lihat, malu lo A, di sini juga pasti ada Cctv."
"Ngak apa apa yank, mama sama yang lain ngak akan datang, Cctv di sini juga pasti sudah di nonaktifkan sama Robby." melap sisa saliva di bibir candunya.
"Masa Aa, kok bisa ?."
"Bisa dong yank, apa yang tidak bisa di kerjakan Robby, sayang jangan kwatir ngak ada yang lihat kita di sini." kembali mencium bibir Shafa.
"Enghhhh.. Aa.. itu..itu." gugup, merasakan milik Jones yang makin memanjang.
"Apa yank.." pura pura tidak tau apa maksud Shafa, padahal dia sendiri sudah gelisah menahan hasratnya.
"Shafa mau duduk di sopa." mencoba turun dari pangkuan Jones.
"Kenapa yank, di sini saja ya." menahan pinggang Shafa.
"Ngak Aa, Shafa di sopa aja, nanti kaki Aa sakit Shafa kan udah berat." alasannya.
"Ngak yank, ngak berat sama sekali." tetap menahan Shafa di pangkuannya.
"Tapi A, Shafa mau ke kamar mandi, Shafa mau pipis." alasannya, dia tidak sadar kalau alasannya itu justru membuat Jones senang.
"Oo iya yank, ayo Aa antar." senyum.
"Ngak usah temani A, Shafa aja." turun dari pangkuan Jones lalu berjalan pelan ke kamar mandi, namun belum sempat Shafa menutup pintu Jones sudah ikut masuk kedalam dan langsung menutup pintu kamar mandi.
Kamar mandi itu berada di samping sopa tempat mereka duduk tadi, jadi saat Shafa berada di pangkuan Jones dan merasa risih dengan milik Jones yang makin berontak Shafa jadi punya alasan turun dari pangkuan Jones saat melihat kamar mandi itu.
Padahal Shafa hanya beralasan saja, bukan benar benar ingin buang air kecil, namun alasan Shafa malah membuat Johan bersemangat mengantar istri kekamar mandi.
"Aa mau apa ?."
"Menemani dede ?."
"Shafa mau pipis A.."
"Ngak usah, Aa keluar aja, Shafa malu."
"Kok malu yank, Aa biasa melihatnya bahkan biasa membersihkannya sayang ngak perlu malu yank." senyum Jones.
"Tapi A.."
"Udah ayo pipis, buka underwear sayang." berjongkok menarik pelan rok Shafa dan langsung menarik underwear Shafa sekaligus.
"Aa.."
"Hmmm iya yank, ayo pipis, atau mau Aa pipis kan." senyum jahil.
"Hahhh emang Shafa bayi, di pipiskan."
"Ngak sih, tapi maknya bayi yank." senyum senyum.
"Ngak ...Aa keluar dulu." protes karna mulai curiga dengan gaya dan senyum Jones.
"Aa juga mau pipis yank."
"Kalau gitu Aa dulu, Shafa mau keluar."
Jones menarik tubuh Shafa pelan ke pelukannya ketika tangan kecil itu berusaha meraih handle pintu kamar mandi.
"Aa.. lepaskan." berontak.
"Stttt jangan ribut sayang, cup..cup .." Jones mencium leher Shafa dari samping dengan mudah karna hijabnya sudah di tarik Jones sampai lepas.
"Aa.." Shafa merinding dan merasa geli mendapatkan ciuman serta mendengar suara serak Jones di telinganya.
Mata laki-laki itu sedari tadi sudah berkabut bahkan ritme pernapasannya sejak tadi tidak beraturan sebab menahan gejolak di dadanya, hampir dua bulan tidak bertemu dan selama itu dia puasa tentu dia sangat menginginkan istrinya itu.
"Aa mau apa, kenapa baju Shafa di lepas." protes Shafa saat tangan suaminya itu berhasil melepaskan satu persatu kain yang menutupi tubuhnya.
"Sebentar saja yank, Aa mau.." Setelah berkata begitu Jones langsung melahap bibir Shafa rakus dan ganas.
"Enghhhh Aa..emmmm." Shafa tidak bisa protes lagi karna sentuhan sentuhan Jones juga hal yang ia rindukan beberapa minggu ini.
Jones mencium dan melakukan foreplay cukup lama sehingga Shafa lupa tempat di mana mereka saat itu berada suaminya itu memang sangat lihai membuat dia lupa daratan dan membuat kesadarannya hilang.
__ADS_1
******* ******* keduanya untungnya tidak terdengar sampai keluar karna sebelum melakukan aksinya Jones sempat menghidupkan kran air sehingga yang terdengar hanya suara air yang jatuh kedalam bak penampungan air.
"Aa.." panggil Shafa, dia sudah tidak tahan lagi, sentuhan Jones pada tubuhnya membuat dia merasa terbang dan tidak sanggup berlama lama harus di cumbui.
Dia ingin Jones segera melakukan langkah selanjutnya, agar dia bisa melepaskan hasrat, sebab kakinya mulai gemetar karna terlalu lama berdiri.
Jones mengerti maksud panggilan Shafa pelan pelan ia mendorong miliknya yang panjang dan besar itu masuk dari arah belakang, sebab kalau dari depan dengan posisi berdiri sudah tidak memungkinkan karna perut Shafa yang besar.
"Akhhhh.. kenapa sempit lagi yank, apa karna Aa udah lama ngak masuk ya, uhhhh ini enak banget yank." oceh Jones sambil terus menggerakkan tubuhnya mendorong miliknya keluar masuk kedalam inti sang istri.
Jones mengerang pelan begitu juga Shafa saar mereka berdua sama sama sampai, Jones bersandar di dinding membawa tubuh Shafa di pelukannya sehingga Shafa juga bersandar pada tubuhnya yang besar.
Wajah Shafa memerah di saat sadar apa yang sudah mereka lakukan di kamar mandi outlet itu, Shafa mencubit paha Jones kuat karna kesal di ajak bercinta di sana.
"Sayang.. sakit dong." senyum Jones menahan sakit, dia paham kenapa di cubit sang istri meski merasa sakit tapi laki-laki itu tidak marah.
"Aa.. gimana kalau orang tau kita di sini, Shafa malu Aa." marahnya padahal dia juga menikmati permainan Jones.
"Biar aja yank, salah sendiri kenapa mendekat, kita kan suami istri jadi sah sah aja melakukan ini." senyum Jones mencium tengkuk Shafa berulang kali.
"Iya A.. tapi masa di sini, di kamar mandi." protes nya lagi, tapi dengan nyaman tubuh masih tetap setia bersandar di tubuh Jones.
" Lalu di mana lagi yank, ngak mungkin di luar kan." memeluk dan mencium bibir Shafa setelah ia membalik Shafa berhadapan dengannya.
Cukup lama laki-laki itu bermain main di bibir candunya itu sampai Shafa merasa hampir kehabisan oxigen barulah Jones berhenti.
"Udah Aa, cepat bersihkan tubuh Shafa, lihat udah betantakan baju Shafa." menunjuk baju Shafa yang tinggal atasannya saja, baju dalaman sementara baju luarnya sudah lepas dari badannya.
untung kamar mandi itu kering dan bersih sehingga baju mereka yang berserakan tidak kotor dan basah.
"Siap nyonya Jones." senyum Jones kembali mencium istrinya mesra.
Jones mengumpulkan baju mereka lalu menggantungnya di dinding, kemudian laki-laki itu memandikan sang istri dengan cepat karna takut kedinginan, dengan modal sabun cuci tangan Jones memandikan istrinya.
Setelah memandikan Shafa dan mengeringkan tubuh Shafa dengan baju kaosnya Lalu laki laki itu memakaikan baju sang istri sampai selesai, Shafa sengaja keluar lebih dulu karna takut di cari oleh sang mama dan Niken.
Sementara Jones masih membersihkan tubuhnya di dalam kamar mandi, tidak lama kemudian laki-laki itu keluar dari kamar mandi dengan wajah sumringah, sambil bersiul siul dia duduk di samping istri.
Bibir Shafa maju beberapa centi kedepan, wajahnya merah dan tampak lebih segar berbanding terbalik dengan bentuk bibir Shafa yang tampak kesal, padahal dia juga bahagia sehabis mendapatkan kepuasan dari
suaminya itu.
"Kenapa yank, masih kurang hmm." mengecup bibir Shafa mesra meski sang istri bersungut sungut.
Laki-laki itu masih saja bertanya masum padahal dia sendiri juga masih merasa kurang, dia masing menginginkan istrinya itu.
"Bukan Aa yang kurang ?." cebik Shafa dengan mata melotot pada sang suami.
"Iya yank, Aa masih kurang banget, kurang puas kalau masih satu ronde., yuk masuk lagi kedalam yank" senyumnya dengan alis naik turun menggoda.
"Aa..jangan macam macam, ishhhh Shafa malu tau." menutup wajahnya dengan kedua tangan, lagi lagi ia mengingat perbuatan mereka di kamar mandi tadi, sungguh perbuatan tidak terpuji menurutnya.
Tapi mau bagai mana lagi dia sendiri tidak mampu menolak keinginan suaminya karna dia juga merindukan belaian kasih sayang Jones.
Jones tertawa kecil menarik pelan kedua tangan Shafa yang menutup wajahnya, kemudian ia mengangkat lagi tubuh Shafa agar kembali duduk di pangkuan.
"Sayang..jangan malu gitu, ngak apa apa yank, namanya suami minta, sayang harus nurut dong perkara tempat apa boleh buat yank, udah kebelet sih." menoel hidung Shafa yang mancung.
"Hahh .. Shafa jadi ikut aneh gigara Aa, masa ia di sana sih." gerutu Shafa masih tidak terima ia melayani suami di kamar mandi umum, kamar mandi outlet, untung tempat itu sudah di tutup untuk umum coba kalau ada orang lain di sana dan mengetahui perbuatan mereka, mau di letak kemana wajah keluarga Wu.
Untungnya memang tidak ada orang lain yang tau pekerjaan keduanya di sana, karna Zahra dan yang lain masih sibuk memilih baju serta keperluan Shafa lainnya yang ada di outlet itu.
ππππππ
Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baikΒ terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.
Mari tetap semangat dan saling support
Dengan cara :
πͺ΄ LIKE
πͺ΄ RATE
πͺ΄ VOTE
πͺ΄ HADIAH yang banyak
πͺ΄KOMEN yang sebanyak banyaknya.
Wo Ai Ni all..
Happy Reading.
__ADS_1