UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
54. Beban Mental.


__ADS_3

Jones dan Shafa di temani para bodyguard sudah berada di parkiran, Rafa tentu juga ada di sana kini Jones dan Rafa tengah berdebat memperebutkan Shafa, Jones kekeh Shafa ikut di mobilnya sementara Rafa bersikeras Shafa harus ikut dengannya.


"Shafa calon istri gua, dia tentu harus ikut gua." ucapnya emosi.


"Baru calon kan, nah Shafa juga calon istri gua jadi


dia ikut gua, lu mau apa ." balas Jones.


"Apaaa." bukan hanya Shafa, Rafa dan para bodyguard yang terkejut mendengar kata kata Jones, Jones sendiri juga terkejut mendengar kata kata yang keluar dari dalam mulutnya.


"Dia mengaku calon suami kamu aku juga boleh dong, kan belum ada tanda atau pengikat di antara kalian." ucap Jones pada Shafa yang menatapnya bingung.


"Siapa bilang tidak ada, Mommy gua sudah ngasih cincin ke Shafa, cincin tunangan." Jawab Rafa.


"Mommy lu yang ngasih bukan lu yang pasangkan di jari Shafa kan, masa Mommy lu yang kasih aneh dong ngak mungkin Mommy lu yang tunangan sama Shafa kan, lagian mana cincinnya ngak ada di pakai sama Shafa tuh, jadi jangan ngaku ngaku lu ya, malu lah."


"Ishhh apa an sih kak, Uncle jangan ribut dong Shafa malu, dari pada gaduh begini Shafa naik mobil bareng kak Asiah saja." marahnya dan berjalan ke mobil miliknya sendiri.


"Jangan dong dek, Shafa ikut kakak saja." Rafa.


"Ngak ikut aku." Jones.


"Ngak duanya." marah Shafa masuk kedalam mobil, kemudian ia meminta Niken menjalankan mobil membawanya dari sana.


Kini tinggal Jones dan Rafa saling pandang dengan tatapan sama sama membunuh.


Di kantor Pusat.


"Ahirnya lu masuk kerja juga." mencebik pada Robby yang masuk ruangan dengan wajah datar.


"Gua tadinya ngak niat kerja lagi, tapi memgingat masih banyak pekerjaan yang belum gua selesaikan maka gua masuk, gua akan berhenti kalau semua tanggung jawab gua sudah selesai." jawab Robby dingin.


"Hmmm ngak perlu kalau lu mau berhenti silahkan, lu lebih memilih berhenti karna membela Jones is okay."


"Dasar berhati batu, lu sakitin sahabat lu sendiri lu benar benar tega ya." marah Robby.


"Gua pernah bilangkan, itu karna posisi gua ngak ada pada lu, jadi jangan banyak bicara."


"Apa sih salah terbesar Jones, hanya karna dia hampir seumuran dengan kita, hanya karna dia teman kita lu malu dan ilfil gitu ?."


"Iya .. karna itu, gua malu dan ilfil mau apa lu."


"Dasar lu jahat banget ya, hati lu terbuat dari apa sih kok bisa sekeras itu, sedikit saja lu lihatlah perjuangan Jones." menghentikan kata katanya sejenak karna beban emosi di dadanya.


"Dia juga awalnya sudah berusaha melupakan nona Shafa tapi tidak bisa karna rasa sayang dan cintanya yang besar membuat dia malah makin tidak bisa jauh dari nona, lalu apa masih salah ?? belum tentu nona lebih bahagia bersama laki-laki lain selain Jones."


Johan berdiri dari kursi kebesarannya, emosinya memuncak mendengar kata demi kata yang keluar dari mulut Robby yang sudah tidak bersopan lagi karna berani membentaknya.


"Lu dengar baik baik ya kadal, gua JOHAN WU sudah memberikan kesempatan pada si brengsek Jones untuk mendekati putri gua, gua biarkan dia berjalan dengan putri gua, gua biarkan dia mengambil hati putri gua tapi apa ?? sampai detik ini putri gua masih menganggapnya Uncle, paman ?? lalu menurut lu siapa yang salah hahhh."


Suara Johan terdengar melengking dan berapi api rahangnya sampai mengeras, bahkan tangannya tampak mengepal kuat ingin menghantam Robby, sedang Robby terdiam membisu.


"Emang lu kira gua semudah itu membiarkan putri gua jalan dengan orang lain selain keluarganya, emang lu pernah lihat gua membiarkan putri gua di dekati laki-laki lain selain Jones sebelumnya ?, anak anak kak Hengky dan kakak lainnya saja ngak pernah gua kasih kesempatan dekat dengan putri gua selain waktu mereka berkunjung ke rumah, lalu Jones apa ??."


Robby makin terdiam, apa yang di katakan Johan memang benar adanya.

__ADS_1


"Gua juga sudah kasih kesempatan pada si brengsek itu beberapa hari ini, gua menunggunya di rumah, katanya sesegera mungkin dia akan datang melamar putri gua begitu ia pulang dari rumah sakit, mana ?? setelah seminggu baru dia muncul, kenapa ?? hahhh."


Johan menghantamkan berkas yang ada di atas meja hingga berserakan di lantai, emosinya semakin jadi dan tidak terkontrol lagi.


"Apa pekerjaannya itu lebih penting dari putri gua, baru begitu saja dia sudah melupakan putri gua dia sibuk dengan pekerjaannya lalu bagai mana nanti kalau mereka sudah menikah dia pasti akan menomor duakan putri gua, dia juga akan menelantarkan putri gua, lu sebagai orang tua mau terima laki-laki seperti itu hahh, jawab gua."


Johan maju ke hadapan Robby, di tariknya kerah baju Robby kuat kuat, meski mereka hampir sama tinggi tapi karna emosi Johan berhasil mencekik Robby lewat kerah baju dan dasi di leher laki-laki itu, Robby diam, dia tidak melawan dia pasrah meski hampir kehabisan oxigen.


"Gua tau dan sadar pekerjaan dan profesi Jones apa, gua tau itu sudah jadi tugas dia sebagai dokter di bidangnya, tapi apa dia tidak bisa membedakan mana yang harus di segerakan mana yang harus di tunda, apa tidak ada lagi manusia lain selain dia yang harus bertugas pada waktu itu." ucap Johan makin memperkuat cengramannya di leher Robby.


"Apa tidak ada teman yang bisa di minta tolong gantikan sementara ?, jawabnya bukan tidak ada tapi karna dia sepele dan suka menunda nunda dan kalau lu ngak lupa sifat gua jauh dari kata itu, gua tidak suka yang namanya bertele tele, jadi karna dia tidak datang dan gua sudah memberi waktu wajar ngak gua terima kedatangan yang lain ?."


Ucap Johan masih berapi api.


Sadar wajah Robby mulai membiru dan Johan ingat perkataan sang istri kalau Johan tidak boleh lagi mengotori tangannya dengan yang berbau kekerasan ia lalu memghempaskan tubuh Robby ke lantai dengan kasar.


"Lu kira gua ngak punya hati hahh, lu kira gua iblis yang kejam dan tidak berperasaan ?? tau apa lu dengan hati gua, lu ngak tau kan bagai mana beban mental gua dalam memutuskan semua itu, lu ngak tau kan ?? lu taunya kalau hati gua sekeras batu."


Johan terduduk lemas di atas sopa ruangannya itu, berkali kali ia mengusap wajahnya kasar dan berusaha mengendalikan emosinya.


Robby menghirup oxigen sebanyak yang ia bisa, rasa sakit di leher dan dadanya mungkin belum seberapa di banding rasa sakit di hati Johan, ia sadar ia sangat egois ia sadar harusnya ia tidak memihak kemanapun, lebih baik netral.


Tapi ia malah menghancurkan hati sahabat dan malaikat penolongnya itu hanya karna ingin membela sahabat yang lain padahal Johan sudah memberikan Jones ruang meski tidak


mereka sadari.


"Maafkan gua bro, gua salah harusnya gua netral saja tapi gua berpihak, maafkan gua, gua terlalu cepat menilai lu buruk padahal sudah bertahun tahun kita saling kenal, maafkan gua, gua tidak berpikir ke arah sana gua tidak berpikir celah yang sudah lu berikan pada Jones, sekali lagi maafkan gua bro, maaf." ucap Robby berkali kali.


Johan diam, ia sudah mulai bisa menetralkan emosinya namun ia tidak mau mengangkat wajahnya karna ia masih sangat marah


Robby bangkit dari atas lantai, ia berniat keluar dari sana memberikan ruang untuk Johan mengendalikan emosinya karna setiap kata yang keluar dari mulut Robby Johan sama sekali tidak perduli dan tidak menanggapinya.


Ketika Robby akan sampai ke daun pintu.


"Gua bahkan tidak memaksakan kehendak gua pada putri gua, gua biarkan ia taaruf dengan anak pak Hartono karna gua ingin putri gua bahagia, andai putri gua merasa tidak cocok dengan Rafa maka gua tidak akan memaksa meski gua tau putri gua pasti akan menuruti semua perintah gua kalau gua bilang dia harus menikah dengan laki-laki itu pasti putri gua setuju, tapi gua tidak melakukannya."


Robby tertegun, ia berbalik menghadap Johan dadanya terasa sesak mendengar kata kata laki-laki itu, seakan di sana ada makna masih ada kesempatan dan harapan bagi Jones asal ia gigih dan berusaha.


"Terimakasih bro." entah terimakasih untuk apa tapi Robby mengucapkannya.


""""""""""


Sudah hampir dua minggu setelah kejadian hari itu Rafa dan Jones sama sama berusaha mendekati Shafa, di mata Shafa Rafa baik dan perhatian tapi keras kepala serta suka memaksakan kehendak sehingga Shafa merasa kurang nyaman dan tertekan.


Sementara Jones juga baik perhatian dan penuh kasih sayang tapi posesif, sayang Jones hanya menganggapnya keponakan dan Shafa juga menganggap paman,( pendapat sepihak Shafa ).


"Mana Shafa, sudah selesai kuliahnya." tanya Rafa angkuh pada Lila dan bodyguar lainnya.


"Nona belum keluar kelas tuan muda." jawab Lila sopan tapi kesal.


"Hmmm baiklah kalian pulang lebih dulu gua akan menunggu Shafa pulang, nanti gua antarkan lu semua jangan kwatir." ucapnya tampa menoleh pada Asiah dan yang lain.


"Maaf tuan muda, tugas kami menjaga nona kami akan pulang kalau nona pulang." Asiah.


"Lu lupa gua calon suami Shafa hahh, gua bilang pulang lu semua pulang." bentak Rafa.

__ADS_1


"Maaf tuan muda, kami ngak bisa meninggalkan nona, kalau tuan muda mau ajak nona jalan kami juga harus ikut, itu perintah tuan besar." Asiah.


"Sialan, lu berdua, emang bandel ya, awas saja kalau gua sudah nikah sama Shafa gua akan tendang kalian semua." umpat Rafa kesal.


Asiah dan Lila saling pandang, kemudian mereka melirik pada bodyguar laki laki lainnya, memberi kode dengan tangan ala bodyguar di mana hanya mereka yang tau artinya.


Para bodyguard duduk di dalam mobil berkaca gelap tak jauh dari mobil Shafa tampa sepengetahuan Rafa, laki-laki itu mengira hanya Asiah dan Lila yang ada di sana menunggu


Shafa pulang.


"Gimana lagi cara gua mengusir mereka, sialan pemgawalannya makin ketat saja." gumam Rafa.


Ia teringat kata kata Daddynya tadi sebelum berangkat ke kampus Shafa.


Flasback on..


"Sudah hampir dua minggu kau belum juga bisa merebut hati gadis itu, bagai mana sih masa laki-laki seperti mu ngak bisa merayu dan mendapatkannya." marah Hartono pada Rafa di ruang kerjanya.


"Apa apaan sih Daddy, emang semudah itu, Daddy kira rasa suka itu bisa muncul kapan saja sesuka hati Daddy, apa lagi si dokter Jones selalu ngintilin kemana Shafa pergi, belum lagi bodyguarnya yang banyak yang selalu waspada, kemana mana selalu bareng, gimana mau buat Shafa dekat sama gua."


"Dokter itu cuma sahabat papanya, cuma dosennya masa kau pusing ngadapinnya, mereka tidak ada hubungan apapun, masalah bodyguar kau pikir sendiri bagai mana menyingkirkan kannya, Daddy tidak mau tau apapun caranya kau harus segera mengambil hatinya dan mendapatkannya titik."


"Iya Daddy, Daddy tenang saja, nanti gua bukan hanya mengambil hatinya, gua akan ambil perawannya sekalian."


"Hahh jangan macam macam Rafa, mau cari mati kau ya, jangan lakukan apapun yang membuatnya terluka atau sakit, nyawa mu dan nyawa kita semua yang akan jadi taruhannya."


"Tenang saja Daddy gua punya cara sendiri, Shafa tidak akan bisa menghindar dari gua nanti dan dia tidak akan berani memgadu pada orang tuanya kalau dia tidak mau malu dan terhina."


Handoko terdiam, ia menyimak kata kata yang keluar dari mulut anak laki-laki pewaris tunggal perusahaannya itu.


"Terserah, lakukan yang rapi, ingat tuan Johan dan Kings grup orang orang yang sangat kejam." memperingatkan Rafa.


"Jangan kwatir Daddy, anak mu ini sangat pintar, gua sudah lelah mengejar dan menunggu kata iya dari Shafa, ini saatnya gua bertindak lain." seringainya.


Flasback Off.


**********


Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik  terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.


Mari tetap semangat dan saling support


Dengan cara :


💝 LIKE


💝 RATE


💝 VOTE


💝 HADIAH yang banyak


💝KOMEN yang sebanyak banyaknya.


Wo Ai Ni all..

__ADS_1


Happy Reading.


__ADS_2