
" Masa sih kita ngak bisa pergi berdua saja, masa sih kemana mana harus ada pemgawal, kapan kita bisa dekat dan saling mengenal satu sama lain kalau kemana mana harus di ikuti, aku risih tau, seperti aku laki-laki yang tak berguna dan tidak bisa menjaga kamu saja."
Kata kata Rafa terdengar memelas meminta Shafa agar ikut dengannya berdua saja tampa harus bersama orang lain.
"Shafa ngak boleh sama papa kalau pergi tampa kakak kakak Shafa kak, maaf ya."
"Hahh kampungan banget sih, kan ada aku dek, ayolah kita kan perginya ke mall saja ngak apa apa dong berdua ?."
Rafa tetap memaksa agar Shafa ikut dengannya, meski hati Shafa sakit mendengar kata kata kasar Rafa dan meski berat hati ahirnya Shafa ikut juga tapi Rafa tetap tidak mengizinkan Niken dan yang lain ikut.
Bagi Shafa dan para bodyguar tidak apa apa toh para bodyguar yang lain bisa mengikuti kemana mereka pergi tampa sepengetahun Rafa.
Awalnya mereka memang ke mall, mencari barang barang yang sebenarnya tidak terlalu di butuhkan oleh Shafa atau pun Rafa sendiri.
"Kita makan dulu dek ?." ajak Rafa setelah hampir dua jam mereka keliling di mall itu.
"Ngak usah kak, Shafa belum lapar ."
"Tapi aku lapar, kita makan saja ya sedikit saja." bujuk laki-laki itu.
"Baiklah kak, tapi makan di sini aja ya."
" ngak lah, kita makan di luar saja, aku tau di mana tempat yang enak dan santai, ayo ngak jauh kok." menarik tali tas yang Shafa pakai.
Shafa menurut ia mengikuti langkah panjang laki-laki itu, belum ada laki-laki sekasar itu padnya membuat hatinya makin sakit.
Sementara itu Jones yang terlambat datang menjemput Shafa berdecak kesal setelah tau Shafa di bawa oleh Rafa ke mall, hatinya tiba tiba terasa sakit dan was was takut terjadi sesuatu pada gadis itu.
Lalu ia mencari tau ke mall mana Shafa pergi, setelah mendapat info dari Niken Jones langsung berangkat menuju mall itu, bagai mencari jarum di dalam tumpukan jerami tentu tidak mudah menemukannya.
Jones seperti orang stres mencari cari di mall besar itu, tampa tau di lantai berapa dan di toko mana, bagai mana mencarinya.
"Kamu mau makan apa dek ?."
" Shafa ngak makan kak, Shafa minum lemon
tea dingin aja."
"Masa aku makan sendiri sih, kamu makan juga dong, ayolah kamu mau apa ?."
"Ngak kak, Shafa beneran ngak lapar."
" Kenapa ngak makan, bingung ya karna pakai cadar ? buka aja cadarnya dek, kita kan di ......
Room, ngak ada yang lihat selain aku, lagian aku kan calon suami kamu ngak apa apa.dong
kalau aku lihat." godanya.
"Bukan karna itu kak, Shafa memang ngak lapar kak, kakak makan saja ngak apa apa."
"Mhhh ya sudah aku juga ngak makan, ngak enak makan sendiri, sudah aku pesan minum saja." ucapnya dengan nada pasrah.
__ADS_1
"Ngak apa kak makan saja." ucap gadis itu ngak enak hati, mungkin Rafa memang
lapar pikirnya.
Ya udah Shafa makan juga kak, tapi Shafa
makan nasi goreng saja ya."
"Iya ngak apa apa, itu juga boleh yang penting kamu temani aku makan." senyumnya.
Setelah berbincang bincang dan Rafa tanya ini itu memberi masukan saran dan nasehat pada Shafa seputar pendidikan ilmu agama dan hal lainnya mereka pun mulai makan karna pesanan mereka sudah sampai.
Rafa makan nasi putih dengan lauk yang sudah ia pesan, ia makan menggunakan tangan karna ingin membuat Shafa simpati, waktu makan malam di rumah besar Rafa melihat semua orang yang ada di sana makan pakai tangan bukan sendok.
"Enak nasi gorengnya ?." dari tadi memperhatikan Shafa makan, ia bahkan sengaja pindah duduk di samping gadis itu karna ia ingin melihat wajah Shafa, sebab gadis itu selalu menolak untuk menunjukkan wajahnya.
Shafa bukannya baper di perhatikan laki-laki ganteng sedekat itu, tapi ia merasa risih berkali kali Shafa menggeser duduknya berkali kali juga Rafa mengikuti.
"Kenapa sih di lihat dikit aja ngak apa dong." ucap Rafa menahan kesal.
"Laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim tidak boleh terlalu dekat duduknya kak."
"Iya aku tau, tapi kan masih berjarak, toh kalau udah nikah udah ngak berjarak lagi kan." godanya membuat Shafa merinding.
Shafa terdiam, ia mengambil air minum dan menyeruputnya pelan, tengah minum tampa Shafa sadari Rafa semakin dekat dengannya dan tiba-tiba laki-laki itu menarik cadar Shafa ke atas.
Deg.. deg ..deg..deg
Cekret.. bidikan camera depan handphone Rafa mengambil tepat gambar mereka berdua dengan posisi dekat.
Shafa yang masih terkejut akibat ulah Rafa yang membuka cadarnya tiba tiba tetap diam sampai Rafa sendiri yang menutupkan cadarnya kembali, dengan senyum sumringah Rafa menatap Shafa penuh cinta.
"Pulang dari sini aku akan bilang ke papa mu agar segera menikahkan kita ya, hmm kamu
sudah siap kan dek ?." tanyanya lembut.
Shafa diam, dia tidak tau harus jawab apa yang ia bisa hanya diam, bola matanya yang indah berputar putar seakan berpikir tapi tidak tau apa.
Setelah selesai makan Rafa segera membawa Shafa keluar dari restoran mewah itu, ia memperlakukan Shafa bagai ratu, ia membukakan pintu untuk gadis itu hal yang belum pernah ia lakukan sebelumnya.
Di sepanjang jalan ia terus saja bersiul siul, raut bahagia terpancar jelas di wajahnya yang tampan dan baby face itu.
Jones sendiri yang sudah kebingungan mencari Shafa ahirnya ia putuskan menunggu Shafa di rumah besar, ia sudah berada di sana saat Shafa dan Rafa sampai.
Dari dalam rumah besar itu tampak jelas keluar bagai mana Shafa turun dari dalam mobil mewah milik Rafa, laki-laki itu kembali membukakan pintu untuk Shafa.
Jones berjalan cepat keluar menyambut gadis pujaannya yang berjalan tampa semangat di ikuti oleh Rafa yang membawa tas belanjaan
milik Shafa.
"Hai gils kemana saja, aku cari cari dari tadi." tanya Jones menatap Rafa sengit.
__ADS_1
"Hai Uncle, apa kabar, kami jalan jalan dong beli beberapa keperluan calon istri." Rafa yang menjawab lebih dulu.
"Cih gua ngak nanya lu."
"Jangan marah marah Uncle nanti makin tua."
ejek Rafa.
"Jangan banyak gaya, lu juga sudah tua dua puluh tujuh tahun lu lupa kali ya."
"Iya sih tapi masih tua Uncle, iya kan sayang." ucap Rafa memanggil mesra Shafa.
Wajah Jones memerah mendengar Rafa memanggil Shafa, ia lalu menatap mata Shafa menangkap sinyal aneh dari sana
sinyal bingung,
Shafa tidak ingin mendengar perdebatan kedua laki-laki itu ia langsung masuk kedalam rumah tampa mengajak Rafa dan Jones masuk.
"Maaf Uncle Shafa capek, Shafa masuk dulu ya." ucapnya pada Jones.
"Iya gils, istirahat lah." jawab Jones dengan hati gindah gulana.
Tinggal mereka berdua masih berada di luar rumah, mereka saling tatap dengan tatapan sama sama membunuh.
"Sana lu pulang, lu ngak di butuhkan di sini." usir Jones kasar pada Rafa.
"Sepertinya lu yang ngak di butuhkan di sini, jadi lu yang pulang duluan, gua masih mau bertemu camer mau tentukan tanggal pernikahan kami, atau lu mau ikut membicarakannya ?."
Kata kata Rafa menusuk jantung dan memporak porandakan hati serta jiwa Jones, apa dia sudah kalah apa Shafa sudah menerima Rafa bermacam pertanyaan hadir di otaknya.
*********
Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.
Mari tetap semangat dan saling support
Dengan cara :
🌻LIKE
🌻RATE
🌻VOTE
🌻 HADIAH yang banyak
🌻KOMEN yang sebanyak banyaknya.
Wo Ai Ni all..
Happy Reading.
__ADS_1