UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
48. Membalon.


__ADS_3

Siang itu Robby mendatangi sang bos untuk menyerahkan beberapa file, wajahnya tampak jutek seperti anak perempuan yang sedang PMS rasa kecewa dan marahnya tidak juga hilang meski sudah berhari hari.


"Kenapa muka lu makin jelek, lu lagi PMS ?." ejek Johan.


" Iya gua lagi PMS urusan apa lu."


"Cihh gua ngak perduli juga."


"Dasar manusia berhati batu plus es, tidak ada perasaan dan tidak ada hati."


"Terserah."


" Lu lupa kebaikan Jones ?, lu lupa dia yang sudah banyak berkorban untuk putri lu, lu lupa sudah berapa kali Jones hampir mati demi menyelamatkan putri lu, asal lu tau ya meski lu memilih laki-laki yang lu anggap pantas buat nona belum tentu laki-laki itu menyukai dan mencintai nona seperti Jones, lu janga menyesal nanti."


" Tau apa lu, lu cuma bisa mendikte orang, lu ngak tau isi otak gua dan hati gua kan, itu karna posisi gua ngak bertempat di lu, andai posisi gua lu yang rasakan belum tentu lu tidak melakukan hal yang sama dengan gua, lu pikir gua bahagia mengambil keputusan ini dan lu ingat baik baik guajuga masih punya hati."


Ahirnya emosi Johan meledak juga, ia mengeluarkan semua isi hatinya pada sang sahabat dan Robby hanya bisa mematung mendengar kata kata Johan.


Benar apa kata sang sahabat andai itu di posisinya apa yang harus ia lakukan bisa saja dia juga akan melakukan hal yang sama, walau bagai manapun seorang ayah pasti akan tetap menginginkan yang terbaik buat anaknya begitupun Johan.


Kali ini bukan Robby yang keluar dari ruangan sang bos tapi justru si bos sendiri yang keluar dari ruangannya, meninggalkan Robby yang masih setia mematung di tempatnya.


Laki-laki itu berjalan dengan cepat menuju lantai bawah dengan menggunakan lift khusus Ceo dan pentingi kantor itu.


"Kita pulang." titahnya pada Riko sang supir.


"Baik tuan." membukakan pintu mobil untuk


Johan.


Mobil melaju kencang atas perintah Johan membelah keramaian lalu lintas siang itu, tidak lama kemudian mereka sampai di rumah utama Johan turun tergesa gesa lalu masuk kedalam rumah.


"Papa.. wo ai ni." teriak Janeet merentangkan kedua tangannya ke arah sang papa.


"Wo ye ai ni Mei mei kesayangan papa." wajah sangar dan kaku Johan seketika hilang total begitu melihat dan mendengar suara sang putri.


Johan meraih tubuh gempal Janeet ia ciumi kedua tangan dan pipi sang putri membuat gadis kecil itu tertawa cekikikan.


"Sudah pulang son." Daddy Wu datang bersama Mommy yang mendorong kursi roda Daddy.


"Sudah Daddy, apa kabar hari ini sudah makan obat kan Daddy." Mencium tangan Daddy kemudi Mommy.


"Sudah dong, menantu dan cucu Daddy calon dokter cantik mengawasi Daddy dalam makan makanan dan makan obat dengan ketat, lihatlah Daddy mu ini makin sehat bukan."


"Alhamdulillah iya papa, papa malah tambah muda di rawat tiga wanita cantik di rumah kita." senyum Johan yang tidak sadar sudah menyulut api di dalam gendongannya.

__ADS_1


"Papa.. Annett cantik Annett cantik paling cantik huaaaa Wǒ shì zuì měilì de huaaaa." gadis kecil itu meronta ronta dalam gendongan papanya.


Tangannya mencakar dan mencubit tangan Johan karna marahnya, Opa dan oma hanya bisa tertawa melihat kemarahan cucu mereka itu tampa berniat menolong Johan.


" Shi de shi de shijie shang zui meili de, paling cantik sedunia cup cup cup jangan nangis dong nanti luntur cantiknya." bujuk Johan sabar.


"Mei mei kenapa kok marah." Zahra, Shafa dan Maili datang membawa kantong belanjaan, mereka baru pulang dari mini market yang ada di perumahan mewah itu.


"Jie jie.. kapan datang, kok lain penampilannya." goda Johan yang melihat Maili memakai baju longgar.


" Diam lu." jawab Maili sewot.


Shafa berjalan mendahului bersama Daddy Wu dan Mommy menuju ruang keluarga, tinggal Johan Zahra, Maili dan Janeet yang masih nemplok pada sang papa meski masih marah.


"Koko ngak tau aja, itu hasil pertempuran dan perjuangan berbulan bulan." tawa Zahra memegangi perutnya.


"Iya juga, pantas ngak melanglang buana lagi ternyata sudah tertahan karna itu." goda Johan memberi kiasan kata agar Janeet tidak ikut campur dan banyak tanya.


"Huhhh banyak bacot, tuh lu selalu buat balon ntar lagi juga kempes, gua mah baru ini doang dengan suami, wajar dong kita juga mau adek adek." Maili.


"Hati hati dan rajin periksa jie jie, ingat umur gua ngak mau jie jie kenapa napa." Johan berkata serius saat ingat umur Maili yang sudah empat puluh dua tahun.


"Iya gua tau, jarak umur gua dengan Zahra juga cuma lima.tahun, lihat lu udah berapa kali tiap perutnya, tuh membalon." ejeknya.


"Balon Aunty ?? Annett mau .."


Zahra dan Maili sama sama tertawa melihat Johan yang salah tingkah menjawab permintaan sang putri.


Jika Maili dan Janeet pergi keruang keluarga Zahra sendiri mengikuti Johan menuju kamar mereka, Zahra tau dari sorot mata suaminya itu ada sesuatu yang membebaninya.


"Koko kenapa, kok sudah pulang baru aja dari rumah udah pulang lagi." membantu melepaskan jas Johan.


Laki-laki itu melonggarkan dasi yang masih melekat di kerah bajunya, ia menarik napas dalam dalam lalu membawa Zahra duduk di sopa yang berada di dalam kamar.


"Koko berantem dengan Robby yangk."


"Lagi ?."


"Hmmm mukanya jutek terus koko tanya malah koko di marahnya, koko kan kesal yangk." adunya.


Lalu Johan menceritakan dengan detail pertengkarannya dengan Robby, Zahra yang mendengar menghela napas mau bagai mana lagi hal yang mereka berdua kwatirkan ahirnya


terjadi juga.


Robby pasti akan sangat marah, dan sudah terlihat tanda protesnya lalu bagai mana dengan Jones, laki-laki itu belum tau kalau Johan akan menjodohkan Shafa dengan orang lain, andai dia tau apa yang akan terjadi.

__ADS_1


"Koko .. keputusan koko sudah benar benar bulat ? memang apa yang di katakan pak Robby ada benarnya belum tentu anak pak Hartono bisa menyayangi dan mencintai Shafa seperti dokter Jones mencintainya, tapi mau gimana lagi ko."


"Iya sayang, keputusan koko sudah bulat meski koko tau resiko yang akan koko hadapi, biarlah Jones dan Robby membenci koko kelak koko harap mereka paham dan menerima keputusan koko, koko hanya ingin yang terbaik buat putri koko sayang."


Johan diam sejenak.


"Bukan berarti Jones orang yang tidak baik buat Shafa yangk, bisa saja dia orang yang tepat buat kak Shafa, bisa saja, karna kita memang tidak tau kuasa Allah, tapi kalau boleh meminta koko tetap ingin Shafa menikah dengan orang yang sesuai


Johan berkata lirih, ia menyandarkan kepalanya di bahu Zahra, terlihat betul dari cara bicara dan bahasa tubuhnya yang lemah karna harus mengambil keputusan dengan resiko berat akan kehilangan sahabat sekaligus persaudaraan yang sudah di bina bertahun tahun.


"Namun meski sudah koko simpulkan tetap saja keputusan ada di tangan kak Shafa, koko tidak mau memaksakan kehendak koko padanya, putri koko yang pakai putri koko juga yang jalani jadi keputusan tetap di tangannya."


Nada bicara Johan makin lemah, berkali kali laki laki itu menarik napas dan menghembuskannya kasar, Zahra mengerti dengan perasaan suaminya itu keputusan yang Johan ambil memang berat.


"Lagi pula, andai kita sudah setuju dan kak Shafa juga setuju kita juga harus tetap meminta pendapat ayahnya kan sayang, karna kak Shafa bukan hanya putri kita, kita yang setuju ayahnya belum tentu, bisa saja ayahnya punya calon lain yang ia anggap cocok, kalau begitu koko juga tidak akan menentangnya."


"Iya ko, nanti koko hubungi saja kalau Shafa sudah bertemu dengan anak pak Hartono." membelai kepala Johan yang kini sudah berada di pangkuannya.


"Apa tidak lebih baik kita hubungi sekarang saja yangk, lebih cepat lebih baik, kita tidak perlu menunggu keluarga pak Hartono datang dulu, nanti malah ngak enak yangk, sudah kita jodohkan baru ngomong sama ayahnya."


"Iya betul juga ko, ya sudah terserah koko saja." jawab Zahra.


"Baik yangk, koko suruh Aldo telepon Aswin dulu." Johan mengambil benda pipih yang berada di atas meja lalu ia menghubungi Aldo untuk mengimfomasikan kalau ia ingin bicara dengan Nazwan.


Johan belum pernah bicara dengan Nazwan setelah pertemuan dulu saat Nazwan yang ingin mengambil Zahra darinya, dan saat Shafa membantu meyakinkan Nazwan kalau Zahra bahagia bersama sang papa.


Karna itu Johan meminta Aldo terlebih dulu menghubungi Aswin sebab nomor handphone Nazwan juga tidak ada pada mereka.


********


Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik  terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.


Mari tetap semangat dan saling support


Dengan cara :


🪴 LIKE


🪴 RATE


🪴 VOTE


🪴 HADIAH yang banyak


🪴KOMEN yang sebanyak banyaknya.

__ADS_1


Wo Ai Ni all..


Happy Reading.


__ADS_2