
Hati Johan lega setelah berbincang kaku dengan Nazwan, awalnya Nazwan shoc mendengar cerita Johan tentang sakit yang di derita putri tunggalnya itu.
Tapi setelah di jelaskan oleh Johan bersama dokter wanita yang di suruh Johan datang untuk berbincang dan menjelaskan pada Nazwan barulah laki-laki itu merasa tenang dan dia juga menyerahkan semua keputusan di tangan Johan, Zahra dan Shafa.
"Gimana dek, jadi Shafa menikah dengan
pilihan Johan." tanya Maili yang sibuk memetik buah bersama Zahra di taman belakang.
"Jadi kak, tapi keputusan di tangan Shafa dia mau atau tidak pada calonnya itu, kalau Shafa tidak mau tidak jadi kita cari yang lain." Zahra.
"Ngak ta.. taa apa namanya ?."
"Taaruf kak ?."
"iya itulah, kan biar lebih gampang buat Shafa mengenalnya." Maili.
"Hmm kata papanya ngak usah kak."
"Loh kenapa, kan masih ada waktu, taaruf satu atau dua bulan, kan bukan penyakit yang terlalu berbahaya, kita tetap usaha dengan obat dan terafy lainnya sebelum pemeriksaan, obat obat herbal yang di jemput Uncle Wu dan Aunty ke kampung ( cina ) juga pasti bisa bantu kok."
marah Maili.
"Iya kak, tapi papanya takut kelamaan kak." berpikir sejenak lalu meletakkan buah belimbing yang baru ia petik dari pohonnya.
"Wahh wah.. omak omak ( bahasa khas medan ) hamil dua nih asik makan rujak tiap hari ngak bosan apa ?." Johan tiba tiba muncul membawa bumbu rujak yang di suruh antar oleh Mommy.
Johan meletakkan bumbu rujak di atas meja lalu ia mendekati Zahra memeluknya dari belakang kemudian mencium tengkuk Zahra yang tampak putih mulus karna tidak tertutup hijab.
"Koko.."
"Sayang.."
"Hei jangan sok pamer ya, sementang laki aku ngak ada hiks ( logat medan)." Maili mencucut.
"Hahahaha maaf Jie jie lupa ada jablay di sini." tawa lepas Johan.
"Jablay pala mu."
Maili dan Zahra menyerahkan keranjang buah pada Johan dan di sambut Johan bingung.
"Kok bengong sana cuci buahnya ko, kami mau makan rujak." Zahra.
"Ouhhh baik nyonya Jo, asiap.." laki-laki itu segera berjalan ke arah wastapel yang tidak jauh dari mereka.
Zahra dan Maili duduk di kursi taman menunggu buah, mereka kembali berbincang melanjutkan pembicaraan mereka yang terputus karna kedatangan Johan tadi.
"Jo.. kapan keluarga pak Hartono datang." Maili menerima potongan buah dari Johan dan mencocolkannya ke bumbu rujak.
"Nanti malam jie jie, kita akan makan malam bersama mengenalkan Shafa dan Rafa." jawab Johan memberikan potongan buah pada istrinya.
"Langsung jadi kalau Shafa terima." Maili.
"Iya kak, untuk apa tunggu lama lama kalau
sudah cocok."
"Tidak taaruf dulu ?."
"Tidak kak, kalau Shafa sudah setuju paling lama dua minggu, kita juga belum akan membuat pesta kok karna umur Shafa belum genap delapan belas tahun, satu bulan kemudian pas ulang tahun Shafa di situ baru kita resmikan."
__ADS_1
"Ohh gitu ya, tapi menurut gua berikan Shafa kesempatan mengenal laki-laki itu, jangan karna lu sudah menyelidiki latar belakang laki-laki itu lantas lu merasa sudah ok." menjeda kata katanya karna kepedasan dan minum.
"Belum tentu hasil pencarian informasi dari orang lain lebih akurat dari pengelihatan lu dan Shafa, baik Shafa dan Lu juga harus tau dan mengenal laki-laki itu dulu sebelum pernikahan terjadi, jangan karna ketakutan lu tentang penyakit Shafa lantas lu gegabah mengambil keputusan ini bukan hanya tentang kegadisan Shafa tapi juga tentang masa depannya, lu paham maksud gua kan ?."
Menatap Johan tajam, maksud dari kata kata Maili jangan karna ingin melepaskan keperawanan Shafa untuk pemeriksaan lantas sembarangan mengambil keputusan.
Johan terpaku mendengar kata kata Maili seketika wajahnya memerah saat sadar kebodohannya iya betul kata Maili ini bukan hanya tentang kesucian yang harus di ambil tapi juga jangka panjang kehidupan Shafa selanjutnya.
"Jie jie benar, maaf yangk koko ngak berpikir sampai ke sana kalau begitu biarkan Shafa mengenal laki-laki itu lebih dulu sampai waktu yang Shafa mau, kalau Shafa setuju kita akan menikahkan mereka kalau tidak kita cari
yang lain."
"Iya ko, Ara juga berpikir begitu, makasih kak atas nasehatnya koko dan aku sudah bingung kak makanya mikirnya ngak sampai segitu."
"Iya sayang, itu gunanya kita keluarga kita ada untuk saling melengkapi dan saling mendukung."
"Iya jie jie gua juga ngucapin terimakasih nasehat Jie jie, o iya gua sudah menghubungi semua kakak kakak untuk hadir malam nanti, gua sudah menceritakan semuanya pada mereka."
"Bagus lah, syukur mereka bisa datang."
"Mereka semua akan datang jie jie."
"Apa pendapat kak Hengky dan kak Hasan anak anak mereka kan kalau ngak salah pernah suka pada Shafa." senyum Maili.
"Ahh itu kan dulu saat Shafa masih kecil, sekarang mereka pasti sudah lupa kak." tawa kecil Zahra mengingat Barry anak Hengky dan Lufi anak Hasan bertengkar karna memperebutkan Shafa ingin jadi istri mereka.
"Itu bukan hanya anak kak Hasan dan kak Hengky anak kak Salman, kak Rhaja, kak Djoko bahkan anak kak Ridwan juga suka pada Shafa padahal Shafa masih bau ompol." tawa Johan cekikikan.
"Memang pesona Shafa dari kecil sudah terlihat, itu maka anak anak mereka selalu rajin datang ke mari bersama papanya karna ingin bertemu Shafa, untung Shafa sudah pakai cadar kalau mereka lihat wajah Shafa yang super itu takutnya mereka akan membelah belah Shafa hahaha." Maili.
"Iya untunglah kak." Zahra ikut tertawa.
Zahra dan Johan saling tatap.
"Ngak kak ngak boleh, nanti persaudaraan kita rusak karna memperebutkan Shafa dan andai salah satu di antara mereka menjadi pilihan Shafa dan menikah dengan Shafa, kelak kalau ada masalah di rumah tangga mereka keluarga kita akan berantakan dan bermusuhan Ara ngak mau itu terjadi kak."
"Iya betul kakak juga berpikir begitu."
"Ahhh dulu mamanya di perebutkan ayah ayah mereka sekarang putrinya yang di perebutkan memang pesona mama dan anak sungguh luar biasa, untung gua dapat mamanya, gua so laki-laki paling beruntung di dunia, gua mengalahkan banyak rival hahaha."
"Ihhh koko ngomong apa sih." mencubit
lengan Johan.
"Atitt yangk hahaha."
Zahra dan Maili geleng geleng kepala, mereka lalu berbincang panjang lebar sambil menikmati rujak dan buah segar yang baru di petik dari pohonnya.
Sementara itu di kamar Shafa ia tengah rebahan di atas tempat tidurnya, ia tengah membalas pesan pesan masuk dari teman temannya.
Handphone di tangan Shafa bergetar karna ada panggilan masuk, dengan cepat Shafa menarik tanda panggil warna hijau itu kesamping.
"Assalamualaikum wrwb."
"Waalaikumsalam wrwb, hai gils apa kabar." sapa seseorang dari sebrang.
" Kabar baik Uncle, Uncle gimana kabarnya."
" Buruk." suara memelas.
__ADS_1
"Loh kenapa ?, Uncle sakit ?."
" Iya girl.. sakit merindu."
" Caileee yang rindu cie cie.., datangin dong bilang kalau rindu, beres kan, rindu itu jangan di tahankan Uncle nanti sekarat hehehe."
"Udah sekarat pun." Jones tertawa kecil menikmati suara merdu Shafa.
"Jangan dong Uncle, kasian Auntynya nanti Janda, janda sebelum jadi hahaha."
"Emang mau ya ?."
"Mau apa Uncle ?."
" Mau kamu."
"Hahh kok Shafa, Shafa ngak ngerti, kenapa ?." tanyanya bingung.
"Nanti deh aku bilangin, kamu udah makankan." salah tingkah mengalihkan pembicaraan.
"Udah dong Uncle, dari siang pun, ini kan udah sore kalau belum makan bisa keluar taring papa."
Jawab gadis itu.
"Iya juga, papa mu kan emang drakula."
"Ishhh jangan bilang gitu dong Uncle, papa Shafa gitu karna sayang sama Shafa."
"Hehehe maaf gils bercanda."
"Malam ini ngak kemana manakan gils."
"Ngak Uncle, emang kenapa ?."
"Ada deh la..la..la..la hahaha."
"Ishhh gitu ya." mereka ahirnya berbincang ngalur ngidul sampai kemana mana, hingga waktu Ashar tiba barulah menghentikan obrolannya.
*******
Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.
Mari tetap semangat dan saling support
Dengan cara :
🍀LIKE
🍀RATE
🍀 VOTE
🍀HADIAH yang banyak
🍀KOMEN yang sebanyak banyaknya.
Wo Ai Ni all..
Happy Reading.
__ADS_1