
Burung burung bernyanyi riang berterbangan kesana kemari, angin pagi yang sejuk menusuk kulit, bau asap pembakaran daun serta kayu tercium hangat menenagkan jiwa karna ada aroma daun cengkeh serta aroma rempah lainnya.
Shafa keluar kamar mengendus endus bau bauan yang cukup wangi, Shafa mematung di tengah pintu belakang melihat ayahnya serta Jones sedang olah raga berdua di halaman belakang.
Jones yang memakai baju tampa lengan serta celana trening panjang tampak gagah dan atletis otot otot lengan serta dadanya terlihat keren.
"Astagfirullah.. mataku ternoda." tawa kecil Shafa mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Ngapain bengong di sini nduk." sapa mbah wedok wanita berumur lanjut tapi masih lincah, wanita yang sedari dulu menemani dan menjaga Shafa sejak kecil.
"Mbah wedokkk.. ya Allah kangen, apa kabar." Shafa memeluk wanita itu erat.
"Alhamdulillah sehat nduk." balas memeluk.
"Ayo duduk sini mbah." menarik pelan tangan mbah wedok kekursi bambu di belakang.
"Tunggu dulu, mbah ambil makanan kesukaan Shafa, ketupat nasi mbah udah buatkan dari tadi malam."
"O iya mbah, Alhamdulillah Shafa kangen juga sarapan pake ketupat nasi." Shafa ikut beranjak kedapur mengikuti lansia itu.
Setelah membawa ketupat serta minuman Shafa langsung melahap makanan khas daerahnya itu, meski kesulitan karna pakai cadar tapi Shafa bisa menghabiskan sampai tiga buah ketupat.
"Enak banget mbah, Shafa suka, makasih mbah."
"Alhamdulillah kalau Shafa masih suka, mbah kira sudah lupa makanan kampung."
"Ngak dong mbah, mbah ikut Shafa aja ke rumah ya, dulu mbah ngak mau ikut karna .." Shafa menghentikan ucapannya karna takut lansia itu tersinggung.
"Maaf mbah, Shafa lupa, maaf juga Shafa dan mama ngak pulang pas mbah lanang sakit sampai ngak ada, maafin kami ya mbah." sesal Shafa menunduk.
"Ngak apa apa nduk, mbah sudah iklas tapi maaf mbah ngak bisa ikut karna mbah juga harus mengurusi ayah Shafa."
Setelah di tinggal Zahra mbah lanang pergi untuk selamanya mbah wedok tinggal sendiri dalam kesulitan, meski mbah wedok punya banyak anak tapi tak satupun di antara anak anaknya yang mau mengurus dan memberikan nafkah padanya hingga mbah wedok bertemu kembali dengan Nazwan ketika laki-laki itu kembali kerumah lamanya.
Setelah tau nasib yang menimpa mbah wedok Zahra mengirimkan uang belanja nenek tua itu setiap bulannya, sekedar membalas budi karna selama ini sang nenek yang selalu setia menemani mereka baik saat suka dan luka.
Karna Nazwan sudah kembali ke rumah lama dan tinggal sendiri di dalam rumah, lalu mbah wedok menawarkan diri untuk membantu mengurusi rumah, sebab mbah wedok sering rindu pada Zahra dan Shafa jadi saat berada di dalam rumah mbah akan merasa rindunya terobati.
"Lagi makan apa, kok seperti ketupat." Jones datang menghampiri, ia sudah rapi dan mandi.
"Ketupat nasi Uncle, mau ?."
"Kok ketupat nasi, buat makan lontong ?."
"Ngak Uncle, ketupat nasinya di makan pakai sambal ikan atau udang."
"Shafa menunjukan sambal ikan yang di balur kelapa giling di masak kering, lalu di bungkus kecil dengan daun pisang."
"Aneh .. enak ?."
"Aneh tapi enak Uncle, kenyang juga."
Shafa menyodorkan dua buah ketupat lengkap dengan sambalnya, lalu Jones memakan makanan itu dengan lahap, Jones tampak menikmati makanan yang belum pernah ia makan sebelumnya meski ia pernah tinggal di daerah itu tapi ia belum pernah sama sekali makan makanan seperti itu.
"Enak banget.." Jones.
"Enaklah ampe habis lima Uncle." tawa Shafa.
Setelah sarapan merekapun berangkat kerumah sakit guna menemani Nazwan yang sudah di jadwalkan operasi, begitu pemeriksaan ulang selesai dan persiapan operasi sudah matang Nazwan pun di bawa ke ruang operasi.
__ADS_1
"Jangan kwatir, ayah akan baik baik saja percayalah." hibur Jones pada Shafa karna gadis itu tampak gugup.
"Terimakasih Uncle.."
Setelah hampir dua jam pintu kamar operasi terbuka lalu tiga orang perawat membawa Nazwan keruang perawatan dalam keadaan belum sadar dan masih di bawah pengaruh
obat bius.
Shafa duduk di kursi di samping tempat tidur ayahnya, mata sendunya menatap iba pada sang ayah, wajah tampan dan sudah separuh baya itu tampak pucat sehabis operasi.
"Ayah.. cepat bangun, Shafa akan merasa bersalah kalau sampai Shafa ngak datang nemanin ayah hari ini, maafkan Shafa yah kalau Shafa banyak buat salah selama ini."
Shafa menggenggam tangan sang ayah, air mata gadis remaja itu bercucuran saat membayangkan sang ayah tampa dampingannya atau siapapun yang datang menjaganya.
"Kok nangis, ayo makan sudah sore loh, nanti kamu sakit perut."
"Shafa belum lapar Uncle."
"Jangan menolak, meski ngak lapar tetap makan dong nanti kamu sakit siapa yang ngurusin ayah kamu, nanti malah kamu yang di urusin kan ngak lucu." menyodorkan satu kotak makanan pada Shafa.
"Iya Uncle, baik Shafa makan nih."
"Good."
Shafa ahirnya makan juga meski tidak lapar, walau bagai manapun yang di katakan Jones ada benarnya ia harus sehat agar bisa menjaga ayahnya.
Setelah tiga jam Nazwan sadar, Shafa sangat bahagia, bayang bayang Zahra yang koma sampai beberapa hari membuat Shafa sempat ketakutan kalau hal seperti itu terjadi juga pada ayahnya.
"Ayah.. apa sakit."
"Tidak nak, ayah baik baik saja, sudah sore lebih baik Shafa pulang istirahatlah di rumah." ucapnya terbata.
"Tidak ayah, Shafa tidak mau pulang Shafa akan di sini saja menemani ayah."
"Shafa tetap ngak mau pulang, Shafa datang untuk menemani ayah jadi tolong jangan suruh Shafa pulang, kalau ayah masih nyuruh Shafa pulang ngak ada gunanya Shafa datang." tangis gadis itu sedih.
Nazwan terdiam, ia ahirnya mengalah membiarkan Shafa tetap berada di sana menemaninya.
"Shafa lebih baik kamu pulang saja, biar aku yang nemani ayah dan paman." Jones.
"Tidak Uncle, Shafa tetap di sini Uncle saja yang pulang." kesal.
"Ya sudah kita sama sama di sini, aku kan supir kamu siapa tau butuh sesuatu kan gampang."
"Ngak usah Uncle, pulang saja sama Uncle pian dan Uncle bima." Shafa malah menyuruh Jones pulang dengan dua pengawalnya.
Shafa sebenarnya keberatan di ikuti terus karna ia segan dan risih dengan pakaian khas pengawal yang mereka pakai, terlalu mencolok.
"Mana mungkin mereka pulang, mau di beteti ( di bersihkan bagian luar atau dalam seperti membersihkan ikan atau ayam yang akan di masak ) sama papa mu sampai turunan mereka ? kamu tega ?."
"Ahhh papa gitu amat." keluh Shafa menarik napas, benar kata Jones kalau sampai para bodyguard tidak bekerja dengan benar maka sudah di pastikan keselamatan mereka akan terancam sampai kekeluarga mereka juga.
"Kalau ngak gitu ngak papa mu."
Nazwan memperhatikan kedua orang itu dengan sesama yang satu putri kesayangannya lalu yang satu lagi ia ketahui dokter keluarga putrinya.
"Apa dokter ini menyukai putriku." gumam Nazwan curiga dengan cara bicara Jones yang lain dengan Shafa, bahkan Jones memanggilnya ayah.
"Sayang, berapa umur mu sekarang." tanya Nazwan mengalihkan perhatian putrinya karna jengkel pada Jones.
__ADS_1
"Tiga bulan lagi delapan belas tahun, masa lupa umur anaknya sendiri." jawabnya merajuk.
"Ngak lupa kok, ayah cuma tanya aja." senyum Nazwan.
"Berarti tiga bulan lagi sudah bisa di lamar dong." oceh Jones dengan senyum lebar.
"Aihhh ngak ya Uncle, Shafa masih mau kuliah dan lulus Shafa masih kecil."
"Apa yang kecil delapan belas tahun, ingat ya kamu itu harus segera...." Jones menahan kata katanya karna takut di marah Shafa kalau sampai membongkar penyakitnya.
"Segera apa." tanya Shafa dan Nazwan bersama.
Sudah pasti Shafa lupa dengan penyakitnya sendiri kalau tidak dia pasti marah karna hampir saja Jones keceplosan.
"Segera .... segera .. yah segera nikah dong, ayah kan butuh teman ya yah, kalau ada cucu pasti seru." ucapannya malah membuat Shafa naik pitam.
"Uncle... jangan ngawur." marahnya dengan suara pelan.
"Siapa yang ngawur sih, bantuin dong yah aku di marah nih, ayah pasti mau cucu kan." muka tembok.
( dasar Jones ngak ada ahlak 🤣 Shafa dan Nazwan malah sama sama marah dan kesal, cara bicara Jones terlalu pulgar bagi mereka ).
Nazwan diam saja meski marah tapi dia suka dengan karakter Jones yang apa adanya tapi penakut untuk mengatakan perasaannya.
"Awas kalau sampai ngomong gitu lagi Uncle Shafa bisa .."
"Bisa apa."
"Marahlah."
"Ya sudah marah, aku mau lihat kamu marah lucu atau seram ya hahahaha."
"Uncle.."
"Shafa.."
"Alahhhh .. bisa step Shafa kalau begini."
"Ngak deman kok bisa step hahaha."
"Auu ahhh.."
"Gelap." Jones.
Lama lama Nazwan senyum sendiri melihat tingkah kedua orang beda jenis kelamin dan generasi itu.
***************
Hai teman teman Author dan teman pembaca jangan lupa tinggalkan jejak kamu kamu ya, mari saling mendukung.
🍀 LIKE
🍀 RATE
🍀 VOTE
🍀 HADIAH
🍀 DAN KOMEN YANG BANYAK.
__ADS_1
WO AI NI..
HAPPY READING..