UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
9. Sama mesumnya.


__ADS_3

"Shafa kira Uncle tadi sama papa."


" Ngak lah, papa Shafa galak malas." cucut Jones sembari merayu Janeet agar mau di gendong.


" Loh Uncle bukannya mau chek kesehatan papa ya, bukannya mau jumpa sama papa."


Yahh ngak dong, aku kan bukan dokter pribadi papa kamu lagi, aku dokter obgin sekarang kalau kamu lupa itu, apa coba mau di chek sama papa kamu, kehamilnnya ?, kan ngak mungkin." tawa Jones.


"Hehehe iya sih, tapi kan Uncle awalnya dokter umum sebelum jadi spesialis jadi ilmunya kan masih bisa terpakai."


"Iya .. tapi Uncle sudah di pecat, papa mu sudah punya dokter pribadi baru." pura pura sedih.


Padahal Johan lebih serasi di obati Jones dari pada dokter pribadi yang baru menjadi dokter mereka, itupun karna Jones yang tiba tiba menghilang terpaksa Johan menunjuk dokter pribadi yang baru buat keluarganya.


"Hahaha itu karna Uncle memilih kerja di tempat yang terpencil, Uncle meninggalkan papa."


"Dari mana kamu tau kalau aku pernah kerja di tempat yang terpencil."


"Kata mama Uncle bekerja dan mengabdi di desa yang jauh dari kota, Shafa jadi pengen kayak Uncle nanti kalau sudah jadi dokter Shafa juga mau menolong orang banyak di desa."


"Aminn semoga harapannya tercapai, nanti aku temenin deh."


"Temanin apa Uncle ?."


"Temenin mengabdi di desalah."


"Oooo."


"Bulat."


"Ya iyalah Uncle, kalau petak petak mah bujur sangkar hahaha."


Jones ikut tertawa mendengar kelakar gadis muda itu, ia memperhatikan gerakan tangan Shafa yang cekatan menyiapkan makanan untuk Janeet, kulit putih di telapak tangan serta jari jari Shafa yang terlihat imut dan indah di mata Jones itu ingin ia gigit karna gemas pada sang pujaan hati.


"Ayo dong inces sama kakak ya, kakak gendong oke, akak Shafa bawa susu dan makan inces." rayu Jones pada Janeet, Shafa ingin membawa sang adik makan di taman belakang karna di sana wu bersaudara serta azka sedang berkumpul bersama oma, opa.


Wu bersaudara serta Azka sedang di ajarin oleh oma dan opa bertaman bunga dan pohon buah serta tanaman tanaman lainnya.


"Nggakk Mmohh."Janeet menggeleng gelengkan kepala tanda tidak mau.


"Kok ngak sih, ayolah Meimei cantik." rayu Jones.


Janeet tetap tidak mau, ia menarik narik cadar Shafa karna kesal pada Jones yang memaksa ingin menggendongnya.


"Udah Uncle biar Shafa aja yang gendong Meimei ngak apa apa kok."


"Tapi aku juga ingin gendong."


"Janeet ngak maukan Uncle."


"Ishhh pelit ah, masa ngak mau di gendong kakak ganteng, ayolah kakak gendong."


"Ungclee .. ungclee.."


"Kakak." Jones.


"Ungclee.. ungclee.. Ungclee.."


"Kakak.. kakak .. kakak." ngotot di panggil kakak oleh Janeet.

__ADS_1


"Ungclee.. kaka.." tawa Janeet melihat wajah kesal Jones.


"Kakak ya inces kakak." Jones.


"Ungclee.. Ungclee kaka."


"Uncle.." Jones.


Hahahah Janeet tertawa cekikikan karna berhasil kerjain Jones, gadis kecil itu merentangkan tangannya pada Jones, ahirnya setelah berhasil mengerjai Jones barulah ia mau di gendong laki laki itu.


"Dasar.. gadis licik, aku di jebak." tawa Jones.


"Uncle sih, ada ada saja kok tiba tiba manggil Kakak sih Meimei kan jadi bingung." Shafa.


"Biar makin akrab dong." alasan Jones.


Jones mengekori Shafa berjalan ketaman belakang, Janeet nemplok di dada bidang Jones gadis kecil itu tampak riang di pelukan Jones, Janeet jarang sekali mau di gendong oleh orang lain yang tidak biasa ada di dalam rumah, tapi karna sudah berhasil mengerjai dan berdebat dengan Jones ia merasa dekat dengan laki-laki itu.


Mereka sama sama duduk di bangku belakang, dengan telaten Shafa menyuapi gadis kecil itu makan, selagi makan Janeet tidak bertingkah karna di ancam oleh Zay dan Zaf tidak boleh ikut gabung bermain dengan mereka.


"Ayo Meimei cepat abisin, Aaa." Shafa.


"Ahhh berasa sedang mengasuh anak bersama istri nih." gumam Jones cengegesan membayangkan dirinya menjadi sepasang suami istri.


"Apa Uncle, ngomong apa tadi."


"Ngak, aku cuma mau bilang Shafa pasti makin cantik sekarang, kecilnya saja sudah sangat cantik apa lagi sekarang."


"Ngak juga Uncle, biasa saja tapi ngak mungkin masih wajah dulu dong, nanti di kira masih anak anak."


"Sepertinya lebih bagus gitu, jadi imut, jadi pengen lihat wajah kamu."


"Aihhh ngak boleh dong Uncle, ngak muhrim." jawab Shafa gugup.


"Apa Uncle ?."


"Ngak apa apa." senyum Jones.


Sementara Zahra sedang memperhatikan Shafa dan Jones yang tengah duduk berdua dengan kursi berhadapan, mereka tampak seperti sepasang kekasih yang tengah duduk bersama di taman rumah mewah itu.


"Kenapa sayang, lihat apa ?." Johan memeluk Zahra dari belakang.


"Lihatlah koko, mereka seperti pasangan saja yang lagi momong anak saja." pancing Zahra.


"Apaan ngak yahh, anak perempuan koko ngak boleh dengan si cecunguk itu."


"Kalau sudah jodoh mau bilang apa."


"Jangan gitu dong yank, harusnya sayang bantu menjauhkan Shafa dari Jones."


"Ngak perlu ko."


"Loh kenapa."


"Shafa hanya menganggap dokter Jones seperti koko atau pak Robby." lalu Zahra menceritakan percakapan mereka di kamar Janeet tadi.


"Jadi Shafa hanya menganggap Jones sebagai orang yang ia sengani dan hormati hahaha."


"Koko pelankan suaranya dong nanti terdengar keluar malu lah." Zahra menutup mulut Johan dengan kedua tangannya, tapi laki-laki itu masih saja tertawa bahkan ia melepaskan tangan Zahra dari mulutnya.

__ADS_1


Karna bingung bagai mana menghentikan tawa Johan yang menggelegar Zahra malah mencium bibir sang suami hingga suara tawa berganti dengan suara kecapan, cukup lama Johan menikmati bibir candunya itu hingga seperti biasa Zahra hampir kehabisan oxigen baru ia berhenti.


"Sayang lupa ya kamar kita kedap suara." ucap Johan melap bibir Zahra dengan ibu jarinya.


"Astaga aku lupa, hahhh rugi aku."


"Kok rugi."


"Cium duluan."


"Hahahaha sepertinya sayang juga butuh yang lain nih, bagus juga kita bekerja mumpung anak anak sibuk.bermain."


"Koko jangan, nanti terlihat ke bawah." dari kamar mereka bisa melihat kelantai bawah atau ketaman belakang karna berdinding kaca di arah taman.


"Yangk, kaca kamar kita gelap siapapun tidak akan lihat meski kita tidak berpakaian."


Johan mengangkat tubuh ramping itu ke atas tempat tidur, dengan buas ia menerkam sang istri yang selalu pasrah di perlakukan sesuka hati oleh Johan di tempat tidur.


Setelah lebih dua jam.


"Uhhhh dasar, koko ngak pernah cape apa." omel Zahra dengan napas cengap cengap sehabis olah raga sore dengan Johan.


"Tenaga koko selalu poll buat sayang, karna koko selalu ingin memuaskan istri cantik koko ini."


"Ishhh bilang aja memuaskan hasrat koko, malah aku yang jadi sasaran."


"Iya yaa hasrat koko, tapi sayang tau ngak yang buat rumah tangga itu langgeng karna sepasang suami istri sering kontak pisik dan sering berhubungan badan maka rasa cinta akan makin besar setiap harinya."


"Kalau yang gituan kan memang mau koko."


"Mau kita dua dong yangk, buktinya koko goyang desahan sayang ngalahkan suara Celine dion, gimana koko ngak ketagihan."


"Udah ahhh ayo mandi sudah sore ko."


Dengan sigap Johan kembali menggendong sang istri ke kamar mandi dengan kondisi tampa busana, tampaknya Zahra sudah sama mesumnya dengan Johan.


πŸ’


πŸ’


πŸ’


πŸ’


Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baikΒ  terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.


Mari tetap semangat dan saling support


Dengan cara :


πŸ’ LIKE


πŸ’ RATE


πŸ’ VOTE


πŸ’ HADIAH yang banyak


πŸ’KOMEN yang sebanyak banyaknya.

__ADS_1


Wo Ai Ni all..


Happy Reading.


__ADS_2