UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
111. Kado kecil manfaat besar.


__ADS_3

Jones mengangkat tubuh istrinya menggendong nya ke atas tempat tidur yang terbuat dari kayu, sementara kasurnya hanya kasur biasa tapi sudah di pasangkan sprey yang sengaja di bawa oleh bodyguar Shafa.


Ukuran tempat tidur pun hanya ukuran biasa di pakai oleh orang kampung pada umumnya, namun Shafa tidak mempermasalahkan itu, meski Jones sempat protes dan ingin membawa Shafa ke Villa yang berada di sekitar desa, tapi karna Shafa tetap memaksa tinggal di rumah itu Jones lagi lagi hanya bisa pasrah dan mengalah.


"Aa.. ngapain sih." protes Shafa.


"Aa baru ingat, hal cepat mengurangi dingin." senyum mesum.


"Apa..."


"Apa ya ??." makin mesum karna tangan nya sudah menjalar kemana mana.


"Aa.. kita ada di kampung orang, banyak orang di luar Aa." mulai paham maksud Jones.


"Biarin yank, abaikan saja." tangannya tetap bergerilya.


"Ishhh ngak Aa, nanti kedengaran."


"Makanya diam diam dong yank, jangan terlalu di keluarin suaranya." bisik Jones mesra.


"Aa.. Achhhh.."


"Diam dong yank, desahnya di dalam saja jangan di keluarin hahh hahh hahhh." mulai bekerja dengan kecepatan penuh.


Shapa menggigit bahu Jones untuk meredam suaranya, meski di gigit dan terasa sakit tapi Jones makin hebat menghentak hentakkan miliknya.


Memang suara ******* mereka tidak sampai keluar kamar tapi suara tempat tidur tua yang beradu dengan dinding papan terdengar cukup mengganggu telinga orang yang berada di luar kamar.


Untung yang mendengar hanya para bodyguar saja karna telinga mereka hampir menempel tepat di dinding kamar dan hanya berbatas dinding yang terbuat dari papan saja.


Sementara itu bagian luar rumah cukup ramai dengan suara nyanyian pemuda kampung setempat yang bernyanyi silih berganti di iringi musik gitar, suara botol kecap yang di tabuh dengan sendok sehingga suara gaduh dari dalam kamar tidak sampai ke telinga mereka.


Nisa, Niken, Lila yang berada dalam selimut yang


sama saling pandang mendengar suara ribut dari dalam kamar, mereka bingung harus apa mereka tau percis kejadian apa yang terjadi di dalam kamar itu.


Mereka lalu melihat sekeliling orang orang yang sudah terlelap tampak tidak terganggu, Niken mengambil inisiatif ia, meraih handphone lalu mencari aplikasi musik.


Niken memutar musik sedikit lebih keras agar orang orang yang berada di sekitar mereka tidak mendengar suara aneh dari dalam sana, yang makin cepat dan makin bising.


Tampa kata mereka bertiga sama sama menarik selimut hingga batas leher, sama sama diam membisu pura pura tidak tau dan tidak mendengar apa apa.


"Nah.. hangat kan sayang, ngak dingin lagi." bisik Jones lembut kemudian mencium dan membelai kepala Shafa.


"Hangat dan bising Aa, tempat tidurnya tadi berisik." cicitnya mengatur napas.


"Berisik ?."


"Hhmm ya, ngekk ngekk ngekk." mencontohkan suara tempat tidur.


Jones hampir saja meledakkan suara tawanya, namun Shafa segera menutup mulut suaminya itu dengan tangan.


"Ishhh Aa, gimana kalau suara nya sampai keluar kamar, malu dong."


"Ngak yank, kan ada suara musik dan suara orang orang ramai di luar, ngak dengar lah mereka Pastinya."


"Hhmm moga aja, kalau dengar kan malu Aa."


"Makanya Aa ngak mau nginap di sini, kita sewa Villa aja tapi dede ngak mau." mencium sekilas bibir istrinya lembut.


Berlahan Jones turun dari atas Shafa.


"Bobok atau satu ronde lagi yank." goda Jones.


"Shafa ngantuk Aa."


"Oke kita bobok ya, selamat tidur istri Aa."


"Selamat tidur Aa."


Matahari sudah mulai mengintip dari timur, Shafa dan Jones berjalan tergopoh gopoh menuju kamar mandi instan yang baru di pasangkan oleh para bodyguar.


Kamar mandi darurat yang terbuat dari kain tenda yang super tebal yang selalu di bawa keluarga kemana pergi, di dalam kamar mandi sudah di sediakan pasilitas yang lengkap, dan sudah di siapkan air panas yang di masak langsung oleh para bodyguar lalu di campur dengan air dingin.


Para bodyguard sengaja membuat kamar mandi instan karna tamu tamu yang banyak sementara kamar mandi dirumah itu cuma satu.


Bodyguar terpaksa membuat kamar mandi di luar rumah bagian belakang agar tuanya bisa menggunakan kapan saja tampa harus antri di kamar mandi tuan rumah.


Setelah mandi dan rapi mereka makan bersama sebelum acara adat dan resepsi berlangsung, karna akad nikah sudah berlangsung beberapa minggu sebelumnya jadi acara kali ini hanya acara adat dan resepsi saja.


"Dede makan yang mana biar Aa ambilkan."


"Shafa aja yang ambil Aa."

__ADS_1


"Kok gitu sih, biasanya Aa yang ambil, dede ngak mau Aa ambil makanan untuk dede lagi ya." pura pura sedih.


Orang orang yang ada di sekitar mereka saling pandang dan saling melirik mendengar kata kata Jones, ada yang tersenyum ada yang geleng geleng kepala.


"Harusnya istri yang melayani suami bukan suami yang melayani istri, kok malah terbalik." cebik mama Dara.


"Ngak apa apa mama, udah biasa, aku selalu mengambil makan untuk istri ku, kalau istri ku tidak mau di ambilkan seperti sekarang rasanya makan ku tidak enak, lagi pula istri di nikahi bukan untuk menjadi pelayan suami, meski sebagian besar beranggapan begitu tapi buat ku tidak ma, jadi hak ku untuk memanjakan istri ku." jawabnya cuek sambil terus mengambil sesuatu untuk di makan istri nya.


"Cihh .. terus saja begitu, nanti istri mu melunjak tau rasa kamu." kesal mama Dara.


Semua orang hanya diam dan melanjutkan makannya, Shafa sendiri sudah merasa tidak enak karna suami dan mama mertua berdebat karna darinya, tapi karna suami yang selalu menenangkan dan mendukungnya dia pun tidak ambil hati.


Selesai makan, tepat jam sembilan pagi acara pun di mulai, serangkaian adat sudah berlalu sampai jam dua belas siang.


Shafa mengikuti acara demi acara dengan serius didampingi oleh suami serta para bodyguardnya yang selalu setia menemani.


Jam dua siang acara kembali di gelar, acara resepsi seperti pada umumnya.


"Aa.. kado kita gimana ? Aa bilang sudah di siapkan ?."


"Sudah dong sayang, sebentar lagi di antar sama Pak Bodyguar."membelai tangan Shafa.


"Ohh syukurlah."


Mereka tengah duduk berdua tidak jauh dari pelaminan, meski Shafa kurang suka tempat keramaian tapi karna itu pesta saudara dia harus bertahan, demi menghargai tentunya.


"Nyonya muda, ini kiriman dari tuan dan nyonya besar, kata tuan kado dari nyonya muda dan tuan muda." Lila menyerahkan sebuah kotak berukuran sedang yang di hiasi pita yang sangat indah.


"Apa ini kak ?."


"Tidak tau nyonya." Lila.


"Masih ada satu lagi nyonya." Nisa menyerahkan sebuah amplop berwarna merah dan bertulisan


SELAMAT MENEMPUH HIDUP BARU dari Shafana Intani dan Jones.


"Ini apa lagi kak ?."


"Tidak tau nyonya." Nisa.


"Sepertinya kotak kecil itu isinya kunci mobil, dan amplop itu cek nyonya." Niken tiba-tiba datang dari halaman depan.


"Kok tau ?." Shafa.


"Barusan mobil di turunkan di depan nyonya, yang antar orang suruhan tuan besar." Niken.


Jones tetap tersenyum meski merasa harga diri nya jatuh di depan mertua, tapi dia tidak mungkin mengatakan keluh hatinya pada sang istri walau bagaimanapun laki-laki yang di sebut mertua itu adalah ayah dari istrinya.


"Wahhh bagus dong sayang ku, papa memang yang terbaik." senyumnya.


"Ayo kita serahkan Aa, abis itu kita jalan jalan Aa kan udah janji." berdiri dan menarik tangan suaminya.


"Oke yank, ayo." lemas.


Jones menggandeng tangan Shafa mesra, meski masih dongkol pada papa mertua tapi berusaha senang di depan istri, mata semua orang memandang pasangan suami istri itu.


Shafa dan Jones memakai baju warna senada, meski berhijab dan memakai niqab penampilan Shafa tetap modis, orang orang berpikir kalau wanita yang ada dalam gandengan tangan Jones adalah putrinya karna postur tubuh Shafa yang jauh lebih pendek dan kecil.


( Apa lagi kalau sempat Shafa membuka niqabnya habis lah Jones 😅 ).


Suami istri itu naik ke pelaminan, Jones mengulurkan tangan memberikan selamat pada kedua pengantin, Shafa juga mengulurkan tangan pada pengantin wanita sembari memberikan kado dari papanya tapi atas namanya dan suami.


"Apa ini teteh ?." tanya pengantin wanita bingung.


"Ngasih kado kok pelit amat, kotaknya kecil isinya pasti kecil." ucap seorang wanita saudara jauh dari mama Dara.


"Belum tentu bibi, isi nya kecil bisa jadi manfaatnya besar, kamu buka aja deh." ucap Jones tersinggung dengan kata kata wanita itu yang menyepelekan istrinya.


Wanita itu belum tau siapa yang di hadapannya sehingga ia asal bicara, dia tidak tau yang dia sepelekan justru anak sultan.


Pengantin wanita itu membuka kotak yang hanya di ikat oleh pita cantik tampa lem, begitu kotak terbuka semua orang malah melotot melihat isinya yang di angkat oleh sang pengantin.


"Apa ini kak ?." pengantin.


"Menurut kamu apa." Jones.


"Kok kunci mobil, atau motor ?." pengantin.


"Mobilnya ada di depan, lihat saja." Jones.


"O iya, ini untuk bibi." Shafa kembali menyodorkan amplop berwarna merah pada orang tua pengantin wanita.


"Apa lagi ini nyai ?." bibi Jones.

__ADS_1


"Buka saja bibi." Jones meminta bibi membuka isi amplop karna dia juga ingin tau berapa isi amplop itu, sebab tadi tidak sempat buka.


Bibi membuka amplop, lalu ia menatap kedua suami istri itu bingung.


"Ini cek bibi, isinya lima puluh juta, nanti bisa bibik ambil di bank." jelas Jones bangga, sudut matanya menangkap raut bingung, malu di wajah bibi jauhnya yang tadi menyepelekan istrinya.


"Ya Allah nak, ini banyak sekali." bibik memeluk Shafa terharu.


"Ngak apa apa bibi, itu rezeki bibi." Shafa.


"Nah itu dari istri saya bi, ini dari saya tapi kurangi nolnya dua ya hahaha." tawa Jones menyerahkan amplop yang sudah lama ia siapkan.


"Aduh nak, ini sudah kok di kasih lagi apa bedanya." ucap mang asep suami bibi.


"Ngak beda mang, cuma ini sudah aku niatkan sejak lama, buat bantu bantu beli garam nanti." jawab Jones merendah.


Jones sebenarnya tidak perlu lagi memberikan amplop tapi karna tersinggung dengan perkataan bibi jauh dia pun sengaja, agar bibi jauhnya tau kalau uang dari Shafa benar benar miliknya sendiri bukan uang dari kantong Jones, dan agar wanita itu tidak menyepelekan istrinya.


Sementara kedua pengantin yang sudah berada di halaman sama sama tertawa bahagia melihat mobil kijang Inova warna silver keluaran terbaru yang di hiasi pita khas hiasan mobil pengantin.


"Ya Allah ini beneran buat kami teteh, kakak." ucap pengantin berlari ke arah Shafa dan Jones yang baru datang ingin melihat kado mobil dari mereka.


pengantin itu memeluk Shafa bahagia.


"Iya mobil itu untuk kakak." Shafa membalas pelukan wanita itu ikut bahagia.


"Ya Allah makasih teteh, makasih kak." ucap kedua pengantin itu berulang kali, kebahagiaan terpancar jelas dari wajah mereka dan yang lain.


Semua orang yang hadir di sana berdecak kagum di kampung itu belum ada pengantin yang di berikan kado mewah dan mahal seperti pasangan pengantin baru itu.


Ada yang senang tentu ada juga yang iri.


"Teteh ngak adil, adik sendiri cuma punya mobil biasa, adik jauh di kasih mobil mewah, aku cemburu." Fio memonyongkan bibirnya pura pura merajuk.


"Yah.. nanti Shafa minta ke papa." kekehnya.


"Sayang jangan buat Aa di buly papa dong, dan jangan perdulikan kata kata si bekicot ini." protes Jones.


"Ahh kakak, aku kan ngak minta sama kakak, aku minta sama kakak ipar loh." Fio.


"Hehehe iya nanti pulang pilih sendiri ke sorumnya." Shafa.


"Tapi teh.. aku maunya yang parkir di rumah mawar yang warna kuning." Fio.


"Ishhh sialan kau ya dek, adek ngak punya ahlak, di kasih hati minta jantung, itu mobil kesayangan istri ku." marah Jones.


"Ngak apa apa dong kak, tapi jarang banget di pakai, nanti lumutan." Fio.


"Lumutan dengkulmu." menendang kaki adik bungsunya itu.


"Ya udah, kalau kak Fio mau Shafa kasih deh, nanti pulang jemput aja." Shafa.


"Hahhh sayang, itu kado ulang tahun dari papa loh, masa mobil lamborghini mau dede kasih ke bekicot ini sih." Jones melotot menatap Fio.


"Ngak apa apa Aa, kan memang jarang di pakai biar aja buat kak Fio."


"Asikkk makasih teteh ku." teriak Fio bahagia, ia hampir saja memeluk Shafa untung di cegat Jones dengan menarik leher baju adiknya itu.


"Hehh senang boleh tapi ingat diri." hardik Jones.


"Ehh iya maaf teteh."


Shafa tersenyum di balik cadarnya.


Sesuai janji Jones membawa istrinya jalan jalan di temani para bodyguar tentunya, mereka meninggalkan pesta dengan hiruk pikuknya mereka kini menuju kebun teh dan tempat lain yang sempat di kunjungi sebelum malam tiba.


*******


Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik  terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.


Mari tetap semangat dan saling support


Dengan cara :


🪴 LIKE


🪴 RATE


🪴 VOTE


🪴 HADIAH yang banyak


🪴KOMEN yang sebanyak banyaknya.

__ADS_1


Wo Ai Ni all..


Happy Reading.


__ADS_2