
Shapa berjalan beriringan dengan Niken dan Lila sedangkan Asiah sudah berhenti jadi bodyguar Shafa karna sudah menikah dan hamil muda.
Andy melarang istrinya itu bekerja meski Asiah tetap ingin bersama Shafa meski hanya sebagai teman jalan saja.
Andy mencaritakan bodyguar baru yang sudah di seleksi dari puluhan lebih wanita untuk ganti Asiah Nisa wanita berparas ayu namun tomboy kini sudah satu minggu mendampingi Shafa beserta bodyguar lainnya.
"Hai cantik, mau kemana ??, ikut dong." Rendy laki-laki tampan dan kaya yang di incar banyak wanita wanita dari berbagai kalangan, laki-laki itu sudah lebih dari satu bulan selalu mendekati Shafa, meski selalu di tolak tapi Rendy tetap nekat mendekatinya.
"Maaf kak, Shafa buru buru." berjalan mendahului Rendy.
"Hei.. masa setiap selesai kuliah langsung pulang sih, ayo lah calon bu dokter kita jalan jalan dulu dong." menjajari langkah Shafa.
"Ngak dengar ya apa kata dek Shafa, kami buru buru, tolong jangan ganggu." Niken.
"Ahh lu selalu ikut campur, sana yang jauh." hardik Rendy.
"Maaf kak Rendy, Shafa memang selalu sibuk, pulang kuliah Shafa harus bantu mama ngurus rumah dan dagangan, jadi tolong kak jangan ikuti Shafa." terpaksa berbohong, karna Rendy benci gadis miskin makanya Shafa mengatakan harus bantu bantu mamanya.
"Ngak apa apa dek Shafa, kakak juga bisa bantu kok." tetap mengikuti Shafa.
"Jangan kak, mama marah kalau ada laki-laki yang dekat dekat Shafa."
"Itu cuma bentar nanti lama lama juga ngak marah kok, lagian kan cuma bantu bantu aja."
"Tidak kak, maaf Shafa ngak bisa."
Shafa makin cepat melangkah begitu melihat mobil suami ada di parkiran pakultas itu, dia yakin suaminya pasti berada dalam mobil karna lampu mobil menyala.
"Habis lah Shafa kak, pasti di hukum lagi nih." cicit Shafa.
"Ngak mungkin nyonya, tuan kan sayang banget sama nyonya, kalau pun di hukum, hukuman nya pasti enak." tawa Niken.
"Mana ada hukuman yang enak kak, ada ada saja kalau ada yang enak semua orang pasti mau dan iklas di hukum." Shafa.
"Lah kalau tuan menghukum nyonya gimana caranya ?." goda Nisa.
"Paling di cium se1000 x katanya, kalau ngak di suruh buka baju." jawabnya polos dan jujur.
"Nah kan enak itu hahaha." Niken.
Hahhhh ..
Shafa menggaruk garuk kepalanya karna keceplosan, dia baru sadar dengan kata kata nya sendiri membuat para bodyguard cekikikan mendengar jawaban jujur majikannya.
Nisa membukakan pintu mobil untuk Shafa, sementara Lila sudah duduk di kemudi, Niken masuk ke bagian depan dan duduk di samping kemudi.
"Siapa lu sebenarnya, sepertinya mereka adalah pengawal lu tapi mengapa selalu mengaku orang susah dan mengapa setiap kali anak buah gua mengikuti lu ada saja yang menghalangi, lu benar benar buat gua penasaran, mana cantik banget lagi, gua harus bisa mendapatkan lu apa pun caranya."
Rendy menatap kepergian Shafa dan yang lain dari kejauhan, dia makin berhasrat memiliki Shafa dan makin penasaran pada wanita itu sejak ia melihat langsung wajah Shafa yang cantik karna cadar Shafa yang tersingkap akibat diterpa angin sewaktu mereka sama sama duduk di taman kampus.
Mobil Jones melaju kencang melewati mobil yang membawa Shafa, setelah beberapa meter mobil Jones berhenti di pinggir jalan, seakan mengerti mobil yang di kemudikan Lila juga berhenti.
Shafa turun di dampingi Niken dan Nisa, ia lalu masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah terbuka begitu mobil berhenti.
"Aa.. Shafa lapar." merengek sembari mengalihkan perhatian Jones.
"Oke.. kita makan, tapi jelaskan dulu siapa laki-laki tadi, mengapa dia selalu mengikuto dede ?." Jones menatap Shafa dalam dalam, wajahnya merah padam menahan amarah sekaligus cemburu.
"Kak Rendy, kakak senior Shafa tapi lain pakultas Aa, Shafa ngak ada hubungan apa apa sama kakak itu." meremas tangan karna gugup melihat wajah Jones yang tidak bersahabat.
"Kalau tidak ada hubungan apa apa kenapa dia selalu mengikuti dede, Aa kan pernah bilang jangan pernah dekat dengan laki-laki mana pun dede itu istri Aa, milik Aa."
Jones meremas stir kemudi, dia benar benar sangat marah, andai tidak ingat dengan janjinya pada Shafa untuk merahasiakan pernikahan mereka mungkin dia sudah menendang
laki-laki itu.
"Shafa ngak kok Aa." suara bergetar.
Sadar istri mulai takut dan mulai menangis Jones langsung memeluk Shafa erat, ia menyesal karna melampiaskan emosi pada istri padahal dia tau percis Shafa benar benar menghindari laki-laki itu tapi karna terlalu cemburu dia tidak tau melampiaskan kemana emosinya.
"Maaf sayang, maafkan Aa ya, Aa terlalu cemburu maaf yank, Aa ngak marah kok sama dede, Aa cuma terlalu cemburu sayang, maaf ya, jangan nangis hmm." mencium kening Shafa berulang kali.
"Tapi Aa marah hiks."
"Ngak yank." membelai punggung istrinya.
"Aa ngak marah, Aa cemburu saja yank, maaf ya, tapi Aa mohon ke sayang tolong jangan pernah tanggapi laki-laki mana pun, ingat ya yank kalau mereka masih mendekati dede Aa tidak yakin bisa menjaga mulut Aa, Aa pasti akan bilang kalau dede istri Aa." mencium bibir Shafa sekilas.
"Mhhh ngak Aa hiks."
"Maaf sayang ku, maaf ya, sekarang dede mau makan apa, kemana ?." Jones benar benar menyesal karna sempat bersuara sedikit keras pada sang istri.
"Shafa ngak mau makan lagi, kita pulang saja." cicitnya melap air mata.
"Kok gitu, tadi sayang mau makan, katanya lapar sekarang kok ngak mau."
"Shafa ngak lapar lagi Aa."menunduk.
Jones menghela napas dalam dalam, ia menarik pelan tubuh istrinya agar duduk di pangkuannya lalu ia mundurkan kursi kemudi agar tubuh istrinya tidak terlalu dekat ke stir mobil.
Pelan pelan ia menjalankan mobil, sementara Shafa menempel erat di dadanya, tangan kirinya memeluk tubuh istrinya.
"Dede marah ya hmm, Aa kan udah minta maaf yank." mengecup kening Shafa yang duduk miring di pangkuannya, sementara matanya menatap lurus ke jalan raya.
Shafa diam.
" Kita makan kemana yank, Aa juga lapar, Aa tadi jemput dede karna ingin makan siang berdua seperti biasa." merayu gadisnya.
Tetap diam.
__ADS_1
"Sayang Aa, ayo dong ngomong, mau makan apa hmmm, kita ke rumah makan padang ya sayang dede mau kan."
Tetap tidak menjawab.
Jones membawa mobil perlahan karna hanya sebelah tangan yang bergerak bebas, sedang tangan satunya tetap berada di pinggang Shafa.
Mobil berhenti di rumah makan padang, tempat makan paforit Shafa, di sana tersedia ruangan khusus untuk Shafa makan dengan bebas tampa harus sibuk menyingkap dan menutup cadarnya saat makan, di ruangan itu ia bisa melepas cadarnya.
"Yank, ayo kita turun, sudah sampai istri Aa."
Menarik pelan tubuh istrinya agar ia bisa melihat wajah cantik Shafa.
"Ya ampun sayang ku, jadi dari tadi Aa ngomong sendiri ?? dede malah bobok."
Jones terkekeh melihat wajah polos istrinya yang menempel di dada, pelan pelan ia pindahkan tubuh istrinya ke kursi sebelah, kemudian ia meraih handphone di saku belakang untuk menghubungi Niken dan yang lain.
"Bu Niken tolong pesankan makanan yang biasa di makan istri ku, bungkus dan bawa pulang saja." bicara dengan suara pelan.
"Baik tuan." sambungan terputus.
Jones memutar mobil untuk kembali ke rumah mawar, namun baru saja menjalankan mobil handphone Jones berdering, laki-laki itu segera mengangkat panggilan telepon karna takut istrinya terganggu dan bangun dari tidurnya.
"Hallo ma, ada apa ?." suara pelan.
"Kok nanya nya gitu ?, sejak menikah kamu jadi dingin gitu ke mama kenapa ?." mama Jones.
"Dingin ?, aku ?, hmmm itu hanya perasaan mama, aku tidak begitu ma."
"Lalu kenapa kamu ngak pernah pulang ke rumah, kenapa tidak menghubungi mama, ngak kangen sama mama apa, apa istri mu itu melarang bertemu dan menghubungi mama ?."
"Astaga ma, mama ngak salah ngomong, baru beberapa hari lalu aku telepon mama, tidak aktif lalu aku tanya pada adik adik katanya mama sedang berada di kampung dan tidak ingin di ganggu."
"Ahh itu kan alasan mu saja."
"Ma...setelah pulang dari sumatera istri ku mengajak berkunjung ke rumah mama, tapi mama sudah di kampung lebih dari satu bulan, jadi untuk apa kami datang."
"Ya lah, terserah kalau begitu kapan kalian pulang, sekarang ??."
"Sekarang tidak bisa ma, istri ku masih kuliah."
"Ahir minggu mungkin bisa."
"Ya sudah mama tunggu."
"Baik ma." sambungan terputus.
Jones menarik napas dalam dalam, entah mengapa dia selalu was was dan takut kalau kalau mamanya nanti akan menyakiti Shafa, sejak ia tau mamanya sempat menendang Shafa karna emosi saat Jones koma, mamanya menuding kalau Shafa lah penyebab penderitaan putra bulenya itu.
****
Pernikahan Jones dan Shafa sudah berjalan hampir satu tahun, hari hari mereka lalui penuh kebahagiaan, setiap hari dan setiap waktu senggang Jones selalu membawa istrinya jalan jalan.
Karna Jones sadar istri nya itu tidak pernah berhubungan dengan laki-laki mana pun sebelum menikah dengannya, dia ingin istri merasakan bagai mana rasanya berpacaran.
Ahir minggu Jones membawa istrinya ke kampung halaman mamanya, mereka di undang ke pesta pernikahan anak tantenya yang ada di sana, Shafa yang memang sangat suka suasana perkampungan tentu saja sangat senang saat di ajak ke sana.
Menempuh perjalanan udara dua jam dan perjalanan darat tiga jam baru lah mereka sampai di kampung halaman mamanya.
Shafa sangat bahagia melihat pemandangan di sana, sepanjang jalan banyak pohon mahoni berjejer di pinggir jalan membuat sejuk setiap pengendara dan pejalan kaki yang melalui jalanan itu.
Shafa tidak henti bertanya ini itu dia, Jones menjawab dengan senyum lebar setiap pertanyaan pertanyaan istrinya itu.
"Hmmmm, gua kok melihat istri gua di masa lalu ya, cerewet banyak tanya dan riang, kamu itu tidak berubah yank, setiap melihat pemandangan indah pasti riang banget." gumam Jones.
Jones menatap bibir istrinya yang tidak berhenti berkicau sepanjang jalan, kalau tidak ingat mereka bukan cuma berdua di dalam mobil sudah pasti di lahap nya bibir istrinya itu.
Setelah beberapa lama mereka pun sampai di kampung halaman mama Dara, mama Dara dan kedua anak laki-laki nya yang lain sudah sampai terlebih dahulu tiga hari sebelumnya.
Jones membuka pintu mobil untuk istri, kemudian ia bimbing istrinya keluar dari mobil mewah itu, kemudian ia gandeng menuju sebuah rumah panggung dengan halaman yang cukup luas serta banyak pepohonan rindang.
Di halaman juga sudah terpasang tenda untuk tamu, pelaminan pengantin dan pentas, orang orang juga sudah berkumpul untuk mempersiapkan acara yang akan berlangsung esok hari.
Suasana tampak ramai, di bagian samping rumah itu sampai ke belakang, ibu ibu di kampung itu tengah berkumpul mempersiapkan bahan bahan yang akan di masak.
Ada yang menggiling cabe dan bumbu dapur lainnya, ada yang memarut kelapa dan ada yang mengupas sayuran, memetong motong ikan serta daging.
Aktifitas sempat terhenti sementara karna melihat kehadiran Shafa, Jones dan rombongan, mereka terkejut dengan kedatangan Shafa yang memakai hijab lengkap dengan cadar, apa lagi pria bule bermata biru.
"Wahh ada bule datang." bisik ibu ibu dan para gadis kampung.
"Iya genteng banget ya." ibu ibu lainnya.
"Ganteng tapi udah punya istri."
"Apa iya, bukan anaknya ya." jawab ibu berbaju kuning.
"Huss kalau anak ngak mungkin semesra itu pegangannya."
"Iya juga." angguk ibu ibu lainnya.
Tuan rumah yang mengetahui kehadiran Jones dan Shafa berjalan tergopoh gopoh ke halaman rumah, wanita paruh baya serta beberapa orang lainnya menyambut kehadiran Jones dan Shafa dengan hangat.
"Oalah jang udah lama ngak jumpa tambah ganteng saja, ini istri mu ya nak ?." tanya wanita itu sembari menerima uluran tangan Jones dan memeluknya.
"Iya bibi, kenalkan Shafa istri saya." memeluk pinggang Shafa mesra.
"Assalamualaikum wrwb bibi, apa kabar." sapa Shafa mengulurkan tangan.
"Waalaikumsalam wrwb, kabar baik nyai, nyai apa kabar cape ya, jauh kampungnya." tanya bibi.
__ADS_1
"Alhamdulillah baik juga bibi, ngak cape kok pemandangannya bagus banget Shafa suka."
"Wahh syukur lah nyai, ayo masuk ke rumah kita, o iya bibi minta maaf ya dulu tidak bisa datang ke nikahan kalian, bibi ngak sempat waktu itu karna panen di sawah." senyum wanita itu sembari mengajak Shafa dan Jones masuk rumah.
Mereka duduk sebentar di ruang tamu yang sudah di gelar karpet, tak lama duduk Fio dan Jack datang serta mama Dara.
"Hallo teteh cantik, sampai juga di mari." sapa Fio dengan senyum lebar.
"Assalamualaikum wrwb kak Fio, Alhamdulillah sampai." jawab Shafa lembut.
"Assalamualaikum wrwb teteh, apa kabar." salam Jack mengulurkan tangan tapi segera di tamparkan Jones.
"Waalaikumsalam wrwb kak Jack, Alhamdulillah baik kak." jawab Shafa.
"Wah sampai juga ke mari, mama kira kalian hgak jadi datang, katanya sibuk banget." ucap mama Dara dingin.
"Apa kabar mama." mengulurkan tangan memberi salam pada mama mertua.
"Ya baiklah, kamu lihatkan sehat walafiat." jawab mama Dara ketus, menerima tangan Shafa sekilas.
"Ma, kami datang karna istri ku sangat ingin kemari menghadiri undangan bibi sambil silaturahmi, kami menyempatkan diri ma." jawab Jones tak kalah dingin, dia tersinggung dengan perkataan mamanya yang tampak jelas tidak suka dengan kehadiran istri.
Awalnya Jones tidak mau hadir karna takut mamanya bersikap dingin di hadapan orang lain pada istrinya.
Tapi karna Fio mengkompori Shafa dengan mengatakan di sana desa yang indah dan banyak objek wisata rohani membuat Shafa tertarik dan merayu suaminya untuk datang ke sana.
Shafa diam memperhatikan interaksi antara mama dan anak itu yang tampak sama sama dingin.
Setelah selesai bercengkrama Jones ingin membawa istrinya ke Villa yang ada di sekitar kampung namun bibik sudah menyiapkan satu kamar khusus untuk mereka, dengan berat hati Jones terpaksa mengikuti permintaan bibi untuk menginap di rumahnya.
Sementara para bodyguard yang lain terpaksa tidur di ruang tamu bersama tamu tamu lainnya, pada saat sampai hari sudah beranjak malam, udara di kampung itu sangat dingin karna berada di kaki bukit.
Shafa menggigil kedinginan membuat suaminya jadi kalang kabut, sudah memakai baju tebal dan kaus kaki tetap saja dingin.
Jones keluar dari kamar mencari pada bodyguar istrinya, mereka juga tampak kedinginan di luar kamar, mereka sengaja tidur di depan kamar Shafa agar kalau di perlukan mereka bisa segera bertindak.
"Tuan mencari kami ?." Lila.
"Ahh iya bu Lila, kalian ada bawa selimut ngak, selimut tebal istri gua ?." Jones.
"Bawa tuan." Lila.
"Berapa ?."
"Cuma 2 tuan." Niken.
"Lalu kalian ?." Jones.
"Kami tidak apa apa tuan." Nisa.
"Hahh mana jauh dari kota ya, tadinya ngak begitu dingin baru sekarang dingin nya, lu cari pak Dirga dan pak Nando, mana tau masih ada buka toko pakaian atau toko yang menjual selimut." titah Jones menerima selimut yang baru di ambil Niken ke dalam mobil.
"Ini satu selimut bisa kalian pakai bertiga, cuma yang lain harus tetap cari."
"Tapi tuan ini selimut nyonya." Lila.
"Pakai aja kak, besok besok kita pikirkan lagi, Shafa bisa pakai selimut ini sama Aa kok." tiba tiba Shafa muncul sambil memeluk tubuhnya sendiri.
"Iya nyonya." jawab ketiga pengawalnya.
"Maaf yank, Aa lama ya ? istri Aa udah kedinginan." menatap iba istrinya.
"Dingin di kampung ya nyai." tiba tiba bibi muncul dengan beberapa wanita muda di antara mereka.
"Ngak apa apa bibi." Shafa.
"Maaf bibi kami tidak bisa ikut begadang karna istri saya ngak tahan." Jones.
"Tidak apa apa jang, biar anak muda saja, lagian sudah tidak ada lagi yang di kerjakan malam ini, mereka begadang juga karna berjaga jaga kok."
"Iya bibi, kalau begitu saya bawa istri saya istirahat dulu ya." memeluk pinggang Shafa posesif.
"iya jang, selamat istirahat."
Jones membawa istrinya masuk kamar, dia merasa risih pada para gadis yang ikut di belakang bibi, mereka tampak memperhatikan Jones bahkan sampai ada yang berusaha menggodanya meski ada Shafa di sana.
"Sialan nih orang orang, moga aja bini gua ngak sadar dengan tatapan mereka." gumam Jones menutup pintu kamar lalu menguncinya.
********
Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.
Mari tetap semangat dan saling support
Dengan cara :
🪴 LIKE
🪴 RATE
🪴 VOTE
🪴 HADIAH yang banyak
🪴KOMEN yang sebanyak banyaknya.
Wo Ai Ni all..
Happy Reading.
__ADS_1