UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
69. Penyesalan Jones.


__ADS_3

"Gampang banget sih merajuknya, kayak cewek saja lu, sono ganti celana pakai rok." omel Robby karna di tinggal pergi oleh Jones begitu saja.


Barr.. pintu kamar Jones di tutup kuat oleh laki-laki itu dari dalam, lalu Jones membawa kursi roda elektrik yang ia pakai ke dekat dinding kaca tebal sebagai pembatas bagian dalam ke keluar kamar.


Pandangannya lurus kedepan, rasa takut dan cemas benar benar menerjang hati Jones, Shafa sama sekali tidak mau mengangkat telepon bahkan chatnya.


"Kamu sangat marah ya gils, maaf .. aku cetoboh maafkan aku gils." berbicara sendiri sambil menatap gambar Shafa di layar handphonenya.


Tingh..


"Waalaikumsalam wrwb, maaf dokter kami lagi berada di restoran xx bersama nona." balas Niken pada pesan masuk dari Jones.


"Shafa masih marah bu Niken ?." balas Jones.


"Masih dokter."


" Aku bisa ke sana ?." berharap.


" Lebih baik jangan dulu dokter, nanti nona


makin marah kalau dokter tiba tiba datang ke mari." Niken.


"Lalu kapan saya bisa bertemu dengannya." jawab Jones dengan tangan bergetar saat mengetik dan mengirimkan pesan.


"Maaf dokter kalau saran saya dokter datang saja ke rumah besar, kalau di rumah nona kan tidak bisa menghindar lagi."


"Ya saya pikir juga begitu, baik nanti abis magrib saya akan datang ke sana, tolong bantu bu


Niken." balas Jones mengakhiri chat.


*****


" Lu harus semangat, gimana mau nikah kalau berjalan saja lu masih oleng." Robby menemani Jones belajar berjalan karna kakinya masih kaku.


Jones diam, ia masih berusaha melangkahkkan kakinya berpegangan pada besi penyangga yang ada di ruangan khusus dengan orang yang keadaannya seperti Jones.


Bukh..


Jones terjatuh lagi entah untuk ke berapa kali jatuh, laki-laki itu melap peluh yang ada di dahinya kemudian ia bangkit lagi.


"Gils.. kenapa kamu tidak mau bertemu dengan ku kenapa kamu cuek saja, kamu sangat marah dan tidak ingin bertemu lagi dengan ku kah ??."


Laki-laki itu terus berpikir dan berpikir, ini sudah memasuki minggu ke tiga Sejak kejadian di rumah sakit Shafa masih tetap tidak mau bertemu dengannya, gadis itu masih marah.


Bukh.. dan lagi lagi Jones terjatuh lagi.


"Dokter yang pokus dong, kalau begitu terus kaki dokter bukannya semakin kuat berjalan tapi makin cedera, anda harus semangat." ucap laki laki muda pembimbing trapis.


Akhhhh.....


"Sudah.. sudah gua tidak mau lagi, biarkan gua di kursi roda selamanya, tidak ada gunanya gua bisa berjalan lagi." marah dan merangkak ke dekat kursi rodanya.


"Lu ngomong apa sih, bego banget sih lu jadi orang, baru di cuekin begitu lu udah gentar." Robby memarahi Jones.


"Diam lu, pergi dari hadapan gua." bentak Jones ia lalu pergi meninggalkan Robby dan perawat trapis yang bingung akan sikap Jones yang labil sejak di diamkan Shafa.


Jones terus membawa kursi rodanya menuju parkiran rumah sakit, dia diam saja setiap orang menyapanya, ia kecewa pada dirinya sendiri kenapa tidak bisa mengendalikan diri penyesalan Jones sungguh dalam.


Hanya gara gara tampa sengaja Shafa jatuh kepelukannya dan ia malah mengambil kesempatan untuk mencium gadis itu hingga sang gadis murka dan tidak mau menemuinya.


Johan menatap iba temannya itu, ia mengawal kepergian Jones dengan sorot matanya dari kejauhan sampai laki-laki itu tidak terlihat lagi.


"Ada apa sebenarnya yang terjadi Robby ?." tanya Johan saat mereka sudah berada di dalam mobil sehabis memantau kesehatan Jones yang makin susah di deteksi.


Bila hari ini dia sehat besok dia akan sakit dan berbaring, tidak ada semangat hidup gampang tersinggung dan pemarah sungguh jauh berbeda Jones yang beberapa minggu yang lalu dengan Jones yang mereka kenal saat ini.


"Gua ngak tau bos, tapi sejak kejadian di rumah sakit waktu itu nona tidak mau bertemu dengan Jones tapi gua ngak tau apa masalah


sebenarnya."


"Lu benar benar ngak tau kenapa ?, putri gua dan Jones berantem ?."


" Gua benar benar ngak tau bos, yang gua tau pas masuk kamar Jones dia gelisah dan selalu bertanya tentang nona."


Robby tidak mungkin mengatakan pada Johan apa yang sudah di lakukan Jones pada putrinya, andai Johan tau sudah pasti Jones akan mendapatkan murka juga dari Johan.


Johan terdiam, tidak berapa lama kemudian mereka sudah sampai di rumah utama, setelah sampai dan masuk rumah Johan langsung menuju kamarnya.


"Sayang.. cintaku." Johan mencari Zahra di dalam kamar, tapi tidak ada lalu ia keteras samping dan menemukan sang duli di sana.


"Koko sudah pulang." berusaha bangkit dari duduknya.


"Tidak usah bangkit sayang, kaki sayang sakit lagi ya hmm." menyuruh maid yang memijat kaki Shafa keluar dari sana, kemudian ia menggantikan posisi maid untuk memijat kaki sang istri.


"Kok cepat pulangnya ?, masih jam sebelas." bersandar di kursi sambil memejamkan mata menikmati pijitan tangan Johan di kakinya.


"Kangen istri ku tercinta."


"Isshh gombal."


"Gombal istri kewajiban suami."


"Hahhh koko mah selalu begitu."

__ADS_1


" Harus dong." memijit sampai kepangkal paha sang istri lembut.


"Koko."


"Hmmm iya sayangku."


"Koko ngapain."


"Menggoda istri ku." makin menaikkan tangannya sampai ke paha, lalu menyibak daster yang di pakai Zahra sampai ke perut.


"Hallo sayang papa, apa kabar anak papa hmm baik baik di dalam ya, papa mau lihat dedek bolehkan." mencium dan mengusap perut


Zahra mesra.


"Koko." merem melek karna merasakan nikmat pada bagian tubuhnya yang di lalui tangan


nakal Johan.


"Kita kekamar ya sayang." mengangkat tubuh sang istri, berjalan berlahan sambil mencium


bibir seksi Zahra yang lembut dan kenyal.


Henghhh..


Hampir dua jam barulah mereka menyelesaikan olah raga siang itu, Johan kembali menciumi seluruh permukaan wajah Zahra setelah itu ia berbaring di samping sang istri sambil memeluknya dari samping.


"Kita menunggu berapa lama lagi baru si dede lahir yangk." mengelus perut buncit Zahra.


"Minggu depan taksiran kelahirannya ko, kenapa koko mau kemana."


"Tidak kemana mana yangk, jangan ngambek dong mana mungkin koko pergi jauh saat persalinan sayang sudah dekat, koko tidak akan kemana mana yangk."


"Terus."


"Koko cuma tidak tega melihat sayang begini, kaki sayang bengkak dan susah bergerak, setelah sayang melahirkan koko yang akan KB."


"Koko KB ?."


" Iya keputusan koko sudah bulat, sayang jangan melarang lagi koko akan MOP."


"Tapi koko."


"Sttt jangan larang lagi yangk, anak kita sudah banyak sementara sayang ngak bisa KB jadi biar koko yang KB oke."


"Terserah koko deh."


"Good .. makasih cinta ku cup cup cup."


" Isthhh jangan dong."


"Jangan nanti aku koslet lagi." manyun.


"Hahaha kita kerja lagi dong." mencium lagi.


"Ngak, aku capek."


"Baik nyonya ku, o iya .. koko tadi kerumah sakit menemani Jones terapy, ahir ahir ini Jones sangat sensitif karna kakak ngak mau bertemu dengannya, dan sepertinya kak Shafa masih marah berkepanjangan, pesanan nasi kotaknya tiap hari makin meningkat hahaha, sayang tau apa sebabnya."


"Masa ko, apa ya kak Shafa ngak pernah cerita ada apa, kalau aku tanya kenapa manyun terus ngak pernah di jawab, tapi ahir ahir ini kak Shafa sering murung sendirian ko."


"Hmmm sudah tanya sama kakak kakaknya yangk." Maksudnya bodyguar Shafa.


"Sudah, mereka bilang sejak pulang dari rumah sakit beberapa minggu lalu, ku tanya kenapa mereka juga ngak tau."


"Coba kita tanya yangk."


"Aku saja ko, kalau sama koko mungkin Shafa segan berterus terang."


"Loh kenapa."


"Ada hal yang bisa di ceritakan pada orang tua laki-laki dan ada juga hal yang ngak bisa ko."


"Hmmm baiklah, kalau begitu nanti langsung sayang tanya, mungkin sekarang kakak sudah pulang."


"Kita mandi dulu, ini sudah waktunya makan


siang koko."


"Oke.. kita mandi yuk."


"Jangan modus lagi."


"Siap yangk, kalau ngak silap tapi."


"Astaga."


"Hahahah."


Mereka lalu sama sama masuk kamar mandi, setelah mandi dan memakai baju sepasang suami istri itu turun ke lantai bawah untuk makan siang bersama yang lain.


Setelah makan siang Zahra mengajak Shafa berbincang di kamarnya, kini mama dan anak itu sedang duduk bersebelahan di sopa.


"Kak.. mama perhatikan ahir ahir ini kakak sering melamun kenapa, ada masalah nak." menatap manik mata sang putri.

__ADS_1


"Ngak apa apa mama."


"Sayang, kakak ngak bisa menyimpan rahasia di depan mama, katakan saja apa yang membuat kakak murung ?."


Shafa diam dan menunduk.


"Shafa berantem sama dokter Jones ya."


Gadis itu mengangkat kepalanya saat nama seseorang yang ia benci sekaligus orang yang selalu hadir dalam mimpinya itu di sebut oleh sang mama.


"Ng..ngak ma, ngak ahh."


"Lalu kok dokter Jones seperti sedang bingung dan sedih gitu, kalau kalian ngak ada masalah mana mungkin dokter Jones datang kakak selalu menolak bertemu."


Diam meremas jari jarinya.


"Kenapa kak, kakak suka kan sama dokter


Jones." tembak Zahra.


"Nghh mama itu, itu."


"Kak, berikan kepastian padanya, kalau memang kakak tidak mau dan tidak bersedia menikah dengannya maka bilang terus terang, jangan biarkan dia tersiksa dengan perasaannya, papa kan sudah pernah bilang kalau dokter Jones sangat sayang dan cinta sama kakak, dia banyak berjasa dan berkorban untuk kakak dan kita semua." menggenggam tangan sang putri.


"Papa yang awalnya sangat keras menentang dokter Jones mendekati kakak dan papa yang sama sekali tidak setuju namun sekarang papa menyerah, karna melihat ketulusan dokter Jones, tapi meski papa tidak lagi menentang papa tetap menyerahkan keputusan di tangan kakak."


Air mata gadis itu tumpah sudah.


"Katakan ada apa nak, Shafa tidak mau menikah dengan dokter Jones ??, Ingat kak sudah lebih dari tiga kali dia datang melamar kakak tapi kakak diam saja bahkan tidak mau bertemu, papa jadi bingung mengambil keputusan."


Hiks..


"Jangan gantung perasaannya nak, kalau memang tidak mau cepat katakan, kalau mau cepat juga katakan." membelai rambut panjang Shafa.


"Hiks .. tapi ma Shafa marah sama Uncle, Uncle jahat mama." tangisnya.


"Jahat kenapa hmm." bertanya lembut.


"Shafa juga malu mama, Shafa malu bertemu Uncle." tambah volume tangisnya.


"Kok malu, katakan pada mama sayang."


"Shafa malu mama, Shafa melamar Uncle, pikir Shafa, Shafa cuma nanya tapi kata Uncle Shafa melamarnya, kata kakak kakak juga gitu."


Hahhh ..


Zahra tertegun dan bingung.


"Mama ngak ngerti sayang coba jelaskan."


Pelan pelan Shafa lalu menceritakan apa yang ia katakan pada Jones saat mengunjungi laki-laki itu di rumah sakit dan apa saja jawaban Jones yang ahirnya membuat ia malu sendiri.


"Yaa ampun kak, gitu aja malu, ya ngak apa apa dong nak, namanya kakak ngak tau kalau bertanya itu sama saja melamar, ya memang ngak boleh perempuan melamar laki laki, kesannya kita ngak punya harga diri, tapi kakak kan ngak ngerti, lagian apa yang di bilang dokter Jones itu ada benarnya mana ada harga diri seorang laki-laki kalau di lamar perempuan."


Zahra tersenyum geli melihat ke polosan sang putri, lalu ia memberikan nasehat nasehat seputar hubungan antara laki-laki dan perempuan yang tidak di ketahui oleh Shafa.


"Kamu itu kak, pintar nya aja ngak ketulungan mana juara terus rengking terus tapi isi kepala semuanya pelajaran, giliran hal romantis dan dewasa ngak tau." Maili.


Perempuan hamil itu tiba tiba nimrung di antara mereka, kehadiran Maili langsung membuat Shafa menghambur ke pelukan wanita itu.


"Sesekali baca novel kak, biar pintar dikit."


"Novel apa mami."


" Novel lah, kakak ya hahh mami jadi ikut bingung." Maili menggaruk garuk kepala.


Pembicaraan berlangsung sampai hari makin


sore, setelah perbincangan itu Zahra lalu bercerita pada Johan hal yang membuat anak perempuannya itu segan dan tidak mau bertemu Jones, Johan hanya bisa tertawa kecil mendengar cerita sang istri.


Zahra tentu merahasiakan hal lain yang membuat Shafa juga marah pada Jones, gadis itu juga menceritakan bagai mana Jones memeluk dan menciumnya di rumah sakit.


Awalnya Zahra marah tapi walau bagai manapun itu terjadi juga bukan karna paksaan Jones, tapi kecelakaan meski ahirnya Jones mengambil kesempatan, dan sudah jelas karna itu Jones bersalah.


********


Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik  terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.


Mari tetap semangat dan saling support


Dengan cara :


💝 LIKE


💝 RATE


💝 VOTE


💝 HADIAH yang banyak


💝KOMEN yang sebanyak banyaknya.


Wo Ai Ni all..

__ADS_1


Happy Reading.


__ADS_2