UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
57. Bimbang.


__ADS_3

Jones memejamkan mata mendengar kata kata Rafa, lagi lagi laki-laki itu maju mendahuluinya hatinya semakin teriris saja.


"Hmmm o ya .. putri gua sudah setuju ?."


" iya tuan." senyum kemenangan ke arah Jones.


" Baik, gua akan bicarakan pada keluarga gua,


lu pulang saja dulu."


"Baik tuan, besok aku akan datang lagi


dengan Daddy."


Hmmm ..


Rafa meninggalkan tempat itu dengan hati riang, sebelum pergi ia sempat melempar senyum sinis pada Jones yang tampak sedih.


Johan diam melirik Jones yang ikut terdiam, ada rasa iba di hatinya melihat reaksi Jones yang biasa urakan dan banyak tingkah menjadi orang yang gampang tersinggung dan rapuh.


"Bos.. gua juga mau melamar Shafa, tolong jangan jauhkan gua dengannya." ahirnya Jones


membuka suara.


"Melamar ??, lu ngak lihat putri gua sudah ada calonnya ?."


"Gua lihat dan gua tau, tapi please jangan biarkan dia bersama Shafa, tolong berikan gua kesempatan."


"Katakan satu alasan kenapa tidak boleh dengan Rafa, jangan karna lu yang ingin bersama putri gua jangan alasan hati lu."


"Karna Rafa bukan orang yang baik dan sungguh sungguh ingin menikahi Shafa, dia mau karna ada niat terselubung, andai dia benar benar mau sekarang itu pasti karna dia sudah melihat wajah cantik Shafa."


"Dari mana lu tau kalau Rafa ada niat terselubung, dari mana lu tau kalau Rafa sudah lihat wajah Shafa." tanya Johan bertubi tubi.


Padahal Johan sendiri sudah tau kalau Rafa sudah melihat wajah Shafa, anak buah Johan mengirimkan vidio saat Rafa membuka cadar anak perempuannya itu tadi saat di restoran.


Meski marah tapi Johan diam saja, nilai Rafa tentu sudah berkurang jauh di mata Johan karna perbuatan lancang Rafa, Johan diam karna ingin tau tindakan Rafa selanjutnya.


Meski Rafa salah tapi ia tidak salah sepenuhnya walau bagai manapun seorang calon suami berhak melihat wajah calon istrinya sebelum menikah.


"Feeling gua."


"Feeling?."


"Iya Feeling, kenapa ."


"Cih .. gua kira lu ada bukti, ternyata cuma Feeling."


"Gua tetap ngak bisa terima lu karna Shafa dan Rafa sudah di Jodohkan, lain hal kalau lu berhasil mengambil hati putri gua, tapi sepertinya tidak."


Setelah berkata begitu Johan meninggalkan Jones dan Daddy Wu berdua di taman belakang, ia membiarkan Jones duduk dalam


keresahan di sana.


"Cihh dasar pengecut." gumam Johan.


Johan menemui sang dulu permaisuri yang tengah menemani Janeet dan Wu bersaudara belajar bawah bimbingan guru privat di


ruangan khusus.


Johan yang tidak ingin mengganggu proses belajar mengajar memberi kode pada Zahra agar keluar dari dalam ruangan.


"Kenapa ko."


"Ngak apa apa sayang, kak Shafa mana."


"Di kamarnya ko."


"Koko perlu bicara dengannya, ayo yangk."


"Ya.. kenapa ko, ada masalah."


"Ngak yangk, koko cuma mau tau apa pendapatnya tentang Rafa, tadi Rafa bilang ingin segera melangsungkan pernikahan mereka."


"Hahh masa Ko, Shafa sudah setuju ?."

__ADS_1


"Itu yang ingin koko ketahui." berbincang sambil berjalan ke kamar sang putri.


Tok..tok..


"Boleh papa, mama masuk kak." tanya Johan dari balik pintu, namun tangan Zahra sudah membuka daun pintu kamar anak perempuannya itu.


Shafa duduk di atas tempat tidurnya dengan kedua tangan memeluk kedua kakinya, ia menunduk dan tidak mendengar ketukan serta panggilan Johan.


Kedua orang tua itu saling pandang, tidak biasanya sang putri bersikap begitu.


"Assalamualaikum wrwb kak mama sama papa masuk nih." panggil Zahra dengan suara keras.


"Ehhh iya mama papa." membetulkan


duduknya.


"Kenapa kak, kok melamun." tanya Johan duduk di sisi kanan Shafa, sementara Zahra di bagian lainnya.


"Ngak apa apa papa."


"Ngak apa apa gimana, papa panggil kok ngak nyahut sih, hayo melamunkan siapa


Rafa ya ??." menggoda Shafa.


"Ngak ah papa, sama sekali ngak."


"Terus ?."


"Shafa ngak melamun papa."


"Hmm okay, tapi tadi Rafa bilang kalau kalian sudah cocok dan Shafa sudah siap menuju pernikahan apa betul nak." menatap mata


sang putri.


"Hahhh masa pa, Shafa ngak bilang apa apa kok." jawabnya bingung.


"Tapi katanya sudah oke." Zahra.


"Shafa ngak bilang oke mama."


Shafa menunduk bingung harus jawab apa, ia kembali teringat kelakuan kasar dan bahasa kasar Rafa padanya dan pada bodyguarnya, sebelum Rafa melihat wajah Shafa ia bahkan suka memaksakan kehendak pada Shafa, namun


saat tadi sudah melihat wajah Shafa ia


berubah lembut.


"Bilang saja nak, kakak jangan ragu papa dan mama tidak akan marah." ucap Zahra membelai rambut panjang Shafa.


"Apa kakak menyukai Rafa ?, dia baik ngak sama kakak, kakak mau menikah dengannya ?."


Pertanyaan Pertanyaan Johan tidak satupun di jawab oleh Shafa, ia malah menunduk dan ******* ***** tangannya bingung.


"Kak, jawab pertanyaan papa dong." Zahra.


"Angkat wajah kakak, jangan menunduk papa mau lihat wajah cantik anak perempuan papa."


Shafa mengangkat wajahnya, di lihatlah wajah papa dan mamanya bergantian.


"Gimana, Shafa udah siap belum ?." Johan.


Shafa tetap bungkam, namun mata indahnya tiba-tiba Berkaca Kaca, lalu ia menunduk lagi.


"Terserah sama papa dan mama saja, Shafa


nurut saja." ucapnya lirih.


"Papa ngak mau dengar kata terserah, yang jalani kakak yang merasakan kakak, papa tidak mau kalau kakak terpaksa lalu tidak bahagia."


Johan tau betul bagai mana perasaan putrinya itu karna ia juga sudah tau bagai mana kelakuan Rafa yang sebenarnya, tapi dia hanya ingin tau pendapat putrinya itu.


"Baiklah, kalau kakak belum bisa jawab papa beri waktu sampai besok malam, besok malam papa akan tanya kembali."


memberi kode pada Zahra agar meninggalkan kamar shafa, Johan membantu Zahra turun dari atas tempat tidur.


"Besok papa dan mama menunggu jawaban

__ADS_1


kakak oke." Zahra.


"Iya papa, mama."


Sepeninggal mama papanya Shafa kembali merenung,mengingat ingat kembali bagai mana sikap dan sipat Rafa.


"Kak Rafa kasar sama kakak kakak Shafa ngak suka itu, kak Rafa juga sombong waktu kak Niken tidak sengaja menyenggolnya kak Rafa berkata kasar, tadi waktu di mall kak Rafa menarik tali tas Shafa kasar, belum lagi dia ngak sopan membuka cadar Shafa, Shafa ngak suka caranya."


Gadis itu bicara sendiri.


"Uncle Jones baik dan perhatian, ngak kasar dia menghargai orang lain, dia gak sombong beda banget dengan kak Rafa, tapi Uncle Jones Uncle nya Shafa."


Shafa malah membanding bandingkan antara Jones dan Rafa, kepalanya menjadi pusing karna tidak tau harus bagai mana, sementara dia juga tidak mungkin memilih satu di antara keduanya karna yang di jodohkan dengannya cuma Rafa.


Lama berpikir sendiri ahirnya Shafa tertidur dengan posisi memeluk kedua kakinya


percis udang.


#########


"Hai dek sudah pulang, ayo aku antarkan." Rafa muncul di depan kelas Shafa.


"Ehh kak, ngak usah kak Shafa mau keluar


sama kakak kakak."


"Kemana ?, aku ikut ya."


"Maaf kak Shafa cuma mau ke rumah sakit."


"Mau apa siapa yang sakit, kamu ngak sakit kan." tanyanya lembut.


"Ngak kak, Shafa mau menemani kak Asiah periksa." jawabnya.


"Ngapain di temani sih, dia kan cuma pengawal kamu dek, jangan terlalu akrab sama pembantu dan pengawalnya dong, ngak boleh itu nanti mereka melunjak." omelnya.


Shafa terdiam, di perhatikannya Rafa waktu berkata begitu padanya.


"Maaf kak tapi Shafa di didik tidak pernah membedakan siapa itu pengawal siapa teman atau saudara, meski mereka bekerja pada keluarga Shafa tapi Shafa selalu menganggap mereka yang lebih tua dan berjasa pada Shafa karna menjaga dan menemani Shafa sebagai saudara."


Mata gadis itu berkaca kaca, dia bimbang apakah laki-laki yang di hadapannya adalah orang yang tepat mendampinginya karna sipat mereka sangat bertolak belakang.


"Ya sudah terserah deh, kalau begitu ayo aku temani juga." menyesal melihat mata Shafa yang sudah merah menahan tangis.


"Tidak usah kak, terimakasih." berjalan mendahului Rafa.


"Sial, gampang amat nangis sih, untung cantik dan gua suka kalau ngak udah gua tendang ke kandang buaya." umpat Rafa dalam hati


ia sangat kesal.


Dari jauh sepasang mata menatap sayu interaksi antara Shafa dan Rafa, laki-laki rapuh itu bersembunyi di balik tiang koridor teras


pakultas itu.


*********


Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik  terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.


Mari tetap semangat dan saling support


Dengan cara :


💝 LIKE


💝 RATE


💝 VOTE


💝 HADIAH yang banyak


💝KOMEN yang sebanyak banyaknya.


Wo Ai Ni all..


Happy Reading.

__ADS_1


__ADS_2