
"Mey mey .." ucap Jones terkejut saat membuka pintu si cubby Janeet yang muncul, pantas cara mengetuk pintunya begitu indah.
Tampa menjawab Janeet langsung masuk kamar sambil menyeret selimut serta boneka panda kesayangannya.
Di seberang kamar terlihat seseorang berdiri dengan senyum miring ibu jarinya ia acungkan terbalik ke arah Jones membuat Jones geram, bola mata laki-laki itu ingin lompat keluar dari tempatnya karna emosi.
Setelah menutup pintu Jones langsung ke tempat tidur di sana sudah berbaring Janeet dan Shafa yang saling berpelukan, Jones menarik napas dalam dalam untuk menetralisir amarah dan kekesalan di hatinya.
"Dasar mertua sialan, kalau inces sudah di situ lah aku gimana ??." gumam Jones.
Shafa menyadari suaminya belum naik ke atas tempat tidur ia melonggarkan pelukannya dari Janeet, di tatapnya wajah dongkol Jones, tawanya hampir meledak melihat itu.
"Aa.. sini." panggilnya dengan suara pelan menunjuk tempat tidur di belakang Janeet.
"Ngak mau, masa di situ." jawab Jones pelan, pelan pelan ia naik ke atas tempat tidur ia merebahkan tubuhnya di belakang Shafa.
"Demamnya udah turun istri Aa." bisik Jones di telinga Shafa, tangan kanan nya menyentuh kening Shafa, kemudian ia memeluk istri sambil mencium pucuk kepala Shafa mesra.
"Enghhh sepertinya udah Aa."
"Bagus dong kalau begitu." mencium tengkuk Shafa.
"Aa, jangan nanti mey mey ngak jadi tidur."
"Kok ngak, emang belum tidur ya."
"Belum Aa."
"Ihhh tenapa libut tali sih, belicik inces mau bobok cantik, ganggu aja." omel Janeet kesal.
Shafa menyikut Jones agar sang suami diam tapi bukannya diam Jones malah semakin bertingkah, Jones mencium pipi Shafa berulang kali membuat Janeet marah karna terganggu.
"Jangan mmahh tata inces nanti lecet." Janeet bangkit dan memukuli Jones dengan bantal.
"Masa lecet emang istri kakak mobil, lagian kakak kan cium istri kakak masa ngak boleh sih." goda Jones makin mencium Shafa.
"Jangan.." makin marah.
Cup..cup..cup..
"Aa.." Shafa.
"Sayang, I love you cup cup cup."
"Jangan pegang.. jangan." Janeet melompati boneka pandanya dan Shafa sekaligus, boneka yang ia bawa sengaja di buat sebagai pembatas di antara Janeet dan Shafa karna sang kakak sedang Flu takut menulari adik perempuannya.
Semakin di larang Jones malah semakin berbuat, ia semakin menciummi Shafa berkali kali sampai suara tangis sang adik ipar bergema di kamar mereka.
"Aa.. berhenti, jangan lagi, Meimei nanti ngadu sama papa mama malu." hardik Shafa dengan mata melotot karna kesal pada suaminya.
Jones bersungut sungut, dia kembali merebahkan dirinya di belakang Shafa tapi di larang Janeete membuat laki-laki itu semakin kesal.
Janeet mengusir Jones dari atas tempat tidur, dengan berat hati Jones terpaksa pindah ke sopa tampa pembelaan Shafa.
"Ahh istri gua kejam betul, gua di usir bukannya di belain malah makin di biarkan, nasib nasib." keluh Jones merebahkan tubuhnya di atas sopa dengan posisi miring menghadap Shafa yang membelakanginya.
Shafa tentu merasa kasihan pada sang suami tapi kalau Janeet sudah marah maka tidak siapapun yang bisa menentangnya, Shafa hanya berharap kalau adik kecilnya nanti tidur Jones bisa kembali ke tempat tidur mereka.
Shafa berbalik sedikit untuk melihat Jones tapi segera di tarik oleh tangan kecil Janeet yang tengah memeluk si panda, tangannya sampai ke pinggang Shafa karna mereka berdua terhalang panda yang di bawa oleh Janeet, Shafa tidak mau di peluk langsung oleh Janeet karna takut adiknya tertular influenza.
Jones menatap nanar punggung Shafa dari atas sopa, sementara sang istri gelisah di atas tempat tidur, setelah hampir satu jam kedua wanita di atas tempat tidur ahirnya tertidur pulas, tapi maja Jones masih saja setia mengawasi penghuni tempat tidur.
Sedang asik memperhatikan Jones melompat dari atas sopa karna melihat tubuh Shafa yang hampir jatuh karna sudah terlalu pinggir akibat Janeet yang selalu mendorong Shafa agar bergeser.
Gadis kecil itu memang terkenal lasak kalau sedang tidur, tempat tidur bisa ia kelilingngi hingga sembilan puluh derajat, bahkan ia akan menguasai tempat tidur dengan gaya sesuka hati.
__ADS_1
Jones ingin menangkap tubuh istrinya tapi tidak sempat , Lalu ia menjatuhkan tubuhnya di atas lantai tempat saat Shafa terjatuh dan tepat di atas tubuhnya, Jatuh bukannya terkejut malah Shafa tetap tertidur pulas membuat Jones gemas dan menciumi wajah cantik istrinya yang jatuh tengkurap di atasnya.
"Kamu buat Aa gemas yank, udah jatuh bukannya bangun malah makin lelap." menoel pipi Shafa.
Berlahan Jones bangkit dengan Shafa masih berada di pelukannya, Jones lalu mengangkat tubuh Shafa ke atas sopa karna takut sang istri jatuh lagi, teringat atas perbuatan mertua ia berniat menemui papa mertua sambil memberikan kata kata mutiara.
Setelah meletakkan Shafa di sopa Jones lalu menggeser meja agar menahan tubuh Shafa andai jatuh, setelah itu ia lalu berjalan ke arah tempat tidur untuk menggendong Janeet dengan hati.
Sementara itu di kamar lain.
"Koko jangan ahh, tunggu anaknya tidur dulu."
"Udah yank, jadi sekarang aja ya."
"Ngak, nanti saja lagian kita belum Sholat isya."
"Ehh iya, koko baru ingat gaya tidur inces waduh bisa pindah tidur putri koko, kalau si Jones yang pindah sih ngak apa apa." melompat turun dari atas tempat tidur lalu berjalan cepat menuju pintu kamar lalu berlari ke kamar pengantin baru.
Ceklekk..
Dua musuh bebuyutan bertemu, tatapan mata Johan langsung dingin begitu melihat Jones, begitupun dengan Jones.
"Nih mey mey, gara gara lu ngirim mey mey istri gua sampe jatuh dari atas tempat tidur, lihat gua terpaksa buat di atas sopa." ucap Jones dingin .
Johan meraih putri kecilnya dari gendongan Jones, matanya menerobos masuk kedalam kamarbputri sulungnya dan benar saja Shafa tidur di atas sopa, ia merasa menyesal niat hati hanya untuk mengerjai Jones agar berjarak dengan Shafa malah Shafa yang jadi korban.
Johan masuk kedalam kamar tampa pamit, Janeet masih berada di gendongannya, Johan membelai kepala putri sulungnya itu
"Maafkan papa ya kak, papa tidak bermaksud lain."gumam Johan dalam hati, setelah itu Johan pun berjalan keluar kamar.
"Putri gua masih hangat."
"Tadi sudah mendingan." jawab Jones berjalan cepat ke sopa.
"Lu jaga baik baik putri gua." Johan berkata pelan tapi masih bisa di dengar oleh Jones.
Jones memeluk mesra sang istri yang masih tertidur pulas, di ciumnya berkali kali wajah polos Shafa yang tampak teduh.
"Tidur lah istri kecilku, aku mencintaimu sangat mencintaimu." bisik Jones lembut kemudian ia pun memejamkan matanya ingin ikut Shafa ke alam mimpi.
Jam satu dini hari Shafa terbangun karna merasa kedinginan, ia merapatkan tubuhnya pada Jones setelah mendapatkan kehangatan perutnya malah menjerit minta di isi.
Terbayang olehnya makanan keramat dan di larang di rumah itu, air liurnya langsung berreaksi karna sudah cukup lama ia tidak makan makanan itu sehingga ia sudah rindu.
"Emghhh pasti enak banget apa lagi kalau di buat pedas gila, biasanya kalau makan pedas filek Shafa hilang, lagian udah malam banget papa pasti udah tidur." gumam Shafa dalam hati.
Pelan pelan ia turun dari atas tempat tidur meninggalkan sang suami yang tampak tertidur pulas, Shafa berjalan menuju meja riasnya lalu membuka laci paling bawah dan mengeluarkan sesuatu dari dalam.
"De.. dede cari apa." suara barithon Jones mengejutkan Shafa.
"Mie Aa."
"Dede lapar."
"Enghhhh iya Aa."
Jones bangkit dari tempat tidur dan turun mengikuti Shafa yang berjalan keluar kamar, meski Shafa sudah bilang jangan ikut Jones tetap mengikuti Shafa.
"Dede mau makan apa ?, mie itu ? bukannya makanna itu di larang ya sama papa ?."
"Iya Aa, tapi Shafa pengen banget, jangan ketauan dong." memasak air lalu membuat bumbu untuk masakan itu.
Jones hanya duduk saja di kursi yang ada di dapur dengan mata berat karna masih mengantuk, hanya beberapa menit masakan Shafa sudah jadi aroma khas masakan langsung menusuk hidung Jones membuat mata Jones melotot sempurna karna baunya yang wangi namun menusuk hidung.
"Ya Allah sayangku itu pasti pedas banget." memperhatikan kuah mie di mangkok dengan warna merah mempesona.
__ADS_1
"Enghhhh biar ingus nya keluar semua, biasanya kalau Shafa filek makan pedas bisa sembuh fileknya, Aa beneran ngak mau ??."
"Ngak yank, ngak Aa bisa diare kalau makan pedas, jangan makan banyak ya, ngak usah di habiskan nanti perut dede sakit."
"Ngak apa apa Aa, perut Shafa kebal sama cabe tapi kalau sama jengki baru diare." meniup niup kuah mie kemudian memasukkan ke dalam mulutnya.
"Apa itu jengki."
"Jengkol." menjawab tampa melihat Jones.
Ashhh Jones tertawa kecil mendengar jawaban sang istri, sudah lebih separuh mie di mangkok habis tiba tiba seseorang muncul dari lantai atas dengan penampilan segar.
"Kakak, makan apa." Johan.
Shafa sangat terkejut mendengar suara sang papa secepat kilat Shafa mendorong mangkok kedepan Jones lalu menyodorkan sendok ke tangan Jones seakan akan Jones yang sedang makan, dia sendiri berupaya mengatur pernapasannya karna kepedasan.
"Shafa ngak makan papa, Shafa nemenin Aa." meminum air putih di depannya sampai habis.
"Kok jadi terbalik." gumam Jones dengan tampang bodoh.
Johan tidak sempat melihat Shafa mendorong makanan itu ke Jones karna posisi duduk mereka membelakangi pintu lift.
"Lu makan makanan itu dan sepedas itu, tumben biasanya lu ngak tahan dengan makanan pedas." ejek Johan padahal dia tau kalau yang makan putrinya sebab terlihat dari bibir dan wajah Shafa yang memerah menahan pedasnya makanan.
"Enghhhh itu, ehhh iya gua lagi pengen aja." Jones tergagap menerima tendanagan Shafa di kakinya, apa lagi tatapan mata sang istri yang penuh arti.
"Ohh ya, makan deh kalau gitu." tetap berdiri menunggu Jones memakan makanan itu.
Dia ingin memberi pelajaran pada Shafa karna sudah melanggar peraturan dengan menghukum suaminya dengan begitu Shafa pasti akan merasa bersalah kalau Jones sampai tersiksa karna kepedasan dan Shafa akan taubat.
Dengan sangat terpaksa Jones memasukkan makan ke mulutnya, kepala Jones langsung berdenting merasakan pedas yang seumur hidup belum pernah ia rasakan, namun karna melindungi Shafa ia terpaksa menahannya.
Senyum licik terpancar di bibir Johan.
"Rasain lu." gumam Johan dalam hati.
"Sialan, lu sengaja ngerjain gua setan, mertua ngak ada ahlak, sementang baru dapat jatah, lu ngejek gua." umpat Jones dalam hati, bagi pemikiran dewasa pasti tau kalau Johan baru olah raga malam karna rambut Johan yang basah.
Setelah mengambil dua gelas air mineral Johan meninggalkan sepasang suami istri itu di sana, Shafa langsung menyerahkan air dingin pada Jones.
"Maaf Aa, hiks." sesalnya melihat wajah Jones yang memerah padahal baru makan satu sendok saja.
"Kok nangis sih yangk, ngak apa apa, paling bentar lagi makan obat."
Setelah makan sedikit gula, dan rasa pedas mualu berkurang Shafa dan Jones kembali kekamar mereka.
*********
Maaf beribu kali maaf ya All lama baru Up, karna daerah saya baru banjir lumayan besar dan masuk kedalam rumah jadi beberapa hari ini berbenah terus, sekali lagi maaf ya 🙏🙏.
Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.
Mari tetap semangat dan saling support
Dengan cara :
🪴 LIKE
🪴 RATE
🪴 VOTE
🪴 HADIAH yang banyak
🪴KOMEN yang sebanyak banyaknya.
__ADS_1
Wo Ai Ni all..
Happy Reading.