UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
36.Jones terluka lagi.


__ADS_3

Johan dan para bodyguard lainnya juga sudah sampai di lokasi, emosinya memuncak saat melihat putri kesayangannya tengah di tarik paksa oleh seorang pria menjauh di antara bodyguard yang siaga sejak tadi.


Pisau belati tengah berada di leher Shafa, mereka meminta agar memberikan jalan dan akan menyerahkan diri kepada pihak berwajah, dengan alasan takut di hajar oleh para bodyguard dan semua orang.


"Please.. lepaskan Shafa ku mohon, aku berjanji menjamin keselamatan kalian semua, asal kalian tidak melukainya."


Jones berjalan maju pelan pelan sementara para penculik berjalan mundur dengan membawa Shafa sebagai sandera mereka, Jones menatap wajah Shafa yang kini tampa cadar, untungnya hijab gadis itu tidak berhasil mereka lepaskan sehingga auratnya masih terjaga dari mata laki-laki yang ada di sana.


"Tidak kami tidak percaya pada kalian, kalau ni cewek kami lepaskan pasti kalian akan membunuh kami." penculik dua.


"Tidak, aku berjanji tidak akan ada yang melukai kalian asal kalian berubah, aku tau kalian cuma orang suruhan Dino, asal kalian tau laki-laki itu sudah berada di tempat yang seharusnya sekarang di penjara, kalau kalian tidak mau menyusulnya cepat lepaskan Shafa."


Jones memohon pada penculik, sementara Shafa yang masih shoc cuma bisa menangis matanya menatap Jones dan Johan dengan tatapan yang menyedihkan.


"Lepaskan putri ku, aku akan memaafkan kalian, cepat lepaskan putriku kalau tidak aku pastikan kalian tidak akan melihat matahari esok pagi bersama seluruh keluarga kalian." teriak Johan.


Mendengar teriakan Johan sontak ketiga laki laki itu terkejut, apa lagi ancaman Johan tidak tanggung tanggung keluarga mereka juga di bawa bawa.


"Jangan kalian sentuh keluarga kami, kami yang salah." jawab penculik satu.


"Kalau begitu lepaskan putriku kalau tidak mau urusannya makin panjang, aku tidak akan memberikan kesempatan kedua pada kalian kalau dalam waktu lima menit kalian tidak melepaskan putriku, asal kalian tau orang orang ku penembak handal mereka akan bertindak sesuai perintah ku." ancam Johan.


"Gimana nih, kita nyerah aja." penculik tiga.


"Lu yakin kita akan selamat." penculik satu.


"Lepaskan Shafa kak, Shafa akan memohon pada papa melepaskan kalian." ucap Shafa terbata.


"Ya cepat lepaskan Shafa, ku mohon." Jones yang posisinya sudah makin dekat pada penculik dan Shafa melirik penembak jitu yang tidak jauh dari mereka.


"Jangan bohong, kalian akan melepaskan kami kan." Penculik tiga.


"Ya .. janji jadi tolong lepaskan Shafa." Jones bersiap siap menarik Shafa saat mendapat kode dari penembak jitu.


Dor..


Satu tembakan berhasil menembus kulit tangan penculik kedua yang memegang Shafa dengan pisau di leher gadis itu.


Saat itu Jones segera menarik Shafa dari cengkraman penculik dua, tapi pisau yang ia pegang jatuh ke tanah namun langsung di ambil oleh penculik satu lalu mengarahkan pada Shafa, tapi pada saat menarik gadis itu Jones langsung memeluknya dan Jones berbalik dengan posisi membelakangi penculik lalu.


Jleb...


Pisau belati itu menusuk punggung Jones , darah segar mengalir dari lukanya bodyguard yang melihat itu melakukan tembakan ke arah kaki ketiga penculik, timah panas itu berhasil mengunci pergerakan mereka, hingga mereka tersungkur di atas tanah.

__ADS_1


Dukhh.. beberapa pukulan mendarat di tubuh mereka, setelah itu mereka di seret oleh para bodyguard untuk di bawa ke markas sebelum di serahkan pada pihak berwajib.


"Uncle.. Uncle, papa Uncle papa." teriak Shafa karna merasakan tubuh Jones yang tidak lagi bertenaga, pelukan Jones pada tubuh Shafa sudah tidak kuat lagi.


Johan berlari kearah Shafa yang sudah terjatuh karna tidak mampu menahan bobot Jones yang tinggi dan besar.


"Shafa kamu ngak apa apa nak." Johan menyingkirkan Jones dari atas tubuh putrinya itu lalu meletakkannya begitu saja di atas tanah.


"Shafa ngak apa apa papa, tapi Uncle Uncle tertusuk papa Huaaaaaa." tangis Shafa memeluk papanya.


"Sttt jangan nangis gils papa di sini." menepuk nepuk punggung Shafa berlahan.


"Papa Uncle berdarah, Uncle tertusuk papa tertusuk." tangis Shafa karna sang papa terkesan tidak perduli pada sahabatnya itu padahal Johan tengah ketakutan kalau terjadi sesuatu pada putri sambungnya itu sehingga ia lupa pada orang yang sudah melindungi Shafa.


"Ehhh ya , ya Jones lu ngak apa apa." membalik tubuh Jones yang terkapar di tanah, darah masih merembes dari lukanya.


Shafa mengoyak baju bagian bawahannya sampai keliling, untung ia memakai celana panjang dan kaus kaki di bagian dalam bajunya sehingga kakinya tidak langsung terlihat.


Lalu ia mendep luka di punggung Jones dengan sobekan bajunya agar pendarahan bisa berhenti,


Johan menepuk nepuk wajah Jones untuk menyadarkannya.


"Jones bangun, Jones.. Jones." teriak Johan panik.


"Uncle bangun hiks." Shafa menangis tersedu.


Di dalam mobil ada Shafa yang memangku kepala Jones di kursi penumpang, tangan gadis itu masih menempel di punggung Jones yang terluka, Johan sendiri duduk di bangku kemudi ia mengemudikan langsung mobil dan membawa Jones ke Rumah sakit.


Robby dan yang lain masih sibuk mengurus kejadian itu, Jones tiba tiba mendapatkan kesadarannya, hatinya langsung berbunga bunga begitu tau kalau kepalanya ada di pangkuan Shafa.


Jika bagi Shafa hanya sebagai keponakan pada pamannya tentu lain dengan Jones, meski luka di punggung terasa perih dan berdenyut tapi rasa itu hilang demi melihat wajah cantik kekasih hatinya yang tampak sangat khawatir.


"Mati di pangkuanmu tidak menjadi penyesalan bagi ku gils, melihat wajah cantik dan ketulusan mu menjagaku begini saja aku sudah sangat bahagia, apalah lagi Allah menyatukan kita di dalam ikatan pernikahan sungguh tidak lagi ada nikmat yang lebih indah dari itu." gumam Jones.


Senyumnya tampak sedikit mengembang, sekilas dari bangku kemudi Johan melihat senyum itu hingga ia mengira kalau Jones hanya pura pura pingsan dan pura pura sakit.


"Sialan.. teman lukcnat, bisa bisanya lu curi kesempatan ya, brengsek." gumam Johan mencengkram stir kuat kuat.


"Hemmmm gils, letakkan saja kepala Uncle di kursi , Shafa pindah kedepan saja, tidak baik memangku kepala laki-laki dewasa begitu."


"Tapi papa, punggung Uncle harus tetap di dep lukanya kalau ngak darahnya bisa keluar lagi seperti tadi bisa bahaya kalau sampai Uncle kehabisan darah."


"Ohhh ya papa lupa gils."

__ADS_1


"Tidak apa apa papa, Uncle kan Unclenya Shafa dalam keadaan darurat ngak apa apakan papa, meski bukan muhrim Shafa."


"Hmmm iya, terserah gadis papa."


"Dengar tuh bego, putri gua cuma menganggap lu pamannya saja ngak lebih, baper mu itu benar benar ngak kenal malu." umpat Johan dalam hati.


Johan mengintip kembali dari spion apakah Jones masih tersenyum, karna posisi rebahan Jones yang miring ke sisi depan Shafa tidak bisa melihat bagai mana mimik wajah Jones secara langsung dan hanya orang yang berada di depan yang bisa melihat itu.


Jones yang tau Johan tengah mematainya tersenyum miring sembari mengejek laki-laki itu, Emosi Johan makin naik ia lalu memperlambat laju mobil.


"Mampus lu, biar lu mati sekalian." gumam Johan.


"Silahkan perlambat papa mertua, sebentar lagi calon istri ku pasti akan protes, hisss sakit banget, gua jadi pusing lagi." gumam Jones.


"Papa, kok jadi lambat sih, tubuh Uncle bergetar ini pasti karna menahan rasa sakit pa, ayo cepat dong papa." pinta Shafa.


"Bergetar bukan karna sakit tapi karna kesenangan kamu perhatian padanya gils, rasanya mau ku makan mentah mentah lu Jones, kalau ngak mikir putri gua bakal takut dengan kemarahan gua sudah gua tendang lu dari tadi." umpat Johan dalam hati.


"Papa kok makin lambat mobilnya." protes Shafa.


"Iya girl ngak tau kenapa nih kok jadi lambat." alasan sang papa.


"Kalau mobilnya bermasalah kita pindah mobil saja papa, stop taxi aja atau telepon Uncle Robby Shafa takut Uncle Jones kehabisan darah papa, karna darahnya merembes lagi."


Sekilas Johan melihat ke arah Jones, wajah Johan berubah tegang melihat wajah sahabatnya itu yang memucat, dan Jones sendiri kembali tidak sadarkan diri.


**************


Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini.


Mohon maaf kalau ahir ahir ini sering telat Up sejak adanya vaksinasi waktu hampir pokus ke tugas negara ini.


Mohon maaf juga kalau ada kata kata dan penulisan yang kurang pas di hati teman teman maklumlah saya ini cuma Author abal abal, yang perbendaharaan bahasa dan istilah yang kurang itu juga karna saya orang kampung dan tinggal di kampung jadi bahasanya sering terbawa bawa bahasa kampungnya 😁😁.


Meski begitu aku mohon dukungan teman teman semuanya, bantu aku dengan memberikan


LIKE , KOMEN , VOTE , RATE DAN HADIAH YANG BANYAK agar aku makin semangat Up.


🥰🥰


Salam dari anak Madina


Horas.. horas .. horas.

__ADS_1


Happy Reading.


__ADS_2