
Jones tidak tau harus berkata apa, dia diam membisu untuk sesaat, Jones menatap Shafa ia memutar badannya untuk melihat reaksi gadis idamannya itu.
"Dokter Lili bisa tinggalkan kami sebentar." pinta Jones pelan.
"Baik dokter." dokter Lili keluar bersama perawat dengan wajah bingung janda beranak satu itu menoleh ke arah Jones yang masih menatap Shafa intens.
"Ada hubungan apa mereka, mengapa Jones begitu Kwatir, kekasih tidak mungkin, dari wajahnya dia masih sangat belia." gumam dokter Lili dalam hati.
Tadi saat pemeriksaan, Shafa membuka cadarnya karna semua yang ada di situ wanita, Shafa juga ingin berbicara secara leluasa dengan sang dokter yang memeriksanya.
"Shafa.. kamu ngak apa apakan." tanya Jones melihat Shafa yang diam.
"Shafa ngak apa apa Uncle." jawabnya tanpa melihat ke arah Jones.
"Ngak apa apa gimana, lalu kok diam aja, jangan kwatir aku akan mencari obat yang terbaik untuk mu, aku tidak akan membiarkan mu menahan rasa sakit seperti tadi lagi."
Jones ingin sekali memeluk gadis muda itu, atau setidaknya Jones menggenggam tangannya, ia ingin memberikan ketenangan pada sang gadis.
"Iya Uncle Shafa ngak apa apa, Shafa percaya Uncle akan mencarikan Shafa obat yang bagus, semoga saja masih bisa terapi."
"Untuk memeriksa lebih lanjut.." Jones tergagap meneruskan kata katanya.
"Nanti saja Uncle, kata dokter Lili kan masih diagnosa sementara, andai ada meoma atau kista kemungkinan kan masih kecil, jadi masih bisa di terapi dan makan obat saja."
'Iya pasti masih bisa, Shafa jangan takut ya." hati Jones begitu terluka setelah tau kemungkinan penyakit yang di derita gadisnya itu.
"Menikahlah dengan ku, setelah menikah baru bisa memeriksa kamu memakai USG Transvaginal, ngak mungkinkan benda itu mendahului aku."
Jones berkata kata dalam hati, kata itu sangat ingin ia ucapkan tapi entah mengapa sangat sulit keluar dari mulutnya.
"Uncle, bisakah Shafa minta tolong."
"Bisa dong, bisa pake banget." senyum kaku Jones karna rasa takut masih menyerang hatinya.
"Tolong jangan cerita pada papa, mama atau siapapun."
"Loh kenapa, mereka harus segera tau."
"Papa, mama pasti akan sangat cemas, Shafa takut mama nanti jadi sakit memikirkannya."
"Tapi itu ngak bagus kalau di diamkan lama lama." Ucap Jones kurang setuju.
"Biar Shafa yang akan kasih tau pelan pelan Uncle, lagi pula beberapa hari lagi Shafa ujian semester Shafa janji sama ayah akan pulang kampung."
"Baiklah kalau itu mau kamu, aku akan tutup mulut, tapi kamu harus janji harus segera periksa ulang meski tidak pakai USG Transvaginal."
"Iya Uncle." jawab Shafa menunduk.
"O iya .. itu tadi kamu bilang pulang kampung, ngapain emang papa mu yang arrogant dan positif itu ngasih izin kamu pulang." tanya Jones bertubi tubi.
"Jangan bilang gitu Uncle, papa shafa papa terbaik di dunia." rajuk Shafa.
"Iya .. iya maaf hehehe."
"Shafa pulang karna ayah mau operasi satu minggu lagi, papa sudah kasih izin kok."
Ucap Shafa, meski awalnya sangat sulit untuk mendapatkan izin dari sang papa.
Tapi walau bagai manapun Johan tau diri Shafa masih punya ayah lain yang ia juga harus menjaga dan patuh pada sang ayah, dan Johan tidak boleh egois, meski hati Johan sangat sakit waktu Shafa meminta izin, karna sebenarnya ia takut kehilangan kasih sayang sang putri padanya.
Johan sangat menyayangi Shafa seperti anak kandungnya sendiri, apa lagi peran Shafa dan Azka sangat besar untuk mempersatukan dia dengan sang istri, kalau bukan karna Shafa dan Azka kemungkinan untuk memiliki Zahra akan sedikit lambat dan sulit.
__ADS_1
"Emang sakit apa ayah."
"Ada tumor di punggung ayah, tapi tumor jinak ayah ingin Shafa menemani ayah di rumah sakit."
"Ohh gitu, ya sudah." jawabnya pelan.
"Bagus juga gua rahasiain sementara dari si bos, kalau dia tau sekarang dia pasti akan mencarikan Jodoh untuk Shafa, tidak tidak gua ngak mau itu terjadi." gumam Jones dalam hati, kepalanya memggeleng geleng tanda tidak setuju.
Shafa mengambil benda pipih di tas kecilnya lalu ia menghubungi Niken agar masuk kedalam ruangan.
"Kenapa mereka di suruh masuk." tanya Jones protes, dia masih ingin berbincang berduaan dengan Shafa.
"Tidak baik laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim berdua saja dalam satu ruangan, nanti bisa timbul pitnah Uncle."
"Ohh ya .. iya." angguk Jones.
"Ada apa nona memanggil kami." Asiah.
"Ada yang ingin Shafa bilang kak."
Niken menatap Jones yang duduk berdampingan dengan Shafa, ada rasa sakit di hatinya saat melihat laki-laki yang ia sukai malah menyukai orang lain, bahkan yang lebih sakit lagi wanita itu justru majikannya.
"Andai saja orang lain aku pasti akan merebut hati mu dokter, tapi kamu malah suka pada anak majikan ku sendiri, tapi ngak apa apa lah toh Shafa kan tidak tau kalau kamu suka dia, ngak apa lah, aku akan buat kamu menerima aku." senyum miring Niken, tampa ia sadari Asiah memperhatikannya.
"Kak Niken, kak Asiah dan kak Lila saya minta tolong, tolong rahasiakan pada papa, mama dan semua orang kalau Shafa di periksa, mama punya penyakit jantung kakak semua tau itu, Shafa takut mama nanti sakit, jadi biarkan Shafa yang kasih tau pelan pelan."
"Tapi nona, kalau mata mata tuan tau dan lebih dulu menceritakan bagai mana, kami bisa di pecat dan tuan bisa sangat marah."
"Papa tidak akan tau kalau bukan kalian yang ngasih tau, lagian Shafa ngak apa apa kok, cuma periksa aja ngak ada apa apa, iyakan Uncle."
"Ehhh iya ya.." Jones menjawab gugup karna terkejut mendengar panggilan gadis itu, dia baru sadar kalau bukan hanya dirinya saja yang di suruh bungkam.
"Tenang saja kak, Shafa yang tanggung jawab." ucap Shafa meyakinkan para bodyguardnya, mereka pasrah dengan keinginan majikannya.
Jones kembali memaksa Shafa naik kedalam mobilnya, ia ngotot mengantar Shafa kembali kerumahnya, rumah yang ia tempati bersama para bodyguard wanita di sana juga ada bodyguar laki laki namun tugas mereka hanya di gerbang
depan saja.
Mereka punya batasan dan ruang yang tidak bisa di kunjungi dan di masuki laki-laki manapun selain kerabat terdekat Shafa, karna itu ruang gerak bodyguar hanya sampai di gerbang depan saja.
Johan sengaja meminta arsitek terkenal untuk mendesain rumah milik putrinya itu agar terlihat indah dan mewah, sebagai pembatas antara ruang gerak perempuan dan laki-laki Johan memerintahkan membuat pagar yang tinggi di halaman rumah.
Sementara di luar pagar di bagun rumah khusus laki-laki dan di pasang pagar beton di sekeliling rumah itu, lalu pagar besi di bagian depan, jadi rumah yang di tempati Shafa dua kali pagar, mereka memberi istilah rumah yang di tempati wanita adalah wilayah Haram, haram di
masuki laki laki.
"Shafa, kamu benar benar ngak apa apa lagi kan, maksudku ngak sakit lagi perutnya."
"Ngak Uncle."
"Ngak kesepian di rumah ?."
"Ngak, kan ada kakak kakak Shafa." Shafa selalu memanggil bodyguar kakak, karna ia sudah menganggap mereka saudara.
"Maksudnya bodyguar."
"Hmmm iya Uncle."
"Kan lebih baik lagi ada laki-lakinya di rumah."
"Maksudnya ?."
__ADS_1
"Ada laki-laki yang jaga Shafa."
"Ada kok, Uncle Wawan Uncle Yudi Uncle bambang dan Uncle Hendri, banyak." jawab Shafa polos, ia tidak bisa menangkap arah pembicaraan Jones.
"Bodyguar penjaga gerbang."
"Iya.."
"Ya ampun, maksud aku .." Jones tidak meneruskan kata katanya karna dia yakin Shafa masih tidak mengerti Maksudnya.
Apa lagi mereka sudah sampai di halaman rumah, awalnya para bodyguard tidak membuka pintu gerbang karna tidak mengenali mobil Jones tapi saat Shafa membuka kaca mobil dan melihat mobil Shafa di belakang mobil Jones barulah mereka membuka gerbang.
"Uncle.. ingat jangan cerita ke siapapun ya."
"Hmmm kalau aku cerita dan papamu tau aku pastinya yang akan rugi dan tersakiti."
"Maksudnya Uncle ?."
"Yahh gitulah pokoknya." kehilangan kata kata.
Jones melepaskan safety belt yang terpasang padanya lalu ia keluar dari mobil berniat membuka pintu mobil tapi sudah di dahului oleh Asiah.
"Shafa sudah sampai, terimakasih Uncle."
"Ngak di ajak kedalam gitu, makasih doang nih."
Goda Jones.
"Maaf Uncle liat pagar ini adalah wilayah haram, haram untuk laki-laki."
"Yahh maaf aku lupa,.udah sana masuk, ingat jaga diri dan istirahat lah, besok kamu ujian semesterkan, jangan terlalu capek sebentar lagi bakal magrib."
"Baik Uncle, makasih Shafa pamit masuk, Assalamualaikum wrwb."
"Waalaikumsalam wrwb." senyum Jones.
Setelah Shafa dan para wanita masuk Pintu pagar di kunci oleh Niken dari dalam, kemudian Jones pun meninggalkan tempat itu dengan perasaan tidak menentu, ia kembali teringat hasil pemeriksaan Shafa tadi.
"Setelah sampai rumah, gua harus telepon
dokter Lili." gumam Jones sembari menyetir pulang ke Apartemennya.
ππππππ
Hai....
Dukung author terus ya..
πLike..
πVote..
πRate..
πKomen yang sebanyak banyaknya.
Happy Reading.
Wo Ai ni all.........
ππππππ
__ADS_1