UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
74. Menikah ?.


__ADS_3

Dag dig dug dag dig dug


Jantung Jones berpacu kencang, berkali kali laki-laki itu menelan ludahnya kasar, bagai mana tidak, pemandangan yang maha indah ciptaan Tuhan itu kini terlihat jelas di matanya.


Shafa yang baru selesai mandi dan keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk sampai lutut saja, bahu putih yang tertutup sedikit rambut panjang dan Lurus milik Shafa sangat indah.


Rambut gadis itu panjangnya melewati pinggul sehingga siapa saja yang melihat pasti akan takjub, sementara kaki putih Shafa yang terlihat seperti ubi membuat Hasrat Jones terpancing.


Selama ini ia tidak pernah bisa membayangkan bagai mana bentuk tubuh gadis sang gadis karna selalu tertutup baju yang longgar dan panjang, kaki Shafa saja hampir tidak pernah di lihat oleh Jones karna selalu pakai kaos kaki.


"Meimei.. pintunya tadi sudah di kunci kan." tanya Shafa sambil memakai pakaiannya.


"Hhmmm ya tata." masih pokus pada wajah Jones dan Jones pokus pada pemandangan indah di depan matanya.


Blusss.. handuk yang di pakai gadis itu tiba tiba melorot kebawah seiring baju gamis yang juga ikut jatuh menutup seluruh tubuh Shafa dan hilanglah pemandangan indah tertutup gaun longgar berwarna hitam.


Deg deg deg deg deg deg


Denyut jantung Jones masih saja tidak karuan, entah sudah berapa kali ia menelan ludah, bola matanya saja hampir melompat melewati layar handphone yang kini berbalik arah dan hanya memperlihatkan wajah cubby Janeet.


Karna gadis kecil itu kini berubah posisi dengan membalikkan badannya terlentang, sadar sebentar lagi ia ketauan Jones mematikan panggilan vidio dan berubah kepanggilan suara agar Shafa tidak tau kelakuan Jones yang sudah mengintipnya dari balik layar handphone di seberang sana.


"Cantik kakak, paling cantik sedunia sudah makan belum cinta." rayu Jones pada si gadis kecil.


"Belum, kak Ones udah mam ?."


"Belum juga, ngak ada yang suapin, cantik suapin kakak dong." merayu dan mengalihkan perhatian Janeet agar tidak mengadu masalah panggilan Vidio karna takut Shafa berburuk sangka.


"Ishhh masa udah besal di suapin, malu."


"Emang cantik ngak di suapin." Jones tau kelemahan Janeet dan cara mendekati gadis kecil itu dengan mengatakan ia cantik dan tercantik sedunia maka ia akan luluh.


"Ngak dong, kan Annett sudah besal."


"Hmm tapi kakak mau di suapin."


"Anak kecil ngak boyeh cuap orang besal, kakak


di suapin tata saja ya."


Ya ..ya .. ya secepat kilat Jones menganggukkan kepalanya berulang ulang seakan akan Janeet bisa melihat reaksi dan jawabannya.


"Tata.. kak Ones mau cuap."teriak Janeet


tiba-tiba.


"Mampus ketauan gua." ucap Jones menutup mulutnya.


"Hahh apa ?."


"Kak Ones mau cuap tata." menunjukkan panggilan suara dari Jones.


Deg..


"Ehhh Meimei lagi teleponan sama Uncle ?."


"Kakak Ones no Uncle tata." marah.


"Ehh ya .. ya." bingung.


Melihat layar handphone seperti melihat wajah kurus Jones yang makin terlihat kempot dan pucat, membuat Shafa iba.


"Meimei.. tata mau Sholat dulu ya, Meimei


jangan berisik ya." berlalu dengan degup jantung tidak karuan sama hal dengan orang di


seberang sana.


"Kok kamu ngak mau bicara dengan ku gils." gumam Jones kecewa.


Padahal yang ia ajak bicara sejak.tadi bukan Shafa tapi Janeet, namun hatinya terasa sakit saat ia merasa Shafa seperti sedang menghindarinya.


Setelah berbincang tidak jelas dengan Janeet dan tampa semangat lagi Jones mengakhiri panggilan Dan tentu setelah lebih dulu mengeluarkan rayuan pulau merauke pada Janeet tentunya.


"Uncle.. kenapa masih menghubungi Shafa, Uncle kan tidak suka sama Shafa Uncle kan ngak perduli sama Shafa tapi kok telepon terus sih."

__ADS_1


Shafa masih duduk berpikir di atas sajadahnya sejak mengetahui Jones menghubunginya lewat panggilan telepon dan berbincang dengan sang adik hati Shafa menjadi bingung apa sebenarnya maksud dan tujuan laki-laki itu.


Sementara itu di kamar Jones, laki-laki itu sedang gelisah di kamarnya yang berAc, suhu ruangan yang sejuk tidak terasa baginya, bayangan lekuk tubuh Shafa masih terbayang bayang di matanya.


Jones sudah sangat gelisah saat berbincang dengan Janeet tapi karna gadis itu terus mengoceh Jones terpaksa melayani ocehan bocah kecil itu dengan menahan segala rasa.


"Hahh sialan lu, kenapa pake bangun sih." menampar pelan si junio yang masih tersimpan rapi di celana boxernya.


Berulang kali Jones membujuk agar kembali tidur tapi tidak menurut, karna kesal Jones ahirnya berjalan pelan ke kamar mandi sambil menahan rasa sakit pada kakinya.


"Mending gua berendam." bicara sendiri.


Setelah melepaskan seluruh pakaiannya dan Junior pun terbebas, Jones menatap kesal si Junior yang tidak mau di ajak kompromi.


"Gua rendam lu biar tau rasa." omelnya sambil menunjuk ke arah Juniornya.


Laki-laki itu lalu masuk kedalam bathtub yang sudah di isi oleh air dingin, dia sengaja memakai air dingin agar si junior kapok dan kembali tidur lagi agar Jones kembali tenang.


"Hahhh kamu benar benar akan membuat ku gila gils." ucapnya pelan, ia memejamkan matanya dan berusaha mengalihkan pikirannya ke hal lain agar ia tidak semakin terbayang bentuk tubuh Shafa.


Jones membiarkan juniornya tidur sendiri tampa di belai atau di nina bobokkan, meski lama tapi ahirnya junior kalah juga, dan setelah cukup kedinginan Jones kembali ke kamarnya dan langsung naik ke atas tempat tidur.


******


"Arkhan.. lu ikut gua." ucap Johan menatap


Arkhan dingin, mereka baru saja selesai makan malam bersama.


"Kemana om ?."


"Ikut saja." melirik tajam karna Arkhan tidak juga bangkit dari duduknya meski Johan sudah berjalan akan meningalkan meja makan.


"Ogah ahh om, kalau ngak jelas, nanti gimana kalau om mau ajak ke neraka malas ahh." senyumnya, Arkhan yang tidak tau dan tidak hapal sikap dan sipat Johan menganggap setiap pembicaraan dengan siapapun adalah bercanda.


Arkhan memang mempunyai sipat yang ramah baik dan urakan, namun ia masih orang yang tau etika dan sopan santun.


"Oke om." serius.


"Ishh om jon kok galak amat sih, kalau jadi mertua ku bisa mati muda aku." gumam Arkhan


bergidik ngeri.


"Sudah tutup mulut lu, nanti kemasukan cicak." ejek Johan.


"Kadal aja sekalian om."


"Duduk." titah Johan.


"Oke om." duduk di atas sopa di depan Johan.


"Lu suka putri gua."


"Suka om, suka banget malahan." serius.


"Sayang ?."


"Iya om sangat sayang." jujur.


"Bagus kalau begitu."


"Ya om tapi aku." terputus karna Johan meminta nya diam.


"Kalau begitu menikahlah secepatnya, gua akan atur tanggal dan tempatnya, masalah biaya gua yang akan menanggungnya, karna maharnya harus dari lu maka itu yang akan menjadi tugas lu." ucap Johan dingin.


"Tapi om, keluarga ku."


"Itu akan menjadi urusan gua, yang penting lu


siap siap saja."


"Baik om." tersenyum bahagia.


"Waktunya ngak lama, dua minggu lagi."


"Siap om, terimakasih."

__ADS_1


Setelah berbincang cukup lama Arkhan lalu meninggalkan ruangan Johan dengan hati berbunga bunga.


****


"Kak Arkhan jangan ikuti Shafa terus dong." omel Shafa kesal karna selalu di ikuti Arkhan kemana pergi, bahkan saat ke kampus dan saat ke perpustakaanpun Arkhan selalu ada.


"Kamu ya dek, jangan gitu dong."


"Jangan gitu apa." marah.


"Jangan cerewet."


"Ihhh Shafa ngak perduli."


"Hmmm ya udah pelihara cerewetnya nanti


biar di bilang orang nenek nenek."


"Biarin." berjalan menuju parkiran.


Sementara tak jauh dari mereka sepasang mata tengah menatap interaksi mereka berdua dengan tatapan marah dan cemburu.


"Ayo dek, kita ke bandara."


"Ngapain bang." duduk manis di kursinya sementara Arkhan sudah berada di kemudi di sampingnya duduk Asiah yang selalu mengawasi gerak gerik Arkhan.


Niken, Lila sama sama belum percaya pada Arkhan sehingga mereka selalu siaga, meski masih saudara jauh dari Zahra tapi mereka harus tetap hati hati.


"Jemput Naya." jawab Arkhan serius dan menjalankan mobil pelan menuju bandara


yang di maksud.


"Kak Naya datang bang." bertepuk tangan.


"Iya."


"Asikk .. Shafa udah kangen banget ahirnya datang juga." girang.


Setelah menempuh perjalanan sekitar dua puluh lima menit mereka pun sampai di bandara, tidak menunggu lama orang yang mereka tunggu pun muncul, gadis langsing yang tingginya hampir sama dengan Shafa.


Gadis itu juga memakai cadar, namun dari sotot matanya yang indah bisa di pastikan dia juga tak kalah cantik dari Shafa.


"Kakak.. kakak Shafa kangen, apa kabar kak."


"Alhamdulillah sehat dek, kakak juga kangen." memeluk Shafa.


"Aku ngak di kangennin nih." melihat kedua tangan di depan dada pura pura merajuk.


"Ngak." jawab kompak keduanya.


"Ahhh aku juga mau di peluk."


"Tidak." kompak lagi.


"Hahhh dasar perempuan, ayo pulang."


Maraih tas bawaan Naya dan berjalan


mengikuti kedua gadis itu dari belakang.


******


Jangan lupa dukung aku ya


LIKE, KOMENTAR, VOTE, RATE DAN KASIH HADIAH YANG BANYAKKKK YA


aku tunggu loo.



Kunjungi juga Cerita aku yang di🖕ya,.ini cerita tentang papa mama Shafa, sebelum ke cerita Shafa dan Jones ada baiknya singgah dulu di cerita pak CEO si Bucin tingkat tinggi, dan mana yang lebih bucin nantinya ya.


wkwkwkwk.


Hmmm ayuk merapat guys..

__ADS_1


WO AI NI..


HAPPY READING.


__ADS_2