UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
160. Sahabat sekalian menantu.


__ADS_3

"Daddy..Daddy..huaaaa Daddy.." tanpa segan dan malu Shafa langsung masuk kepelukan laki-laki tua itu.


"Be.. apa kabar hmm, Daddy sangat rindu." memeluk dan mencium puncak kepala Shafa penuh kasih sayang.


"Shafa .. Shafa kangen, Shafa lapar Daddy huaaaa, Shafa mau Aa." tangisnya terdengar nyaring dan menyedihkan.


Dari kata kata Shafa bermakna aduan pada papa mertua, Axton tersenyum bahagia di usapnya air mata Shafa yang mengalir deras tidak terkendali.


"Selamat datang tuan Axton, apa kabar anda." sapa Johan mengulurkan tangan pada laki-laki itu.


"Terimakasih tuan Johan Wu, kabar saya baik, sangat baik." jawab Axton ramah menyambut uluran tangan Johan.


'Loh.. kok papa kenal sama Daddy." tanya Shafa bingung padahal dia belum memperkenalkan mereka.


"Mana mungkin papa kasih kesempatan kakak tinggal di mansionnya kalau papa tidak tau siapa, papa tau semuanya tentang ayah angkat kakak." Johan.


" Ralat tuan Johan, bukan ayah angkat lagi tapi Daddy, mertua ya kan Be." senyum Axton mengedipkan mata pada Shafa.


"Enghhhh Daddy kok bilang gitu, ehhh iya kan." senyum Shafa sampai mata menyipit.


"Tentu saja Bee, tadi pagi habis sholat subuh kotak yang Shafa berikan terbuka, setelah Daddy melihat isinya jantung Daddy hampir melompat keluar, Shafa benar benar memberi warna di hidup Daddy, terimakasih Be Daddy sangat sayang kamu Be." mengusap kepala Shafa.


"Enghhhh Daddy tidak marah karna tidak beritahu langsung ?." mata Shafa berkedip kedip seperti mata boneka sangat lucu dan menggemaskan.


"Tentu tidak Be, Daddy malah sangat bahagia, terimakasih sudah hadir di hidup Daddy, terimakasih sudah memberikan informasi tentang putra Daddy, terimakasih Be."


"Mari duduk dulu tuan Axton, o iya kenalkan ini istri saya."


"Ohhh iya .. Assalamualaikum wrwb nyonya Zahra kenalkan saya Axton." mengatupkan kedua tangan di depan dada, dia tau kalau Zahra pasti tidak menerima uluran tangan laki-laki sembarangan.


"Wa..Waalaikumsalam wrwb, Zahra tuan Axton, anda..anda sangat." ucap Zahra terbata bata.


"Aku sangat mirip dengan Jones ?." senyum laki-laki itu lagi.


"Ehhhh anda.." Zahra tergangga.


"Kita duduk dulu tuan Axton, ayo yank bawa kakak." ajak Johan ke ruang keluarga.


"Maaf tuan Johan, boleh saya pinjam dapur anda." tanya Axton sopan.


"Maksud anda ?." Johan.


"Menantu saya tadi bilang lapar, saya bisa pakai dapur anda untuk masak nasi goreng kesukaannya?." Axton.


"Ahhh ya..ya tentu saja, mari.." berbalik arah ke dapur.


"Ayo Be, tadi katanya lapar, Daddy masak nasi goreng mau ?." senyum lembut seorang ayah pada putrinya.


"Enghhhh mau Dad..Daddy..mau." jawabnya putus putus.


Shafa duduk di kursi makan bersama Zahra, Johan serta Daddy Wu dan Mommy Wu yang baru bergabung di sana, Mommy, Daddy masih terkejut dengan kehadiran Axton.


Mereka tidak menyangka ternyata Jones masih memiliki ayah kandung karna selama ini cerita tentang ayah Jones tidak ada yang tau kebenarannya.


Johan lalu bercerita tentang Shafa yang lari bersama Naya dan bertemu Axton lalu menginap di mansion Axton untuk beberapa lama di negara xx.


Sesekali Axton ikut bercerita, tangannya dengan cekatan memotong motong sayur dan buah untuk di jadikan salad karna nasi goreng hampir selesai di masak olehnya.


Setelah semua masakan permintaan Shafa selesai Axton lalu menghidangkan nya pada anak angkat sekaligus menantu itu, senyum indah ala Jones itu terpancar jelas kebahagiaan di sana.


Shafa tanpa basa basi dan tanpa niat menawarkan pada siapapun yang ada di meja makan langsung saja menyantap masakan Axton.


Zahra, Johan, Mommy dan Daddy wu saling pandang jarang sekali Shafa makan selahap itu.


Membuat mereka bingung apa sih resep yang di buat oleh Axton sehingga masakan itu begitu nikmat di rasa oleh Shafa.


Sedang Zahra yang sedari tadi memperhatikan cara Axton memasak dan bumbu yang ia gunakan tidak ada yang aneh dan lain.


Lalu Zahra berkesimpulan kalau tangan yang memasaklah yang menjadi daya tarik dan nikmat makanan itu.


"Bagai mana Bee, masakan Daddy masih seperti kemarin ?, enak Be ?." menggeser duduknya di sisi kiri Shafa sedang di sisi kanan Shafa ada papanya yang super overprotektif.


Sekilas tampak kilatan api cemburu dari pandangan Johan pada Axton, putrinya itu kini.berubah haluan bermanja pada laki-laki tua yang ia panggil Daddy itu.

__ADS_1


Bagai mana tidak begitu sampai belum juga duduk Shafa sudah mengadu lapar dan ingin makan masakan laki-laki itu sedangkan dia berulang kali mencoba memasak keinginan sang putri tapi tidak di makan dengan cara selahap itu.


Shafa memakan masakannya lebih dari sekedar menghargai saja, di makan paling dua tiga sendok sudah berhenti, bagai mana ia tidak cemburu, tapi dia sadar putrinya itu tengah hamil tentu maunya yang lain dan aneh.


"En..enakh Daddy.." jawab Shafa putus putus karna sesekali ia masih sesegukan akibat menangis berjam jam.


"Bagus dong kalau begitu, lalu kenapa menangis sampai sesegukan Be." tanya Axton saat Shafa menyelesaikan makannya.


"Enghhhh.. ngak Daddy." jawab Shafa tapi tetap dengan wajah sedih.


"Loh..jadi kenapa wajahnya sedih." Axton.


"Enghhhh.. Shafa mimpi tadi siang Daddy hiks." mengecek matanya, Shafa kembali menangis.


"Mimpi .. ? mimpi apa sampai sesedih ini, o..iya Jones mana, apa pintu maaf belum terbuka dari papa mu Bee?."


Axton mengarahkan pandangan pada Johan dan Zahra bergantian, Zahra sudah salah tingkah sedari tadi wanita itu terus saja meremas jarinya karna gugup dah takut membuat Shafa shoc kalau mengetahui kondisi Jones.


Pasangan suami istri itu masih bingung bagai mana cara penyampaikan berita tentang suaminya,sekarang tambah bingung harus penjelasan pula pada Axton Daddy nya Jones.


"Shafa mimpi Aa, Aa hiks..hiks."


"Kenapa Be, Aa kamu kenapa ?." tanya Axton bingung.


"Shafa mimpi wajah Aa berdarah darah Daddy huaaa."


"Ahhhh cuma mimpi, mimpi itu hanya bunga tidur Be jangan terlalu di pikirkan, sekarang Shafa pokus ke kesehatan Shafa dulu dan cucu cucu Daddy oke ?."


"Tapi Daddy, Shafa jadi takut hiks."


"Jangan khawatir Be, tidak akan apa apa, Daddy saja belum bertemu putra Daddy masak gitu sih." senyum Axton meyakinkan Shafa.


"Daddy sangat bahagia membuka box dari mu Be, hadiah terindah tepat di ulang tahun Daddy hari ini, Daddy sangat terkejut melihat photo duplikat Daddy ada di dalamnya, bahkan kamu menceritakan secara detail siapa suamimu mamanya dan perjalanan hidupnya di dalam surat itu."


Mata Axton berkaca kaca mengingat surat yang ia baca, ia benar benar bersyukur bisa bertemu dengan Shafa kala itu sehingga ia tau kalau istrinya masih hidup.


Bahkan dia memiliki anak dari wanita itu meski ia sempat membenci mertua Shafa karna dia penyebab Shafa dan suaminya berjauhan tapi ternyata wanita yang dia benci itu adalah istri yang ia cari selama ini.


"Jadi apa karna itu kamu langsung suka dekat sama Daddy ?, dan ingin makan masakan Daddy, apa masakan kami sama Be." membelai pucuk kepala Shafa.


"Bagai mana kami tau saat itu Daddy bisa masak seperti yang di masak Jones, begitu Daddy ajak ke mansion Daddy kamu langsung mau bahkan ingin tinggal bersama Daddy di sana."


"Insting aja Daddy, Shafa yakin Daddy ayahnya Aa, terus Shafa maunya di masakin Aa, tapi Aa ngak ada jadinya Shafa pikir Daddy bisa masaka enak, seperti Aa."jawabnya manja.


"Begitu ??."


"Humhhhh ya Daddy."


"Kamu tau ngak Be Daddy bahagia benar benar sangat bahagia mengetahuinya, karna itu tadi pagi sehabis subuh Daddy langsung terbang kemari, untung alamat yang kamu kasih lengkap jadi kami tidak kesulitan mencari rumah ini.." jelas Axton matanya berbinar bahagi.


"Hahh Daddy ulang tahun ?."


"Iya Be, umur Daddy sudah lima puluh dua tahun sekarang, Daddy tidak menyangka banyak hadiah yang Daddy terima, putra Daddy dan nanti calon cucu cucu Daddy, jadi agar Daddy terus bahagia kamu maukan menjaga kesehatan dan pola makanmu Be, demi Daddy hmm."


"Iya Daddy Shafa janji, Barakkallah fii umrik ya Daddy,semoga Allah melompat rahmat kesehatan keselamatan dan panjang umur untuk Daddy nanti kalau bayi Shafa lahir banyak yang jaga." senyum Shafa.


"Banyak yang jaga ?." Johan.


"Hummhh Ayah Shafa jadi tiga sekarang Ada papa, Daddy dan ayah Nazwan, bayi Shafa juga ada tiga kan bagi tiga jadinya." ocehnya bahagia.


"Ouhhh jadi papa mau di jadikan baby sitter nih." tawa kecil Johan.


"Henghhhh ya.." Shafa mengangguk berkali kali.


"Wahhh kalau begitu harus siapkan fisik nih, biar kuat begadang buat ganti popok dan buat susu kembar." tawa Johan lagi.


"Ehhh tunggu kalau kita yang jaga kembar Daddy ngapain keenakan dong dia." canda Axton.


Wajah Zahra dan Johan langsing berubah mereka tetingat lagi kondisi Jones yang kritis di rumah sakit, perubahan sikap Johan terbaca oleh Axton lalu dia bertanya pada besannya itu.


"Ada apa tuan Johan." tanya Axton yang melihat gerak gerik mencurigakan.


"Bisa kita bicara berdua tuan Axton."

__ADS_1


tanya Johan palan.


"Tentu saja tuan Johan." mulai tidak enak hati dan makin curiga.


"Mari ke ruang kerja saya tuan." Johan berdiri lebih dulu lalu berjalan pelan.


"Bee Daddy ikut papa mu ya nak, sebentar saja." Axton.


"Daddy mau kemana ?, mau bicara apa ? kenapa Shafa ngak ikut ?."


"Sebentar saja kak, nanti kita bicara." bujuk Johan.


"Hmmm ya papa." Shafa.


Johan dan Axton kini duduk berdua berhadapan di sopa ruang kerja Johan, awalnya Johan bingung harus di mulai dari mana sampai Axton berbicara.


"Tuan Johan, sepertinya my Princes masih berjauhan dengan putra ku, apa kesalahannya tidak bisakah anda maafkan setidaknya lihatlah mereka itu saling merindukan, Shafa juga membutuhkan nya putraku begitupun sebaliknya."


Axton menduga Shafa menangis tadi


karna ingin bertemu suaminya namun tidak di izinkan.


"Tuan Axton, saya akan menceritakan di mana Jones dan apa yang terjadi, namun sebelumnya aku minta maaf jika cara ku memberikan pelajaran pada Jones terlalu berlebihan, walau bagai manapun aku seorang ayah, aku tidak mau putriku di sakiti oleh siapapun apa lagi suaminya sendiri sahabat yang sudah ku anggap saudara sekaligus menantu ku."


"Oke tuan Johan saya sudah tau sejarah pernikahan Shafa dan Jones, sekarang tolong ceritakan apa yang terjadi, anda jangan membuat saya bingung." tanya Axton tidak sabar melihat wajah serius yang tergambar di wajah Johan.


"Begini tuan, mimpi kak Shafa wajah Jones berdarah itu benar adanya." ucap Johan tanpa ragu lagi.


"Maksud anda, putra saya.."


"Begini..." Johan lalu bercerita


Axton terkulai lemah di sopa tempat dia duduk, wajahnya yang sedari tadi di penuhi senyuman kini memucat, bagai mana tidak putra yang ia idamkan sejak tau keberadaannya sekarang dalam keadaan kritis dan terbaring lemah di rumah sakit akibat ulah mamanya sendiri.


"Astaga Tuhan, aku tidak menyangka dulu aku menikahi mosnter." ucap Axton lemah, ia mengusap wajahnya kasar.


"Maaf tuan Axton, aku minta, tolong merahasiakan sementara pada putri saya tentang Jones saya tidak mau putri saya nanti cemas lalu berpengaruh pada diri dan kehamilannya."


"Oke saya mengerti." Axton.


"Dan sekali lagi saya minta maaf, untuk kali ini saya benar benar tidak mau menerima putra anda jadi menantu saya lagi, kalau kemarin saya masih berpikir ulang untuk membiarkan dia berjuang dan kembali pada putri saya, saya tegas kan kali ini tidak, saya tidak mau mamanya menyakiti putri saya untuk kesekian kalinya."


Hahhhhhh


"Anda kini juga seorang ayah, bedanya anak anda laki-laki dan saya wanita, kalau ada orang yang menyakiti anak anda apa anda bisa terima, apa lagi berkali kali, memang semua ini bukan kesalahan Jones sepenuhnya tapi ulah mamanya yang memgitnah, hanya saja kenapa Jones tidak berpikir dulu sebelum bertindak,anda tau satu hal yang membuat saya sulit memaafkannya, pada saat putri saya terluka dia meninggalkan putri saya sendirian tanpa perduli padanya, bayangan itu selalu terngiang ngiang di ingatan saya."


Hahhhhh


Axton menarik napas dalam dalam mendengar kata kata Johan, lagi lagi ia mengusap wajahnya berulang kali.


"Tuan Johan di rumah sakit mana putra saya saat ini." Axton sengaja mengalihkan pembicaraan, untuk semester dia tidak mau membahasnya dulu, dia ingin pokus pada kesehatan putranya itu, masalah rumah tangga anaknya nanti ia pikirkan.


"Rumah sakit Xxx"


☘☘☘☘☘☘


Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik  terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.


Mari tetap semangat dan saling support


Dengan cara :


☘ LIKE


☘ RATE


☘ VOTE


☘ HADIAH yang banyak


☘KOMEN yang sebanyak banyaknya.


Wo Ai Ni all..

__ADS_1


Happy Reading.


__ADS_2