
Johan dan semua keluarga sudah kembali ke rumah besar setelah dua minggu lebih mereka tinggal bersama, setelah semua keluarga pergi kini tinggal pasangan suami istri itu saja yang tinggal di rumah mawar tentu saja bersama bodyguar serta bibik.
Sore itu Jones pulang kerja langsung masuk kamar, di kamar ia melihat wanita yang teramat di cintainya itu masih terlelap dalam tidurnya.
Senyum tersungging di bibir **** laki-laki tampan itu, karna belum mandi dan membersihkan diri sehabis beraktivitas seharian dari melayani pasien poli sampai melakukan operasi pada beberapa pasien tentu saja membuat Jones merasa kurang nyaman kalau mendekati Shafa tampa mandi dan berganti pakaian.
Shafa menggeliat beberapa saat kemudian bola matanya terbuka lebar begitu mencium aroma mint dari shampo yang di pakai pak suami.
Glekk..
Shafa menelan ludah kasar melihat pemandangan indah yang ada di depan matanya, Jones keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk dari pinggang sampai lutut saja, tentu otot otot dada Jones serta roti sobek yang tercetak indah di perut sixpacknya tergambar dengan jelas.
"Istri Aa sudah bangun." berjalan mendekati Shafa yang masih berada di atas tempat tidur.
"Enghhhh ya Aa."
"Jangan lihatin aja, pegang dong." kekeh Jones melihat pandangan mata istri selalu ke dadanya, Jones meraih kedua tangan istrinya kemudian ia tempel kan kedadanya.
Jones meraih kepala Shafa lalu ia dekatkan ke wajahnya, laki-laki itu mencium dan ******* bibir istrinya lembut dan mesra, Shafa mendorong tubuh besar Jones pelan.
"Kenapa sayang, alasan baru bangun tidur lagi, hmmm ngak bau sama sekali, malah wangi mulut sayang seperti mulut bayi, wangi banget umhhh." menarik tengkuk Shafa dan kembali menciumi seluruh wajah cantik Shafa.
"Aa.."
"Hmmm diam sayang, Aa mau cium sayang." makin memperdalam ciumannya.
Jones menarik selimut yang menutupi tubuh istrinya, ia lemparkan selimut itu ke sembarang tempat, lalu ia angkat tubuh Shafa agar duduk di atas pangkuannya.
Napas laki-laki itu memburu menahan hasratnya, Shafa yang berada di atas paha Jones merasa seperti terdorong sesuatu yang besar dan panjang dari bawahnya, di antara kedua kaki Jones.
"Aa.."
"Sayang."
"Enghhhh Aa.."
"Hmmm ya sayang, jangan bergerak yangk, nanti dia makin bangun." bisik Jones.
"Tapi Aa emhhhh." mulutnya masih di sumbat oleh mulut Jones.
"Abaikan sayang." napas tersengal.
Shafa makin tidak tenang, tongkat sakti Jones benar benar mendorong bokongnya yang menempel di atas paha sang suami.
"Aa.." membuka matanya berlahan, sementara bibirnya serta seisi rongga mulutnya masih di kuasai Jones.
Jones melepaskan pagutannya, kemudian ia memeluk istrinya erat napasnya masih tersengal sengal, Jones menciumi leher Shafa berkali kali.
"Aa.."
"Iya sayang, kenapa ?."
"Itu .."
"Apa yangk." senyum Jones, dia paham betul dengan perkataan Shafa yang merasa risih karna ada yang bergerak gerak di bawahnya.
"Uu..ular Aa." bersembunyi di dada Jones.
"Kenapa ular Aa." pura pura tidak tau.
"Bergerak gerak." bisiknya.
"Biarkan sayang."
"Tapi Aa, kan .. Aa.. kan.." bingung mau bilang apa.
"Kenapa sayang."
"Aa.. mau ya." cicitnya.
"Mau apa, ini." menyentuh inti Shafa.
Enghhhh..
"Iya Aa mau banget, Aa kangen, sudah lebih tiga minggu Aa puasa, tapi sekarang belum boleh tunggu tiga minggu lagi yank."
"Tapi Aa kan.."
Jones melonggarkan pelukannya, di tangkupnya wajah Shafa, lalu ia melihat mata bening istri yang sudah berkaca kaca, bibir bawahnya menenggelamkan bibir atasnya sehingga membuat Jones terkekeh karna merasa lucu dan gemas melihatnya.
__ADS_1
"Ngak apa apa sayang, dede belum bisa melayani Aa sekarang karna rahim dede belum siap Aa masuki, nanti setelah tiga minggu lagi Aa pasti minta di puasin dari malam sampe pagi, dari pagi sampe siang sampe malam dan sampe pagi lagi." Goda Jones.
Hahhh ..
Jones terkekeh lagi, pelan pelan ia menurunkan Shafa dari pangkuannya, namun saat Shafa turun handuk Jones malah terlepas sendiri sehingga tongkat saktinya berdiri tegak di hadapan Shafa.
"Biarkan sayang, ngak apa apa." senyum Jones menahan hasratnya.
"Aa.. ngak apa apa."
"Ngak apa apa sayang Aa." Jones mencium bibir Shafa sekilas kemudian ia menutup bagian bawahnya lalu berjalan pelan kembali masuk kamar mandi.
Setiap Jones mencium Shafa ia ahirnya berakhir di kamar mandi, meski bingung dengan tingkah Jones yang langsung masuk kamar mandi setiap berciuman tapi Shafa tidak pernah tau atau pun bertanya apa yang di lakukan suaminya itu berlama lama di kamar mandi.
*****
"Aa.." merengek manja, berjalan mengikuti kemana Jones berjalan.
Jones membiarkan saja istrinya mengekori kemana ia bergerak, tampa perduli dengan rengekan manjanya.
"Aa.. ya Aa..iya nya yaaa yaa ..yaa ." menarik narik ujung kemeja Jones.
Suaminya itu sedang bersiap siap untuk berangkat kerja tapi malah di ganggu terus oleh istrinya yang mulai manja dan cerewet.
"Tidak sayang, tunggu satu minggu lagi dede baru kuliah lagi, sekarang dede tetap belajar di rumah secara onlane." jawab tegas Jones.
Dia tau istrinya itu bosan di rumah tapi dia tidak ingin Shafa cape nantinya kalau sudah masuk kuliah apa lagi Shafa masih dalam perawatan karna itu dia tidak mengizinkan Shafa untuk kuliah tatap muka saat itu.
Wajah Shafa langsung berubah muram, di sudut matanya terlihat bulir bulir bening yang bersiap kapan saja meluncur, Jones tau istri sedih dan kecewa namun untuk kebaikan Jones terpaksa menguatkan hatinya agar tidak terpengaruh bujuk rayu sang istri.
Tiba tiba sudut bibir Shafa terangkat beberapa senti, ia yang awalnya berdiri di belakang Jones mengikuti kemana Jones pergi sekarang ia berpindah kehadapan suami yang sedang sibuk mengancing satu persatu baju kemejanya.
"Hehee kalau Shafa ngak boleh keluar Aa juga ngak bisa kemana mana." senyum licik.
"Sayang.. Aa.. ada operasi pagi ini."
"Shafa ngak perduli."
Shafa mendorong pelan tubuh Jones, laki-laki itu meski bisa bertahan pada posisi berdirinya semula hanya bisa pasrah saat tangan kecil istrinya mendorong mundur tubuh besarnya.
Kaki Jones mentok di sisi tempat tidur dia sudah tidak bisa bergerak lagi, Shafa lalu mendorong Jones sehingga laki-laki itu jatuh telentang di atas tempat tidur.
Shafa lalu naik ke atas tubuh Jones tepat di atas tongkat sakti laki-laki itu,Shafa yang mengenakan dress pendek khusus di pakai di kamar tentu saja bagian atas terbuka saat ia berada di atas tubuh Jones dan bagian intinya langsung nemplok disana.
"Sayang jangan menggoda Aa." ucap Jones terbat dan napas yang mulai tidak beraturan.
"Goda apa Aa.." menyeringai.
Tangan Shafa berkelana di dada Jones yang terbuka, Jones mulai prustasi menghadapi tingkah istrinya yang tiba tiba begitu.
"Sayang, jangan please.. dede belum bisa Aa masukin masih satu minggu lagi, tolong jangan goda Aa lagi, Aa ngak tahan."
"Shafa ngak goda Aa tuh, ngak kok." menaikkan tempo gerakan asalnya di atas paha Jones plus plus tongkat ajaib suaminya itu.
Shafa terkikik menyadari senjata ajaib suaminya yang sudah mengeras dan membesar di bawahnya, bukannya berhenti tapi malah semakin berbuat Jones sesak napas menahan diri untuk tidak menjamah sang istri karna belum waktunya.
"Sayang.. please, berhenti Aa ngak tahan yank dede tau kan sudah lima minggu Aa puasa dan menahan diri, tolong jangan lagi yank nanti Aa silap." menahan pinggang Shafa agar berhenti bergerak.
"Kenapa silap ??." kembali menggerakkan bokongnya.
"Istri Aa, please.. jangan sampe Aa beneran silap."
Mengerang menahan hasratnya yang makin membuncah.
Shafa tidak perduli dia malah makin menggerakkan bokongnya, kedua tangannya menggerayani dada Jones yang putih di tumbuhi bulu bulu halus di sana.
Jones memejamkan matanya, kedua tangan meremas seprey, ia mengerang, mendesah makin membuat Shafa terkikik geli, dia sama sekali tidak berniat serius menggoda suaminya itu untuk kepuasannya dia sendiri masih takut kalau kalau suaminya itu menyerangnya.
"Yank.." erang Jones.
Tidak tahan ahirnya Jones membalikkan posisi ia menarik tubuh Shafa agar merapat padanya lalu memeluk dan membalikkan tubuh, kini Shafa merada di bawahnya.
"Nakal ya dede hmmm, siapa yang ajarin nyiksa Aa begini hmmm cup cup cup cup cup." Jones menciumi wajah leher Shafa bertubi tubi hingga membuat napas Shafa tersengal sengal.
"Ampun ngak hmmm, ampun ayo bilang."
"Nghhh.. ngak.. ngak ampun hahahaha."
"Owhhh ya ngak hmm." Jones membenamkan bibirnya serta ******* bibir Shafa lembut dan mesra menikmati pijatan bibirnya di atas bibir sang istri yang awalnya malu malu dan lebih banyak diam saat berdua.
__ADS_1
"Aa.. emhhhh mmmmh."
Jones menghentikan cumbiannya karna takut silap, meski bukan operasi caesar tapi tetap saja Jones memberi jangka waktu enam minggu untuk melakukan hubungan suami istri guna mencegah hal hal yang tidak di inginkan pada sang istri meski dia sendiri harus menderita menahan hasratnya.
Jones turun dari atas tubuh Shafa, setengah berlari masuk kamar mandi, Jones melepaskan celana panjangnya baju kemeja yang dia pakai sudah tidak jelas bentuknya.
"Ahhh istri gua, kenapa tiba tiba nakal begini, lama lama puasa gua bisa sekarat." gumamnya sambil melakukan pijatan pijatan yang kadang, kasar lambat, lembut pada tongkat sakti miliknya yang keras tegang bagai broti.
Uhhhh Achhhh hmmm
Erangannya terdengar sampai keluar kamar mandi, Shafa yang tadinya tertawa karna berhasil membuat Jones bagai cacing kepanasan, tapi mendengar erangan Jones Shafa menjadi bingung ia lalu melangkah masuk kekamar mandi yang tidak terkunci.
"Aa.. ishhh apa itu ihhh."
"Masih tanya ini apa, hasil perbuatan dede ini, sekarang dia ngak mau bobok lagi, ayo bantuin Aa menenangkannya biar ngak gerak gerak gini, sakit lo yank."
Shafa menutup matanya, sementara Jones malah mendekati istri, Jones sangat tersiksa karna biasanya si tongkat sakti mudah di tenangkan tapi kali ini berbagai cara sudah ia lakukan selain menusukkan tongkatnya pada sarangnya.
Jones menarik dres Shafa ke atas sampai terlepas, menyisakan pakaian dalam istrinya saja, Spontan Shafa menutup dada dan bagian inti dengan tangan kanan di inti tangan kiri di dada meski tidak tertutup semua.
"Aa.."
"Jangan menolak yank, dede yang mancing Aa." Jones kembali mencumbui istrinya ganas, tidak sampai di situ Jones membalikkan tubuh Shafa agar membelakanginya, kemudian ia merapatkan kedua kaki Shafa dan memasukkan tongkatnya di antara kaki Shafa lalu memaju mundurkan layaknya sedang melakukan hubungan suami istri.
Tubuh keduanya sama sama bergerak dan bergoncang, cukup lama Jones melakukan itu di paha bagian belakang Shafa hingga Shafa merasakan panas di pahanya akibat gesekan benda tumpul keras dan panjang milik
suaminya itu.
Jones mengerang kuat begitu ia sampai di puncak dan menyemburkan larva hangat di bokong istri, Jones lalu memeluk tubuh istrinya menciumi leher dan bahu Shafa dari belakang.
"Masih mau menggoda Aa hmmm, tau sendiri akibatnya yank, nanti kalau dede sudah bisa Aa masukin Aa akan membuat dede begadang setiap malam, Aa tidak akan memberikan waktu libur buat dede." bisik Jones lalu mengecup leher Shafa dan meninggalkan bekasnya di sana.
"Ishhh Aa jorok." omel Shafa meraba bokongnya yang di semprotkan larva kental oleh Jones.
"Makanya jangan mancing mancing yank." kekeh Jones membuka keran air hangat untuk mengguyur tubuh mereka berdua.
"Mandi lagi deh." Jones.
*****
Setelah enam minggu ahirnya Shafa bisa berkuliah lagi, pagi itu Shafa di antarkan oleh suaminya sampai halaman pakultas dengan mobil mewah hadiah dari Uncle Hengky.
Shafa tidak mau Jones mengantar pakai mobil suaminya itu karna takut orang lain melihat, Shafa belum mau teman temannya dan orang lain tau pernikahan mereka.
Sesuai janji Jones harus taat pada peraturan yang di buat istri, tidak ada yang boleh tau di pakultas kalau dia sudah menikah apa lagi dengan dokter Jones dosennya sendiri.
"Aa Shafa turun ya." mencium tangan Jones.
"Iya sayang Aa, istri Aa jaga diri ya, ingat tidak boleh dekat sama laki-laki mana pun, dan ingat dede itu sudah menikah dan punya suami." mengecup bibir Shafa lembut.
"Enghhhh iya Aa."
"Nanti Aa jemput pulang kuliah ya."
"Ngak usah Aa, Shafa sama kak Niken dan yang lain aja." menunjuk Niken yang sudah keluar dari mobil Shafa lainnya, waktu berangkat dari rumah mawar mereka sudah beriringan.
"Tidak tunggu Aa jemput oke.."
"Enghhhh iya deh." Shafa turun dari mobil, setelah yakin istrinya masuk ke dalam ruangan Jones pun meninggalkan tempat itu menuju rumah sakit di mana antrian poli sudah banyak menunggu.
********
Hai maaf ya teman teman kalau Up nya ngak jelas dan tersendat sendat, maklum dong yahh
Hehehehe..
Dukung akoh terus ya
LIKE
RATE
VOTE
HADIAH
KOMEN YANG SEBANYAK BANYAKNYA.
Makasih yang udah mendukung sampai sekarang, semoga kita semua dalam lindungan sang pencipta Aminn..
__ADS_1
WO AI NI
HAPPY READING.