UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
45. Protektif.


__ADS_3

"Apa maksud kata kata dokter itu sebenarnya sayang." tanya Johan saat mereka sudah ada di kamar rumah.


Zahra duduk menyandar di kepala ranjang dengan kaki berselonjor ke depan, seperti biasa Johan dengan setia memijat kakinya yang mulai bengkak karna kehamilannya yang sudah memasuki delapan bulan.


"Hasil pemeriksaan ada sejenis kista di dalam rahim Shafa masih kecil tapi kita ngak tau apa masih ada di tempat lain, misalnya di dalam oparium untuk mengetahuinya harus di lakukan pemeriksaan lain." Zahra menghentikan kata katanya sejenak.


"Lalu mengapa tidak di lakukan sayang, apa perlu kita bawa kak Shafa ke rumah sakit luar negeri agar pemeriksaannya lebih maksimal lagi."


"Meski kita bawa Shafa keluar negeri para dokter akan tetap tidak bisa melanjutkan pemeriksaan kalau Shafa masih gadis ko."


"Loh kenepa."


"Karna alat pemeriksaan itu harus di masukkan kedalam organ kelamin ko, namanya USG Transvaginal kalau Shafa masih gadis itu berarti.."


Zahra tidak melanjutkan kata katanya berharap Johan mengerti.


"Astagfirullah halazimm.." Johan mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, Johan tampak shoc dia mematung di tempatnya.


Zahra terisak, sebenarnya Zahra juga shoc dengan hasil pemeriksaan putrinya itu tapi apa daya Allah punya kuasa pada ummatnya kita manusia hanya bisa berusaha dan ikhtiar.


"Apa bahaya sayang."


"Bahaya kalau di biarkan lama lama, itu hanya sejenis tumor jinak di dalam rahim yang berbentuk kista masih kecil dan masih bisa di obati dengan obat medis dan herbal, yang kita takutkan kista itu bukan hanya ada di rahim tapi di tempat lain."


"Yaa Allah kenapa harus putriku." mengusap wajahnya kasar.


"Tidak apa apa koko, sekarang kita hanya perlu memikirkan bagai mana solusinya."


"Itu artinya kita harus menikahkan Shafa yangk?."


"Iya koko."


Johan terdiam, ia merangkak di atas tempat tidur ke arah Zahra lalu ia membantu merebahkan tubuh Zahra kemudian di susul olehnya ia memberikan tangannya untuk di jadikan bantal oleh sang istri.

__ADS_1


Berkali kali ia mencium seluruh permukaan wajah Zahra membelai kepala dan memeluknya erat.


"Jangan kwatir sayang, koko akan mencari dokter terbaik untuk putri koko, apapun akan koko lakukan untuk kesembuhannya, sayang jangan berpikir terlalu keras ya, putri kita tidak akan apa apa, kan sayang yang bilang tidak berbahaya."


Mengecup bibir sang istri penuh cinta.


"Hmm aku percaya koko akan memberikan dokter yang terbaik buat Shafa." ucapnya lirih menyembunyikan wajahnya di dada bidang Johan.


Di tempat lain.


Shafa tengah tertidur pulas di ranjang rumah sakit di kamar super mewah yang di peruntukkan hanya untuk pemilik rumah sakit atau keluarganya.


Niken, Asiah dan Lila gantian berjaga menemani majikannya, mereka duduk tidak jauh dari gadis itu di sopa mewah yang ada di sana.


Sementara di sisi Shafa sudah duduk Jones dengan setia, ia duduk terkantuk kantuk namun tetap bertahan di sana meski Niken dan yang lain sudah berkali kali meminta ia untuk pulang atau tidur di tempat tidur yang ada di sudut ruangan itu namun Jones tetap kekeh ingin menemani Shafa di sisi gadis itu.


Di luar bergantian para bodyguard berjaga di depan pintu masuk kamar perawatan Shafa.


"Kamu bangun gils." tanya Jones dengan suara serak melepaskan genggaman tangan gadis itu takut di marah karna tadi Shafa tidak tau kalau di genggaman oleh Jones.


"Loh Uncle kok ngak pulang."


"Di tanya kok malah balik tanya sih gils." cucut Jones.


"Hehehe Uncle lihat sendirikan kalau Shafa bangun Uncle kok jadi aneh sih."


"Aku memang sudah aneh sejak menyukai mu." cicit Jones.


"Kenapa Uncle ?." tanya Shafa karna ia tidak bisa mendengar kata kata laki-laki dengan jelas.


"Ahh ngak apa apa gils."


"Hmmm, Uncle kok Shafa ngak pulang aja tadi Shafa kan ngak apa apa."

__ADS_1


"Ngak apa apa bagai mana, tekanan darah kamu drop kok ngak apa apa sih, kamu harus di rawat sampai benar benar pulih."


"Tapi Uncle Shafa sudah baikan, besok pulang ya Uncle Shafa kan harus kuliah."


"Tidak bisa kamu sehat betul dulu baru boleh pulang."


"Tapi Uncle bla .. bla.."


Perdebatan kecil pun terjadi di antara kedua insan beda generasi itu Jones sudah seperti suami yang protektif pada Shafa yang di mana kata katanya harus di turuti dan di ikuti.


Namun meski begitu Jones tetap kalah karna Shafa juga sama gigih dengannya.


********


Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik  terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.


Mari tetap semangat dan saling support


Dengan cara :


💝 LIKE


💝 RATE


💝 VOTE


💝 HADIAH yang banyak


💝KOMEN yang sebanyak banyaknya.


Wo Ai Ni all..


Happy Reading.

__ADS_1


__ADS_2