UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
180. Aku adakah kau,kau adalah aku.


__ADS_3

Flasback on.


Didalam ruang perawatan ICU sosok dokter tampan yang terluka akibat perbuatan dirinya sendiri mulai menunjukkan reaksi dan tanda tanda kemajuan dalam kesehatannya.


"Alhamdulillah.. bro lu lihat Jones mulai nerreaksi, vital singnya sudah jauh lebih baik." senyum dokter Alwi menatap Jones.


"Ya bro gua juga lihat, Alhamdulillah, kalau begitu kita harus menghubungi nyonya Zahra." doktor Anton.


"Betul bro, nyonya bilang kalau kondisi Jones sudah mulai membaik kita harus segera menghubunginya."


"Iya.. tapi kok aneh ya, kita tidak boleh menghubungi siapapun selain beliau, kenapa ya." dokter Ryan.


"Ahhh sudahlah tidak usah pikirkan sekarang hubungi saja nyonya Zahra, nyonya pasti punya rencana untuk Jones." dokter Alwi.


"Betul.. tapi apa tidak bahaya untuk kita." dokter Ryan.


"Tenang saja, tuan Johan sangat patuh dan takut pada istrinya, nyonya Zahra tentu tidak akan membahayakan kita." dokter Anton.


"Ya sudah gua telepon nyonya dulu." dokter Ryan.


Laki-laki seumuran Jones itu meraih handphone di kantong jas putih yang ia pakai, lalu menghubungi seseorang yang di maksud.


"Bagai mana ??." tanya dokter Anton, tepat setelah dokter Ryan menutup panggilannya.


"Katanya nyonya beliau akan segera kemari." dokter Ryan.


"Tapi Jones belum benar benar sadar bro." jawab dokter Anton.


"Nyonya bilang ia datang untuk melihat kondisi Jones dulu, semoga sebentar lagi Jones sadar dan bangun." ucap dokter Ryan penuh harap.


"Dari tanda vitalnya mengarah perbaikan yang signifikan, semoga saja Jones cepat bangun, kasian nyonya muda, gua ngak tega melihatnya nanti kalau terjadi sesuatu pada Jones." dokter Anton.


"Iya bro, semoga Jones lekas sadar, aminn." dokter Ryan.


"Aminn .." sambut dokter Anton dan dokter Alwi bersamaan.


"Lalu apa ngak kita pindahkan saja Jones dulu ke ruang rawatan ?." tanya dokter Anton.


"Jangan dulu, tunggu Jones bangun, tadi gua lihat jari tangan dan kelopak mata Jones sudah bergerak, mungkin tidak lama lagi dia akan bangun." dokter Alwi.


"Iya gua juga lihat itu." dokter Anton.


"Kata nyonya Zahra tunggu beliau datang baru kita pindahkan Jones ke ruang rawatan." dokter Ryan.


"Ohhh ya sudah, kalau begitu."


Ketiga sahabat seprofesi itu dengan setia bergantian menjaga sang sahabat, meski mereka juga sebenarnya juga sama sama sibuk.


"Nyonya ..anda sudah datang ?." sapa dokter Ryan hormat.


"Ya dokter, bagai mana perkembangan Jones ?." tanya wanita cantik memakai baju ala perawat lengkap dengan masker medis menutup separuh wajahnya yang cantik dengan kepala di balut hijab.


"Sudah jauh lebih baik nyonya, tadi Jones sudah sadar dan membuka matanya." jawab dokter Anton.


"Ohh syukurlah, kalau begitu bisa bangunkan dia ?."


"Iya nyonya." jawab dokter Alwi.


Berlahan dokter setara usia Jones itu membangunkan Jones dengan menepuk bahunya pelan.


"Emhhh.. Ya bro." jawab laki-laki bermata biru itu dengan suara serak dan lemah.


"Kamu sudah bangun Jones, bagai mana ?, apa yang kau rasakan sekarang." Bukan Anton atau kawannya yang lain yang jawab melainkan seorang wanita cantik memakai baju perawat namun berhijab.


Jones sangat mengenal suara itu tapi penampilannya membuat bingung sehingga Jones hanya bisa menatap wanita itu saja.


"Kenapa diam ?." mengerti kebingungan yang di tunjukkan Jones wanita itu lalu membuka masker medis yang menutupi separuh wajahnya sebentar.

__ADS_1


"Ma..mama mertua." panggil Jones makin bingung.


"Sstt .. pelankan suaramu."


"Ehhh .. tapi.."


"Diamlah.., aku tanya sekali lagi apa kau sudah lebih baik ?."


"I..iya ma."


"Bagus .. sekarang dengarkan aku, aku tidak bisa lama lama di sini, jadi aku akan bicara lebih cepat, kau tau bagai mana suami ku kan?."


Senyum tipis muncul di bibir Jones, tentu saja dia tau siapa Johan dan bagai mana Johan, bagai mana laki-laki itu dalam bersikap.


"Kau ingin kembali dengan putri ku bukan ?."


"Ya ma, tentu saja, bahkan aku melakukan ini karna aku tidak mau berpisah dengan istri ku ma."


"Hmmm ya aku tau, namun apa pun itu cara yang kau lakukan salah, tapi ya sudahlah, sekarang ikuti rencanakku bagai mana ?."


"Maksudnya ma ?."


"Hmmm begini."


Zahra lalu menceritakan semua rencana yang sudah ia buat, meski harus menahan perasaan nantinya tapi harus di jalani mengingat Johan yang keras kepala.


"Kalian bertiga juga harus ikut andil menyukseskan rencana ini, rencana ini hanya boleh di ketahui oleh kita saja tidak dengan yang lain."


"Tapi nyonya bagai mana kalau tuan Johan tau." dokter Ryan.


"Itu urusan ku kalian jangan kwatir."


"Lalu bagai mana kalau istri ku nanti terkejut dan shoc, aku ngak mau istri ku kenapa.napa ma, apa lagi nanti kalau istri ku sampai sakit dampaknya nanti ke anak anakku yang ada dalam kandungannya."


"Iya.. itu pasti akan terjadi, dia pasti shoc tapi kak Shafa tau agama meski dia terluka dia tidak akan nekat seperti mu, kalau kau ingin bersamanya lagi kau harus tega, apa kau pikir aku tega ? ngak aku juga tidak tega, namun kalau cuma begini caranya agar kau dan putri ku bisa bersama lagi lalu bagai mana lagi ?."


"Kalau begitu coba kalian kasih saran, aku saja sudah hampir kehabisan tenaga membujuknya agar memaafkan Jones tapi tidak berhasil." Zahra.


Keempat laki laki itu sama sama terdiam, kalau sang nyonya saja kehabisan ide bagai mana dengan mereka.


"Bagai mana apa kau bersedia ?."


"Tapi bagai mana caranya ma."


"Nanti akan ada yang datang menjemput mu, kamu siap siap saja." Zahra.


Jones dan kawan kawan tidak bisa bicara apa apa lagi karna semua sudah di rencanakan oleh mama mertuanya dengan matang.


"Selamat malam.." sapa seseorang yang tiba tiba muncul dari balik pintu ruangan ICU itu.


"Selamat malam."jawab semua orang bersamaan.


Para sahabat saling pandang melihat sosok yang hadir di antara mereka seperti sosok yang tidak asing, kalau Zahra tampak tenang tidak dengan Jones yang kembali kebingungan.


"Hai son.., apa kabar mu, sudah lebih baik bukan ?." tanya laki-laki itu mendekati Jones.


Jones tidak menjawab pandang matanya pokus menatap sosok di depannya jantungnya berdegup kencang, merasakan gelenyar aneh di dadanya, tanpa tau rasa apa itu.


"Maaf tuan Axton, saya pamit dulu, silahkan bicarakan rencana berikutnya dengan putra anda." senyum Zahra langsung berjalan ke arah pintu.


Zahra meninggalkan kelima orang didalam dalam keadaan saling diam dan saling lirik kiri kanan.


Jones dan ketiga temannya kembali saling pandang, mereka semua bertambah bingung kenapa Zahra menyebut putra pada laki-laki bule yang tiba tiba muncul di dalam ruangan lalu siapa yang di maksud di antara mereka.


Anton, Alwi atau Ryan tidak mungkin, ketiganya sadar diri kalau wajah mereka terlalu asia, lalu tatapan ketiga sahabat langsung menatap Jones penuh arti.


Axton berdiri di samping tempat tidur Jones, tatapan elang itu berubah sendu ada genangan air yang sedari tadi bersarang di dalam matanya namun di tahan untuk keluar.

__ADS_1


"Son.. apa kau terkejut melihat ku ?, aku adalah kau, kau adalah aku menurutmu begitu ?." ( mirip ).


Jones menatap laki-laki paruh baya itu tanpa berkedip, kebingungan Jones makin jadi saat laki-laki itu memanggilnya "son" apa lagi laki-laki itu tampak sangat mirip dengannya.


"Maaf kita harus bertemu seperti ini, dan Daddy datang terlambat, tapi Daddy masih bersyukur bisa melihat mu son, Daddy banyak berhutang maaf padamu, Daddy benar benar minta maaf karna Daddy tidak tau keberadaan mu di dunia ini, Daddy minta maaf son."


"Mak..maksudnya apa ?."


"Kau adalah putra ku Jones, apa kau tidak melihat wajah ku, mata ku dan mata mu sama, wajah serta kulit kita hampir sama, kalau umur ku sama dengan mu mungkin orang akan berpikir kalau kita ini twin." senyum Axton menatap putranya yang masih kebingungan.


"Putra..?, Daddy..?"


"Iya.. dan kita harus berterimakasih pada istri mu yang telah mempertemukan kita, Daddy sangat menyayanginya, kau memilih istri yang tepat." Axton memeluk putranya itu penuh haru dan bahagia, meski bingung Jones ikut membalas pelukan pria yang mengaku ayahnya itu.


Pembicaraan berlangsung lama, membahas masa lalu Anton dan mama Dara, laki-laki yang di sebut ayah itu tidak ingin Jones benci padanya dan membuat hubungan mereka yang baru jadi buruk nantinya.


"Sekarang kau sudah tau semuanya, Daddy harap kau tidak membenci Daddy dengan mama mu, sudah taqdir kami begini."


"Iya Daddy.. tidak akan, aku tidak akan membenci mama, walau bagai manapun dia yang membawa ku kedunia ini, dan aku sangat bersyukur ahirnya aku bisa bertemu dengan daddy, selama ini aku berpikir kalau mama tidak benar benar menikah tapi karna hubungan salah dengar laki-laki bule hehehe."


Jones terkekeh kecil melihat sorot mata elang Anton yang menyangka kalau hubungannya dengan mama Dara hubungan terlarang.


Ketiga sahabat juga ikut terkekeh, mereka merasakan bagia yang di rasakan oleh sang sahabat, bisa bertemu dengan ayah kandungnya adalah suatu hal yang sangat mengejutkan membuat haru campur bahagia.


" Sudahlah sekarang kita akan memperbaiki hubungan mu dengan Shafa tapi harus meluluhkan papanya dulu dan kau tau bagai mana papanyakan jadi kita tidak punya cara lain selain mengikuti ide mama mertua mu."


"Apa itu tidak terlalu berresiko Daddy, bagai mana kalau tidak berhasil bukannya akan menambah sulit keadaan."


"Tenang saja, papa mertua mu itu sangat mencintai istrinya, dia tidak akan berani bertindak gegabah, Daddy lihat sendiri bagai mana bucinnya dia hahaha."


"Iya sih.. aku cuma kwatir istri ku saja Daddy."


"Sabar.. Daddy juga ikut menjaga Shafa kau jangan kwatir, Shafa sangat menyukai masakan Daddy, mungkin lebih enak dari masakan mu hahaha."


"Cih... Daddy mau mengajak aku perang ya, aku masih kuat mengangkat senjata." omel Jones geram mendengar kata kata Daddynya.


"Hahahah jangan bilang kau cemburu pada Daddy mu yang ganteng ini."


"Astaga Daddy..,sok narsis banget sih, istri ku tidak akan tertarik padamu Daddy, aku jamin itu, padaku saja susah."


"Hahahaha ya aku tau cintamu pasti bertepuk sebelah tangankan."


"Ahhh Daddy, jangan mengajak berantem teruslah kepala ku makin sakit." Jones memegangi kepalanya.


Sebenarnya dia belum benar benar pulih karna baru saja sadar dari komanya yang ke sekian kalinya, tapi kehadiran Axton membuatnya begitu bahagia hingga ia lupa dengan rasa sakitnya.


"Ma..maaf son, mana yang sakit papa panggil dokter ya." ucap Axton panik dan sangat cemas.


"Kami ada di sini Sir .." jawab dokter Anton, dokter Ryan dan dokter Alwi bersamaan.


Ketiga orang itu menatap Jones dingin, mereka tau Jones sedang pura pura, Jones bersandiwara menghindari pertengkaran kecil dengan sang Daddy yang bahkan baru beberapa jam di panggilnya Daddy.


Flasback Off.


Hallo teman teman dukung terus aku ya walau Up nya ngadat ngadat hehe


⚘Like


⚘Rate


⚘Vote


⚘Hadiah


⚘Komen


wo ai ni

__ADS_1


Happy Reading.


__ADS_2