
"Suara apa itu, ya Allah.." teriak Zahra memegangi dadanya dengan kedua tangan.
"Nyonya, ada mobil menabrak pintu gerbang." ucap isah bibik pengasuh baby Wu.
"Hahha menabrak pintu gerbang, orangnya gimana ?." Zahra.
"Ngak tau nyonya, saya tidak berani lihat."jawab wanita paruh baya itu gemetaran karna pas kejadian dia baru saja masuk kedalam halaman rumah, dia baru belanja dari supermarket yang ada di wilayah itu.
Zahra berjalan keluar dengan tubuh bergetar entah mengapa harinya bergetar dan merasa tidak enak, kakinya melangkah sendiri tampa di minta menuju pintu gerbang rumahnya itu.
"Nyonya jangan kesana, bahaya." larang salah seorang bodyguar.
"Bahaya apanya, orang celaka kok bahaya sih." marah Zahra.
"Bukan begitu nyonya, tuan melarang nyonya keluar rumah." ucapnya lagi.
"Apa melarang ?, sejak kapan, jangan mengada ada kamu ya." masih marah, kakinya tetap melangkah ke arah gerbang.
"Maaf bukan begitu maksud saya nyonya, tuan bilang agar kami menjaga nyonya dari orang yang tidak di kenal dan dari bahaya." jawabnya lagi, mengikuti Zahra yang hampir sampai di gerbang.
"Ya .. memang itu tugas kalian." Zahra melihat dari celah pintu besi, mobil berwarna biru muda yang sangat ia kenal dalam keadaan kacau.
Bagian depan ringsek, sampai hampir bagian tengah, kalau di lihat pengemudi atau siapapun yang ada di dalam pasti tidak baik baik saja.
"Ya Allah, Jones, kakak, cepat buka pintu, cepat saya bilang." teriak Zahra histeris, tangan kanannya menutup mulut sedang tangan kiri mengelus dada.
Para bodyguar terpaksa membuka pintu gerbang, mereka sendiri tidak berani melawan sang majikan meski ada perintah agar menghalangi Zahra bertemu dengan Jones.
Zahra berlari kencang menuju mobil, kemarah Zahra memuncak karna para bodyguar hanya berdiri tampa berniat melihat atau menyelamatkan penghuni mobil mana tau masih bisa di selamatkan.
"Kalain bukan manusia ya, kenapa kalian cuma menonton saja, cepat tolong, ada suami putri saya di dalam dan mungkin putri saya juga." teriak Zahra.
"Maaf nyonya tidak ada nyonya Shafa di dalam." jawab salah seorang bodyguar menunduk takut, Zahra belum pernah marah sebelumnya sekali marah tidak kalah seram dari sang suami.
"Jadi kalau di dalam tidak ada putri saya adanya menantu saya tidak perlu di tolong hahh, manusia macam apa kalian, nyawa orang kalian tonton saja sampai lepas begitu, cepat tolong dia." marah Zahra makin jadi.
Semua orang bergerak cepat, ada yang membuk pintu ada yang mendobrak pintu, ada yang mengintip kedalam mobil.
Terlihat Jones sedang duduk di bangku tengah dengan kondisi lemah, para bodyguar berusaha sekeras mungkin untuk mengeluarkan Jones dari dalam mobil yang bagian depannya sudah tidak berbentuk lagi.
Untung sebelum sampai gerbang Jones sempat memundurkan kursimya lalu berusaha berbalik agar sampai di bagian tengah mobil.
"Ya Allah Jones, kenapa sampai begini, cepat bawa masuk, kamu panggil dokter." titah Zahra pada orang orang yang berbeda.
Empat bodyguar mengangkat tubuh lemah Jones kedalam rumah, namun belum sampai ke lantai atas kamar dia dan Shafa laiki laki itu tiba tiba berbicara namun dengan suara pelan karna masih lemah dan shoc akibat benturan yang ia ciptakan sendiri.
"Turunkan gua." pintanya.
"Tapi.." bodyguar.
__ADS_1
"Turunkan gua sekarang." mgotot.
Dengan terpaksa keempat bodyguar menurunkan Jones di bagian tengah ruang tamu mewah itu.
"Ada apa Jones, kamu masih lemah, ke kamar kalain saja, sebentar lagi dokter datang memeriksa kamu." ucap Zahra bingung.
"Tidak ma,.saya mau bicara di sini." Jones berlutut bahkan hampir bersujud di depan kaki Zahra membuat wanita cantik itu bingung.
"Kamu kenapa Jones." makin bingung.
"Mama di mana istri saya."
"Apa..?" Zahra.
"Saya mau bertemu istri saya ma, tolong izinkan saya menemuinya." mohon Jones.
"Apa maksudmu, bukannya kak Shafa bersama kamu, jangan bercanda." marah Zahra.
"Tidak ma, istri saya sudah satu minggu tidak bersama saya, tolong bantu saya menemukan istri saya kalau memang istri saya tidak di rumah ini." ucapnya lemah.
"Apa yang terjadi sebenarnya." tahya Zahra dengan wajah cemas dan panik.
Para bodyguar membantu Jones duduk di sopa, kemudian dengan hati hati Jones lalu menceritakan yang sebenarnya dari yang ia lihat di Cctv apartemen.
Zahra mendengar dengan mimik wajah cemas, dia marah dia murka dia benci pada menantunya itu tapi dia juga kasihan melihat kondisi Jones yang cukup mengkhawatirkan karna dia juga sadar kalau Jones juga korban.
"Maafkan aku ma, aku akan menebus semua kesalahanku, aku berjanji tidak akan seceroboh itu lagi, aku janji ma, tolong kembalikan istri ku padaku ma, aku tidak bisa tenang jauh darinya tolong bantu aku ma, tolong ma."
Zahra diam, hatinya tak kalah hancur mendengar cerita Jones, selama ini dia berpikir mama Jones sudah berubah, sudah menerima putrinya ternyata apa yang ia duga salah, besannya itu malah makin meraja lela tega menyakiti putrinya yang tidak berdaya apa lagi sedang hamil.
"Kenapa kau seceroboh itu Jones, kau pria dewasa kenapa tidak bertanya dulu sebelum bertindak aku kecewa pada mu Jones, aku sama sekali tidak menyangka kau bisa berbuat begitu padanya yang tidak tau apa apa." ucap Zahra pelan namun menekan.
"Ku mohon maafkan aku ma, maafkan aku, aku aah ma, aku minta maaf, aku bersujud pada mama dan semua keluarga aku minta maaf ma, tolong ma, aku sangat mencintai istri ku ma, aku khilaf aku minta maaf ma."
Jones merangkak lemah ke hadapan Zahra yang duduk berhadapan dengannya, laki-laki itu benar benar hancur saat mendengar dan melihat ungkapan kekecewaan mertuanya itu, dia sangat takut kalau kalau mertuanya itu juga membuncit sementara satu satunya harapan yang akan mendukungnya adalah mama mertuamya itu
Zahra meminta Jones kembali duduk, dia marah dengan sikap Jones yang berlutut begitu, meski meminta maaf tidak perlu sampai berlutut, berlutut tidak bisa membuktikan seseorang benar benar tulus menurutnya.
Jones semakin takut melihat sikap dingin mertuanya yang tiba tiba, bagai mana tidak Zahra langsung berubah begitu mendengar Jones menyakiti hati putrinya.
"Hallo.. koko, mana kak Shafa, kenapa koko sembunyikan masalahnya dari ku, aku ini mamanya koko apa aku tidak pantas tau masalah apa yang menimpa putriku." marah Zahra pada Johan lewat panggilan telepon.
"Maaf sayang, koko belum sempat cerita karna kondisi sayang saat itu masih kurang sehat koko takut sayang jadi kepikiran, maaf ya."jawab Johan.
Laki-laki itu sudah tau kelakuan nekat Jones, dan laki-laki juga tau percis pembicaraan Jones dengan istri di ruang tamu dari kamera Cctv yang ada di sana.
"Di mana kak Shafa sekarang." Zahra.
"Ada di tempat yang aman sayang, sayang jangan kwatir." jawab Johan takut takut.
__ADS_1
"Lalu bagai mana lukanya, bagai mana kondisinya sekarang ko." tangis Zahra pecah mengingat hal yang di alami putrinya, andai para bodyguar datang terlambat entah apa yang terjadi pada putrinya sulungnya itu.
"Lukanya sudah sembuh, kondisinya juga sudah lebih baik meski kakak sempat transpusi darah, karna hb nya menurun dan di sangsikan terjadi anemia pada kakak yang sedang hamil." jelas Johan.
"Apa transpusi ko, berarti lukanya dalam ?." teriak Zahra spontan.
Jones ikut terperanjat mendengar teriakan Zahra yang mengatakan kalau Shafa transpusi darah, laki-laki itu bersandar lemah pada kaki sopa karan dia tiba tiba luruh ke atas lantai dari atas sopa.
"Gua benar benar bajingan, gua bajinga, gara gara gua istri gua sampai transpusi darah, gua Bajingan." tangis Jones menjambak rambutnya.
Zahra diam, dia tidak lagi bisa berkata apa apa, Zahra memutuskan panggilan sepihak, dia sangat kecewa pada Jones tapi meski begitu dia juga kasihan.
"Kamu pulang saja, saya tidak tau kak Shafa di mana, yang penting kak Shafa baik baik saja." usir Zahra halus dengan suara rendah.
"Tapi ma, aku ingin bertemu istri ku, ku mohon ma tolong pertemukan kami, aku mohon ma." pinta Jones.
"Bagai mana aku mempertemukan kalian kalau aku sendiri tidak tau putri ku di mana, sekarang kamu pulang saja dulu, nanti kita bicarakan ΔΊagi, aku juga terus terang sangat kecewa padamu, kau tau putri ku itu trauma dengan masa lalu kami, tapi kamu malah mengulangnya lagi." Zahra.
"Maafkan aku ma, maafkan aku.." tangis Jones.
"Pergilah.." Zahra berdiri lalu berjalan pelan ke arah lantai atas rumah itu.
"Ma..ku mohon ma, tolong bantu aku." bersimpuh di atas lantai.
"Pulanglah dulu, ku mohon jangan memperkeruh suasana,pergilah Jones, tolong tinggal kan rumah ini, biarkan aku berpikir jernih dulu."
Tampa berbalik Zahra lanjut berjalan ke kamarnya, tinggal Jones dengan ribuan penyesalan yang teramat dalam menikam hatinya.
Di bantu para bodyguar Jones keluar dari rumah itu di jemput oleh Robby dan asistennya, Jones diam dalam tangis di sepanjang jalan sampai kembali ke apartemen.
ππππππ
Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baikΒ terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.
Mari tetap semangat dan saling support
Dengan cara :
β LIKE
β RATE
β VOTE
β HADIAH yang banyak
βKOMEN yang sebanyak banyaknya.
Wo Ai Ni all..
__ADS_1
Happy Reading.