UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
168. dokter Melani putri.


__ADS_3

Axton meninggalkan Shafa dan kembali kenegaranya dengan terpaksa, meski awalnya Shafa tidak mau di tinggal dan minta ikut tapi lama lama Shafa menurut juga untuk tetap tinggal.


Mengingat kondisi kesehatan Shafa yang masih kurang stabil dan ia belum memeriksakan kehamilannya apakah layak berjalanan jauh atau tidak.


Hari pertama sampai hari ke lima Shafa masih biasa saja di tinggal oleh mertua tapi begitu memasuki hari ke enam Shafa mulai berubah, tidak mau makan kondisi nya juga mulai lemah


karena hanya minum susu dan makan sereal saja, Shafa yang sudah terbiasa makan masakan Jones atau Axton tidak berselara lagi makan masakan orang lain.


"Kak.. makan ya nak." bujuk Zahra.


"Shafa nunggu Daddy ma, Shafa mau makan masakan Daddy, Daddy kok lama ya ma, kata Daddy ngak lama." jawab Shafa menunduk sedih.


"Sabar nak, kita berbeda negara, Daddy kakak kan juga bukan orang biasa, pak Axton di butuhkan di sana makanya beliau pulang, kakak sabar ya." Zahra.


"Enghhhh ya ma." merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Kakak mau bobok ?."


"Iya ma." Shafa menguap berulang kali.


"Ya udah mama keluar dulu ya, papa kayaknya udah datang mama siapkan makan siang papa dulu ya."


"Emhhh ya ma."


Zahra keluar kamar, sementara Shafa di temani oleh bodyguarnya, Zahra berjalan ke ruang keluarga, dia bingung menemukan Robby dan Johan yang tiba tiba sudah akur dan duduk bersama.


Setelah kepergian Jones Robby dan Johan sempat perang dingin karna Robby menyalahkan Johan atas meninggalnya Jones dan tentu saja Johan tidak terima itu.


Zahra tidak bertanya apapun dia hanya mencermati pembicaraan keduanya yang tampak serius membahas bisnis mereka yang makin berkembang luas.


"Sayang.., kenapa di situ, mari duduk di sini." panggil Johan begitu pandangan matanya mengarah pada Zahra yang berdiri tidak jauh dari mereka.


"Koko sibuk.."


"Sekarang tidak lagi yank, ada apa ?."


"Kondisi kakak lemah lagi, kakak menanyakan pak Axton terus." adu Zahra.


"Kakak belum mau makan juga ?."


"Iya ko, hahhh kenapa kakak harus suka masakan ayah dan anak itu." keluh Zahra.


"Mau bagai mana lagi yank, kita sudah berusaha sebaik mungkin mencari tukang masak yang sesuai dengan keinginannya." Johan ikut menghela napas.


Robby sendiri tidak berkomentar apa apa, dia pura pura sibuk dengan ipad di tangannya.


"Ko..apa tidak sebaiknya kita mencari perawat khusus untuk merawat kakak, lihatlah kakak butuh perhatian lebih, sementara kakak kakaknya tidak mengerti tentang kesejahteraan, Niken sendiri juga masih tahap pendidikan."


"Kok perawat yank, dokter saja biar lebih baik penjagaan kesehatan kakak."


"Dokter ?? apa ada yang mau ko maksud ku untuk.."


"Untuk merawat kakak dua kali dua puluh empat jam begitu kan, dengan kata lain tinggal di sini bersama kakak."


"Iya ko, begitu maksud ku."


"Robby tolong carikan orang yang sesuai untuk merawat kakak, gua mau dokter tapi perempuan yang sesuai dengan putri gua, lu ngerti kan."


"Dokter, dokter umum atau spesialis bos." Robby.


"Terserah yang penting dokter." Johan.


"Kalau ada sih sekalian aja spesialis obqin pak Robby, kak Shafa sudah lama tidak di periksa setiap di ajak periksa ke rumah sakit kak Shafa ngak mau." ide Zahra.


"Baik nyonya akan saya cari." Robby.


"Secepatnya, gua harap lu sudah dapat hari ini juga, tapi sebelumnya dia harus bertemu dengan istri gua dulu, sesuai kategori ngak." Johan.


"Oke bos.."


Robby langsung mengarahkan anak buahnya untuk mencari orang yang di maksud, hanya dua jam saja tujuh orang calon sudah di dapatkan oleh Robby dan anak buahnya.


Zahra memperhatikan mereka satu persatu dari balik kaca apartemen yang di tempati bodyguar Axton di samping yang berada apartemen Shafa.


"Bagai mana yank." tanya Johan.


"Kenapa **** ko, kan sesuai kategori ini mah kategori kalian laki-laki mau lihat yang mulus." cebik Zahra menatap Johan tajam.

__ADS_1


"Sayang jangan salahkan koko, bukan koko yang cari." membela diri.


"Terus salahkan siapa ?, pak Robby ? dasar kalian laki-laki otaknya ngeres semua huhhh."


"Ampun deh yank, bukan koko."


"Sejak kapan kucing ngaku nyari ikan ?."


"Ya ngak pernah yank, kan kucing ngak bisa ngomong, bisanya mengeong." senyum senyum.


"Ishhh dasar, aku ngak mau ada mereka di sekitar kakak ko, tidak satupun di antara mereka, cari yang lain, mana genit genit lagi kelihatannya." marah Zahra.


Padahal mereka memakai pakaian yang tidak terlalu minim, tapi memang untuk bersama Shafa setidaknya harus memakai hijab, atau memakai pakaian sopan yang menutup kaki dan tangan.


( Busana muslim, meski tidak memakai hijab ).


Johan menghubungi Robby untuk memulangkan semua wanita lalu menyuruh laki-laki itu menemui mereka di ruangan bagian dalam apartemen itu.


"Bagai mana nyonya." Robby.


"Aku bilang kan sesuai kategori, menuruti pak Robby itu kategori kami, yang ada kategori kalian laki-laki." marah Zahra.


"Ehhh ma..maaf nyonya." garuk garuk kepala.


"Rasain lu." ejek Johan tanpa suara ke arah Robby.


"Aku mau di carikan yang lain saja, atau pak Robby hubungi teman teman Jones, siapa tau mereka punya kenalan yang sesuai dengan kakak."


"Ba ..baik nyonya." Robby.


"Tunggu apa lagi hubungi sekarang."


"Siap bos.."


Robby menghubungi nomor dokter Anton tapi tidak di angkat, lalu laki-laki itu menghubungi dokter Ryan.


"Hallo dokter Ryan." Robby.


"Hallo juga pak Robby, ada yang bisa saya bantu." dokter Ryan.


"Perempuan dong ya." dokter Ryan.


"Perempuan dong, masa laki-laki." nada suara Robby sedikit meninggi.


"Ahh maaf hehehe, bukan maksud lain bro." dokter Ryan.


"Bagai mana." Robby serius.


"Tidak masalah kalau dokter obgin, soalnya ada keponakan dokter Alwi yang baru lulus kedokteran, dan sudah buat lamaran di rumah sakit xx, tapi belum tau di terima atau tidak." dokter Ryan.


"Bagai mana orangnya." Robby.


"Kurang tau bro, tapi tau sendiri dokter Alwi itu kan orangnya selalu taat beribadah, kemarin kami sempat melihat nya, kayaknya sih orangnya baik dan sholehah."


"Kapan bisa bertemu dengan nyonya Ara ?." Robby.


"Ohhh itu harus bertanya pada dokter Alwi dulu bro, saya tidak bisa menghubunginya, lagian kita harus cari tau apa sudah di terima bekerja atau tidak, karna ruangan yang akan di tempatinya adalah ruangan Jones."


"Tidak.., gua akan hubungi pihak rumah sakit kalau dia di tolak di sana, ruangan Jones tidak boleh di isi." Robby.


"Loh.. kenapa ?." dokter Ryan.


"Pokoknya tidak, sekarang gua minta tolong hubungi dokter Alwi dan antar Perempuan itu kemari sekarang juga, ini perintah tuan Johan."Robby.


"Oh oke bro, nanti gua kabari lagi." panggilan terputus.


Hmmm


Bukan hanya dokter Ryan yang terkejut mendengar kata kata Robby, Johan dan Zahra juga sama sama terkejut.


"Kenapa lu melarangnya." tanya Johan.


"Gua tidak mau ruangan sahabat gua di tempati orang lain, siapa tau nyonya Shafa mau praktek nanti, nyonya ingin memakai ruangan itu." jawaban yang masuk akal sehingga Johan hanya manggut manggut.


Sore itu seorang wanita cantik, tinggi dan Semampai memasuki apartemen Shafa wanita itu memakai busana muslim lengkap dengan hijabnya.


Wajahnya tampak cerah, dengan senyum tersungging di bibir merahnya, Johan memperhatikan wanita itu seksama, sedang sang wanita hanya menunduk tidak berani menatap Johan dan Zahra.

__ADS_1


"Ceritakan tentang diri lu." ucap Johan dingin menatap sang wanita.


"Maaf tuan, nyonya perkenalkan nama saya Melani Putri, saya kelahiran 19** saya dokter spesialis obqin tapi saya baru lulus, tapi saya sudah berpengalaman di bidang obqin gnikologi karna saya membantu paman saya dokter Alwi di ckiniknya."


Dokter Melani menceritakan singkat tentang latar belakang pribadinya, sebenarnya tanpa di jelaskan oleh dokter Melani Johan sudah tau siapa dia dari hasil penyelidikan orang orangnya.


"Baik..kamu sudah tau apa yang akan kamu lakukan di sini kan." Zahra.


"Iya nyonya saya sudah tau, menjaga dan merawat putri nyonya, nyonya muda Shafa, sudah di jelaskan oleh dokter Ryan nyonya." Melani.


"Bagus, lu jaga dan rawat putri gua dengan baik, gua tidak mau ada kesalahan, kalau sampai lu buat kesalahan lu sudah tau apa konsekuensinya bukan." ucap Johan tetap dingin.


"Iya tuan, saya mengerti." Melani.


"Satu lagi, jaga sikap lu di sini." mata Johan melotot saat mengatakan itu.


"Iya tuan.."


"Mari saya kenalkan pada putri saya, sudah tau kan tentang putri saya dokter Melani." Zahra.


"Sudah nyonya, sudah di jelaskan oleh dokter Ryan dan paman."


"Baik..kalau begitu mari kekamar putri saya." Zahra bangkit dari duduknya, lalu berjalan pelan ke kamar Shafa.


Melani menatap Shafa yang tengah tidur di atas tempat tidurnya dengan posisi terlentang, selimut menutupi tubuhnya dari ujung kaki sampai dada, matanya terpejam rapat.


Wajahnya yang putih mulus dan sangat cantik terlihat pucat dan tirus, padahal baru saja wajah itu berisi tapi sudah tirus lagi hanya karna di tinggal ayah mertua yang selalu memanjakannya dengan msakan lezat yang sangat di sukai oleh Shafa.


Melani menatap Shafa dengan tatapan yang sulit di artikan, iba, sedih dan entah bagai mana lagi.


Niken, Nisa dan Lila menatap Melani penuh selidik, para bodyguar itu memang sudah di beritahukan kalau Shafa akan di rawat dan juga di jaga oleh seorang dokter tapi karna Melani orang baru di antara mereka, ketiganya tetap awas pada dan hati hati.


"Melani, ini kakak kakak putri saya, kerja samalah dengan mereka, kalau perlu sesuatu dan butuh sesuatu tanya dan mintalah pada mereka." Zahra.


"Baik nyonya." Melani.


"Oke .. karna putri saya masih tidur, anda istirahat dulu, Niken antar dokter melani kekamar tamu yang baru.," Zahra.


"Baik nyonya." Niken beranjak dari duduknya.


"Tidak apa apa nyonya, saya di sini saja dulu, siapa tau nyonya muda sebentar lagi bangun saya akan memeriksa nyonya muda." Melani.


"Anda lebih baik istirahat dulu dokter, mari saya antar ke kamar anda, nanti kalau nyonya muda bangun saya akan panggil anda." Niken.


"Ya ..baiklah kalau begitu, tapi kalau nyonya bangun tolong segera panggil saya, karna nyonya akan di USG." pinta Melani.


"Baik.." Niken.


"Nyonya saya pamit dulu." Melani.


"Silahkan dokter." Zahra.


Niken lalu membawa Melani kekamar tamu yang baru di renovasi, kamar itu awalnya di jadikan gudang.


Tapi karna banyaknya yang menempati apartemen itu ahirnya gudang itu di renovasi dan di jadikan kamar yang sangat indah serta mewah.


☘☘☘☘☘☘


Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik  terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.


Mari tetap semangat dan saling support


Dengan cara :


☘ LIKE


☘ RATE


☘ VOTE


☘ HADIAH yang banyak


☘KOMEN yang sebanyak banyaknya.


Wo Ai Ni all..


Happy Reading.

__ADS_1


__ADS_2