
Melani memperhatikan Axton dan Johan yang mulai berdebat hanya gara gara masakan pilihan Johan yang tidak di terima oleh Axton untuk di masak.
"Sekarang yang mau makan siapa sih, anda atau menantu saya, kenapa anda yang heboh." protes Axton meski nada bicara rendah tapi terlihat jelas kalau Axton menentang Johan.
"Huhhhh yang mau makan tentu putri gua, tapi putri gua tidak bisa makan itu, pedas tau, putri gua sudah beberapa hari tidak makan kalau langsung makan yang pedas kan bisa sakit perut nanti." Johan.
"Yahhh saya tau tuan Johan yang terhormat, tau ..tau, saya juga ngak akan masak sepedas yang di minta oleh menantu saya, diam saja di sana kenapa ? jangan sok sibuk dan ngatur kalau anda sendiri tidak bisa masak" ejek Axton.
"Hissss sialan, jangan karna putri ku suka masakan anda lalu anda sok berkuasa di sini ya." Johan.
"Kenapa ?, ini apartemen putra saya dan apartemen menantu saya siapa yang numpang hidup di sini." ejek Axton lagi.
"Huhhhh ..sama aja kan, kita dua sama sama numpang kalau begitu." balas Johan sengit.
"Ya Allah ya Tuhan ku, kenapa sih setiap bertemu kalian selalu berantem, koko ya, ngak ada anaknya bapaknya pun jadi buat teman koko berantem." omel Zahra, ia mendorong kursi roda Shafa sedang Melani mendorong standar infusnya.
"Pantas ngak siap siap masaknya ternyata Daddy sibuk melayani papa gaduh, Shafa udah lapar lo Daddy, papa." Shafa ikut mengomel.
"Tau tuh mertua kakak, ngak senang kalau ngak ajak papa ribut." jawab Johan membela diri.
"Bukannya sebaliknya ya tuan Johan yang mulia yang terhormat." sambut Axton mencibir.
"Papa sama Daddy sama aja, sama sama hobby berantem, udah ahh Shafa lapar." Shafa lalu duduk di kursi di bantu oleh Johan dan Zahra.
Sedang Axton masih sibuk membolak balik masakannya, dan beberapa menit kemudian masakannya sudah tersaji di atas meja makan tepat di hadapan Shafa.
"Ayo di makan Be, Daddy suapin ya."
"Tidak gua yang suapin putri gua,anda kan cape abis masak." Johan.
"Siapa bilang saya cape, ngak sama sekali." Axton.
"Shafa ngak mau di suap papa, Daddy Shafa suap sendiri aja, dari pada lihat papa sama Daddy gaduh baik lagi Sholat makan sendiri."
Shafa menyuapkan makanan ke mulutnya berlahan, karna bibirnya masih pecah pecah akibat panas dalam, wanita itu sesekali meringis menahan perih di bibirnya meski terasa perih tapi tidak membuatnya menghentikan makan.
Satu piring nasi dan satu mangkok sup sudah habis di makan sendiri oleh Shafa, keringat bercucuran dari dahinya.
Ketiga orang itu tersenyum bahagia melihat sang buah hati makan yang ia inginkan sangat lahap, bahkan seseorang yang ada di sana juga ikut bahagia dan lega melihat bumil itu menikmati makannya yang sudah berhari hari tidak makan sama sekali.
"Apa sih bedanya masakan papa dengan Daddy kak, mama saja suka sama masakan papa kok kakak ngak sih." tanya Johan, wajahnya tampak lucu saat memperlihatkan rasa cemburu pada sang putri.
"Ngak tau pa, tapi masakan Daddy dan Aa sama sama enak, rasanya mirip masakan Aa."
"Owhhh gitu ya, ternyata karna masakan Daddy mirip sama masakan suami kamu Be, Daddy pikir karna masakan Daddy memang enak dan lezat." Axton ikut ikutan mencicut.
"Masakan Daddy memang enak kok, lezat tapi memang mirip rasanya sama makanan Aa." Shafa.
"Namanya Aa kamu itu anak Daddy, wajar juga masakan kami rasanya mirip." ahirnya Axton berkata begitu.
"Hmmm ya Daddy mungkin." Shafa tersenyum namun senyum itu menyiratkan sesuatu yang dalam.
"Kak.. vitaminnya di makan ya." Zahra menyerahkan dua butir obat penambah darah dan obat untuk panas dalamnya.
__ADS_1
"Bisa ngak jangan makan obat lagi ma, Shafa bosan makan obat terus." keluh Shafa.
"Makanya jangan sakit Be.." Axton.
"Daddy.. kalau Daddy pulang Shafa ikut ya, Shafa mau ketemu Aa." menatap Axton, dari tatapan mata Shafa tersimpan rasa rindu yang dalam pada sang suami.
Johan menangkap jelas pandangan mata putrinya itu, seketika hatinya menjerit penyesalan yang besar kembali menyerang hatinya, andai dia tidak begitu keras pada Jones semua itu tidak akan terjadi.
"Tunggu kamu sehat betul ya Be, Daddy janji kita akan ke sana."
"Janji Daddy ?."
"Ya.. tentu saja Be, sewajarnya kamu bertemu dan berkunjung kesana Be." senyum tulus Axton.
Setelah makan malam bersama Shafa kembali kekamarnya Zahra dan Johan kembali kerumah besar karna sudah ada Axton di sana.
Apa lagi ada dokter spesialis untuk menjaga Shafa membuat kedua orang tua itu menjadi lega meninggalkan sang putri di apartemen itu.
******
Hari itu tepat dua minggu Melani merawat Shafa selama dua minggu itu Shafa semakin dekat dengan dokter pribadinya itu.
Apa lagi tiap malam Melani tidur di kamarnya di temani Niken, sementara Lila dan Nisa bertugas menemani Shafa di siang hari, mereka bergantian menjaga sang majikan agar mereka bisa pokus menjaga dan merawatnya.
Malam itu Shafa duduk menyandar di atas tempat tidur, di tangannya menggenggam gawai milik suaminya, selama dua minggu ini Shafa selalu melihat handphone Jones sebelum tidur.
Di galeri sang suami tersimpan banyak kenangan mereka berdua, tidak ada satu photo wanita manapun di handphone suaminya.
Photo photo saat Shafa remaja seperti nya di ambil sembunyi sembunyi karna banyak gaya yang tampa sengaja dan sembarang.
Photo pernikahan, photo di kampung dan terahir photo hasil prinout hasil USG pertama Shafa.
Setiap kali membuka handphone Jones yang tidak pernah di kunci setelah mereka menikah, setiap itu pula Shafa selalu menangis seperti malam ini.
Shafa merebahkan tubuhnya dan sengaja menarik selimutnya tinggi tinggi hingga batas leher, dia tidur miring membelakangi Melani yang selalu tidur di Sopa panjang tepat di samping tempat tidurnya.
Sopa itu selalu di geser saat waktunya tidur dan saat pagi sopa di kembalikan ketempat semula.
Sementara Niken tidur di dekat pintu kamar, di sana ia tidur di atas karpet tebal kalau Melani tidur di sebelah kanan Shafa maka Niken di sebelah kirinya.
Melani menatap punggung Sholat sendu, hati orang itu tampak terganggu karna di belakangi oleh Shafa, belum lagi Melani melihat punggung wanita itu yang tampak bergetar karna tangis.
Setiap malam pemandangan itu selalu di lihat oleh Melani tapi malam ini tangis Shafa lebih lama membuat sang dokter Bingung harus bagai mana.
Niken yang melihat kegundahan Melani ikut bingung karna dia tidak melihat sama sekali kalau Shafa menangis.
"Kenapa dokter ?." tanya Niken tanpa suara melalui gerak bibirnya di seberang tempat tidur Shafa.
"Nangis .." bisik Melani.
Niken menarik napas dalam dalam, dia duduk di atas karpet tempat tidurnya, ahirnya dia sama bingung dengan Melani.
"Nyonya.. ada yang sakit ?." tegur Melani pada ahirnya.
__ADS_1
"Tidak dokter, tidurlah." jawabnya suara pelan.
"Tapi nyonya." Melani.
"Tidak apa apa dokter tidurlah." jawabnya masih membelakangi Melani.
"Maaf nyonya, apa anda menagis, anda rindu suami anda." tanya Melani memberanikan diri.
Shafa tidak menjawab, dia tetap membelakangi Melani, namun isak tangis nya yang tadi terdengar sudah mulai reda.
"Shafa .. Shafa kangen Aa, hiks.." jawab Shafa tapi hanya dalam hati, dia tidak mau kalau dua orang yang à da di kamarnya menjadi cemas karena memikirkan dirinya.
"Aa.. datanglah sebentar saja meski dalam mimpi Shafa, Shafa rindu Aa, Aa ngak rindu Shafa ya, setiap malam Shafa berdoa agar bisa bertemu dengan Aa tapi Shafa ngak pernah bisa bertemu, Aa marah sama Shafa ya Aa ngak sayang Shafa lagikah."
Wanita itu menagis lagi namun tanpa suara, kerinduannya pada Jones makin besar setiap harinya, apa lagi kehamilannya yang sudah makin besar dan anak anaknya yang semakin aktif di dalam sana membuat dia semakin rindu kasih sayang Jones.
Semakin hari dan semakin waktu kerinduannya pada Jones semakin tinggi membuat hati dan pikirannya semakin kacau tiap harinya.
Untunglah ia di bekali iman dan letaqwaan kepada Tuhan sehingga ia tetap kuat dan sabar meski rindu itu semakin menyiksa dirinya.
Lama menangis sendiri Shafa ahirnya tertidur, Niken tampak tertidur sangat pulas di atas tempat tidurnya bahkan suara denkurannya terdengar cukup keras membuat pendengaran siapa pun yang terjaga di sana terganggu.
Shafa bangun ia membuka matanya perlahan, sayup sayup ia seperti melihat dan mendengar suara orang yang sangat ia rindukan siang dan malam duduk di sisinya.
Orang itu memakai baju koko, kain sarung dan peci warna senada dengan bajunya, orang itu tersenyum lembut menatapnya penuh cinta, bahkan suaranya terasa tidak jauh dari pendengarannya.
"Bangun sayang, bangun cinta Aa, sudah subuh yank, kita Sholat yuk, bangun bidadari surga Aa cup cup cup." bibir basah orang itu menempel hangat di seluruh permukaan wajahnya.
Shafa menggeliat manja, ia merentang kan kedua tangannya di udara seperti kebiasaannya saat bangun tidur, saat sang suami menjagakannya.
"Enghhhh gendong A." ucapnya manja, namun bola matanya masih merem melek dan kesadarannya belum benar benar pulih dari tidurnya.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.
Mari tetap semangat dan saling support
Dengan cara :
🌻 LIKE
🌻 RATE
🌻 VOTE
🌻 HADIAH yang banyak
🌻 KOMEN yang sebanyak banyaknya.
Wo Ai Ni all..
Happy Reading.
__ADS_1