UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
43.Lu apain putri gua ?.


__ADS_3

Johan dan Zahra datang tergopoh gopoh mereka begitu cemas saat di kabari oleh bodyguard keadaan Shafa yang tiba tiba pingsan tampa sebab menurut mereka.


"Bangun gils, jangan membuatku takut ?." Jones menatap wajah Shafa yang pucat.


Tangan gadis itu bergerak berlahan, pelan pelan ia buka matanya yang menyesuaikan dengan cahaya lampu kamar perawatan super mewah itu, saat Shafa pingsan ia di bopong Jones ke ruangan pribadi miliknya, dan setelah di periksa secara intensif oleh dokter Pita, dan dua dokter lainnya dokter penyakit dalam dan syarat.


"Gils kamu sudah bangun ?." Jones menyentuh tangan gadis itu.


"Uncle.. shafa kenapa ?."


" Kamu tadi pingsan gils, kenapa ? perut kamu keram lagi kan, kamu harus segera di periksa lebih lanjut lagi, sudah cerita ke mama papa kamu gils." menatap manik mata gadis itu dalam dalam, dari tatapan Jones terlihat jelas kekhawatirannya.


"Cerita apa ?, kamu ngak apa apa kan nak" Johan dan Zahra tiba tiba muncul di antara mereka.


"Anak gadis mama kenapa." tanya sang mama dengan mata berkaca kaca, lalu memeluk tubuh Shafa yang masih lemah.


"Shafa ngak apa apa mama, papa."


"Ngak apa apa gimana, sampai di rawat begini nak katakan pada papa apa laki-laki ngak tau diri ini membuatmu seperti ini." menatap Jones dengan tatapan tak suka, namun Jones tidak perduli.


"Ngak papa cuma kelelahan saja."


"Gils.. ngak ada gunanya di tutupi, katakan saja, kamu yang bilang atau aku ?." tanya Jones.


"Biar Shafa saja Uncle." menunduk.


"Ada apa sebenarnya." tanya Zahra bingung dan khawatir.


"Katakan gils jangan buat mama papa khawatir." Johan.


Shafa masih menunduk ia tidak sanggup mengatakannya di hadapan sang papa, walaupun Johan sangat menyayanginya namun Shafa punya rasa segan di mana tidak setiap permasalahan bisa di sampaikan secara gamblang pada sang papa apa lagi ada Jones di sana.


"Nanti Shafa ceritakan ke mama pa." menatap Zahra berisyarat.


"Kenapa kalau papa dengar, ngak boleh ya gils?." tanya Johan dengan nada kecewa.


"Koko sudahlah biarkan Shafa istirahat dulu, nanti aku akan cerita dengan Shafa."


"Baiklah, istirahat yang banyak sayang papa, papa keluar sebentar ya." mencium kening sang putri penuh kasih.


"Sayang koko keluar sebentar ya cup." pemandangan yang sudah terlalu sering di lihat oleh Shafa saat sang papa mencium mesra bibir mamanya.


"Henghhhh.. jangan gaduh ya ko." bisik Zahra.


"Ngak yanhk cuma gelut saja." balas Johan pelan di telinga Zahra.


"Koko...."


"Sayang." tertawa renyah lalu beranjak keluar kamar rawatan Shafa.


Ia meninggalkan kedua wanita tercintanya itu berdua saja di dalam kamar, saat menutup pintu kamar dari luar sontak ia terkejut melihat Jones yang berada tepat di hadapannya.


"Bagus gua baru mau cari lu." Johan.


"Gua tau karna itu gua menunggu lu di sini, kenapa lu mau minta pertanggung jawaban gua, jangan kwatir dengan senang hati gua akan bertanggung jawab." senyum Jones.


"Brengsek lu ya, lu apa in putri gua hahhh."

__ADS_1


"Tahya aja ke Shafa gua apain."


"Bedebah, dasar binatang ...bukhh.." Johan memberikan hadiah bogem mentah tepat di wajah tampan Jones.


"Kok di wajah sih papa mertua, ntar gua ngak ganteng lagi ilfil dong putri lu." ucapnya sambil mengusap darah yang mengalir di bibirnya.


"Siap siap sebentar lagi gua akan mencabut nyawa lu, gua muak lihat tampang lu yang pas pasan tapi ngak tau diri." menarik keras kemeja Jones yang hampir sama tinggi dengannya.


"Wahh papa mertua sudah berubah profesi ternyata dari Ceo ke malaikat pencabut nyawa sudah ada SK nya belum papa mertua,?."


"Sialan lu, cepat katakan ada apa dengan putri gua, lu apain putri gua hahh." emosi Johan.


"Gua sih pengennya apa apain Shafa tapikan ngak mungkin gua lukain hati dan fisiknya, emang lu izinnin ?."


"Sialan jangan banyak bacot, cepat jawab." bentak Johan makin kesal.


"Gua ngak berani bilang tampa izin Shafa, lu tunggu aja cerita dari nyonya."


"Emang apaan sih gua kan papanya." melepaskan cengkramannya di kerah baju Jones.


"Rahasia perempuan." ucap Jones berlalu meningalkan Johan terpaku di tempat.


******


"Kak.. cerita ke mama, kakak kenapa nak, mama kwatir." menggenggam tangan sang putri.


"Jangan Kwatir mama Shafa ngak apa apa." jawabnya tersenyum.


"Jangan bohong, katakan pada mama nak."


"Cuma apa.kak, jangan buat mama takut."


" Kata dokter obgin di rahim Shafa ada Kista ma, belum bisa di pastikan apa cuma di rahim saja, kata Uncle Jones harus periksa lebih lanjut."


Deg.. jantung Zahra seakan melompat keluar mendengar penuturan putrinya itu, Zahra tau percis apa itu kista meski tidak terlalu berbahaya tapi tetap.harus waspada dan harus segera mendapat pengobatan dan perawatan.


"Kista kak ?, kok bisa nak ? selama ini apa saat datang bulan kakak selalu kesakitan ?."


"Iya mama."


"Kok mama tidak pernah tau nak." air mata Zahra mengalir berlahan dari mata indahnya.


"Shafa pikir nyeri haid biasa ma."


"Sejak kapan kakak tau ?."


"Dua bulan yang lalu, Uncle Jones maksa untuk meriksakan Shafa pada dokter obgin kawannya."


"Dua bulan ?, kenapa lama baru bilang ke mama, apa kakak sakit sekarang karna itu."


"Maaf ma, Shafa pikir nanti nanti saja bilang ke mama saat Shafa siap, tadi perut Shafa memang kram dan sakit, tiba tiba saja Shafa jatuh dan ngak sadar."


"Yaa Allah nak, ini ngak bisa di biarkan mama akan bicara pada papa dan dokter Jones, jangan takut sayang Shafa pasti akan baik baik saja."


"Iya ma, Shafa ngak apa apa kok."


"Kalau gitu tidurlah, istirahat ya nak, mama dan papa selalu ada untuk kakak, jangan takut ya papa pasti akan mengupayakan pengobatan yang terbaik untuk kakak."

__ADS_1


"Iya mama, Shafa anak yang beruntung punya mama dan papa yang sangat baik dan sayang pada Shafa."


"Iya sayang, mama juga sangat beruntung punya anak gadis cantik baik budi pintar dan penyayang seperti kakak, kakak jangan takut dan semangat ya nak."


"Iya mama, mama juga jangan terlalu di pikirkan ya cuma kista kok, Shafa ngak akan kenapa napa." senyum gadis itu menyemangati mamanya.


"Ya sudah bobok gih, mama akan menemani kakak di sini bersama kakak kakak Shafa."


"Hmmm iya mama." Shafa memejamkan matanya yang memang mengantuk sedari tadi sebab Jones memberikan obat tidur padanya


Zahra masih duduk di sisi Shafa, ia memperhatikan wajah Shafa yang sudah tidak terlalu pucat lagi.


"Gadis kecil mama yang dulu lincah dan pintar sekarang sudah besar dan beranjak dewasa, mama tidak menyangka kalau kakak sudah menjadi seorang gadis secepat ini, semoga penyakit mu tidak ada komplikasi lainnya nak, mama selalu berharap segala yang terbaik bagimu, kamu harus kuat dan semangat sayang."


**********


Hai teman-teman author dan teman teman pembaca lainnya, maaf karna lama baru Up lagi kesibukan akoh di dunia nyata benar benar menyita banyak waktu nih,.sekali lagi maaf ya.


Mari tetap dukung Novel ini dengan cara:




LIKE




RATE




VOTE




HADIAH




KOMEN yang banyak ya




Aku tunggu dukungan dan penyemangat kamu semua ya All.


HAPPY READING.

__ADS_1


__ADS_2