UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
165. Gendong Papa.


__ADS_3

"Kenapa susah sekali di hubungi, sialan


lu janji pada putri gua cuma seminggu ini sudah dua minggu, apa lu ngak perduli lagi pada putri gua." umpat Johan bolak balik di ruang kerjanya.


Tok..tok..tok


"Masuk.." Johan dengan suara dingin.


"Maaf tuan, tuan memanggil saya." Andy muncul di balik pintu bersama Aldo.


"Bagai mana penyelidikan kalian, kalian sudah mendapatkan informasi." cecar Johan pada kedua asisten itu.


"Maaf tuan, kami belum bisa mendapatkan informasi tentang tuan Axton dan tuan muda Jones, tapi menurut imforman kita di sana, di negaranya ada libur nasional selama dua hari, hari berduka nasianal karna ada yang wafatnya salah seorang anggota kerajaan, menurut pendapat imforman kemungkinan itu tuan muda Jones."


Jawab Andy takut takut, mood tuan mereka itu benar benar sangat buruk setelah Shafa mengurung diri di kamar.


Johan menarik napas dalam dalam sembari mengusap wajahnya kasar, awalnya ia menduga cuma sandiwara tapi kalau benar ada hari berduka nasional di negara Axton siapa lagi yang meninggal, kalau bukan Jones yang di bawa oleh Axton.


"Lalu apa kalian tidak bisa menghubungi tuan Axton, putriku sudah berulang kali menanyakannya, nomor handphone yang ia pakai di sini tidak aktif." Johan.


"Kami sudah berusaha menghubungi tuan Axton tapi tidak bisa tuan, tuan Axton sanangat sulit di temui sekarang ini." Andy.


"Aldo..lu berangkat ke sana hari ini juga, gua ngak mau tau lu harus bisa terhubung dengannya dan katakan kalau putri gua mencarinya dan segera kembali kemari." titah Johan tidak bisa di bantah.


"Baik tuan.." Aldo.


Kondisi Shafa makin lemah, meski mau makan tapi semua itu belum memenuhi nutrisi pada tubuhnya yang semakin kurus.


Shafa berusaha bangkit seperti yang sudah ia janjikan pada Naya tapi tetap saja tidak mampu pikiran dan hatinya masih pada Jones dan cara kepergiannya.


Di tempat lain.


"Tuan ku, ada orang suruhan tuan Johan datang dari Indonesia ingin menemui tuan apa yang harus saya katakan." tanya Asisten Axton hormat.


Axton sedang duduk di kursi rodanya dengan tatapan lembut keluar kamar di mana ada dinding kaca yang tembus pandang keluar kamar.


Tatapannya tertuju pada sebuah pohon rindang dan besar yang ada di taman luas dekat kamarnya, senyum tampak menghiasi wajahnya saat menatap tempat itu.


Di mana ada kursi taman dan berbagai macam bunga tertata rapi di sana, membuat mata sejuk bila metapnya di tempat itu dulu Shafa sering duduk sambil menghapal Alquran.


"Suruh tunggu di papilium timur, dan antar saya ke sana." titah Axton tanpa mengalihkan pandangan dari taman.


"Baik tuanku."


Setelah meminta Aldo ke papilium yang di sebutkan Axton di antar anak buahnya, Axton sendiri bergerak dengan kursi rodanya ke tempat di mana Aldo berada.


"Selamat datang di kediaman saya tuan Aldo, apa kabar anda ?." sapa Axton begitu ia sampai.


"Terimakasih sambutannya tuan, saya baik tuan, anda ..." bingung Aldo melihat Axton datang dengan menggunakan kursi roda.


"Kesehatan saya menurun ahir ahir ini tuan, sedikit lelah dan ahirnya lemah." senyum Axton mengerti arah pembicaraan laki-laki itu kemana.


"Ahhh maaf tuan, turut berduka atas putra anda, beliau tuan muda kami juga." Aldo menatap iba Axton


Bagai mana tidak baru saja dia bertemu putranya setelah lebih dari dua puluh lima tahun tidak ia ketahui namun setelah bertemu malah berakhir menyedihkan.


"Terimakasih tuan Aldo, dan maaf apa yang bisa saya bantu."


"Astaga maaf saya hampir lupa, begini tuan, tuan Johan sudah berulang kali menghubungi tuan tapi tidak bisa, dan kami sudah berusaha menghubungi tuan melalui asisten tuan tapi tetap tidak tersambung, jadi tuan Johan memerintahkan saya untuk datang kemari menemui tuan." Aldo.


"Ada apa kenapa sampai repot begini apa yang terjadi."


"Nyonya muda mencari tuan terus, kondisi nya sangat lemah sekarang, sejak tuan membawa tuan muda, nyonya Shafa sakit sakitan, nyonya jarang makan dan hanya di bantu oleh cairan infus."


"Astaga .. ya Allah, aku hampir lupa dengan menantu ku, aku terlalu sibuk memikirkan dirimu sendiri, lalu bagai mana kondisi Shafa sekarang." sesal Axton laki-laki itu tidak menghubungi Shafa karna sakit yang ia derita.

__ADS_1


"Sampai tadi nyonya muda masih sakit dan mencari tuan." Aldo.


"Baiklah..baiklah.. aku akan segera berangkat kesana, pulang lah lebih dulu andai anda tidak ada urusan lagi, aku akan bersiap siap dulu, atau kalau anda mau anda bisa pulang bersama kami."


"Baik tuan, kalau memang tuan segera berangkat saya akan menunpang saja andai tuan tidak di repotkan oleh saya."


"Tentu tidak, ingat saya yang menawarkan." Axton.


"Baik tuan, saya akan menghubungi tuan Johan agar menyampaikan pada nyonya muda, semoga setelah nyonya muda tau tuan akan datang, nyonya muda bisa lebih bersemangat."


"Baik terserah pada mu tuan Aldo, saya akan siap siap dulu."


"Baik tuan." Aldo.


Maghrib sudah berlalu ketika suara pintu kamar Shafa terbuka dari luar, dari balik pintu muncul Axton di temani Lila dan Nisa, sedang Johan dan Zahra tidak ikut masuk mereka hanya menunggu di balik pintu kamar Shafa.


Axton yang menggunakan tongkat untuk berjalan dan untuk menopang tubuhnya meremas dadanya yang terasa sakit melihat kondisi Shafa.


"Ya Tuhan.. maafkan Daddy Be, maafkan Daddy nak, harusnya Daddy datang lebih cepat." ucap Axton mencoba duduk di sisi tepat tidur Shafa.


Merasakan pergerakan di atas tempat tidurnya Shafa mengerjap ngerjapkan matanya berulang kali menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya.


"Dad..Daddy.." panggilnya dengan suara berat dan serak khas bangun tidur.


"Iya Be..ini Daddy nak, maaf Daddy lama baru datang." membelai tangan Shafa lembut.


"Da..Daddy hiks..hiks.."


"Ya Be..maafkan Daddy ya nak, apa kamu ingin makan Be, Daddy masakkan sesuatu untuk putri Daddy mau ?." tanya Axton lembut.


"Hiks..hiks..ii iya Daddy, Shafa mau." tangisnya makin pecah.


"Jangan menangis Be, kalau menangis terus cucu cucu Daddy nanti cengeng lo, mereka ngak boleh cengeng kan harus jadi anak yang kuat dan pintar." bujuk Axton membelai lembut kepala Shafa yang tertutup hijab.


"Ya Daddy hiks.."


"Enghhhh Shafa ikut Daddy." mencoba bangun tapi tidak sanggup sendiri.


Niken dan Nisa membantu Shafa duduk lalu berlahan mereka membantu Shafa membuka selimut lalu menurunkan kakinya dari atas tempat tidur.


Deg..


Hati Axton menjerit melihat tubuh kurus Shafa, tangannya sangat kecil seperti tangan anak berumur lima tahun, kakinya yang di balut celana panjang dan kaus kaki terlihat kecil ketika gaun panjangnya tersingkap.


"Ya Tuhan Be, kamu sangat kurus nak, bagai mana mungkin kaki sekecil ini bisa menopang tubuh mu Be, ya Allah kalau Jones melihat kamu begini dia pasti akan sangat marah pada Daddy Be,kamu sangat kurus nak, bagai mana bisa begini ?." ucap Axton tidak sabar kalau kata katanya sudah membuat dua orang di luar mengusap dada dan air mata.


Johan bersandar di dinding kamar Shafa kata kata itu jelas terdengar olehnya membuat laki-laki itu gusar, gusar pada diri sendiri.


"Kenapa Aa marah, Daddy kan tidak salah, lagian ngak mungkin Aa marah bagai mana caranya, apa Daddy bertemu dengan Aa atau Aa .."


Shafa menatap Axton dengan tatapan Bingung dan menyelidik, bola matanya berkedip kedip seperti mata boneka yang sangat polos.


"Tentu saja Aa mu marah Be, lihatlah kamu sangat kurus, meski Daddy belum sempat bicara dengannya sebelum ia pergi tapi dia tau semua apa yang kita tidak tau Be, dia bisa melihat kita, bukannya begitu Be." jawab Axton gugup.


"Ohhh iya Daddy." jawab Shafa lemah.


"Mulai sekarang Daddy akan mengawasi makan mu Be, kamu tidak bisa begini terus kamu harus banyak makan nak, kalau tidak Daddy bisa di tendang Aa mu." candanya.


"Dosa nendang orang tua Daddy, lagian Aa mana bisa tendang Daddy yang ada Aa nendang udara." jawab Shafa polos.


Sejak kedatangan Axton beberapa menit lalu mulut Shafa mulai berkicau meski suaranya masih lemah.


"Ahh betul juga, sudah mau Daddy gendong Be." merentangkan tangannya.


"Daddy saja pake tongkat, gimana Daddy gendong Shafa, patah semua tulang Daddy nanti." untuk pertama kalinya Shafa tersenyum.

__ADS_1


Senyum itu di tangkap oleh indra penglihatan Niken, Nila dan Lila membuat hati mereka merasa sejuk, karna sudah sejak lama senyum itu tidak terlihat oleh mereka.


"Lalu bagai mana dong, masa jalan kakinya kecil begitu." risau Axton, apa lagi ia sempat melihat tubuh Shafa yang gemetar karan belum sanggup duduk lama.


"Shafa mau sama papa aja Daddy, gendong papa." jawabnya lirih mencoba menyeimbangkan tubuhnya agar tidak jatuh.


"Saya panggil tuan kalau begitu nyonya." ucap Niken semangat, sejak dua minggu berkurang di kamar baru kali ini Shafa mau keluar tentu saja mereka senang.


"Ya kak." jawab Shafa mengatur nafas.


"Be.. kalau belum kuat duduk lama tidak usah ikut Daddy ke dapur, katakan saja Shafa mau apa biar Daddy masak."


Axton tidak tega melihat tubuh ringkih menantunya itu, duduk saja oleng bagai mana kalau jalan.


"Tidak apa apa Daddy, Shafa mau lihat Daddy bawa apa aja, nanti baru Shafa bilang Shafa mau di masakin apa Daddy."


"Wahhh kalau gitu Daddy harus mendekatkan handphone Daddy." senyum Axton.


"Kenapa ?." tanya Shafa polos.


"Mau tanya mbah google, siapa tau masakan yang Shafa minta Daddy ngak bisa." goda Axton.


"Ihhh Daddy, Shafa paling minta di tumis atau sop sayur, hmm cap cay juga oke." senyum Shafa menyembunyikan rasa pusing yang sedang menyerangnya.


Di luar kamar.


"Ma..maaf tuan." ucap Niken karna terkejut melihat Johan dan Zahra berada di samping pintu kamar.


Johan mengusap air matanya, sedang Zahra masih mengis di pelukannya, pasangan suami istri itu tidak sempat mendengar permintaan Shafa karna suaranya yang lirih dan pelan.


"Ada apa." tanya Johan dingin.


"Itu ..itu tuan, nyonya Shafa minta di gendong tuan kelantai bawah." jawab Niken gugup tidak berani menatap Johan.


"Apa.. putri gua minta di gendong ?." tanya Johan setengah tak percaya.


"Iya tuan." Niken.


"Yank..putri koko minta gendong." raut wajah sedih berubah riang.


"Ya ko, aku dengar, cepat gendong, bawa kebawah ko." senyum Zahra.


Zahra dan Johan berjalan cepat masuk kekamar Shafa, dan seperti permintaan Shafa Johan menggendong putrinya itu ala bridal style tapi dengan mebalut selimut tipis di tubuh Shafa.


Walau bagai manapun Shafa sudah dewasa dan sudah menikah, apa lagi tenaga hamil, Johan tetap menjaga marwah putrinya itu agar tidak bersentuhan langsung dengan kulitnya.


☘☘☘☘☘☘


Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik  terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.


Mari tetap semangat dan saling support


Dengan cara :


☘ LIKE


☘ RATE


☘ VOTE


☘ HADIAH yang banyak


☘KOMEN yang sebanyak banyaknya.


Wo Ai Ni all..

__ADS_1


Happy Reading.


__ADS_2