UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
174. Mimpi Aneh.


__ADS_3

"Hahhh Shafa kangen Aa, Shafa pengen mimpi Aa lagi." gumam Shafa menatap layar handphonen suaminya.


"Aa.. Aa ngak kangen Shafa ya, Aa jahat hiks..kenapa Aa tinggalin Shafa, hiks Shafa kangen Aa hiks."


Shafa merebahkan tubuhnya miring membelakangi Melani yang bersiap tidur di sampingnya, di atas sopa berukuran panjang dan besar dan tentu saja muat untuk tubuh tinggi besarnya.


"Nyonya.. kenapa nyonya ?." tanya Melani menyadari tubuh Shafa yang bergetar karna menangis di bawah selimut.


Wanita cantik itu tidak menjawab dia tetap setia dalam tangisnya karna menahan rindu pada sang suami.


Melani bingung, untuk kesekian kalinya nyonyanya itu bersikap aneh begitu kala malam, menjelang tidur.


Melani turun dari atas sopa berlahan lahan, kemudian ia leluar dari kamar, beberapa menit kemudian ia datang lagi membawa satu ceret kecil air putih di atas nampan bersama tiga buah gelas.


"Apa itu dokter." tanya Niken pelan.


"Air putih, kenapa ? mau minum ?." Melani.


"Wahhh dokter tau aja aku mau keluar ambil minum, boleh aku minta ?."


"Aku sih ngak tau kau mau ambil minum, tapi kebiasaan mu aku suka bangun malam ambil minum, aku juga gitu, nyonya muda juga sering bangun malam mau minumkan ?."


"Iya sih, terimakasih kalau gitu dokter." senyum Niken lalu meminum air satu gelas penuh.


Setelah itu ia kembali ke tempat ia tidur biasanya, berlahan di rebahkannya tubuhnya, tidak lama kemudian terdengar dengkuran halus dari mulut wanita ayu tapi tegas itu.


Senyum tersungging di bibir Melani, entah apa yang ada di dalam pikiran dokter itu.


"Niken.." panggil dokter Melani.


Tidak ada jawaban.


"Bu Niken..." panggil melani lagi, sampai berkali kali tapi wanita itu sudah terlelap dalam mimpi indahnya.


Melani menarik napas dalam dalam, tidak lama kemudian ia naik keatas sopa kemudian membaringkan dirinya di sana,Shafa yang tadinya memposisikan tubuhnya miring ke kiri kini ia berbalik miring ke arah kanan di mana Melani berada.


"Aa.." gumamnya pelan, namun terdengar jelas di telinga Melani.


Dokter itu tersenyum, ia memandangi wajah polos Shafa yang tampak tersenyum dalam tidurnya.


Malam semakin larut dan semakin sunyi, namun suara suara aneh dari mulut seseorang lepas begitu saja dari mulut mungilnya.


Suara yang mampu membuat siapa saja mendengar menjadi berpikir lain sampai merinding.


Mhhhhhh


Hahhhhh Aa...


Suara lembut nan syahdu keluar dan makin lepas tanpa kontrol dari mulut Shafa, matanya terpejam rapat namun mulutnya tidak berhenti bersuara.


Mimpi..? akan kah ini mimpi, tapi mata wanita itu masih saja terpejam, tubuhnya terasa nyata mendapat pijatan di daerah daerah tertentu.


Bibirnya sesekali ikut mengecap rasa entah apa, dan bagai mana, tapi wanita muda nan cantik rupawan itu makin menikmati mimpi yang serasa nyata.


Hampir satu jam suara itu meramaikan kamar luas dan mewah itu, sampai ahirnya suara itu hilang menyisakan suara helaan napas teratur.


Senyum tersungging di bibir mungilnya, seakan merasakan bahagia dan merasakan sesuatu yang berbeda serta kenikmatan yang ia dapatkan di dalam mimpi indahnya.


"Niken.. kamu ngak sholat subuh." tanya Melani pada Niken yang baru terbangun dari tidur lelapnya.


"Enghhhh.. iya dokter ini saya mau ke kamar kami, saya sholat di sana saja." jawab Niken sembari membersihkan dan merapikan tempat tidurnya.


"Saya akan bangunkan nyonya muda, kamu tolong siapkan keperluan nyonya setelah kamu selesai Sholat ya."

__ADS_1


"Baik dokter." Niken keluar dari kamar Shafa.


"Nyonya..nyonya .. bangun, sudah hampir jam lima, sholat nyonya." panggil Melani lembut sembari menepuk nepuk pelan punggung Shafa.


"Enghhhh ya dokter sebentar." Shafa mengerjap ngerjapkan matanya kemudian dia mengangkat kedua tangan keudara sembari meregangkan otot ototnya yang terasa berat dan sakit sakit.


"Enghhhh.. kok Shafa rasanya cape banget ya, kayak baru.." Shafa terdiam sejenak sambil mengingat ingat sesuatu.


"Kayak baru apa nyonya ?." Melani.


"Enghhhh.. ngak apa apa dokter." jawab Shafa dengan semu merah di wajah putihnya karna ingat sesuatu itu.


"Ishhhh.. kok Shafa ingatnya mimpi sesuatu sama Aa ya, duh.. kok mimpinya gitu sih, tapi seperti nyata ya."


Bingung Shafa menggaruk garuk kepala yang tidak gatal sama sekali, merasa di perhatikan oleh Melani Shafa berlahan turun dari atas tempat tidur lalu berjalan pelan ke kamar mandi.


"Nyonya saya siapkan air panas di bathtub ya." Melani.


"Ahhh tidak usah dokter Shafa aja." senyumnya menutup pintu.


Melani ikut tersenyum melihat nyonya mudanya yang sudah menghilang di balik pintu, saat Melani mengarahkan pandangannya menuju tempat tidur mata nya melotot sempurna melihat sesuatu yang terletak di atasnya.


Melani menatap kiri kanan mencari cari sesuatu setelah tidak menemukan yang ia cari bergegas Melani menuju tempat tidur, membereskan dan merapikan tempat tidur.


Di dalam kamar mandi.


"Apa Shafa mimpi ya, hmmm iya Shafa mimpi lagi itu sama Aa ishhhh.., Shafa jadi malu ahh, masa mimpi gituan sih


padahal Shafa cuma pengen lihat Aa aja kok malah mimpi."


Gumam Shafa dengan wajah masih memerah, berlahan ia lepaskan pakaian yang melekat di tubuhnya, sampai semua terlepas.


"Loh.. kok Shafa ngak pakai underwear ya, seingat Shafa tadi malam pakai kok, masa lepas sendiri sih."


"Masa Shafa lepas sendiri pas lagi tidur sih, mana pas mimpi lagi ishhhh malu maluin ah." gumamnya lagi.


"Nyonya.. kok lama, nyonya ngak apa apa kan, perlu bantuan saya." panggil Melani mengetuk pintu kamar mandi.


Dokter itu kwatir karna hampir tiga puluh menit tidak ada tanda tanda Shafa akan keluar dari kamar mandi, bahkan suara percikan air tidak terdengar dari arah kamar mandi itu.


Shafa terkesiap mendengar panggilan Melani, ia ahirnya tersadar dari lamunannya.


"Ngak apa apa dokter, sebentar lagi Shafa keluar, Shafa ngak perlu bantuan kok." jawab Shafa dari dalam kamar mandi.


"Baik nyonya, jangan lama lama nanti masuk angin, waktu subuh nanti lewat pula." Melani.


"Iya dokter.." jawab Shafa bergegas mandi.


Dia sudah melupakan kebingungannya yang sedang melanda akibat bangun tanpa Underwear.


Setelah sholat subuh Shafa lalu melantunkan ayat suci Alquran, ia tinggal sendiri di kamarnya karna Melani sudah menuju dapur untuk memasak sarapan.


"Wahhh..wangi banget." suara Axton mengejutkan Melani yang sedang sibuk dengan aktivitasnya.


"Ehhh.. anda mengejutkan saya saja tuan." ucap Melani melotot pada Axton.


"Gitu aja kaget, seperti suara saya suara boom meledak saja." gerutu Axton meraih gelas dan menunangkan air mineral dari ceret berwarna kuning emas yang ai ambil dari atas meja kompor.


"Lebih dari itu tuan." jawab Melani ikut geram.


"Hussssss banyak cakap, mau saya pecat kamu hah." Axton yang lembut dan sopan bicara pada siapapun tiba tiba membentak Melani.


"Hissss.. bukan anda yang menggaji saya ya." celoteh Melani tidak perduli.

__ADS_1


"Ya .. memang tapi saya juga bisa memecat anda dengan seribu satu alasan."


"Terserah saya tidak perduli."


Hemmm..


Axton dan Melani yang terkejut mendengar deheman sama sama berbalik mencari sumber suara.


"Wahhh asik banget ya, sampe ngak tau ada orang masuk dapur." sinis Johan pada Axton.


"Namanya lagi cerita ko." Zahra duduk di kursi yang sudah di geserkan Johan.


"Hmmm iya yank, asik cerita, tapi koko perhatikan mereka berdua ini cocok jadi pasangan lo, meski tuan Axton sudah berumur tapi masih pantas bersanding dengan dokter Melani." komentar Johan tiba tiba memperhatikan reaksi keduanya.


Hiyyyy..


Axton dan Melani sama sama bergidik dan sama sama melotot, tatapan mata Melani tampak lain dan tidak bersahabat pada Axton begitu pun sebaliknya.


"Wahhh kalau gitu dokter Melani jadi mama mertua Shafa dong." tawa kecil Shafa yang muncul di dapur di temani tiga bodyguarnya.


"Hahhhh ti..tidak nyonya, ishhhh ngak deh amit amit." jawab Melani spontan, membuat yang mendengar senyum senyum.


Axton sendiri makin melotot pada Melani, sedang Johan memperhatikan kedua orang yang asik saling pelototan itu dengan seksama.


"Siapa lu sebenarnya dokter, kenapa hati gua tidak nyaman setiap melihat lu, body lu lurus lurus saja seperti lelaki ahh entah lah gua curiga pada lu." gumam Johan dalam hati.


Johan mengirim pesan pada seseorang, bola matanya tidak lepas dari Axton dan Melani, bola mata tajam tapi sipit itu selalu awas setiap kali ada di apartemen Jones.


"Bagai mana Andy, lu sudah dapat informasi tentang dokter itu." pesan terkirim.


"Sudah tuan, maaf saya belum memberitahukan tuan karna saya ingin informasi ini lebih jelas."


Johan menerima balasan pesan dari Andy " lalu bagai mana hasilnya, cepat katakan jangan berbelit belit." tanya Johan tidak sabar.


"Informasi yang di dapatkan sama percis yang kita terima tentang dokter itu tuan, tidak ada yang mencurigakan, tidak ada yang aneh." jawab Andy.


"Jadi informasi tentang dia selama ini itu rill, dan dia memang wanita begitu maksud lu." Johan.


"Betul tuan.." Andy.


"Ya sudah.." Johan mengahiri chat dengan Andy, kemudian ia kembali pokus melihat interaksi antara Axton dan Melani yang cukup aneh menurutnya.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik  terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.


Mari tetap semangat dan saling support


Dengan cara :


🌻 LIKE


🌻 RATE


🌻 VOTE


🌻 HADIAH yang banyak


🌻 KOMEN yang sebanyak banyaknya.


Wo Ai Ni all..


Happy Reading.

__ADS_1


__ADS_2