
Shafa berjalan berdua dengan Niken menuju apotik untuk menebus resep sang ayah karna hari itu Nazwan akan kembali ke rumah, sebab sudah lima hari di rawat di rumah sakit itu.
"Maaf nona aku ke kamar mandi sebentar ya."
"iya, jangan lama lama kak, Shafa tunggu di sini saja ya." setelah memberikan blanco resep di kasir apotik dan membayarkannya shafa duduk sendiri di bangku ruang tunggu apotik.
"Hai cantik." sapa seseorang, berdiri dengan senyum lebar di depan Shafa.
"Kak Reihan."
" Hai, apa kabar." menepuk pundak Shafa sedikit keras, Shafa yang terkejut menoleh dan melihat sosok seorang wanita berwajah manis menatap lembut padanya.
"Ba..baik kak."
"Ikut kakak yuk." wanita itu menarik pelan tangan kecil Shafa dan membawanya pergi dari tempat itu, Shafa menurut saja di gandeng oleh wanita itu berjalan keluar dari Rumah sakit.
Mereka berjalan menuju sebuah mobil yang terparkir di halaman samping Rumah sakit, setelah naik kedalam mobil, mobil itupun segera meninggalkan Rumah sakit dengan kecepatan tinggi.
"Mana Shafa, kok belum pulang juga." tanya Jones pada Asiah dan Lila.
"Loh bukannya tadi tebus obat bapak ya." Lila.
"Tadi pergi sama siapa, kok kalian tenang saja."
tanya Jones resah.
"Sama Niken." Lila.
Deg..
Asiah terkesiap, ia segera berjalan ke luar kamar, rasa takut menyerang hatinya begitu tau Shafa keluar dengan Niken berdua saja.
"Lihat nona." tanyanya pada bima dan bodyguar lainnya.
"Tadi bukannya jalan dengan Niken." bima.
"Cepat cari, Niken juga belum kembali." titah Asiah dan kedua orang bodyguar segera berpencar mencari Shafa tampa bertanya dan pikit panjang.
Lila juga berpencar dengan Asiah, Jones sendiri yang sudah merasa cemas juga ikut mencari Shafa kesana kemari.
Asiah tidak langsung mencari Shafa tapi Niken, saat melintas apotik ia melihat Niken duduk di kursi ruang tunggu apotik seorang diri
dengan segera Asiah menarik tangan Niken kasar ke sudut ruangan.
" Kenapa sih kak, mana nona aku .."
"Jangan bersandiwara Niken, aku tau dan yakin kau pasti merencanakan sesuatu pada nona, cepat katakan di mana, sudah lebih satu jam nona tidak terlihat." marah Asiah menatap Niken tajam.
"Aku tidak tau kak." jawab Niken gagap.
"Jangan bilang tidak tau, tadi nona pergi bersama mu membeli obat."
"Iya kak, tapi aku tadi kekamar mandi sebentar setelah keluar aku ngak lihat nona, aku pikir pergi ke toilet juga jadi aku tunggu di sini."
__ADS_1
"Jangan bohong Niken, kalau kau masih sayang nyawa mu dan keluarga mu katakan di mana nona."
"Betul kak aku tidak tau."
"Niken walau bagai manapun pasti kau yang akan jadi tersangka andai nona kenapa napa, karna nona tadi keluar dengan mu, jangan lupa tuan besar itu seperti apa kejamnya."
"Sungguh kak aku tidak tau."
"Niken, harusnya kau tau diri dan sadar diri kau itu siapa, ingat nona sangat baik pada mu dan pada kita semua, dia bahkan sering membantu mu dan mengalihkan mu sama seperti nya, bahkan kalian kuliah di tempat yang sama dan di bidang yang sama atas dasar kebaikan nona, kamu tega menghianatinya."
Niken terdiam menunduk, air matanya jatuh bercucuran mendengar kata kata Asiah yang sangat tepat menghujam hatinya.
"Sadar Niken kau bukan apa apa tampa nona, aku tau kau menyukai dokter Jones tapi kau harus sadar diri kalau dokter itu tidak menyukai mu dan hanya menyukai nona, jadi jangan kau balas sakit hati mu pada nona hanya karna kau tidak bisa bersama dokter Jones."
Niken makin terisak bersandar di dinding
gedung Rumah sakit itu.
"Cepat katakan nona di mana sebelum terlambat, aku tau kau di balik hilangnya nona, sekali ini aku akan diam dan merahasiakan kejahatan mu mengingat kau pernah menolong nyawa ku."
Niken tersadar, walau Reihan berkata tidak akan menyakiti Shafa secara fisik tapi sudah bisa di pastikan Reihan akan melukai yang lain, mungkin saja harga diri Shafa.
Reihan tidak mengatakan secara pasti apa yang akan ia lakukan pada Shafa ia hanya berjanji tidak akan menyakiti saja, sehingga Niken percaya saja pada laki-laki itu.
Niken berlari di ikuti Asiah di belakangnya, rasa cemas kini menyerang hati dan jantungnya ia merutuki kebodohan yang percaya begitu saja pada Reihan.
"Ayo cepet kak, aku memasukkan alat pelacak pada kantong baju nona tadi, maafkan aku kak." tangis Niken penuh penyesalan.
"Jangan minta maaf padaku, ayo cepat kita cari nona atau bukan cuma nyawa mu saja yang terancam tapi nyawa kita semua."
"Dokter Jones." teriak Niken.
"Kami ikut, kami tau di mana nona." Asiah.
"Ayo cepat." Jones masuk kedalam mobil dan menghidupkan mesin mobil lalu segera meninggalkan tempat itu.
Tadi begitu menyadari Shafa menghilang Jones mencari tau ke ruang CCTV rumah sakit itu, ia meminta izin pada pengelola agar melihat di mana Shafa, di CCTV terlihat Niken meninggalkan Shafa ke tempat lain, dan tidak berapa lama kemudian gadis berhijab itu di datangi dua orang.
Emosi Jones memuncak begitu ia mengenali salah seorang di antara keduanya dan laki-laki itu tampak membawa Shafa dengan patuh, meski terlihat Shafa di bawa bukan hanya oleh laki-laki tapi Jones tetap cemas dan takut.
Jones mengikuti arah gps di handphone Niken, rasa cemas makin menyerang hati ke tiganya begitu gps membawa mereka keluar dari kota, jalan yang mereka lalui tampak sepi dengan hutan rambung di sepanjang jalan.
"Kalian sudah menghubungi yang lain." tanya Jones.
"Sudah dokter, mereka sedang dalam perjalanan." Asiah.
Sementara itu di suatu ruangan tertutup dan remang remang Shafa terduduk bingung di atas tempat tidur, matanya memperhatikan seluruh ruangan itu dengan perasaan takut.
"Yaa Allah Shafa di mana, kenapa Shafa sampai di sini." gadis itu menangis sedih.
Ceklek ...
Pintu terbuka dari luar dan tampaklah seorang laki-laki muda dan tampan muncul, senyum laki-laki itu tampak aneh di mata Shafa membuat gadis itu ketakutan.
__ADS_1
"Kak Reihan, kenapa Shafa ada di sini."
"Kenapa ?? ya biar kita bisa berduaan dong." Reihan berjalan mendekati Shafa ke tempat tidur.
"Maksud kakak apa, jangan dekat dekat."
"Hahaha kamu lucu ya, ngapain coba laki-laki dan perempuan berduaan di satu kamar."
"Kak .. apa salah Shafa, tolong lepaskan Shafa kak." tangis Shafa menyadari laki-laki di depannya bukan orang baik yang ia kenal.
"Melepaskan mu ?, kau itu tambang emas ku mana mungkin aku lepaskan." makin dekat.
"Jangan dekat kak, tolong kak lepaskan Shafa, Shafa tidak punya apa apa."
"Kau memang tidak punya apa apa, tapi papa mu itu punya segalanya, aku ingin dia menikahkan kita hahaha."
"Maksud kakak."
"Ahhh banyak tanya, aku akan memiliki mu dan harta papa mu."
"Jangan kak, jangan sentuh Shafa, Shafa mohon." tangis Shafa kencang.
"Teriaklah sayang tidak ada yang mendengar mu, sini aku mau lihat wajahmu, meski kau tidak cantik aku akan tetap memiliki mu meski sebentar hahaha."
Reihan berjalan mendekati Shafa, gadis itu berdiri dan berlari ke arah pintu namun di hadang oleh Reihan.
"Mau kemana sayang, sini mari bersenang senang."
"Jangan kak, Shafa mohon kak."
Shafa berjalan mundur saat tangan laki-laki itu mengarah pada hijabnya dan berusaha menarik cadar gadis itu.
"Buka dong sayang, pasti makin semangat kalau lihat wajahmu."
Reihan terus berjalan ke arah Shafa dengan tangan menggapai cadar gadis itu.
********
Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.
Mari tetap semangat dan saling support
Dengan cara :
💝 LIKE
💝 RATE
💝 VOTE
💝 HADIAH yang banyak
💝KOMEN yang sebanyak banyaknya.
__ADS_1
Wo Ai Ni all..
Happy Reading.